“Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,”
Pramoedya Ananta Toer

Beberapa waktu yang lalu kampus ini sempat ramai karena aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh teman-teman FAM (Front Aksi Mahasiswa) UI. Tidak hanya ramai karena pemberitaan di media, tapi juga ramai terutama di ruang-ruang pertemuan antar mahasiswa UI di dunia maya, Facebook atau pun situs ini (anakui.com). Saya pikir saya tidak perlu lagi menjelaskan bagaimana jalannya aksi kemarin. Teman-teman bisa melihatnya di detik.com atau pun tulisan-tulisan yang tercecer baik di Facebook maupun situs ini.

Terhadap aksi itu, muncul kemudian pendapat-pendapat menanggapinya. Terutama dari pendapat-pendapat yang muncul adalah tuntutan kepada FAM UI untuk meminta maaf kepada –utamanya- teman-teman FE UI yang merasa dirugikan (walau dalam hal ini saya belum melihat kerugian yang diderita adalah kerugian yang tangible, kerugian yang memang bisa diukur berapa besarnya). Tulisan saudara Haryo Wisanggeni tentang pertemuan  FAM UI dan BPM FE menjelaskan secara jelas adanya tuntutan itu. Tulisan ini, ingin menyampaikan satu hal; bahwa teman-teman FAM UI tidak perlu menyampaikan permohonan maaf itu.

advertisement

Mengapa tidak perlu

Ada beberapa alasan mengapa teman-teman FAM UI tidak perlu meminta maaf kepada teman-teman FE UI.

  1. Tidak ada kerugian tangible yang terukur yang diderita oleh teman-teman FE UI.
  2. FAM UI tidak menganiaya atau pun melakukan tindakan apa pun yang sifatnya menyerang satu atau sekian mahasiswa FE UI.
  3. Kalau pun ada fasilitas kampus yang rusak karena aksi tersebut, maka lebih relevan untuk meminta maaf kepada pihak kampus. Akan tetapi, sekali lagi, kalau ada. Sampai sekarang yang saya ketahui tidak ada fasilitas yang rusak karena aksi kemarin.

Dari tiga alasan di atas, intinya adalah bahwa FAM UI tidak ada masalah dengan teman-teman FE UI. Masalah yang diangkat di aksi tersebut adalah antara FAM UI dengan Ibu Sri Mulyani. Jika teman-teman FE UI merasa FAM UI terlalu gegabah menggunakan jaket kuning dan menolak kehadiran Ibu Sri Mulyani, maka saya pikir tuntutan permintaan maaf beberapa teman-teman FE UI itu juga merupakan tindakan yang gegabah. Seolah-olah semua mahasiswa FE UI menerima kebijakan Ibu Sri Mulyani dan menentang aksi FAM UI kemarin. Saya yakin tidak seperti itu kondisinya. Silakan membela kebijakan Ibu Sri Mulyani, tapi jangan gunakan institusi keluarga mahasiswa FE UI yang independen.

advertisement

Penutup

Saya bukan anggota FAM UI. Bukan juga mantan anggotanya. Bukan pula apa pun yang berkaitan dengan FAM UI. Dalam kasus Bank Century pun, saya belum memiliki keyakinan yang utuh bahwa Ibu Sri Mulyani bersalah. Sebaliknya, yang saya tahu, Ibu Sri Mulyani justru adalah dosen yang mendorong dan memberikan dukungan moral kepada mahasiswanya pada aksi 1998 dulu. Tentu itu menunjukkan integritasnya. Akan tetapi, jika sampai teman-teman FE UI (melalui BPM FE UI atau pun tidak) menuntut permintaan maaf FAM UI atas aksi kemarin, jelas itu hal yang tidak perlu, bahkan tidak pantas. Silakan kritisi, tapi tidak perlu ada tuntutan itu. Maka, terang sekali apa yang saya bela di sini: sikap saling menghormati pendapat antar elemen mahasiswa.

“Pada zaman Orde Baru mahasiswa coba dikerangkeng dengan NKK-BKK. Setelah ada otonomisasi kampus UI, mahasiswa coba dikerangkeng dengan SK Kemahasiswaan yang sempat kontroversial itu. Tapi kini, dengan tuntutan permintaan maaf, kerangkeng itu sepertinya malah coba dibuat oleh mahasiswa sendiri kepada teman-temannya. Miris.”

advertisement