Mantan Menkes Tolak RPP Tembakau? Apa Kata Dunia!!


0
Siti Fadhilah Supari, mantan Menkes Indonesia Tercinta: “Janganlah kita ikut-ikutan luar, nyaplok luar sama sekali, apa betul angka kematian akibat rokok, berapa sih banyaknya?”(detiknews)

Sebagai mahasiswa kesehatan, ane tertampar banget dengan statement beliau. Kok iya bisa sampe sebegitunya kata2 yang terucap dari mantan menkes kita..mantan Menkes lho, yang seharusnya nggak pernah berucap seperti itu.

RPP Tembakau alias Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi Kesehatan memang sudah banyak menuai pro-kontra. Terkait dengan isi draft RPP Tembakau, dimana perusahaan rokok dilarang untuk menerbitkan iklan rokok dalam bentuk apapun dan dilarang mensponsori acara. Penjualan rokok juga dibatasi dan semakin diperketat, tidak boleh pada wanita hamil dan anak dibawah 18 tahun. Rokok juga dilarang dijual eceran di warung2/ jalanan. Bahkan kabarnya nih, pas tanggal 23 Februari 2010 kemarin dalam Rapat Pengharmonisasi RPP, ada 6 kementrian yang belum seiya-sekata dengan RPP tembakau.

Kementerian Pertanian menolak sementara RPP ini karena pada proses perumusannya mereka tidak dilibatkan, perumusan hanya melibatkan kelompok antitembakau saja. Sedangakan Kementerian Perindustrian menyatakan bahwa tembakau mempunyai 2 peran, yaitu peran ekonomi dan peran yang berdampak pada kesehatan sehingga perlu dilihat secara bijak, mereka juga belum bisa menerima RPP karena tidak dilibatkan dalam proses perumusan, seperti halnya Kementerian Pertanian. Kementerian Keuangan turut menambahkan bahwa pendapatan negara dari tembakau merupakan sumber yang sangat signifikan.

Sepakat dengan Kemenkeu, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyampaikan jika dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja. Industri rokok menyerap tenaga kerja sangat banyak, sampai kepada pedagang kaki lima dan penjual eceran. Kalau tidak boleh dijual eceran, akan berdampak banyak pada pengangguran dari pedagang kaki lima.

Berbeda dengan kubu sebelumnya, Kementerian Dalam Negeri punya pendapat sendiri, mereka setuju untuk membahas RPP Tembakau karena sesuai dengan amanat dari UU Nomor 36 Tahun 2009(UU kesehatan). Sekata dengan Kementerian Dalam negeri, Kementerian kesehatan sebagai pencetus RPP Tembakau otomatis setuju dengan RPP ini. Bahkan, ane yakin kalau mereka sebenernya sangat berharap RPP ini disahkan. Dan akhirnya rapat tersebut ditutup dengan pengembalian draft RPP Tembakau untuk dikaji ulang oleh Kementerian Kesehatan.

Ane sih mendukung kalau RPP Tembakau disahkan, untuk sesuatu yang positif memang harus ada ketegasan. Coba kalau ente ditanya, rokok itu racun atau obat? 100% ane yakin ente bakal jawab rokok itu racun..yaa kecuali kalo ente perokok atau udah bebal banget mungkin bakal ngejawab rokok itu obat..Kalau racun buat serangga dan hama laris di pasaran sih masih masuk akal, tapi malah racun buat manusia(baca: rokok) yang laris di pasaran sampai2 pabrik-nya berjaya banget dan bisa berekspansi lintas negara itu ane heran banget!!????

Tapi mau setuju atau enggak dengan RPP ini, tetep aja yang bakal kena untung adalah Industri Rokok kalau kita masih takut2 menerapkan RPP ini. Menurut ente gimane?

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Noti

13 Comments

Leave a Reply

  1. Wah ane sih nggak tahu ya apa yg ada di pikiran mantan menkes itu, tapi saran gw sih kita mulai dari lingkungan UI aja dulu…

    Seperti, kalo ketangkap di UI merokok maka akan dikenakan denda 10 ribu untuk orang luar dan 50 ribu untuk mahasiswa dan pegawai UI. Katanya green campus….

  2. yg pertama saran dulu deh. sebaiknya lain kali cantumin aja link ke sumber artikelnya.. kan ga susah tuh, tapi bisa bikin yg baca ngerasa artikel ini reliable. nah ni gw kasi deh link ke artikel detiknya:
    http://www.detiknews.com/read/2010/03/03/115150/1310124/10/siti-fadilah-minta-isi-rpp-tembakau-dipertimbangkan

    trus gw dapet lagi artikel ini:
    http://www.detiknews.com/read/2006/02/05/124908/532750/10/menkes-dukung-perda-larangan-merokok-sembarangan

    jadi pas jamannya dia jadi menkes ya dia bisa bilang klo merokok adalah penyebab kanker. tapi trus skrg udah bukan jadi menkes lagi, dia mempertanyakan angka kematian oleh rokok. klo gw kutip lagi dari artikelnya seh, alesannya adalah:

    Kenapa sikap Ibu berbeda dengan Kemenkes? “Saya bisa ngomong gini karena sudah nggak di Depkes lagi,” kilahnya.

    jiiaahh.. ternyata skrg kapasitas dia ngomong sebagai anggota Wantimpres.. kecewa sih emang dengan idealisme-nya yg cuma sebegitu. pdhl sempet di-elu-elu-kan pas ga dipilih lagi. omongannya pas ngelawan Namru-2 dah kaya superhero di bidang kesehatan. tapi skrg jadinya begini, mnrt gw trnyt dia cuma sekedar politisi. huh..

  3. @ Sofandre: Iya2..Semoga UI bisa bebas rokok deh..
    @ Udaya: Hehe..sebenernya tadi mau ane kasih link-nya….BTW makasih buat masukannya
    😀

  4. all:
    setahu gw ya
    Ibu Siti Fadilah supari dari menjabat sebagai menkes memang menolak RPP Tembakau

    gw sih yakin 1000% bakal ke laut ini RPP. Kenapa?

    soalnya pemerintah ( baca: DEPKEU,DEPERIN,DEPNAKERTRANS, dan DEPTAN) punya roadmap dengan Industri Rokok

    Roadmapnya seperti ini
    2005-2010 masalah tenaga kerja lebih utama
    2010-2015 masalah penerimaan negara lebih utama
    2015-2020 masalah kesehatan baru yang utama

  5. @ Aditya: Waw..miris dan sedih ya. Melihat roadmap nya..kalau ternyata kesehatan baru akan diprioritaskan 10 tahun lagi.

    10 tahun lagi baru mau memulai masyarakat yang sehat, dan sekarang acuhkan sajalah kesehatan warga Indonesia….siapa peduli mau sehat apa nggak.

  6. Noti: gw sebenernya akan setuju RPP bila RPP itu dikonsultasikan dulu dengan departemen terkait selain DEPKES.

    Alasan RPP belum disetujui karena depkes maju sendiri membawa kepentingannya sendiri, sedangkan yang lain merasa gak diajak ikut serta.
    Jadi di internal pemerintah sendiri gak rukun.

  7. @ Aditya: Memang bener sih, Depkes terkesan jalan sendiri. Tapi gue pun masih sangsi kalau pun depkes berjalan beriringan ngerumusin RPP Tembakau sebelumnya dgn bidang2 lain, UU ini tetap jalan.

    Karena jujur memang Indonesia sendiri belum bisa lepas dari tembakau. Cuma miris aja..karena yang bakal dikorbanin kesehatan masyarakat Indonesia sendiri juga.

    Lain hal-nya dgn negara maju yang, walaupun mereka juga ada yg bergantung sama tembakau. Tapi produk2 tembakau itu sendiri dijual ke luar..bukan diutamakan untuk konsumsi dalam negeri mereka. Jadinya kesehatan rakyat negara mereka sendiri nggak terancam..istilah kasarnya, nggak apa2 mereka untung dgn mengorbankan rakyat negara lain(kayak Indonesia) daripada warga negara mereka sendiri yang dibabat habis sama tembakau.

  8. Noti: UU Kesehatan yang mengatakan bahwa rokok adalah salah satu zat adiktif yang berbahaya memang jalan, cuma sebagai UU butuh peraturan teknis. Peraturan teknis itu ada di PP. Selama gak disahkan agak sedikit muskil deh.

    Jangan2 jauh2 UI mau bebas rokok aja sulitnya setengah mati apalagi bangsa indonesia.

    Klo liat banyak demo yang mengatakan bahwa pemerintah lebih pro ke indutri rokok sih gak salah.
    misalnya konvensi tembakau belum diratifikasi,cukai yang rendah dan masih banyak permasalahan lain yang memang menunjukkan pemerintah secara implisit mendukung industri rokok

  9. @ Aditya: Ya..itu bedanya kita sama luar. Menikmati pendapatan ekonomi dengan mengorbankan kesehatan diri sendiri.

    Kalau yang sakit itu cuma perokok-nya aja nggak masalah, yang bikin sebel perokok pasif juga ikut2an kena sakitnya gara2 asep rokok.

    Kalau pikiran picik-nya. Lebih mending kebijakan luar tadi..yg mengorbankan kesehatan masyarakat negara lain yg menjadi target penjualan tobacco products mereka.

    Daripada kebijakan pemerintah sekarang yg mengeruk pendapatan lewat pengorbanan kesehatan msyrkatnya sndiri.

    Ternyata PEMERINTAH pun belum sayang sama RAKYAT-NYA sendiri….
    Sedih,

  10. Noti: Memang susah meliat masalah ini.

    gw sih lebih setuju bahwa ada tempat khusus untuk merokok.

    kalau rokok dilarang secara langsung banyak masalah yang timbul

    1. Daerah penghasil tembakau dengan petaninya bakal demo besar2an di jakarta dan menimbulkan masalah lagi.
    2. APBN jebol karena hilang duit sekitar 55 Trilyun
    3. Pajak turun
    4.PHK tenaga kerja baik itu di pabriknya sendiri maupun sektor terkait lainnya

    FYI, Industri rokok per 2005 itu melibatkan 6 Juta orang loh…
    membangun kota macem kediri dan kudus.

    bisa lo banyangin klo industri ini kolaps
    (gw gak bela pemerintah lo, ini sudut pandang pemerintah)

    ck…ck..

  11. mendingan dari diri dan lingkungan kita sendiri aja deh. kalo emang rokok itu racun, yaudah jangan ngerokok, jangan biarkan orang orang tersayang kita menghisap racun

    Industri kayak gini nggak bisa disetop dari segi supply nya, tapi dari demand nya. kalo nggak ada yang mau ngerokok juga industrinya tutup sendiri

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals