Kata Siapa Mahasiswa UI Tidak Bisa Mengungguli Mahasiswa Harvard?


0

Jajaran bangunan berarsitektur tua dan suasana yang relatif sepi (mungkin bisa dikatakan aktivitas turisme lebih banyak bisa disaksikan, karena dalam sehari ratusan pelancong rela meluangkan waktunya untuk berfoto dengan hanya sebuah patung) merupakan dua hal yang sangat mudah dijumpai disana. Namun, toh di situlah manusia-manusia cerdas dari seluruh penjuru dunia mengasah otaknya. Melalui kelas-kelas kecil yang dinamis, melalui perpustakaan yang selalu penuh dengan pengunjung serta melalui aktivitas eksperimental berkelas. Ya inilah Universitas Harvard.

Lantas, apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendengar kata Harvard? Mungkin sebagian akan menjawab Boston, sebagian akan menjawab pendidikan yang mahal, dan sebagian lagi menjawab universitas yang eksklusif. Namun, saya bisa jamin bahwa mayoritas akan menjawab Harvard merupakan universitas terbaik di dunia. Ya itulah Harvard, universitas yang dalam berabagi survey peringkat universitas terbaik di dunia merupakan langganan posisi puncak, mengungguli tetangganya MIT atau tetangga sebarang lautannya yakni Universitas Oxford. Kalau ditanya bagaimana bandingannya dengan UI? Maka mayoritas juga kemungkinan besar akan menjawab ”Wah jauh! Orang dari artikel yang gw baca di anakui.com beberapa waktu yang lalu, peringkat universitas terbaik dunia yang dirilis THE Higher Education saja menyebutkan kalau peringkat Harvard dengan UI bedanya mencapai lebih dari 250 tingkat.”

Lantas, apakah peringkat menjadi patokan pasti bahwa kita benar-benar kurang kompetitif jika dibandingkan dengan mahasiswa Harvard? Jawabnya adalah tidak! Shofwan Al-Banna, itulah dia yang merupakan lulusan UI dan dulunya tercatat sebagai mahasiswa jurusan HI angkatan tahun 2004. Saat ini yang bersangkutan merupakan mahasiswa pasca sarjana pada Graduate School of International Relations, Ritsumeikan University, Jepang. Shofwan berhasil mengharumkan nama Indonesia pada The 39th St. Gallen Symposium yang berlangsung di Swiss, 7-9 Mei 2009. Acara ini merupakan acara tahunan, yang dihadiri oleh sejumlah pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia, dimana mereka berdialog dengan para pemimpin muda dunia. Para pemimpin muda tersebut merupakan mahasiswa yang terseleksi melalui karya tulis dengan tema krisis global. Yang lantas mereka akan mempunyai kesempatan untuk mengemukakan ide mereka di hadapan para peserta forum dunia tersebut. Sekitar 600 pemimpin bisnis dan politik dari seluruh dunia berkumpul untuk berdialog dengan 200 pemimpin muda mengenai krisis global saat ini.

The 39th St. Gallen Symposium merupakan forum yang sangat bergengsi dan dihadiri banyak kalangan politisi yang meliputi Presiden Swiss Hans-Rudolf Merz, Presiden Estonia Ilves, Kepala Japan Bank for International Cooperation Hiroshi Watanabe, Presiden Serbia Boris Tadic, Menteri Perdagangan dan Industri India Kamal Nath, Menteri Keuangan Singapura Shanmugaratnam, sampai Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Hiroyuki Ishige. Sedangkan dari kalangan bisnis tercatat pembicara berasal dari wakil dewan direktur FIAT, CEO Price Water House Coopers, direktur Hindustan Construction, CFO Airbus, sampai Pimpinan Dewan Direktur Embraer Brazil. Selain itu tokoh lain yang hadir adalah para ilmuwan seperti pemenang Nobel Robert Aumann, jurnalis seperti Riz Khan dari Al Jazeera dan Peter Day dari BBC dan juga Presiden Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir (CERN) Torsten Akesson.

Shofwan yang mengangkat karya tulis berjudul Boundaries as Bridges: A Reflection for Transnational Business Actors, berhasil mengungguli Jason George, mahasiswa program master dari Universitas Harvard (yang memperoleh peringkat dua) dan Aris Trantidis, mahasiswa program doktoral dari London School of Economics (yang memperoleh peringkat tiga). Menurut yang bersangkutan, kapasitas anak-anak Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan siswa asing di bidang pendidikan. Namun disayangkannya bahwa sistem pendidikan di Indonesia belum bisa menyatukan potensi-potensi anak bangsa yang tersebar, yang jika disatukan bisa menjadi kekuatan besar.

Dengan prestasi itu, maka bisa menjadi bukti bahwa β€œmahasiswa UI” bisa saja mengungguli mahasiswa Harvard. Ya walaupun jumlahnya mungkin sangat bisa dihitung dengan jari dan merupakan suatu yang sifatnya sangat eksepsional, namun tentu saja hal itu menjadi sesuatu yang membanggakan. Semoga prestasi ini bisa menjadi penyemangat bagi kita semua untuk bisa lebih baik. Hidup Universitas Indonesia, hidup Indonesia!

Sumber: Lampung Pos


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

15 Comments

Leave a Reply

  1. Tabik!

    Saya mengapresiasi dengan keberhasilan dari sdr Shofwan Al-Banna. Benar-benar menjadi semangat bahwa ketika usia muda, maka manfaatkanlah waktu kita secara baik-baiknya. Sama seperti tokoh yang kemudian menjadi nama dari bang Shofwan ini yang menyatakan bahwa kewajiban yang kita miliki ini melebihi dari segala waktu yang kita punyai. Proviciat untuk bang Shofwan.

    Akan tetapi saya ingin memberika ruang pendapat yang berbeda dengan sdr Muchdlir Zauhariy dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini. Kampus ekonomi yang menjadi tradisi besar dalam menguasai ekonomi Indonesia. Pernah menjadikan Indonesia masuk dalam proses pembangunan besar maupun juga menjerumuskan Indonesia ke dalam proses kesenjangan ekonomi, kemiskinan, ekonomi -neo-liberal ataupun melakukan beragam praktek-praktek kejahatan ekonomi lainnya terhadap kekayaan negeri Indonesia ini. (Maaf tetapi ini fakta yang semua orang juga mengetahui)

    Kalau sdr Muchdlir Zauhariy ingin menunjukan kulaitas bagaimana mahasiswa UI itu menjadi terbaik dalam sejarahnya, terhadap masyarakatnya dan segalanya, alangkah baik jika pembandingnya adalah bukan dengan Universitas Harvad saja. Saya kira itu cuma menjadi sebuah simbol-simbol piagam atau prestasi saja yang akan kita peroleh.

    Menurut saya yang menjadi lebih penting adalah, sanggupkah saudara ini menghindari segala watak kapitalistik, menghindari watak dari logika ekonomi yang menjadi anda percayai dan pelajari di kampus kebanggaan anda tesb, yaitu prinsip ekonomi : dengan sumber daya yang minimal mampu memberikan hasil maksimal dari proses ekonomik kita. Apakah anda sanggup untuk menghindari watak riba dalam sikap dan perilaku ataupun pikiran sdr? Agar bangsa ini tidak semakin dieskploistasi oleh sdr/sdrnya sendiri, yang mungkin di masa depan salah satunya adalah anda, sebagai seoarang lulusan berbakat dari kampus FE UI yang terbaik di Indonesia.

    Bagaimana sikap kritis anda dengan segala yang anda pelajari di ekonomi UI? Apakah anda diam saja dengan segala logika eksploitatif yang kemudian menjadi ideologi dan dogma dari seluruh mafia FE UI tersebut. Yang menguasai seluruh pemerintahan ekonomi, yang kaos-kaos mahasiswanya ketika sedang baru-baru menjadi mahasiswa adalah..nasib paling buruk dari kami (lulusan FE UI) adalah menjadi menteri… apakah itu yang kemudian menjadi arogansi dari almamater anda??

    Bagaimana anda mampu membuat sebuah konsep dan pemikiran yang kemudian berbeda dan inovatif mengenai ekonomi Indonesia, bagaimana membantu masyarakatnya? menolong dari jeritan kemiskinan dan eksploitasi dari orang-orang ekonomi yang pintar pintar itu?

    Apa tawaran anda?

    Seharusnya anda berbangga ketika anda mampu menyelamatkan negeri ini dari segala pemikiran eksploitatif dan arogansi ataupun kebanggaan diri yang berlebihan seperti yang anda tunujukan dalam tulisan di atas.

    Sdr Shofwan Al-Banna pun akan mengucapkan salan Tabik (penghormatan) kepada sdr jika sdr mampu membuat inovasi dan kreasi yang mencegah segala pemikiran kapitalistik di FE UI. Bang Shofwan pun akan mengatakan “penghargaan kepada saya tiada berarti dibanding dengan kamu, yang mampu membuat sebuah anti-tesa secara praktis terhadap jeratan setan kapitalistik di masyarakat kita…” mungkin akan menjadi salam kepada anda jika anda memang mau menjadikan diri anda bangga dengan segala kepandaian mahasiswa UI yang melebih “HArvad tersebut”

    Mari sdr, bangun UI ini dengan sebuah oto-kritik yang lebih bernalar, jangan membanding terlalu jauh dengan visi-visi yang mengawang-awang, membuat kita terbang dari realitas masyarakat yang eksploitatif ini.

    Mari mengkritik segala praktik jahat FE UI bagi masyarakat Indonesia,

    ketika anda mampu, saya akan memberikan penghormatan san salan Tabik! kepada anda.

    Ayo, bersikap lebih baik sebagai mahasiswa UI…

    terus belajar tanpa henti sdr Muchdlir Zauhariy.
    Dengan setulus hati mohon maaf jika kata-kata saya terlalu lugas, kasar dan menghina.

  2. padahal niat gw kan baik nulis ini berita….
    mungkin niat baik harus bisa dikomunikasikan dengan baik

    walaupun itu juga gak menjamin adanya pro dan kontra

    jadi desparado gw nulis

  3. @zauhariy :
    sabar bung, gw juga pernah merasakan hal yang sama di anakUI.com waktu itu gw masih rajin nulis tentang ajakan aksi turun ke jalan, dll, banyak juga yang mencibir, dan salah satunya malah jadi temen yang lumayan dekat dan memberikan sudut pandang yg berbeda mengenai sebuah kasus, jadi nambah temen, keep writing lah pokonya bro, jangan desperado gitu…

  4. ikutan bantuin johar ah, mau reply beberapa pendapat dari angin pemburu..

    beberapa dari pendapat dia saya setuju dan beberapa juga nggak setuju..

    yang nggak setuju: tentang penghakiman FE itu fakultas yang buruk:

    1. Mari mengkritik segala praktik jahat FE UI bagi masyarakat Indonesia,
    2. Apakah anda diam saja dengan segala logika eksploitatif yang kemudian menjadi ideologi dan dogma dari seluruh mafia FE UI tersebut.

    seakan-akan seluruh lulusan FE UI itu benar-benar jahat.. memang saya juga nggak setuju dengan beberapa lulusan FE yang biasa disebut mafia berkeley, namun saya ga bisa menampik bahwa lulusan2 FE punya jasa bagi Indonesia, setidaknya yang gw tahu: membuka perusahaan2 besar dan mengurangi pengangguran..

    yang nggak setuju juga: tentang arogansi dan kebanggaan diri yang berlebihan yang ditunjukkan tulisan ini.

    sudut pandang orang-orang memang berbeda-beda pastinya.. sudut pandang saya sama kaya penulis tulisan ini, bahwa keberhasilan seseorang hendaknya dijadikan inspirasi bagi kita untuk melakukan berbagai macam kebaikan yang bermanfaat..

    masalah prestasi, atau gelar, atau apakah itu yang bersifat seremoni, itu hanya sebuah bonus.. yang penting adalah kontribusi dan manfaat yang kita berikan untuk orang lain..

    setuju banget dengan pendapat ini:

    Mari sdr, bangun UI ini dengan sebuah oto-kritik yang lebih bernalar, jangan membanding terlalu jauh dengan visi-visi yang mengawang-awang, membuat kita terbang dari realitas masyarakat yang eksploitatif ini.

    buat awalan, gitu aja sih, nggak asik kalo kepanjangan, hehe..

    oh iya, buat saudara angin pemburu, boleh memberi dua saran buat anda?
    1) lebih seru kalo kita berdiskusi dengan identitas yang jelas, jadinya bisa saling mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis πŸ˜‰
    2) dalam berdiskusi, jangan pernah “menyerang” orang secara personal, tapi “seranglah” argumennya.. contoh serangan personal:

    1. Agar bangsa ini tidak semakin dieskploistasi oleh sdr/sdrnya sendiri, yang mungkin di masa depan salah satunya adalah anda, sebagai seoarang lulusan berbakat dari kampus FE UI yang terbaik di Indonesia.
    2. Seharusnya anda berbangga ketika anda mampu menyelamatkan negeri ini dari segala pemikiran eksploitatif dan arogansi ataupun kebanggaan diri yang berlebihan seperti yang anda tunujukan dalam tulisan di atas.

    nggak semua orang bisa tahan diserang secara personal.. sepertinya cuma bang iR dalam tulisan ini https://www.anakui.com/2007/12/08/heboh-liputan-kampanye-calon-ketua-bem-ui-2008-2009-di-youtube/ yang kuat diserang secara personal berkali-kali.. *pis bang :D*

  5. Tabik!

    Dengan rasa maaf, saya memnita maaf kalau beberapa tulisan saya diatas memang agak kasar dan terlalu menyerang secara personal. Saya memang awalnya sengaja dengan tujuan membuat web ini menjadi lebih sengit, dengan nuansa kontroversialnya. Maaf ya Johar : )

    Beberapa pendapat saya memang saya sengaja tulis dengan sebuah sense yang marah, mengikuti sebuah gaya khas penulisan Edward Said, walau tidak dapat disepadankan. Namun yang jelas, saya secara pribadi memang sedang bergerilya, dengan semangat personal dan dari kelompok diskusi dan belajar ingin membangun sebuah tradisi dan klutur yang lebih baik di UI ini. Berkaitan dengan proses akademis, pencarian kebenaran ilmu ataupun proses pengetahuan. Agar, tidak terlalu menjadi sebuah sifat yang lebih menonjolkan arogansi dan simbol2 romantisme kebanggaan UI, tetapi lebih menunjukan diri anak UI walau tanpa emebl-embel jaket kuning, almamater, nama dsb. Anak UI itu adalah anak yang mampu menunjukan karakter dirinya, terlepas dia memakai simbol UI atau tidak, nama besar kampus atau tidak. Yang jelas dia pasti (saya berusaha meyakinkan diri) kalau anak-anak UI mau benar benar serius untuk mengeksploarsi diri, maka memang sebuah karakter yang besar dan baik tentunya akan terlihat.

    Saya secara pribadi pernah bertemu johar, jadi saya sudah memperhatikan dia sejak semester 1 atau 2. Jadi cukup tahu, seberapa besar dia menjadi berkembang, ataupun seberapa besar daya sense “arogansi UI” itu akan terlihat dari dia.

    email saya anginpemburu@gmail.com

    Semoga kita terus merawat diskusi ini ya,,,

    he3

  6. Salam,
    ada beberapa poin yang pengen gw komentari dan (mungkin) klarifikasi
    @arogansi
    jujur sebenarnya saat menulis tulisan ini tidak ada niatan untuk arogarn atau sejenisnya….
    yang ada adalah bagaimana bisa memotivasi anak-anak UI supaya bisa menjadi lebih baik

    ya secara personal gw sadar kalau antara rasa bangga dan arogansi itu bedanya sangat tipis dan setiap orang punya pengertian masing-masing tentang hal itu

    dari awal yang ingin gw bawa adalah rasa bangga
    namun bila ada beberapa pihak yang mungkin menganggapnya sebagai arogansi…saya minta maaf sebesar-besarnya
    “toh bukannya hidup hanya sekali dan berbuat kebaikan tentunya akan lebih bermakna :D”

    Nah mungkin yang salah adalah bagaimana menyampaikan niatan baik itu sehingga semua orang bisa menerima pesan yang ada tanpa banyak timbul perbedaan inteprestasi

    dan hal ini juga uda gw sampaikan di komen sebelumnya

    @menyerang secara personal
    jujur setelah membaca komen mas/mbak pemburu angin, gw agak kaget juga
    karena personally gw rasa itu menyerang secara personal
    seakan-akan aroma kapitalisme yang ada di feui itu menjadi salah gw sendiri

    mungkin ada baiknya jika dalam diskusi memang yang dikritisi adalah argumen orang yang bersangkutan…bukan orang per orang secara personal

    bukannya itu nantinya juga akan lebih menarik
    sebagai anak debat (maaf bukan bermaksud untuk bilang bahwa gw tahu gimana diskusi yagn baik ato sejenisnya), dalam diskusi memang menyerang secara personal bukanlah hal yang etis…
    dan itu juga bukan esensinya
    yang tidak kalah penting, yang dikritisi juga apa yagn sedang diutarakan, bukan hal lain yang mungkin kurang berhubungan dengan apa yagn sedang dibicarakan

    @nama asli
    di setiap diskusi baik rela maupun on line memang menurut gw ada baiknya jika sang penulis menulis identitas aslinya

    bukan bermaksud untuk numpang tenar, namun tentu hal ini bisa melatih kita untuk bertanggungjawab atas apa yang kita katakan

    bukan hanya lempar batu sembunyi tangan πŸ˜€

    Nah buat Ilman, kalau gw boleh usul, kalo bisa semua anak yang nulis di anakui.com harus mencantukan identitas aslinya
    biar bisa bertanggungjawab
    dan mungkin buat orang non UI akan tahu siapa saja anak-anak ui yang kritis terkait sesuatu hal dalam bentuk tulisan…
    mungkin itu nantinya bisa lebih bermanfaat bagi yang bersagnkutan suatu saat nanti

    @diawasi sejak semester satu
    wadu ngeri banget gw diawasi sejak gw masuk kuliah

    ada gak yang ngawasi gw sejak lahi sampe sekarang ehehehehe, yang jelas orang tua gw tentunya

    siapa ya mas/mbak pemburu angin ini?
    anak-anak fe mustinya
    penasaran jadinya….

    ditunggu ini “confession”-nya
    ehehe

    Makasi semuanya,
    πŸ˜€
    Johar

  7. @zauhariy
    maaf sdr. mungkin ini bukan hanya sebuah kritisi dari artikel Anda tapi ini merupakan sebuah curhatan manis dari sanubari seseorang yang hatinya merasa tercabik melihat realita yang ada sekarang bukan hanya tingkat fakultas namun di UI, banyak sekali yang telalu membanggakan akan jaket kuningnya, fakultas, bahkan jurusannya sehingga ia terlupa siapa dirinya?, untuk siapa dirinya?, dan apa tujuannya hidupnya di dunia?, disini Anda sebagai Mapres UI 09 yang artinya dapat mewakili seluruh Mahasiswa UI diajak untuk lebih menjadi diri sendiri, kreatif, inovatif, nonkapitalis, dan bukan menjadi orang lain namun dibalik itu semua dapat diambil suatu hikmah dan pelajaran yang tersirat yang tidak bisa didapat dari diri sendiri,.