Isu rasisme pada saat ini tengah berlangsung di Indonesia, terutama  isu rasisme terhadap orang Papua, beberapa masyarakat Indonesia yang peduli dengan kebebasan, keseteraan, hak-hak asasi manusia mulai berupaya membahas isu ini.

Adalah BEM Universitas Indonesia, pada tanggal 6 Juni 2020, BEM UI mengadakan diskusi mengenai rasisme yang terjadi di Papua, sayangnya diskusi ini mendapatkan tanggapan negatif dari pihak Universitas Indonesia. Dengan berbekal kata ilmiah yang seolah menjadi ciri kebenaran, pihak  Universitas Indonesia menganggap diskusi tersebut tidak layak.

advertisement

Dengan kata ilmiah Universitas Indonesia seolah mempunyai surplus kekuasaan untuk menyingkirkan diskusi yang didasarkan pada kepedulian tentang kesetaraan dan kebebasan tersebut.  Ukuran tingkat ilmiah itu digunakan oleh Universitas Indonesia untuk digunakannya sebagai alat otoritarianisme dan menghapus pluralitas opini.

Dulu di zaman Yunani ada seorang  raja yang dianggap sebagai raja yang bijaksana, setiap malam raja tersebut selalu mengundang satu warganya untuk tidur diranjang emasnya, malam-malam si raja mengintip warganya yang sedang tidur. Kalo tubuh rakyatnya yang sedang tidur lebih panjang dari panjang kasurnya si raja maka akan digergaji kakinya dan kalo lebih pendek maka akan ditarik supaya fit and proper atau pas dengan panjang kasur raja. Jadi raja tersebut melayani publiknya dengan ukurannya sendiri dan gejala tersebut merupakan gejala awal dari otoritarianisme. Universitas Indonesia sepertinya ingin menjadi Procrustes, alat  untuk memotong kaki rakyatnya adalah kata ilmiah. Siapa yang menjadi rakyat yang dipotong oleh Procrustes? Jawabannya adalah BEM UI dan para mahasiswa yang peduli terhadap ketidakadilan.

Universitas Indonesia harusnya sama sekali tidak menarasikan kebenaran opini tunggal sebagai suatu lembaga akademik yang berkomitmen meningkatkan intelektual publik. Jika memang diskusi yang dilakukan oleh BEM UI tidak berimbang dengan menghadirkan pembicara dari satu sisi saja maka yang harus dilakukan oleh pihak Universitas Indonesia adalah dengan mengadakan diskusi  tandingan serupa seperti BEM UI dan menghadirkan pembicara yang sebelumnya tidak dihadirkan oleh BEM UI dan Universitas Indonesia tidak perlu melabeli diskusi BEM UI sebagai tidak layak dan tidak didasarkan pada pijakan ilmiah.

advertisement

BACA JUGA: Pusat Kajian Papua di Universitas Indonesia

Sama halnya jika kita melihat seorang yang berbuat suatu kesalahan maka bukannya kita menghakimi dan mengata-ngatai dia tetapi kita memberikan contoh teladan yang baik. Seharusnya pihak Universitas Indonesia mengadakan diskusi tandingan yang mengundang berbagai pihak untuk menunjukkan keteladanan dan bagaimana keilmiahan suatu diskusi bukannya menyingkirkan dan menarasikan kebenaran opini tunggal yang mematikan diskusi.

Tanggapan Universitas Indonesia terhadap diskusi BEM UI tidaklah mencerminkan kedewasaan Universitas Indonesia sebagai lembaga intelektual. Saya harap juga pihak humas UI sebaiknya berhati-hati karena tindakannya dapat membuat nama Universitas Indonesia buruk di mata publik.

advertisement

Lagi pula isu rasisme bukan tanpa sebab  jika banyak masyarakat yang membahasnya karena bagaimanapun masyarakat Indonesia telah belajar dari rasisme yang terjadi di Amerika dan negara lainnya yang menewaskan banyak korban jiwa, maka dari itu banyak orang yang ingin mendiskusikan isu rasisme ini. Pendiskusian tersebut bukanlah dimaksudkan dalam rangka menuduh pemerintah tetapi seandainya ada rasisme maka kita harus mencegah terjadinya hal serupa seperti yang terdapat di Amerika.

Mengapa perjuangan kebebasan dan menentang rasisme penting untuk dilakukan? Saya ingin mengutip perkataan salah seorang pejuang kebebasan yang menentang rasisme dan perbudakan yaitu  Angelina Grimke dalam suratnya kepada William Lloyd Garrison ketika mereka berupaya menghapus rasisme dan perbudakan di Amerika:

“Saya percaya dengan sepenuh dan segenap hati bahwa upaya ini layak diperjuangkan dengan nyawa sekalipun”

advertisement

Grimke mengingatkan bahwa perjuangan memberantas rasisme dan perbudakan adalah perjuangan serta isu yang luhur:

“Jangan pernah menyerah.”

Saya katakan bahwa BEM UI harus melanjutkan upaya diskusi mereka walaupun mereka dilabeli oleh pihak Universitas Indonesia sebagai tidak ilmiah, tidak layak, melanggar peraturan, dan lain sebagainya. Diskusi yang dilakukan oleh BEM UI adalah diskusi yang lahir dari hati nurani akan kepedulian untuk mencegah terjadinya rasisme di Indonesia.

BEM UI adalah sosok pahlawan yang berani muncul untuk mendiskusikan isu rasisme yang ada di Indonesia. Saya katakan sekali lagi bahwa BEM UI tidak boleh mundur dalam perjuangan mendiskusikan isu ini, walaupun banyak rintangan yang terjadi, janganlah mundur karena memang bagi siapa saja yang menginginkan perubahan maka dia harus melakukan perjuangan. Seperti yang dikatakan oleh Frederick Douglas dalam perjuangannya:

“Ijinkan saya memberikan sepatah dua patah kata mengenai filosofi perubahan. Seluruh sejarah kemajuan dan pembebasan kemanusiaan menunjukkan bahwa semua konsesi yang diraih merupakan hasil dari perjuangan yang sungguh-sungguh. Konflik-konflik yang terjadi sungguh menggairahkan dan mengagitasi, menyerap semua perhatian, dan di saat yang bersamaan, membekap semua hal lain dalam kesunyian. Jika tidak seperti itu, maka konflik-konflik tersebut tidak ada artinya sama sekali. Tidak ada kemajuan tanpa perjuangan. Barang siapa yang menginginkan kebebasan tanpa agitasi adalah seperti orang yang menginginkan panen tanpa menyebarkan benih; mereka menginginkan hujan tanpa badai dan petir. Mereka menginginkan lautan tanpa deburan ombak. Perjuangan tersebut dapat berbentuk perjuangan moral atau bahkan perjuangan fisik, atau keduanya sekaligus. Apapun bentuknya, perjuangan tetaplah perjuangan. Kekuasaan tidak akan hilang tanpa tuntutan. Tidak untuk saat ini, tidak untuk selamanya.”

Tampaknya Universitas Indonesia selalu memandang diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa layaknya bakteri yang bersemayam di dalam tubuh. Bakteri tersebut harus disingkirkan supaya tubuh kembali menjadi sehat (beberapa diskusi selalu sering dibubarkan oleh pihak UI). Tapi seharusnya mereka sadar bakteri tidak akan ada dalam tubuh jika yang punya tubuh menjaga kesehatannya dan melaksanakan pola hidup yang sehat. Adanya bakteri merupakan teguran dari tubuh untuk yang punya tubuh supaya dia mengubah seluruh tindakannya yang dapat membuat bakteri bisa bersemayam di dalam tubuh. Seharusnya mereka sadar adanya diskusi yang dilakukan oleh mahasiswa adalah diakibatkan Universitas Indonesia yang selalu menarasikan kebenaran opini tunggal. Seharusnya Universitas Indonesia sadar akan hal itu, tetapi sayangnya pihak Universitas Indonesia tidak peduli akan hal itu.

BACA JUGA: Kajian Rutin, HAM dan Kesejahteraan di Tanah Papua

Sikap Universitas Indonesia inilah yang mencerminkan sifat infantil atau kekanak-kanakan sebagai lembaga perguruan tinggi yang berkomitmen dalam pengembangan intelektual. Sebuah diskusi di Universitas seharusnya difasilitasi bukannya dibubarkan. Pluralitas opini harusnya dibudidayakan bukannya dimatikan dengan memproduksi kebenaran tunggal. Sejarah tidak harus selalu dilihat dari sudut pandang yang menang tapi sejarah juga harus memfokuskan kepada sudut pandang orang kalah supaya terjadi diskursus rasional. Sikap Universitas Indonesia yang memproduksi dogmatisme dan doktriner mencerminkan ketidakdewasaan Universitas Indonesia sebagai lembaga pendidikan.

Isu kebebasan dan pembelaan kesetaraan penting untuk di diskusikan karena itu merupakan representasi adanya demokrasi. Kita harus belajar dari William Lloyd Garrison. William Lloyd Garrison ketika berjuang membela kesetaraan, kebebasan, penghapusan rasisme, penghapusan perbudakan menulis dengan lantang di The Liberator:

“Aku akan berbicara selantang kebenaran, dan tidak akan kenal kompromi layaknya keadilan. Aku tidak akan berpikir, berbicara, maupun menulis dengan lemah lembut. Tidak! Tidak! Katakan pada seseorang yang rumahnya sedang terbakar untuk berbicara pelan-pelan; katakan pada seseorang untuk tidak grasa-grusu menyelematkan istrinya dari cengkraman pemerkosa; katakan pada seorang ibu untuk pelan-pelan saja menyelematkan bayinya yang terjatuh ke sumur; tapi jangan pernah katakan padaku untuk berbicara pelan-pelan saja pada situasi semacam ini. Perjuanganku ini tulus aku tidak akan berbasa-basi-aku tidak akan bilang permisi-aku tidak akan mundur meski cuma sejengkal-DAN AKU AKAN DIDENGAR.”

Saya yakin apa yang dilakukan BEM UI adalah upaya untuk meningkatkan kepedulian kepada isu keseteraan dan kebebasan. UI harus sadar bahwa mereka adalah Universitas Indonesia sebagai lembaga intelektual, Universitas Indonesia harus bisa menerima pluralitas opini dan tidak hanya mengkonsumsi opini dari media massa saja tetapi kesaksian atau testimoni dari tahanan politik yang diundang BEM UI ataupun pengacara yang menangani kasus di Papua juga layak di pertimbangkan opininya. Universitas Indonesia harusnya tidak menumbuhkan budaya kebenaran opini tunggal.

BACA JUGA: Jayapura, Destinasi Seru untuk Anak UI

Referensi lebih lanjut:

Tom G Palmer.2017. Politik dan Kebebasan (Judul Asli: Why Liberty: Your Life Your Choice and Your Future). Terjemahan oleh Djohan Rady. Indonesia: Suara Kebebasan.

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/08/17220261/tak-berimbang-alasan-ui-nilai-narasumber-diskusi-bem-ui-soal-rasisme-papua

https://nasional.kompas.com/read/2020/06/08/14192541/bem-ui-gelar-diskusi-soal-rasisme-di-papua-ui-nilai-pembicara-tak-layak

https://nasional.tempo.co/read/1350690/ui-tuding-pembicara-diskusi-bem-ui-soal-papua-tidak-layak

https://nasional.tempo.co/read/1351233/aliansi-dosen-dukung-bem-ui-soal-diskusi-papuanlivesmatter