“Masihkah Anda Tega Memberi Uang pada Pengemis?’


0

Ada hal yang mengganggu pikiran saya sejak idul fitri kemarin. Sebuah hal (yang dianggap) lazim oleh masyarakat indonesia. karena sudah mengakar pada budaya kita semua. Hal ini cukup mengesampingkan harkat dan martabat bangsa, bahkan beberapa kali menjadi headline surat kabar nasional karena memakan korban jiwa. Ya kawan, kita berbicara soal pengemis. orang yang setiap harinya hidup dari belas kasihan orang lain.

pengemis di taman makam pahlawan, bogor. doc: pribadi

Saya percaya, bahwa tidak satupun dari kita semua yang tidak memiliki rasa belas kasihan. Hal ini terbukti dari seringnya kita memberi uang kepada mereka dimanapun kapanpun saat kita inginkan. Hal ini bagus, namun bagaimana dampak dari pemberian kita terhadap masyarakat sekitar, daerah, lebih luas lagi pada negara dan mental dari bangsa ini?

Saat memberi pengemis di lampu merah, pernahkah teman-teman mencoba berempati terhadap pedagang yang juga berjualan disana? nah kawan, mari kita lihat lebih dekat. Semua orang tahu bahwa bisnis apapun memiliki resikonya masing-masing. Pedagang rokok memiliki resiko seperti rokok kadaluarsa, tembakaunya apek atau malah basah kehujanan. Pedagang makanan dan minuman lebih parah lagi, karena waktu kadaluarsanya lebih pendek dari rokok, modalnya pun besar. Pedagang mainan mungkin lebih leluasa, tapi resiko rusaknya jauh lebih besar akibat mobilitas yang tinggi di jalan raya. Semua resiko ini akan berujung pada kerugian dan tidak kembalinya modal.

Bahkan kawan, setelah melewati resiko-resiko ini, para pedagang masih harus memikirkan berapa keuntungan bersihnya setelah dikurangi dengan harga pokok. Untung kah ia? atau malah tertimpa kerugian? Artinya tidak semua uang yang ia dapatkan adalah keuntungan bagi dirinya. Begitulah nasib sole proprietorship, modal sendiri, resiko sendiri, untung juga sendiri.

Bagaimana dengan pengemis? Nah ini, mereka menjual komoditi yang luar biasa menguntungkan bernama ‘belas kasihan’. Tidak mengenal kadaluarsa, busuk, bahkan rugi. Modal pun hanya tampang memelas serta kesabaran. Uang yang ia dapatkan sama dengan keuntungannya, tidak perlu dikurangi harga pokok. Jika pengemis mendapatkan 1000 rupiah, artinya ia tetap untung 1000 rupiah. Jelas saja, menurut data yang saya dapat beberapa situs (tercantum link dibawah), seorang pengemis bisa mengumpulkan 1,5-4 juta rupiah setiap bulannya. Luar biasa bukan! nominal ini bahkan melewati gaji para pembantu, guru, bahkan pegawai kantoran. Mereka juga bisa membuat rumah yang bagus dan menyekolahkan anak2nya hingga perguruan tinggi. Artinya mengemis kini kian menjadi profesi yang amat sangat menggiurkan. Prospektif dan menjanjikan di era sulit seperti ini

Jelas, ini bukan berita baik. Akibat adanya ketimpangan keuntungan tersebut, tidak sedikit profesional dari bidang lain pun turut terjun dalam kancah perminta-mintaan. Akibatnya secara produktifitas, Indonesia akan mengalami kemerosotan tajam. Orang-orang yang biasanya menghasilkan nilai tambah pada barang dan jasa kini tidak lagi ada. Secara makro, hal ini amat sangat buruk karena jelas mengurangi pendapatan nasional, menambah pengangguran, dan pada akhirnya memperburuk perekekonomian dan daya saing Indonesia terhadap negara lain; ini sama sekali bukan berita baik di era globalisasi. Dari sisi moral, ternyata realita kehidupan di Indonesia harus memaksa setiap orang menghancurkan martabatnya sendiri demi menghidupi keluarga, hingga menjadi budaya dan tradisi bahwa mengemis adalah satu PROFESI. satu jenis pekerjaan yang lazim, diakui oleh setiap orang, dan menguntungkan. Mental masyarakat kita saat ini sudah sedemikian bobroknya. tidak ada lagi harga diri, kebanggaan dan kesombongan bangsa indonesia, bangsa yang (katanya) besar dan megah tersebut.

Ini yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat di setiap lini pekerjaan sesuai dengan kebutuhan masing-masing, sesuai dengan undang undang dasar 1945 yang berbunyi, “Tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.” atau tentang fakir miskin, ” Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara.” Sudah tentu, harus ada lapangan pekerjaaan dengan gaji yang tidak lebih kecil dari mengemis atau penjaminan kesejahteraan yang layak bagi mereka yang membutuhkan. Aturan yang melarang kegiatan mengemis pun sudah ada, yakni mereka yang melakukan akan dikenai sanksi pidana 180 hari di penjara dan denda 50 juta rupiah (PEMDA DKI). Namun lagi lagi kelemahan Bangsa Indonesia yakni penegakan hukum yang jelas dan tegas. Aparat kepolisian dan satuan daerah masing-masing harus belajar mengintrospeksi dan memperbaiki diri dalam hal krusial ini.

Namun kawan, saya percaya bahwa kita semua tidak memiliki cukup kesabaran untuk menunggu pemerintah memperbaiki semua keadaan ini. Perlu ada langkah kongkret dari kita, mahasiswa, selaku agen perubahan indonesia ke arah yang lebih beradab. bagaimana caranya? sungguh mudah. Mari kita camkan dalam hati, kita buang rasa egoisme kita dan meniatkan semua yang kita lakukan adalah demi perbaikan bangsa ini puluhan tahun yang akan datang. Yaitu, JANGAN PERNAH MEMBERI UANG PENGEMIS, KAPANPUN, DIMANAPUN. Ini langkah kongkret kita demi menghentikan kegiatan para pengemis tersebut. Dengan menghentikan/mengurangi supply pemberian kepada mereka, secara otomatis demand dari pemberian tersebut akan berkurang. Kita bisa membuat image bahwa profesi pengemis tidak lagi menjanjikan, tidak lagi lebih menguntungkan daripada bekerja di ladang ataupun di depan mesin tik kantoran. JANGAN PERNAH BERI MEREKA UANG LAGI. JANGAN BERI MEREKA ALASAN UNTUK MENGEMIS LAGI.

Hal ini berbenturan dengan doktrin dari agama kita untuk bersedekah, juga adat istiadat orang timur yang memiliki dorongan charity cukup besar. Apakah sedekah itu salah? Jelas tidak, bahkan agama pun mewajibkan kita menyisihkan sebagian uang kita untuk mereka yang membutuhkan. Tapi, memberi uang pada pengemis adalah cara yang salah. Justru dengan memberinya kita akan menciptakan kemiskinan jangka panjang secara luas dan mengakar. Dalam sebuah kisah wali sanga, dimana sunan kalijaga mencuri harta para bangsawan untuk fakir miskin, ia diibaratkan oleh sunan bonang (gurunya) seperti mencuci baju dengan air seni. Niat mencuci bajunya baik, namun hasil dari cucian tersebut tidak akan wangi seperti apapun jika memakai air seni. Begitu pula dengan sedekah. Jika caranya salah, yakinlah bahwa hasilnya tidak akan pernah menjadi baik.

Coba bayangkan juga nasib para pedagang asongan, para guru kita, para kenek angkot, para pegawai kantoran yang gajinya dilangkahi oleh pengemis-pengemis itu. Tegakah kita pada mereka yang telah bekerja keras, namun tidak mendapat apresisasi materialis seperti yang didapatkan oleh pengemis jalanan? Tegakah kita membiarkan mereka beralih profesi karena sekedar keuntungan belaka?

Sebagai seorang mahasiswa yang populasinya tidak lebih dari 2% di seluruh Indonesia ini, saya yakin dan amat percaya bahwa kita bisa berlaku cerdas dalam mengalokasikan sedekah & amal kita. Mari kita tengok di sekeliling kita, masih ada pembantu yang tidak bisa menyekolahkan anaknya, atau petugas sampah yang tidak pasti jadwal makannya, bahkan banyak sekali sekolah sekolah yang gentengnya masih bisa ditembus oleh sinar matahari. Ini yang harus kita perhatikan kawan. Ada banyak cara yang jauh lebih baik daripada mempertaruhkan harga diri masyarakat kita. Jika niat teman-teman semua beramal adalah demi kebaikan, pastikan tersebut akan membawa kebaikan bagi siapapun yang menerimanya, bukan malah menghancurkan martabat dan harga diri bangsa yang kita cintai ini.

Akhir kata, mari kawan kita berpikir sebagai seorang negarawan. Seseorang yang memikirkan permasalahan bangsa dari akar hingga solusinya. Keprihatinan dan dorongan untuk membantu harus disertai dengan kecerdasan dalam menjalankannya. Jangan sampai, apa yang kita lakukan justru menghancurkan hidup orang lain, harga diri, dan klimaksnya pada bangsa kita sendiri. Satu langkah nyata jauh lebih berarti dari pidato retoris sepanjang jalan kenangan. Semoga apa yang saya sampaikan bisa menjadi sebuah inspirasi untuk berkontribusi lebih pada kehidupan dan rakyat Indonesia.

salam

ARA


Daftar pustaka

  • http://surabaya.detik.com/read/2009/08/20/125446/1186281/475/pendapatan-pengemis-capai-jutaan-tiap-bulan
  • http://beritaaneh.com/2010/08/tingginya-pendapatan-pengemis/
  • http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4664534
  • http://sosbud.kompasiana.com/2010/03/04/negeri-para-pengemis/
  • http://artikelindonesia.com/pendapatan-pengemis-rp-300000-perhari.html
  • http://berita8.com/news.php?cat=2&id=14640
  • http://haroqi.multiply.com/journal/item/662
  • http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=15205

ara

Aditya Rian Anggoro (ARA). Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 2009 ini lahir di Bogor, 17 Mei 1991. Sekarang sedang mempersiapkan kerajaan bisnisnya di bidang industri kreatif bertemakan kampus dan kehidupannya, dibawah merek Campuswear Inc. Prestasi lainnya adalah Peserta terbaik Sospol Camp Kastrat BEM FEUI, Juara 2 Sayembara Logo Ditjen Pajak Republik Indonesia, finalis lomba konsep bisnis FISIP UI 2009, dan banyak karya tulis yang beredar di media massa.

Mengawali karir sebagai Sekretaris II OSIS 21 SMAN 89 Jakarta, kini ia aktif di berbagai organisasi. Sebagai anggota di Global Citizen Corp (sebuah organisasi sosial internasional), Staff ahli BPM FEUI, Staff Kajian Strategis SALAM UI, Chief Finance Officer di situs SPMB-Lover.com, serta kepanitiaan di tingkat nasional dan internasional seperti Indonesia Internasional Migrant Worker Days 2009, KOMPeK 12 & 13. Pernah juga menjabat sebagai Project Officer (ketua umum) Campus Goes To Peqyu 2010, Kemudian kembali bersyukur mendapatkan beasiswa dari PPSDMS Nurul Fikri, berkumpul bersama orang-orang terbaik dari seluruh Indonesia.

Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Aditya Rian (ARA) FE/Manajemen/2009
Passionate marketeers, Designer wannabe, craving for better Indonesia | Founder @HIPMI_UI @studentpreneurs @jagoansehat

6 Comments

Leave a Reply

  1. @hening
    pengamen itu hampir sama dengan pengemis (menurut saya) tapi mungkin lebih enak di golongkan di fase peralihan antara pedagang dengan pengemis.

    #hemaprodit

  2. Setiap pagi di sekitar rumah saya selalu ada beberapa ibu2 yang masih terlihat sangat bugar dan sehat dengan baju daster dan berjalan dari rumah ke rumah untuk meminta-minta. Saya sebal. Saya suka mikir, saya yang masih muda aja jumpalitan pergi pagi pulang malem buat kuliah mencari ilmu. Mama saya yang walaupun Ibu rumah tangga aja setiap hari mesti beres2 rumah dan ngurusin adek saya yang masih kelas 2SD. Papa saya lebih gila lagi, bahkan sering gak pulang karena urusan kerjaan. Di rumah saya juga ada pembantu, dia malah lebih tua dari ibu2 tukang minta2 tadi. Tapi dia mau kerja sebagai pembantu, bahkan setiap pagi habis subuh dia keliling kompleks untuk berjualan nasi uduk dan gorengan. Jadi saya setuju dengan pendapat ARA. Memang memberikan sedekah itu wajib hukumnya terlebih lagi bagi setiap muslim tapi tidak dengan cara “memanjakan” pengemis.

  3. terima kasih pada semua komentar. Saya harap semua ini bisa kita implementasikan di kehidupan sehari-hari. Karena terkadang perasaan kasihan bisa mengabaikan rasionalitas