Masa Depan DKI Jakarta Sebagai Ibukota Terancam?


0
Pemandangan Jakarta (Ilustrasi ditambahkan admin)
Pemandangan Jakarta (Ilustrasi ditambahkan admin)
Pemandangan Jakarta (Ilustrasi ditambahkan admin)
Pemandangan Jakarta (Ilustrasi ditambahkan admin)

Jakarta saat ini telah menjelma menjadi “multi-function capital” Indonesia karena berbagai fungsi terpenting secara nasional, seperti: pusat pemerintahan, pusat kegiatan ekonomi, pusat pendidikan, dan pusat kebudayaan.
Jakarta sebagai pusat pemerintahan, mewadahi berlangsungnya fungsi eksekutif (Istana Negara dan Kementerian), fungsi legislatif (MPR, DPR, dan DPD), dan fungsi yudikatif (Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial), serta perwakilan kedutaan negara-negara sahabat.

Jakarta sebagai pusat kegiatan perekomian, mampu memberikan kontribusi 16% dalam pembentukan produk domestik bruto nasional (BPS, 2010) dengan jumlah penduduk yang hanya 4% dari total nasional. jakarta memiliki produktivitas sekitar 4 kali lebih besar dari rata-rata nasional. Jakarta sebagai pusat pendidikan, memiliki kuantitas dan kualitas sekolah dan universitas yang layak menyandang status sebagai pusat kegiatan pendidikan. sedangkan ditinjau dari banyaknya gedung-gedung bersejarah peninggalan masa kolonial, serta intensitas kegiatan seni dan budaya, Jakarta tidak dapat diabaikan sebagai pusat kegiatan budaya.

Dengan fungsi yang beragam tersebut, Jakarta telah menjadi faktor penarik yang kuat bagi penduduk di daerah lain untuk bermigrasi. Dampaknya tidak sederhana karena telah menjadi masalah utama hingga kini, dampaknya dapat kita kenali setidaknya 4 aspek, (1) aspek lingkungan; (2) aspek infrastruktur; (3) aspek sosial; (4) aspek tata kelola.

Aspek lingkungan; banjir dan genangan adalah bencana yang rutin terjadi setiap tahun dan beberapa berskala besar. Kelangkaan sumber air bersih akibat penurunan yang signifikan dari waduk dan situ, serta mulai tercemarnya sungai tidak memenuhi mutu.

Aspek infrastruktur; kapasitas pengolahan dan distribusi air bersih masih tidak memadai, 50% masyarakat terlayani tetapi tingkat kebocoran yang relatif tinggi yaitu 47%. Sebanyak 2% sampah (500m3) tidak terangkut ke TPA, sementara keberadaan lahan baru makin sulit. Selain itu, penurunan ruang terbuka hijau (RTH) dari 51,2% (1972) menjadi 10% (2010).

Aspek sosial; laju pertumbuhan penduduk di pusat kota relatif stabil, tetapi laju yang pesat terjadi di kawasan pinggiran/perbatasan Jakarta. Pertumbuhan sektor informal di koridor-koridor utama jalan raya ibukota, sektor informal merupakan indikator tingkat pengangguran yang cukup tinggi.

Aspek tata kelola; kerja sama antar daerah dalam kerangka kawasan metropolitan belum efektif. Kepemimpinan kolektif tingkat metropolitan kurang berjalan berdasarkan satu visi jangka panjang. Perlu adanya koordinasi yang efektif dalam perencanaan, pemograman, dan implementasi program pembangunan.

Kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan dominan yang dihadapi jakarta adalah masalah daya dukung lingkungan. Masa depan DKI Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat pemerintahan terancam.

Manuver kebijakan pemerintah untuk menghadapi masalah tersebut, secara garis besar ada 3 skenario dalam menyikapi persoalan tersebut:

1. Revitalisasi; artinya, ibukota negara tetap di Jakarta namun dengan pilihan kebijakan untuk menata, membenahi, dan memperbaiki berbagai persoalan Jakarta, seperti kemacetan, banjir, kekumuhan, degradasi lingkungan, dan kemiskinan. Kebijakan yang dilakukan berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) DKI Jakarta dan RTRW kabupaten/kota sekitarnya dalam eco-region dalam RTR jabodetabekjur.

2. Pusat pemerintahan dipisahkan dari ibukota negara; Jakarta akan tetap menjadi ibukota negara dengan mengutamakan faktor historis, pusat pemerintahan (seat of government) dipindahkan ke lokasi baru. Perlu dipertimbangkan jarak Jakarta dan pusat pemerintahan baru, contoh malaysia dengan kuala lumpur sebagai ibukota negara dan putrajaya sebagai pusat pemerintahan.

3. Membangun ibukota negara termasuk pusat pemerintahan yang baru di luar wilayah Jakarta, sedangkan Jakarta dijadikan pusat bisnis. Kebijakan ini memerlukan strategi perencanaan yang lebih menyeluruh serta perkiraan biaya yang lebih besar. Solusi membangun ibukota negara sekaligus pusat pemerintahan secara bersamaan telah berhasil dilakukan negara-negara lain seperti Australia, Amerika serikat, dan Belanda.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

0 Comments

Leave a Reply