Halo civitas academica semuanya! Bagaimana kabar SIAKNG-nya? Menjulang setinggi langit SCBD, apa membumi seperti ilmu padi? Well, dari semua angkatan, gue yakin bahwa angkatan 2011-lah yang paling senang dengan keluarnya grafik di SIAKNG kali ini. Soalnya, kalo sesuai dengan jadwal, semester ini adalah grafik SIAKNG terakhir bagi angkatan 2011 yang telah melewati masa-masa sidang dan tengah revisi.

Sebagai salah satu bagian angkatan paling tua di program S1 saat ini, gue tergerak untuk merangkum apa saja yang udah dirasakan sama angkatan 2011 selama ngampus di belantara hutan selama empat tahun belakangan. Nah langsung aja, ini dia sebelas hal yang terangkum dalam KALE11DOSKOP!

 

1. Abad Kejayaan Perpustakaan Pusat

Kadang Gambar Brosur Tak Seindah Aslinya (sumber: http://griyarsitektur.wordpress.com)

Kadang Gambar Brosur Tak Seindah Aslinya (sumber: http://griyarsitektur.wordpress.com)

Keuntungan pertama yang dirasakan oleh angkatan 2011 adalah bisa merasakan kemegahan Mall of Universitas Indonesia Crystal of Knowledge yang menyandang predikat perpustakaan terbesar di Asia Tenggara di awal masa peresmiannya. Meski belum ada istilah check-in di social media, Perpusat saat itu menjadi titik favorit bagi para maba untuk saling kopdar, ngapalin yel-yel, atau sekadar berselancar di Kebun Apel tanpa perlu tawaf mencari PC mana yang connect internet. Setelah empat tahun kuliah di sini, kita pun merasakan perkembangan Perpusat yang sangat pesat, salah satunya ditandai dengan masuknya kapitalisme lewat keberadaan toko kelontong, warung popmie, juga warung-warung kopi. Tidak hanya itu. Demi mempertegas kesan go green, Perpusat juga menambahkan fasilitas air terjun temporer yang hanya muncul di saat hujan tiba. Yha… siapa tahu tahun depan ada wahana arung jeramnya.

Kita tunggu saja.

2. Saksi Hidup Dibangunnya Gedung-gedung Baru

ayosebarkan

Sekilas sih syahdu. Semua buyar pas perlintasan Pocin teriak tungtungtungtung. (sumber: ayosebarkan.com)

Nggak cuma soal Perpusat, sebagai anak yang masuk saat kampus ini sedang giat-giatnya membangun, angkatan 2011 juga menjadi saksi hidup betapa pesatnya pembangunan gedung baru di kampus kita. Meski nggak secepat cerita legenda Loro Jonggrang, masih lekat di pikiran kita gimana kondisi kampus saat pertama kali masuk. Gedung vokasi baru ada dua, wajah PKM masih sederhana, RIK yang segede gaban pun dulunya cuma berupa parkiran. Sayangnya, nggak semua bernasib baik seperti mereka. Pembangunan gedung baru Fasilkom dan Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan (pecahan Arsitektur dari Teknik) misalnya. Dari zaman desainernya masih kinyis-kinyis hingga sekarang menjabat Wali Kota Bandung, saat ini kedua gedung tersebut mangkrak dan semakin lumutan. Bahkan terakhir gue ke sana, Auditorium Fasilkom udah menjelma jadi kandang raksasa bagi kelelawar dan keluarga besarnya.

advertisement

 

3. Lahirnya Fakultas Baru

Selain gedung yang terus bertambah, nggak ada angin nggak ada hujan, setahun belakangan kampus kita juga kedatangan keluarga baru yaitu Fakultas Farmasi (pecahan dari MIPA) dan Fakultas Ilmu Administrasi (pecahan FISIP). Nggak mau kalah, Fakultas Ekonomi juga ikut berganti nama dengan menambahkan embel-embel “Bisnis” di belakang nama fakultasnya. Sementara itu…. lagi-lagi Sekolah Seni dan Perancangan Lingkungan yang dari tahun 2008 direncanakan sebagai FSRD-SAPPK-nya Jakarta nasibnya kini masih hanya sebatas wacana.

Yha… Da aku mah apa.

4. Masa-masa Tanpa Rektor

Saat Ramai-ramai Hashtag #SaveUI (sumber: antarafoto.com)

Saat ramai-ramai hashtag #SaveUI (sumber: antarafoto.com)

Salah satu isu yang sempat dilalui oleh angkatan 2011 adalah hashtag #SaveUI yang semakin menyeruak ketika mantan rektor kita, Pakde Gumilar diperiksa dan ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembangunan dan tata kelola kampus UI. Kisruh soal transparansi ini berlangsung selama bertahun-tahun. Barulah mulai menemukan titik terang ketika posisi rektor dipegang oleh Pjs dan berakhir setelah Prof. Anis terpilih pada Pilrek tahun 2013. Selama masa-masa kekosongan itu pula, berdasarkan yang gue alami sendiri, kita selalu disodori pertanyaan menyudutkan dari orang-orang perihal kasus ini begitu tahu kalo kita anak UI.

 

5. Balada Kandang Rusa

Hanya yang beriman yang bisa melihat padang rumput ini (sumber: anakui.com)

Hanya yang beriman yang bisa melihat padang rumput ini (sumber: anakui.com)

Mungkin angkatan muda saat ini akan bertanya-tanya tentang sebidang tanah semak belukar yang dipagar di seberang Stasiun UI. Bukan, itu bukanlah tanah sengketa apalagi pagar ghaib yang dipasang oleh Ustaz Solehpati. Adik-adik, dulunya tempat tersebut merupakan kandang bagi belasan rusa yang dipelihara oleh kampus kita. Bisa dibayangkan betapa syahdunya kalo berjalan sendirian saat itu. Ditiup angin, kejatuhan biji kapas, mendengar kicauan burung dan suara ringkikan aneh dari rusa yang kabur dari kandangnya. Ya, mirip pemeran putri di film Disney rasa-rasanya.

advertisement

Ternyata, mereka tidak sebahagia yang kita duga. Berdasarkan riset Santa’s Missing Deer yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa, ditemukan bahwa dalam kandang tersebut banyak ditumbuhi tanaman semak yang menjadi racun bagi mereka. Selain itu, kangkung, wortel, juga makanan yang biasa dijual setiap Sabtu-Minggu ternyata juga nggak baik buat rusa-rusa tersebut. Demi hidup yang lebih baik, akhirnya mereka diselamatkan ke penangkaran yang lebih layak di Cariu dan Cibarusah. Semoga mereka bahagia.

6. Metamorfosis Stasiun UI

Bekas puing-puing kios langganan para mahasiswa (sumber: viva.co.id)

Saksi sejarah dibumiratakannya surga-surga kecil langganan para mahasiswa (sumber: viva.co.id)

Ada yang masih inget, ada berapa loket masuk Stasiun UI beberapa tahun yang lalu? Ada yang masih inget deretan kios warung baso, somay, tempat ngeprint dan fotokopi, bahkan asesoris dan kunciran gemes yang ada di Peron arah Jakarta? Ya. Beberapa tahun yang lalu, peron stasiun UI ramai diisi parapedagang yang menjual segala macam kebutuhan dasar mahasiswa –sandang, pangan, papan, casan, kebetan ujian (Fotokopi perkecil, trims). Ketenangan tersebut berubah semenjak negara api menyerang. Rencana PT KAI yang hendak menertibkan pedagang langsung mendapatkan respons beragam dari mahasiswa. Ada yang setuju, tapi nggak juga sedikit yang menolak. Isu ini pun sempat menyita perhatian media nasional, hingga akhirnya jadilah Stasiun UI—yang menurut gue lebih tertib—seperti yang sekarang ini.

 

7. Eksklusivitas Kereta AC

Kereta bekas Crayon Shinchan, saat Misae saat belanja dari Kobe (sumber: viva.co.id)

Kereta bekas Crayon Shinchan, saat Misae saat belanja dari Kobe (sumber: viva.co.id)

Nggak cuma stasiun aja yang mengalami peremajaan. Mulai tahun 2013, PT KAI dan Commuter Jabodetabek juga melakukan penggantian armada kereta listrik mereka dengan yang menggunakan AC semua. Tapi, sebelum menggunakan sistem tiket elektronik yang mengandalkan cara tap and go, PT KAI membedakan layanan armadanya dengan dua kasta yang berbeda yakni Commuter AC dan KRL Ekonomi. Ada harga, ada rupa. Untuk mengejar kenyamanan, penumpang waktu itu dipatok tarif yang cukup mahal di awal-awal peluncurannya. Sebagai contoh, untuk pulang ke Planet Bekasi gue harus mengeluarkan kocek sebesar Rp16.500 cuma buat sekali jalan. Kalo dibandingin sama tarif yang sekarang dengan sistem hitungan elektronik per kilometer, uang segitu gue pake pergi pulang buat dua setengah kali jalan bolak balik Depok-Bekasi-Depok-Bekasi-Depok lagi.

Sampai gumoh, sampai pegel karena duduk terus hingga terserang ambeien.

 

8. Tangguhnya KRL Ekonomi

Ena (sumber: sindonews.net)

Senggol lagi Bang. Kurang dalem. Ntap. (sumber: sindonews.net)

Masih berbicara soal kereta, salah satu tujuh keajaiban dunia yang selama dua tahun sempat dirasakan sama angkatan 2011 adalah peninggalan artefak nenek moyang bernama KRL ekonomi. Seperti yang kita ingat, kereta ekonomi adalah salah satu jenis kendaraan umum berbasis rel yang sebagian besar penumpangnya pedagang asongan, spiderman, sisanya copet. Meski risikonya besar, kereta ekonomi menjadi alternatif bagi mahasiswa tahun-tahun pertama terutama angkatan 2011 untuk mengakali tarif karcis yang mahal buat sekadar bisa pulang ke rumah. Sayangnya, wahana praktik yang dapat mengajarkan kita menjadi ninja hokage nomor satu ini sekarang diistirahatkan di Dipo Purwakarta karena usianya yang kelewat tua.

 

9. One Stop Living Concept

Peninggalan sejarah tempat mahasiswa membajak buku-buku murah (sumber: kaskus.com)

Peninggalan sejarah Pondok Cina tempat mahasiswa membajak buku-buku murah (sumber: kaskus.com)

Sebelum Feni Rose menanggalkan profesinya sebagai penyiar infotainment dan menggemborkan konsep one stop living seperti di iklan properti, ternyata kampus kita udah lebih dahulu menerapkan konsep tersebut, di mana tempat makan, buku, hangout, dan hiburan campur aduk menjadi satu. Sebelum dilakukan penertiban oleh PT KAI, kawasan Kober dan Pocin menjadi tempat favorit bagi mahasiswa untuk mencari-cari kesenangan bersama teman sepermainannya. Selain jajanan yang bermacam-macam, anak-anak 2011 juga bisa dengan mudah mencari buku-buku cetak tahun pertamanya—seperti Kalkulus Purcell, Aljabar Liniernya…ah stahp- dengan harga yang miring ketimbang di toko buku konvensional.

Meski sekarang terkesan lebih tertata, sensasi belanja di Kober dan Pocin kini terasa tak lagi sama dengan empat tahun sebelumnya.

 

10. Inflasi Harga Mie Ayam FISIP-FIB

Siapa cepat dia dapat. Beli sekarang, hari Senin harga naik! (sumber: corelex09.blogspot.com)

Siapa cepat dia dapat. Beli sekarang, Senin harga naik! (sumber: corelex09)

“Jangan ngaku anak UI kalo belum mencicipi mie ayam sengketa FISIP dengan FIB.” Begitulah petuah Plato yang langsung diamini oleh murid-muridnya di Athena. Percaya nggak percaya, mie ayam yang selalu murah hati dalam memberikan pangsit dan daun bawang ini pada tahun 2011 harganya hanya Rp5.000,00 saja. Dengan semangat Tuanku Imam Bondjol, kita sudah dapat mengganjal perut di kala Magrib tiba dengan semangkuk mie yamin yang terkenal endhang sembari mengobrol bersama teman di pinggiran jalan. Melihat lesunya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar serta rumah tangga Nassar dan Musdalifa yang tak kunjung menemukan titik terang, perlahan tapi pasti harga mie ayam ini pun merangkak naik hingga mencapai harga Rp8.000,00.

Udah ya, jangan naik lagi…. Tertanda. Pengagum mie yaminmu.

 

11. Ojek Goceng Pukul Rata

Bukan, bukan. Ini bukan potongan gambar Termehek-mehek apalagi Katakan Cinta (sumber: rimanews.com)

Perhatian. Ini bukan adegan Termehek-mehek apalagi Katakan Cinta (sumber: rimanews.com)

Nggak cuma bisa membuat perut kenyang doang. Duit lima ribu di masa empat tahun yang lalu juga bisa membuat kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan ojek kuning. Dengan tarif flat yang diterapkan di setiap pangkalan, penumpangnya dapat dengan pede memberikan duit goceng pada abang-abang yang telah mengantarnya. Berbeda dengan kondisi sekarang di mana tarif ngesot sedikit dari Stasiun ke Haltek aja bisa beragam dari Rp8.000,00 bahkan Rp10.000,00 antar kangojek. Iya. Semahal itu. Terlepas dari drama yang dilakukan ke layanan Go-jek yang merebak belakangan ini, tarif ojek kuning menjadi salah satu hal yang paling terasa mengalami kenaikan selama empat tahun terakhir.

***

Bagi gue, angkatan 2011 adalah angkatan kasihan.

Selain kasihan karena kita belum kenal istilah selfie, GoPro, drone—jangankan drone. Mengagung-agungkan pin Blackberry Messenger aja udah menjadi kebanggaan tersendiri saat empat tahun yang lalu, angkatan kita juga menjadi kelinci percobaan karena waktu angkatan kita lah untuk pertama kalinya diterapkan sistem penerimaan Jalur Undangan. Gara-gara satu undangan, seketika anak-anak kelas dua belas saat itu melakukan taubat nasional. Kita secara berjamaah menyesali angka rapot yang ngepas karena kebandelan di masa-masa kelas sepuluh dan sebelas, sembari mengharap belas kasih dari Yang Mahakuasa untuk mengizinkan kita nyangkut di pilihan pertama.

Masa empat tahun berlangsung dengan amat cepat.

Setelah berhasil masuk UI, daftar ulang, ikutan ospek, dan lain sebagainya, nggak kerasa mayoritas dari kitayang dulu dikumpulin dengan setelan putih-putih dan secara random dipaksa membentuk barikade “gajebo” bertuliskan huruf OKK di tengah bulan puasakini sudah atau sedang mempersiapkan segala dokumen sidang, wisuda, dan kelulusan.

Ngomong-ngomong… apa kabar poster 100 mimpi yang dulu ditugaskan ketika PSAU? Sudah dicoret berapa puluh cita-cita?

Apa saja yang sudah kamu lakukan selama berkuliah di Kampus Perjuangan?

Apa saja yang sudah dipetik buat diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara?

Tulisan ini ditujukan buat mayoritas angkatan 2011.

Di sinilah kita sekarang.

Berjuang sama-sama di tempat yang sama, untuk keluar menuju pascakampus yang abu-abu katanya.

Sampai bertemu di Balairung, teman-teman!

Selamat berjuang dalam masing-masing keilmuan yang kamu suka.

Satu lagi, selamat menjadi lulusan yang sesuai dengan tema OKK:

“Manusia yang Peduli Indonesia.”

Jangan lupa kirim doa untuk pejuang angkatan kita, almarhumah Dwi Purnama Putri (FH’11)



[reaction_buttons]