Kasus Prita dan Prinsip Dunia Internet yang Terusik


0

Kasus yang paling mempesona untuk saya di tahun 2009 ini adalah kasus Prita. Terutama karena kasus itu menyenggol-nyenggol dunia maya. Apa yang membuat saya terpesona?

Tidak lain karena dukungan masyarakat, kawan..

Dukungan masyarakat, terutama kaum netizen (warga internet) yang mendukung penuh kebebasan berekspresi di internet.

Bagi netizen, tak ada yang paling menyebalkan dibanding ketidakterbukaan atau sensor.

Netizen sangat mencintai kebebasan berpendapat, kejujuran, transparansi, dan berbagi. Maka, tidak heran mengapa Google yang mendapat mahkota raja saat ini. karena Google-lah website yang berbagi paling banyak untuk dunia.

Kembali ke Prita. Netizen -termasuk saya- sangat sebal ketika kebebasan berpendapat Prita dibawa ke ranah hukum oleh R.S OMNI. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Seperti yang kita ketauhui, media massa adalah pilar demokrasi keempat. Saat ini media massa sedang menggeliat dalam bentuknya yang baru dan jauh lebih dahsyat: internet. Jika media massa konvensional masih bisa “dikendalikan” oleh orang yang berkepentingan, dijamin takkan ada yang bisa mengusik internet.

Maka, saat ini, saya bisa memastikan bahwa suara yang mendukung Prita adalah suara murni dari hati masyarakat Indonesia. Seperti yang sudah saya bilang, OMNI masih belum tahu berhadapan dengan siapa -OMNI berhadapan dengan masyarakat. Dengan butanya mereka menuntut Prita, tak sadar bahwa sebuah hal yang paling dijunjung oleh netizen telah terusik di situ. Toh, masalahnya sangat remeh, tidak segawat kontroversi film Fitna yang membuat pemerintah merasa harus memblokir Youtube untuk sementara. Cuma “pencemaran nama baik” (itu kata mereka). Ah, mengapa harus dirisaukan?

Apalagi, menurut beberapa analis, di tahun 2010 nanti, suara “warga internet” akan makin mempengaruhi dunia nyata, walau perlahan. Membaca analisis itu, saya jadi tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa bulan lalu. Saya pernah menulis di anakui.com tentang kemungkinan menggunakan Facebook dan Twitter sebagai alternatif cara berjuang. Namun, apa yang terjadi? Saya ditertawakan. Hei, kawan..bagaimana pendapatmu sekarang setelah melihat kasus Prita ini?

Di sini, saya jadi ingin mengajak teman-teman yang berjuang untuk menggunakan internet juga sebagai alternatif. Entah itu FORMASI FIB, SALAM, SERAMBI, BEM FIB, BEM UI, atau apapun itu…tanamkan kata bijak abad ini dalam hatimu, “kuasailah informasi, kamu akan menguasai dunia”


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Wahyu Awaludin
Penulis, blogger, pemimpi, dan pebisnis. Seorang mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI angkatan 2008. Mempunyai mimpi ingin mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media online. Kini sedang diamanahi sebagai salah satu peserta PPSDMS angkatan V Regional I Jakarta

4 Comments

Leave a Reply

  1. bijak-bijak lah menggunakan internet..

    “Information is a source of learning. But unless it is organized, processed, and available to the right people in a format for decision making, it is a burden, not a benefit.” Pollard, William.

  2. Adapun kalangan pengguna internet masih di bawah 5% dari penduduk indonesia. Indonesia pun masih perlu dukungan dari pemerintah mensosialisasikan internet ke pedesaan.

  3. yup, good issue then.. cuma kalo kita mau kritis dan baca literatur tentang internet, ga segitu bebasnya kok, mlahan search engine such as google has been driving thir user in informational searching preference terkait sama political economy yang implemented lewat adsense.. Btw, saya juga punya sedikit tulisan tentang kasus prita, internet (basically web 2.0), dan gerakan sosial..
    http://aryasandy.wordpress.com/2009/12/31/web-2-0-gerakan-sosial-dan-e-demokrasi/