Kronologis Kebijakan Tarif Pemasangan Baliho


0

Oleh: BEM UI 2012

Kebijakan pengenaan tarif terhadap pemasangan publikasi di UI menuai kontroversi karena dinilai memberatkan mahasiswa UI. Kebijakan ini sebenarnya telah dimulai sejak tanggal 1 April 2012 di mana pihak rektorat UI menerapkan tarif untuk publikasi di UI. Sebelum dilaksanakan, pihak rektorat UI melakukan sosialisasi rencana pemberlakuan kebijakan tarif pemasangan media publikasi di tanggal 22 Maret 2012 dengan mengundang Biro KKI BEM UI dan humas BEM se-UI.

Setelah kebijakan tarif pemasangan media publikasi berjalan, pihak rektorat UI melakukan evaluasi terhadap hasil pelaksanaan kebijakan tersebut. Hasil evaluasi kebijakan yang telah dilakukan pihak rektorat disosialisasikan di tanggal 3 Mei dengan hanya mengundang pihak KKI BEM UI dan humas-humas fakultas (bukan humas BEM fakultas). Dalam hasil evaluasi tersebut, penetapan tarif pemasangan baliho tetap diberlakukan dan tidak ada pemasangan baliho gratis seperti pemasangan publikasi media lain yang bisa gratis jika ada surat pengantar dari pihak kemahasiswaan UI. Pihak rektorat UI mengemukakan bahwa ada perhitungan kuantitatif yang jelas tentang kenapa bisa ditetapkan harga Rp10.000/baliho/hari. Kemudian pihak KKI BEM UI meminta perhitungan tersebut akan tetapi tidak juga diberikan sampai saat ini. Pihak KKI BEM UI kemudian melakukan Humas-Net (pertemuan Humas BEM se-UI) untuk merundingkan kebijakan biaya pemasangan baliho ini. Hasil dari perundingan tersebut adalah bahwa kebijakan tarif untuk baliho tersebut memberatkan mahasiswa.

BEM UI kemudian melakukan aksi simpatik yang salah satu sasarannya adalah untuk menolak tarif pemasangan baliho, disamping sasaran-sasaran lain yang lebih besar dari masalah baliho ini seperti BOP-B yang tidak berjalan ideal, indikasi korupsi yang masih belum jelas, pembangunan yang bermasalah, dan lain sebagainya. Aksi simpatik dilakukan dengan memasang baliho ukuran 30×4 meter. Setelah pemasangan baliho tersebut, BEM UI menghadap rektorat untuk negosiasi mengenai kebijakan ini. Dalam negosiasi ini, terdapat perdebatan yang cukup lama mengenai kebijakan tarif tersebut. Pihak BEM UI menghendaki tidak ada tarif pemasangan baliho karena alasan banyak kegiatan mahasiswa yang terbebani karena tariff tersebut, sementara pihak rektorat UI tetap menghendaki tarif Rp10.000 dengan alasan agar media publikasi baliho bisa diminimalisir sehingga dapat membuat rapi kondisi publikasi di UI. Perdebatan dimulai sejak pukul 14.30 sampai pukul 17.30. dari hasil dialog yang terjadi, terdapat kesepakatan dari kedua belah pihak (BEM UI dan KKI UI) bahwa tariff pemasangan baliho Rp10.000/hari memberatkan kegiatan mahasiswa. Setelah dicapai kesepakatan tersebut, pihak rektorat UI kemudian menambahkan dua alasan pemasangan tarif, yaitu pertama adalah agar ada perubahan behavior ┬ádalam publikasi di UI sehingga mahasiswa UI bisa lebih memanfaatkan teknologi digital dan yang kedua adalah agar UI bisa lebih menerapkan konsep green campus. Untuk alasan pertama, BEM UI menanggapi dengan fakta bahwa publikasi kegiatan mahasiswa UI sudah banyak memanfaatkan media digital seperti website, facebook, twitter, milis, dan lain sebagainya. Akan tetapi media baliho tetap menjadi media penting untuk publikasi offline. Untuk alasan kedua, BEM UI menanggapi dengan pernyataan bahwa baliho yang digunakan untuk publikasi mahasiswa biasanya tidak dibuang begitu saja, akan tetapi digunakan untuk berbagai keperluan lain yang bermanfaat bagi kegiatan mahasiswa seperti sebagai karpet, layar, dan lain sebagainya. Jika ingin menerapkan kebijakan green campus dengan benar-benar serius, sebenarnya permasalahan yang lebih besar di UI bukan soal baliho, akan tetapi soal kebijakan yang lebih besar efeknya dari itu seperti penebangan pohon yang sekarang banyak dilakukan di UI, dan lain sebagainya. Meski demikian, akhirnya dicapai kesepakatan bahwa tidak ada tarif dalam pemasangan baliho di UI dan ketentuan lain tetap berlaku sebagaimana adanya.

Tarif pemasangan baliho sudah tidak lagi berlaku di UI sekarng. Akan tetapi, harus diakui bersama bahwa di UI masih banyak masalah lain yang jauh lebih besar dari sekadar tarif pemasangan baliho. Masalah-masalah tersebut sudah banyak diketahui oleh mahasiswa sendiri, seperti praktek pelaksanaan BOP-B yang tidak ideal, indikasi korupsi, transparansi, fasilitas pendukung perkuliahan yang juga bermasalah, dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahan yang lebih besar itulah yang kemudian akan dicoba diselesaikan dalam gerakan UI Gue oleh mahasiswa bekerjasama dengan berbagai elemen baik civitas akademika UI maupun lembaga-lembaga lain di luar UI.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Wahyu Awaludin
Penulis, blogger, pemimpi, dan pebisnis. Seorang mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI angkatan 2008. Mempunyai mimpi ingin mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media online. Kini sedang diamanahi sebagai salah satu peserta PPSDMS angkatan V Regional I Jakarta

2 Comments

Leave a Reply

  1. Agar beritanya tidak setengah-setengah, saya numpang menambahkan sedikit info yang saya tau
    Memang tujuan dibuatnya peraturan ini memang untuk mengurangi pemasangan baliho. Sekarang misal yang dipasang berupa spanduk, tentu lebih banyak acara yang bisa terpublikasi ketimbang saling tumpuk baliho tanpa ada aturan yang jelas. Spanduk bisa gratis asal ada surat pengantar, kalaupun bayar, tarif spanduk di aturan baru lebih murah dari tarif di aturan lama. Sedangkan baliho memang tarifnya meningkat cukup banyak, namun dengan pemberian jaminan bahwa baliho tidak akan ditumpuk atau diturunkan selama ijin pemasangan masih berlaku.
    Silakan baca aturan lengkapnya di http://humas.ui.ac.id/registrasi
    Mengenai masalah-masalah lain seperti transparansi tata kelola dan BOPB, saya sangat mendukung perjuangan teman-teman sekalian. Asal tetep memakai cara penyampaian yang santun ­čÖé