Ia datang kepadaku, pelan. Kemudian bicara tentang masalahnya. Aku berdiri untuk menghormatinya. Ia pun melanjutkan ceritanya. Aku tangkap ceritanya. Mengalir. Akhirnya ia terlihat menahan tangis. Kaca-kaca di matanya semakin nyata, saat ia mengutip perkataan mahalum fakultasnya, “…di fakultas ini, …(bla..bla..bla…)…., apa kamu nggak malu? kalo kamu nggak segera bayar, kamu terancam dicoret…”

Maaf. Tidak semua perkataan mahalum itu bisa kukutip demi menjaga privasi sang maba.

Aku tidak tahu ini untuk yang ke berapa kalinya. Tidak tahu sudah berapa kali ia menangis, dan tidak tahu sudah berapa maba yang pernah menangis karena masalah ini: BOPB. Aku yakin ia juga menangis ketika sang mahalum mengeluarkan kata-kata yang menohok itu. Minimal menahan ia tangis. Entah sudah berapa kali ia menangis. Jadi teringat cerita pertama kali ketika maba datang ke BEM UI. Ada di antara mereka yang juga menangis karena masalah mereka. Berarti bukan sekali ini ada maba yang menangis.

advertisement

Sekali lagi, aku tidak tahu: sudah berapa banyak maba yang menangis karena BOPB…



advertisement