Jadi Gini Lho Rasanya Menjadi Mentor OKK UI

Akhir-akhir ini, di timeline Line-ku berseliweran video perkenalan calon mentor ospek alias Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) UI 2020 dengan tagar #MelalUIKontribusi. Mereka membuat video semenarik mungkin agar dapat diterima menjadi mentor. Hal tersebut membuatku ingat pada tahun lalu ketika aku juga mengikuti rekrutmen terbuka mentor OKK UI 2019. Emang gimana sih rasanya menjadi mentor OKK UI?


0

Serunya Jadi Mentor OKK UI. Akhir-akhir ini, di timeline Line-ku berseliweran video perkenalan calon mentor ospek alias Orientasi Kehidupan Kampus (OKK) UI 2020 dengan tagar #MelalUIKontribusi. Mereka membuat video semenarik mungkin agar dapat diterima menjadi mentor. Hal tersebut membuatku ingat pada tahun lalu ketika aku juga mengikuti rekrutmen terbuka mentor OKK UI 2019.

Mendaftar Menjadi Mentor OKK UI

Aku langsung menghubungi pasangan mentorku untuk sekadar bernostalgia. Dia adalah Rasyid, mahasiswa jurusan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) FKM UI 2017. Aku dan Rasyid berasal dari satu paguyuban daerah yang sama, sehingga kami sudah punya modal bonding sebelumnya. Saat mendaftar dulu, akulah yang mengajaknya untuk menjadi pasangan mentorku karena aku berpikir akan lebih mudah bekerja sama dengan orang yang sebelumnya sudah saling kenal.

Aku masih ingat ketika kami membuat video untuk mendaftar di Tamling Perpusat. Saat itu sedang puasa dan kami baru saja selesai kuliah. Sebelum itu, kami sudah janjian untuk membuat semacam naskah untuk dibicarakan dalam video. Namun, kami tidak membuatnya karena sama-sama tidak memiliki ide. Alhasil, kami membuat video seadanya dengan referensi jokes receh di Twitter.

Sebenarnya, kami tidak memiliki alasan khusus untuk menjadi mentor. Aku hanya ingin sekadar mencari pengalaman. Rasyid menambahkan bahwa ia ingin melihat maba yang masih polos-polos. Jahil sekali emang alasannya. Namun memang begitu kenyataannya, melihat maba-maba polos memang jadi kesenangan tersendiri bagi kakak tingkat, hehe.

BACA JUGA: OBM dan Ospek, Beberapa Hal Ini yang Harus Dihindari Maba Kalau nggak Mau Telat

Saatnya bertemu dengan Mentee (Maba yang di-mentor-i)

Mentoring pertama Tim 55 (dokumentasi pribadi)

Namun, ekspektasi tersebut buyar ketika kami bertemu dengan para mentee. Kesan pertama memang mereka terlihat polos dan malu-malu untuk bertanya, bahkan untuk berkenalan. Pada pertemuan selanjutnya, mereka mulai tampak susah diatur. Misalnya, saat sesi mentoring, banyak dari mereka yang datang terlambat dengan berbagai alasan. Kami sebagai mentor hanya bisa memaklumi karena nggak tega memarahi mereka.

Kami juga merasa kurang dekat dari segi emosi dengan mereka karena faktor waktu. Rangkaian OKK yang terbatas membuat kami hanya bisa bertemu tiga kali untuk mentoring dan sekali untuk puncak OKK. Selain itu, jadwal para mentee pun banyak yang bentrok dengan mentoring ospek fakultas atau jurusan, sehingga pertemuannya kurang maksimal. Di sisi lain, kami sebagai mentor juga memiliki kesibukan lain, sehingga memang harus pandai membagi waktu dan perhatian untuk para mentee.

Mentoring terakhir Tim 55

Momen memorable selama menjadi Mentor OKK

Walaupun begitu, kami tetap punya momen memorable, dong. Waktu mentoring kedua, aku dan Rasyid membuat permainan semacam Werewolf yang dimodifikasi dengan tema korupsi yang merupakan materi dari mentoring tersebut. Dari permainan itu, kami dan para mentee bisa saling akrab karena mau nggak mau harus saling berkomunikasi untuk memenangkan permainannya. Sayangnya, momen tersebut lupa kami abadikan saking serunya bermain, hehe.

BACA JUGA: Keseruan yang Cuma Bisa Kalian Rasakan saat Masih Menyandang Status Maba

Selain momen itu, aku juga pernah begadang menyiapkan bingkisan untuk para mentee. Capek emang harus bungkusin satu-satu, apalagi aku sendirian karena Rasyid harus menyiapkan acaranya. Akan tetapi, nggak tau kenapa rasanya seneng banget bisa ngasih sesuatu buat para mentee walaupun sederhana.

Acara puncak OKK UI

Bingkisan tersebut kami berikan saat puncak OKK. Beberapa mentee juga memberi kami hadiah. Sayangnya, saat momen tersebut, mentee yang datang nggak lengkap. Mungkin karena sudah capek karena acara puncak OKK yang begitu lama atau ada mentoring ospek fakultas/jurusan yang harus mereka ikuti. Tapi nggak apa-apa, aku dan Rasyid tetap bangga bisa menjadi mentor dari 25 mentee yang keren-keren.

Walaupun pertemuan kami hanya sebentar, kami tetap senang bisa mendapat kesempatan untuk menjadi mentor OKK. Para mentee kami cukup kooperatif untuk diajak bekerja sama dan berkolaborasi dalam tim, sehingga semua tugas individu dan kelompok mereka dapat terselesaikan dengan baik. Oh iya, waktu itu aku dan Rasyid bertanggung jawab atas Tim 55. Jadi, untuk kalian yang dulu dari Tim 55 dan kebetulan sedang membaca ini, salam rindu ya!

BACA JUGA: Beberapa Bocoran tentang Hal yang Hanya Bisa Kamu Temui di Ospek UI (MABA Wajib Baca!)

Pesan untuk Para Calon Mentor

Untuk yang tahun ini akan menjadi mentor, semangat ya! Percaya deh, kalian akan mendapat pengalaman yang paling seru selama perjalanan kuliah kalian di UI. Selain itu, kemungkinan ospek diadakan secara daring bisa saja terjadi karena pandemi ini. Tentunya itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi mentor. Rasyid berpendapat, mentor harus menyikapi hal itu dengan menerapkan sistem yang tegas, misalnya melarang mentee untuk jadi silent reaeder di grup dan memastikan semua mentee turut aktif dalam mentoring daring tersebut. Dengan demikian, mentoring pun dapat berjalan maksimal dan seluruh anggota tim bisa memiliki bonding yang kuat.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Aniesa Rahmania Pramitha Devi
Mahasiswi Sastra Indonesia UI 2017 yang gemar berkhayal dan menuangkannya dalam tulisan. Temui saya secara pribadi di aniesapramitha.blogspot.com ya.

0 Comments

Leave a Reply