Kemerdekaan: Quo Vadis?


0
Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih (cc/flickr/Mr. T in DC)

Tanggapan untuk artikel opini Refleksi Hari Kemerdekaan: Indonesia Kini.

https://www.anakui.com/2011/08/17/refleksi-hari-kemerdekaan-indonesia-kini/

Tanggapan ini ditulis sebenarnya ditulis untuk komentar. Tetapi karena setelah di kirim masuk kategori spam, maka terpaksa dibuat post tersendiri. Seluruh pendapat yang berusaha digagas dalam tanggapan ini bukan untuk menyerang, tetapi mengajak agar kita semua keluar dari pikiran retoris, romantik dan jargonistik. Mari kita lawan seluruh dogma, dan sudut pandang yang nir horizon dalam membaca fenomena di masyarakat.

Biarkan pikiranmu bebas, tanpa dipenjara apapun itu!

Tanggapan 1.

Sepertinya arah refleksi atas pencapaian eksistensi kehidupan bermasyarakat di wilayah Indonesia hingga hari perlu lebih jauh di bawa secara lebih mendalam.

Pertama, berkaitan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia, kita perlu memberikan penegasan kembali atas segala konsekuensi yang telah di ambil secara politis dengan di hadirkannya model pengorganisasian masyarakat yang seperti sekarang, model negara-bangsa modern (nation state).

Penegasan tersebut bukan tanpa alasan, karena seringkali kita merasa bahwa apa yang kemudian kita terima (termasuk kemerdekaan) merupakan sebuah konsekuensi sejarah ataupun takdir yang berjalan begitu saja. Keputusan untuk menggunakan model perorganisasian masyarakat dalam negara-bangsa (nation state) adalah putusan politik, yang jika ditinjau secara mendalam dalam sejarah merupakan usaha atas tranformasi kelompok elitis yang mungkin di atas namakan secara massal melalui manifesto proklamasi.

Proses formasi sosial terutama pembentukan kelas-kelas sosial, paska manifesto proklamasi diberlakukan jelas perlu mendapatkan catatan serius. Mengapa?

Politik pemerintahan kolonial menggunakan sebuah skema pembagian kelas sosial berdasarkan konsekuensi fakta ras dan juga lapisan-lapisan sosial yang dipadu dengan model feodalisme yang telah berkembang dengan baik di wilayah Indonesia. Perkembangan yang muncul seiring dengan hadirnya kelas-kelas baru di dalam praktik pemerintahan (masksudnya elit-elit sosial baru) seringkali tidak memberikan ketegasan kembali dalam transformasi sosial masyarakat. Apa maksudnya? Kehadiran elit-elit baru di dalam skema kelas sosial masyarakat paska kemerdekaan bukanlah banyak mendorong untuk proses keterbukaan kelas-kelas sosial, tetapi malah berkencerungan sekedar mengubah formasi kelas sosial kolonial. Elit-elit baru tersebut hadir dan menggantikan elit-elit kelas tinggi yang dulunya di duduki oleh kawanan kolonial.

Karena menjadi lumrah, jika sampai hari ini kita masih seringkali menggunakan terma: politik belum berpihak kepada rakyat, itu tidak lain karena kelas baru yang muncul dalam masyarakan kita hanyalah kelompok yang parsial. Kelompok yang eksistensinya adalah hanya mengatasnamakan keseluruhan rakyat Indonesia, sama seperti yang pernah tertera pada manifesto proklamasi.

Kedua, konsekuensi politis yang sampai hari masih kita pertahankan ini patut dibaca secara detail pada beberapa variabel konkret, semisal:
– nilai ideologi negara-bangsa (Pancasila)
– model pengaturan wilayah dalam bentuk kesatuan
– hubungan sosial pemerintahan dalam dua jalan sekaligus, yakni pemerintahan terpusat dan pemerintahan terdesentralisasi (otonomi daerah)
– dinamika identitas dan eksistensi masyarakat dalam tegangan proses globalisasi dan lokalisasi
– usaha-usaha untuk melakukan perubahan radikal atas segala pilihan politis tersebut: makar (pemisahan), romantisisme UUD 45, perubahan ideologi menggunakan teknologi terorisme terkini, hingga konflik politis, ekonomi yang masih bertahan di beberapa wilayah di Indonesia

Hal-hal tersebut menandakan apa? Jika sampai hari ini kita masih memiliki keyakinan dan berusaha mempertahankan secara politis atas model pengorganisasian masyarakat secara modern dengan menggunakan terma negara-bangsa, maka penegasan yang rasional dan sejalan dengan pilihan tersebut haruslah sekamin ditampakan. Pada praktik setiap harinya, seringkali penampakan cara modern hanya terbatas pada kenyataan kita mengonsumsi produk dan teknologi  modern termasuk gaya hidupnya, bukan logika dan rasionalisasi mendasarnya.

Keanehan, ketidaklogisan maupun kontradisksi, entah yang dilakukan oleh politisi, artis, pengusahan, kalangan kampus, pejabat, imam, aparat penegak hukum ataupun mahasiswa serta masyarakat umum merupakan kenyataan atas pilihan politis ideal kita yang secara retoris kita nyatakan modern, tetapi budaya kita masih tradisional, masih saja feodal, masih saja belum mendoroang proses formasi kelas yang terbuka. Kita masih saja menggunakan praktik diskriminasi kelas-kelas sosial yang sama persis dilakukan oleh pemerintahan kolonial.

Jika tidak maka ungkapan dan seruang bahwa politik belum pepihak pada rakyat, ataupun seruang bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju proses yang sesungguhnya mungkin tidak pernah akan kita nyatakan lagi.

Sampai hari ini, jika kita mengagungkan Indonesia, meratapi peringtan kemerdekaan Indonesia ataupun menunjuk ini dan itu, kita hanya melakukannya secara retoris. Entah apakah kita ini memang sedang dan selalu hidup dalam negara angan-angan dan mimpi, seperti yang dipertunjukan oleh sandiwara wayang, ataukah kita benar-benar merasakan kehidupan secara nyata dan mau mengubahnya. Belum ada jawaban yang tegas akan hal itu.

 

Tanggapan 2.

Yang menarik untuk diperhatikan secara serius pada hari ini adalah pilihan-pilihan untuk mempertahankan ataupun melakukan transformasi terhadap cara kita mengorganisasi masyarakat di Indonesia. Pilihan yang sampai hari ini masih di ambil secara politik adalah mengorganisasi masyarakat dengan menggunakan model negara-bangsa modern (nation state).

Putusan politis tersebut tentu saja memberikan beragam konsekuensi, terutama terhadap pilihan-pilihan nilai-nilai utama yang menjadi dasar bagi pengorganisasian masyarakat tersebut, semisal Ideologi Pancasila, model wilayah kesatuan serta praktik pemerintahan dalam skema demokrasi dengan dua jalur sekaligus: pemerintahan yang terpusat serta pemerintahan desentralisasi (otonomi daerah).

Pada praktik dan cara kita menghidupi organisasi masyarakat yang seperti itu, kerapkali kita masih mengalami posisi mendua, bimbang ataupun berusaha untuk melakukan adaptasi serta perubahan yang terkadang drastis serta radikal. Beberapa angan-angan untuk mengubah model wilayah dari kesatuan ke federasi, ataupun juga permasalahan belum ditemukannya model ideal hubungan pemerintahan secara terpusat dengan desentralisasi.
Hingga kecenderungan terjadi tranformasi identitas orang-orang atau manusia di Indonesia sendiri sebagai bagian dari pertemuan proses sosial yang mengdunia (globalisasi) dan bertumbuhnya sentimen lokal (lokalisasi) terkadang mengakibatkan konflik muncul dengan begitu mudah.

Sepertinya memang, yang terjadi di negara ini adalah belum mengerti dan memahami secara utuh atas konsekuensi kita memilih menggorganisasikan masyarakat secara modern: menggunakan model skema negara-bangsa.

Romanitisisme, rasa sentimen dan cara berperilaku kita dalam kehidupan sehari-hari belum banyak menggunakan cara hidup masyarakat “modern”. Ada banyak gaya hidup dan pencapaian teknologi yang seakan-akan kita sudah menjadi bagian dari masyarakat kotemporer dunia, tetapi logika dan skema budaya kita sebenarnya masih banyak berunsur tradisional.

Maka menjadi tidak salah, apabila masih banyak kekacauan ataupun ketidakmengertian atas kondisi politik, tingkah laku yang kita sendiri seringkali tidak mengerti, mengapa banyak terjadi kontradiksi di dalam kehidupan kita.

Nilai-nilai yang tertulis dan di angankan dalam piagam dan manifesto kemerdekaan kita sudah banyak memberikan ruang ideal, kitanya saja yang belum mengubah cara hidup dan menjadi lebih beradap, seperti pilihan kita untuk memiliha jalan kehidupan dalam mengatur masyarakat ini secara modern.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
gerakan

Sedang melakukan penelitian mengenai seni & transformasi masyarakat. Penyuka diskusi filsafat, kebudayaan, teknologi dan segala hal tentang lika-liku manusia.

0 Comments

Leave a Reply

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals