Apakah kamu ingin jadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia selanjutnya?

Realitanya, memaksimalkan kegiatan akademis dan non akademis bukanlah hal yang mudah, lho! Dibutuhkan pengorbanan, komitmen, dan manajemen waktu yang baik agar bisa menjadi finalis mahasiswa berprestasi selanjutnya.

Buat kamu yang tartarik untuk mewakili Fakultas di Pilmapres UI tahun berikutnya, yuk simak rangkuman obrolan bersama tiga mahasiswa berprestasi dari rumpun sosial humaniora!

advertisement

Cekidot!

1. Rafi Ronny

Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2017, Rafi Ronny berhasil mewakili Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dalam Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia 2020. Mahasiswa yang sedang aktif sebagai anggota Ikatan Keluarga Alumni Pemuda – Jakarta Sister City (IKAP – JSC) ini baru saja menyelesaikan tugas sebagai Outstanding Youth for The World Periode 2019 – 2020 (OYTW) dan Indonesia – U.S. 70th Youth Ambassadors oleh Kementerian Luar Negeri RI.

advertisement

Dalam pilmapres kali ini, Rafi mengajukan karya tulis berjudul Diplomasi Budaya Zamrud Khatulistiwa Sebagai Representasi Indonesia-Sentris. Karya tulis ilmiah ini ia buat sebagai respons terhadap visi pembangunan Indonesia-Sentris oleh pemerintah dan terancamnya kebudayaan Indonesia yang berada di luar Pulau Jawa.

Lewat karyanya, ia ingin mengubah fokus Diplomasi Budaya Indonesia dari Jawa-Sentris menjadi Indonesia-Sentris dengan mempromosikan daerah-daerah di Indonesia yang dilalui garis Khatulistiwa. Dengan demikian, kebudayaan Indonesia yang terancam punah dapat keluar dari statusnya sebagai budaya yang terancam dan dapat memberikan suatu acuan baru dalam pembangunan SDM di Indonesia.

2. Hisyam Yusril

advertisement

Anak UI, Sekarang kita kenalan dengan Hisyam Yusril Hidayat yuk! Mahasiswa Administrasi Publik angkatan 2017 ini merupakan salah satu Finalis Mahasiswa Berprestasi Universitas Indonesia 2020 nih. Hisyam berhasil terpilih mewakili Fakultas Ilmu Administrasi setelah melewati serangkaian seleksi mulai dari seleksi administrasi hingga presentasi karya tulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Mahasiswa yang merangkap sebagai Ketua BPM FIA UI ini membuat karya tulis ilmiah berjudul “Pengembangan Sistem Peringatan Dini Bencana Melalui Petabencana 2.0 dan Pengaruhnya Terhadap Capaian Pembangunan Berkelanjutan”. Tulisan ini didasari atas minimnya kesadaran terkait mitigasi bencana. Padahal, mitigasi bencana ini penting untuk mereduksi kemungkinan peningkatan angka kemiskinan pasca bencana.

Berkat karyanya, Hisyam berhasil mengungguli enam karya menarik lainnya dan terpilih sebagai best paper. “Bila kita punya sistem peringatan dini yang responsif, informatif, dan mudah diakses, pastinya informasi akan cepat diterima sehingga masyarakat bisa lebih memersiapkan berbagai rencana untuk menyelamatkan diri dan harta benda,” jelas Hisyam.

advertisement

 3. Anggie Wijaya

Cantik dan berprestasi. Dua kata ini pantas disematkan bagi dara pemilik nama lengkap Anggie Wijaya. Anggie terpilih sebagai Mahasiswa Berprestasi Utama Fakultas Psikologi setelah bersaing dengan empat finalis lainnya. Lewat ‘Rise up’

Anggie mencipatakan platform psikoedukasi dan cybercounseling untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu kekerasan seksual. Platform yang dinamai ‘Rise Up’ ini akan membantu korban yang terdampak untuk mencari bantuan psikologis dan hukum.

“Aku mengangkat isu kekerasan seksual berbasis gambar, revenge porn misalnya.  Sekarang kan sedang marak-maraknya kasus penyebaran foto atau video seksual mantan pacar akibat dendam. Perlu diingat bahwa kasus kekerasan seksual ini seperti fenomena gunung es, yang artinya angka yang tercatat dan orang yang ngelapor itu belum menunjukkan prevalensi kasus sesungguhnya. Umumnya, hal ini terjadi karena korban takut atau enggan melapor. Oleh karena itu, aku menciptakan platform bernama ‘Rise Up’ untuk menolong korban,” tutur Anggie.

Sejauh ini, psikoedukasi buatan Anggie sudah dapat diakses di riseup.web.id dan instagram @media.riseup. Bila kamu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, jangan lupa di-follow ya!

4. Faris Abdurrachman

Mahasiswa Jurusan Ilmu  Ekonomi 2017, Faris Abdurrachman terpilih sebagai mahasiswa berprestasi utama 2020 FEB UI. Ia terpilih setelah melewati berbagai tahapan seleksi, mulai dari penilaian psikotes, diskusi, wawancara. penilaian karya tulis dan presentasi, hingga penilaian Curriculum Vitae.

Dalam pemilihan kali ini, Faris mengangkat pemberdayaan warung dan toko kelontong sebagai topik karya tulisnya. Peraih juara pertama dalam IMF Fund Challenge 2020 menilai, warung dan toko kelontong memegang peranan penting di Indonesia. Sayangnya, belum ada ekosistem offline (ekosistem luring) yang dapat mengajarkan UMKM ritel terkait penggunaan aplikasi dan tips tertentu.

Lewat karyanya yang berjudul “Warung 4.0: Program Pemberdayaan UMKM Ritel melalui Ekosistem Daring-Luring Terintegrasi” ini diharapkan mampu memperbaiki kegiatan operasional warung dan mempermudah ekosistem offline sehingga warung menjadi lebih kompetitif.

Selain serius dalam menjalani kegiatan akademik, Faris juga aktif dalam berorganisasi untuk mengasah soft skills. Saat ini, Faris tercatat sebagai Director of Internal Public Relations  ShARE UI dan mengurus klub buku yang ia bangun bernama Progresa.

“Setiap dua minggu sekali, klub ini akan mempertemukan anggotanya untuk membahas buku yang telah dibaca. Saat ini aku sedang berencana untuk menciptakan komunitas berisi orang yang tertarik dengan policy making. Tujuannya untuk meningkatkan public awareness policy making melalui perspektif ekonomi,” tutur Faris.

5. Dizza Aliftsa

Inilah dia, Dizza Aliftsa. Mahasiswa Berprestasi Utama FISIP UI 2020 ini merumuskan suatu platform digital bernama INDI-SDG atau Inventarisasi Digital Sumber Daya Genetik dan Pengetahuan Tradisional. Gagasan ini dilatar belakangi oleh kekhawatiran Dizza terhadap pelanggaran hak paten akan kekayaan sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional. Minimnya perlindungan yang diberikan pemerintah membuat banyak sekali kekayaan milik masyarakat adat Indonesia yang sering digunakan tanpa izin oleh pihak asing untuk keperluan komersil.

“Tidak adanya mekanisme ataupun regulasi domestik yang mengatur tentang ketentuan izin dan mekanisme pembagian manfaat antara pihak asing yang menggunakan kekayaan dan masyarakat adat membuat banyak kekayaan sumber daya genetik disalah gunakan. Padahal Indonesia sendiri sudah meratifikasi kedua perjanjian internasional itu,” jelas Dizza. Delegasi UI pada ajang Harvard National Model United Nations berharap gagasan platformnya mampu mengisi kekosongan dalam kebijakan perlindungan secara bottom-up.

6. Heru Annas Syahdio

Heru Annas Syahdio, mahasiswa semester 6 Fakultas Hukum terpilih sebagai perwakilan fakultas dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi UI 2020. Pria yang kerap disapa Heru ini memilih topik kesejahteraan sosial bagi pemulung di sekitar Tempat Pembuangan Sampah  Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Heru melihat, terdapat permasalahan pada sistem pendataan sosial yang sering tidak sesuai dengan kondisi faktual di lapangan. Akibatnya, banyak sekali pemukim di sekitar TPST bantargebang yang tidak mendapatkan jaminan sosial, karena tidak terdata dengan baik.

Berdasarkan permasalahan itulah, Heru ingin berkontribusi ke daerah tempat tinggalnya lewat program yang ia canangkan. Program yang dinamakan “Bantargerbang Berdaya” ini merupakan program asuransi sosial tingkat komunitas lokal. Nantinya, program ini memanfaatkan pengepul sebagai agen sosial.

Sistemnya yang Heru tawarkan cukup menarik nih, Anak UI. Pada program “Bantargerbang Berdaya”, pemulung akan menjual sampah ke pengepul. Sebagian persentase dari penjualan sampah disimpan sebagai biaya polis. Nah, bila terjadi risiko kesehatan, pemulung akan mencairkan dana ke pengepul. Selanjutnya, pengepul akan meneruskan data polis, data sosial, dan data pencairan ke pengelola TPST Bantargebang untuk mendapatkan reimbursement subsidi dari pemerintah. Voila! Pemulung akan mendapatkan bantuan dana sesuai data TPST.

Heru berharap, program rancangannya ini dapat meningkatkan taraf kelayakan hidup pemulung di sekitar TPST Bantargebang. Semoga program ini bisa segera terwujud ya, Heru!