Kenapa Orang Indonesia Sulit Bertanya?


0
Bertanya
Bertanya (Ilustrasi ditambahkan Admin) (cc/flickr/UC Davis College of Engineering)

Ada Pertanyaan? Any question?

Suasana mendadak jadi hening, sunyi, krik krik krik.

Sesi pertanyaan seringkali menjadi momok bagi hampir semua orang Indonesia baik saat presentasi, meeting, atau pada saat sesi kelas. Perasaan malu, takut dianggap bodoh, atau mengganggu yang lain yang ingin cepat menyelesaikan sesi, mungkin itulah beberapa alasan orang Indonesia malu untuk bertanya.

Selama hidup 20 tahun saya hanya sedikit sekali menemukan forum yang benar-benar ekspresif dan hidup dengan banyaknya pertanyaan dari para pesertanya dan interaksi yang kuat bersama sang pemberi materi, sisanya (90%) adalah forum yang bertumpu pada sang pembicara dan peserta hanya bertugas sebagai pendengar. Saya jadi penasaran kenapa sih kok rata-rata (gak semua) susah banget buat nanya saat sesi pertanyaan padahal selesai sesi antar peserta saling bertanya tentang isi materi yang disampaikan pada saat sesi, nah loh?

Saya rasa hampir semua orang Indonesia tau tentang hal ini, kalo masih ada yang belum tau silahkan perhatikan saat di kelas kuliah atau sekolah atau saat seminar saat pembicara sedang menyampaikan materinya maka sedikit banyak akan ada suara obrolan sesama pendengarm, saling berbisik atau pun ngobrol satu sama lain. Selanjutnya saat tiba sesi tanya jawab, ada pertanyaan? 3…2…1 zingggggg krik krik kok tiba-tiba sepi yah dan liat gesture (bahasa tubuh) para peserta, mungkin ada yang sedikit merunduk atau mungkin saling tengok kiri kanan (dengan banyak pertanyaan di kepala), tapi tetap aja rata-rata susah banget untuk akhirnya mengambil inisiatif untuk bertanya.

Jika ada yang bertanya angkat tangan paling bisa dihitung dengan jari. Walaupun cuma satu dua yang tanya, tapi peserta lain akan berfikir “iyah sih kenapa yah bisa gitu?”. Nah sebenarnya saya yakin hampir semua orang punya pertanyaan, tapi yang akhirnya yang benar-benar bertanya hanya satu dua orang. Saya coba menganalisa dari dua sudut yaitu dari sudut pembicara dan dari sudut pendengar.

Dari sudut pembicara saya coba analisa kenapa pada akhirnya tidak ada yang bertanya atau sedikit sekali. Pertama, ada beberapa pembicara yang memang defense untuk akhirnya membawa untuk tidak adanya pertanyaan dalam forum dengan menyampaikan semua hal dan menutup sesi. Kedua, memang forumnya dibuat untuk tidak ada sesi tanya jawab yaitu hanya penyampaian materi saja. Yang terakhir dan paling sering terjadi adalah pembicara tidak menyampaikan materi dengan menarik yang membuat para peserta malas untuk bertanya.

Nah yang paling penting dari sudut pesertanya nih, rasa ragu sering hinggap di setiap sesi pertanyaan. Nanya ga yah? Ah entar dibilang bego lagi, kayanya pertanyaan basi deh ini, takut salah naya ah nanti aja, entar gemeteran lagi pas nanya da deh, kayanya yang lain dah pengen cepet selesai deh, entar aja deh barangkali ada yang nanya sama kaya pertanyaan gue. Apakah salah satunya atau semuanya terjadi sama kamu? Mungkin jawabannya bisa ya atau tidak, bagi yang jawab tidak maka bersyukurlah kalian termasuk golongan yang tidak terjerat dalam lingkaran susah bertanya hehehe.

Bertanya adalah hak bagi setiap orang dan tidak ada yang salah untuk bertanya. Yang salah adalah terus memendam pertanyaan hingga menjadi beban pikiran. Percayalah pada diri kalian kalo memang kalian butuh untuk bertanya dan kalo memang orang lain sudah mengetahui tentang hal itu, it’s ok karena hak kalian untuk tetap bertanya dan mendapatkan penjelasan lebih dari pemberi materi. Satu kata kunci adalah percaya diri dan mulailah bertanya tentang hal yang ingin kalian tanyakan.

Any question? Raise your hand and say yes Sir i have question!

See More:
refaldology.wordpress.com


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
1
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

8 Comments

Leave a Reply

  1. Ini bukan hanya habit orang Indonesia, tapi orang Asia sebenarnya, haha. Saya mengenal seseorang dari Hongkong yang saat itu menjadi pembicara di seminar. Ketika sesi berakhir dia berkata, “Pasti nggak akan ada yang nanya, atau cuma dikit. Percaya deh, orang Asia itu begini.” (karena di negara dia begitu juga). Dan benar, yang nanya cuma 1, 2 orang. Jadi judul di atas menurut saya terlalu memojokkan orang Indonesia 🙂

    Setelah saya pikir-pikir, orang Asia begini karena kepercayaan diri mereka terhadap orang di sekitar mereka tidak sebesar orang Barat, dan mereka lebih memperhatikan apa pendapat orang di sekitar mereka terhadap diri mereka (takut salah, takut terlihat sok pintar, takut dianggap nggak ngerti). Betul, nggak? Kalau orang bule kan cuek dan peduli amat orang lain ngomong apa yang penting dirinya maju. Ini mayoritas lho, nggak semua juga.

    1. Terima kasih atas tanggapan dan sharingnya nia^^
      Tulisan tersebut adalah murni opini saya yang saya rangkum dari pengalaman hidup saya sendiri, karena beberapa kali ikut forum di beberapa negara tetangga atmosphere nya sedikit berbeda saat tiba sesi tanya jawab begitu antusias dan rasa keingintauan para peserta pun terekstrasi menjadi pertanyaan-pertanyaan. So, di sini bukan untuk mencari siapa yang salah dan benar tapi ini sebagai motivasi saja bahwa orang Indonesia pun sebenarnya bisa dan mampu untuk lebih mengembangkan pola pikirnya melalui melayangkan pertanyaan 🙂

      Keep sharing yah 🙂

  2. menumbuhkan rasa percaya diri itu lumayan susah … contohnya tidak jauh-jauh.saya sendiri pernah mengalaminya..takut salah lah pertanyaannya,takut pertanyaannya nggak berbobot lah,takut di bilang teman begok karena nggak ngerti… 🙁
    sekarang tidak ada lagi kata untuk malu bertanya..:) Ingat saya kata Einstein “jangan pernah berhenti bertanya dengan bertanya seseorang akan belajar berfikir dan membaca fenomena disekitarnya..” 🙂

    1. Dan itu pun saya pikir dirasakan oleh setiap orang. jadi tergantung orangnya berani atau tidak dalam mengambil resiko untuk berbuat salah. tidak ada yang salah dalam bertanya karena itu hakekatnya hak setiap orang 🙂

  3. itu karena percaya diri yang kurang kali ya…
    🙁
    ditambah orang Indonesia itu sebenernya komunal, bukan individualis..jadi kita lebih gampang maju kalau merasa bersama-sama sementara bertanya seperti itu cenderung kegiatan individual

  4. Ya itulah kalo misal orang terlalu sibuk dengan pemikiran orang lain bahwa nanti dia akan dianggap bodoh dan anggapan lainnya.

    Cara pembawaan pembicara juga berpengaruh sih. Biasanya pembicara dengan gayanya yang unik bisa mendorong peserta untuk tidak malu-malu bertanya.

    Kalo bukan dari peserta, mungkin pembicara yang harus belajar bagaimana membawakan presentasi yang menarik dan dipertanyakan (?). Maksudnya membuat peserta bertanya, gitu. 😛