Oleh: Yeni Budi Rachman& Dini, Mahasiswi Program Studi Ilmu Perpustakaan UI angkatan 2005

Dini dan Yeni, delegasi mahasiswa Indonesa

Dini dan Yeni, delegasi mahasiswa Indonesa

Kami berdua adalah mahasiswa ilmu perpustakaan atau biasa dikenal dengan sebutan JIP (jurusan ilmu perpustakaan). Inilah pertama kali kami memasang ‘muka’ di halaman anakui.com. Catatan perjalanan ini adalah bukti keseriusan kami dalam mencari ilmu dan menjadi insan yang bermanfaat bagi bangsa ini kelak. Kami yakin teman-teman UI sepakat bahwa untuk mencari ilmu kita harus merantau. Karena dengan begitu kita akan lebih merasakan nikmatnya mencari ilmu dan asiknya menjadi orang yang berilmu. Atas dasar itulah ketika ada kesempatan kami pun meraihnya walaupun dengan susah payah. Biarpun kami telah mendapatkan sponsor dari sana-sini ternyata biaya masih belum tercukupi. Tapi bermodal berani demi mencari ilmu kami pun berangkat dengan seadanya. Melihat hal ini banyak yang mencibir kami sebagai orang yang nekat dan tak panjang akal sebab ini adalah perjalanan ke negeri orang dan harus membawa uang yang banyak agar tidak terlantar di sana. Tapi kami pun ingat kata-kata motivator yang kini sedang naik daun, Mario Teguh, katanya:

Seorang yang berani, bersedia melakukan sesuatu yang penting bagi kecemerlangan hidupnya, …
Meskipun dia belum berpengalaman
Meskipun dia tidak memiliki uang untuk itu
Meskipun banyak orang meragukan kesempatan keberhasilannya
Meskipun telah banyak orang gagal dalam upaya yang sama
Meskipun sama sekali tidak ada jaminan
Meskipun sebetulnya dia sangat ketakutan, dan
Meskipun lebih mungkin baginya untuk gagal.

Untuk memuaskan dahaga kami akan ilmu maka kami berani untuk ikutan kongres internasional di Hanoi, Vietnam. Keikutsertaan kami di acara tersebut juga atas undangan langsung dari panitia. Susah payah kami mencari sponsor untuk pergi ke Hanoi. Banyak teman kami yang mengatakan bahwa usaha kami untuk mendapatkan sponsor tidak akan berhasil tapi ada juga teman yang menyemangati kami bahwa kami pasti akan berhasil pergi ke Hanoi dan mengikuti kongres tersebut. Alhamdulillah usaha kami pun berbuah manis. Sponsor datang di detik-detik terakhir, H-2 sebelum keberangkatan kami. Pertama dari Garuda Airlines berupa tiket pulang pergi Jakarta-Ho Chi Minh. Belum lepas kelegaan kami, tiba-tiba Kepala Perpustakaan UI menelepon kami dan bersedia membantu, Ibu Johartien Ramona yang menghibahkan biaya registrasi kepada kami berdua, serta Pak Lulus yang dermawan. Semoga Allah melimpahkan rezeki yang banyak kepada mereka. Amin.

Tari Poco-poco dalam Gala Night, Indonesian Delegates Performance

Tari Poco-poco dalam Gala Night, Indonesian Delegates Performance

Kami pun berangkat ke Hanoi. Kongres yang ingin kami ikuti bernama Congress of National Southeast Asian Librarians (CONSAL) adalah sebuah forum diskusi berstandar internasional dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi antar negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Negara-negara yang ikut serta dalam forum ini adalah Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Konferensi umum CONSAL dilaksanakan setiap tiga tahun sekali dan diselenggarakan secara bergiliran di negara-negara anggota. CONSAL XIV yang berlokasi di Hanoi, Vietnam diadakan dengan mengangkat tema “Towards dynamic libraries and information services in Southeast Asian countries”. Selain menyelenggarakan konferensi tingkat internasional, diadakan pula pentas kebudayaan (Gala Night) sebagai salah satu acara penting untuk memupuk dan membina hubungan baik di antara para pustakawan dan professional informasi di negara-negara ASEAN. Saat itu Indonesia yang digawangi oleh pustakawan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memperkenalkan Tari Saman serta Tarian Poco-Poco. Para delegasi pun berdecak kagum dan tepukan tangan yang meriah menutup pertunjukan dari Indonesia. Di akhir acara banyak delegasi seperti dari Filipina, Thailand, Kamboja, Brunei Darussalam memuji penampilan Indonesia.

Kongres itu sendiri berlangsung selama tiga hari di Vietnam, sejak tanggal 21-23 April 2009. Kami berangkat pada hari sabtu tanggal 19 April 2009 dan tiba di Ho Chi Minh pukul 13.00 waktu setempat. Di Bandara Ho Chi Minh kami dijemput oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yakni Mbak Susan, Mas Jeffry, Mas Gilang. Setelah itu, kami pun menginap selama dua hari di rumah salah seorang Alumni Tehnik UI angkatan ’96 yaitu bapak Ahmad Zikri Fauzan. Kala itu, kami sangat senang sekali bertemu senior di negeri yang asing bagi kami. Alhamdulillah, beliau dengan lapang hati mau menerima kami untuk tinggal di sana sebelum melanjutkan perjalanan ke Hanoi.

advertisement

Hanoi (21-23 April 2009)

Hari pertama kongres diisi dengan kegiatan general conference dan seminar pararel di ruang yang berbeda dan dengan topik seminar yang berbeda-beda. Begitu pula dengan hari kedua, seminar pararel dilanjutkan di ruang-ruang yang sama pada hari pertama. Tiap-tiap peserta konferensi diberikan kebebasan untuk memilih topik-topik seminar yang diminati. Terdapat enam pembicara yang berasal dari Indonesia. Dua di antaranya adalah ibu Endang Fitriyah, staf pengajar dari Universitas Airlangga, beliau membawakan makalah berjudul The Role of Library and Information Science Education to Adds Competitive Value in Global Economic. Ibu Endang juga tercatat sebagai Mahasiswa S2 Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia. Pembicara selanjutnya adalah Bapak Fuad Gani, beliau membawakan makalah berjudul Reinventing Library Association: Indonesia’s Experience.

Berfoto bersama Bapak Salmubi (Pemenang CONSAL Award), Mr. John Hickok, Bapak Nyoman - Konselor KBRI Hanoi-, dan Bapak Zulfikar

Berfoto bersama Bapak Salmubi (Pemenang CONSAL Award), Mr. John Hickok, Bapak Nyoman - Konselor KBRI Hanoi-, dan Bapak Zulfikar

Topik yang paling menarik bagi kami adalah 3 years of action! Exciting developments in Southeast Asian libraries since CONSAL XIII yang dibawakan oleh John Hickok. Beliau adalah seorang instruktur pustakawan dari California State University Fullerton (USA). Dalam presentasi makalahnya, beliau mengungkapkan tantangan-tantangan yang dimiliki oleh negara-negara di Asia Tenggara dalam hal pendidikan ilmu perpustakaan. Diantaranya adalah keterbatasan jumlah ahli/profesional dalam bidang ilmu perpustakaan serta keterbatasan literatur mengenai ilmu perpustakaan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tantangan lain yang dihadapi adalah kurikulum pengajaran ilmu perpustakaan di Asia Tenggara yang masih terfokus pada manajemen perpustakaan secara tradisional dan tidak diimbangi dengan pengenalan terhadap kemajuan teknologi untuk mendukung kinerja perpustakaan. Ketiga, hampir sebagian besar lulusan sarjana ilmu perpustakaan diserap oleh perpustakaan-perpustakaan lembaga korporasi, perpustakaan nasional, perpustakaan sekolah berstandar internasional, perpustakaan universitas, dsb.; namun minim untuk perpustakaan umum, perpustakaan sekolah negeri maupun swasta yang belum berstandar internasional.

Terdapat kebanggaan sendiri bagi kami karena dari tujuh puluh dua orang Indonesia yang hadir di sana, dua diantaranya adalah mahasiswi program strata 1 dari Universitas Indonesia. Kami juga merasa bangga karena ada salah satu delegasi Indonesia yang menerima CONSAL AWARD, yaitu Bapak Salmubi. Beliau adalah direktur Perpustakaan B.J. Habibie, Politeknik Negeri Ujung Pandang. Dalam perjalanan karir yang masih terbilang singkat, beliau telah begitu banyak menorehkan prestasi. Nama beliau dapat disejajarkan dengan para penerima award dari negara lain yang telah berkarir dalam bidang ilmu perpustakaan selama puluhan tahun. Melalui tulisan ini, kami ucapkan selamat kepada beliau. Semoga award yang diterima oleh beliau dapat menjadi motivasi bagi beliau dan orang lain, termasuk kami untuk terus berprestasi.

President Palace - Vietnam

President Palace - Vietnam

Hari terakhir konferensi, kami berkesempatan mengunjungi Hanoi City Library yang bertempat di Ba Dinh distrik, The Ho Chi Minh Mausoleum, dan The Ho Chi Minh Museum. Ketiganya adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Pertama, The Ho Chi Minh Mausoleum, ini adalah sebuah bangunan unik, dimana mayat Presiden Ho Chi Minh –pendiri negara Vietnam- diawetkan selama lebih dari empat puluh tahun. Kedua, The Ho Chi Minh Museum adalah sebuah museum yang khusus ditujukan untuk mengenang perjuangan presiden Ho Chi Minh dan para rakyat Vietnam semasa penjajahan Perancis. Tidak jauh berbeda dengan museum pada umumnya, banyak benda-benda unik, menarik, dan bersejarah yang dapat dilihat. Pada hari itu, museum ramai sekali, bahkan dapat dikatakan penuh sesak. Orang-orang tua, muda, anak-anak kecil sangat antusias bertandang dan melihat-lihat museum. Sungguh suatu keadaan yang berbeda dengan museum-museum di negara kita yang pada umumnya sepi dikunjungi. Kecintaan masyarakat Vietnam terhadap presiden Ho Chi Minh juga diungkapkan dengan mengabadikan nama Presiden menjadi nama kota pusat perdagangan di Vietnam, yaitu Ho Chi Minh city.

advertisement

Mengunjungi Hanoi City Library

Mengunjungi Hanoi City Library

Berakhirlah perjalanan kami sudah, kami kembali ke Jakarta pada tanggal 25 April 2009 pukul 18.00 WIB. Rasa syukur karena telah kembali ke tanah air serta membawa ilmu yang luar biasa berharga. Semua kesulitan dan kepayahan yang kami alami di Vietnam langsung hilang dan digantikan dengan kebahagiaan dan kepuasan. Kebahagiaan karena kami mendapatkan ilmu yang bernilai guna memajukan perpustakaan di Indonesia. Kepuasan karena kami telah membuktikan kepada orang-orang bahwasanya kami berhasil untuk mengikuti kongres tersebut dengan baik. Sungguh perjalanan yang tidak dapat dilupakan, kami mendapatkan begitu banyak pengalaman yang berharga. Untuk teman-teman UI semuanya janganlah takut untuk mengikuti kongres atau seminar di luar negeri. Baik itu ketakutan karena keuangan ataupun yang lainnya. Ketahuilah bahwa setiap impian pasti akan menemukan jalannya. Jangan pernah putus asa dan terus bersemangat untuk meraih cita-cita. Jangan pedulikan cemoohan orang-orang mengenai kegagalan yang akan kita dapatkan. Tapi fokuslah pada apa yang ingin kita capai. Kami pun menghimbau kepada teman-teman UI agar merantau ke negeri orang karena dapat membuka pikiran dan memperkaya wawasan. Dengan begitu kita mampu bersaing dengan dunia luar.

Melalui tulisan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Garuda Indonesia yang telah mensponsori perjalanan kami ke Vietnam. Kami benar-benar mendapatkan pelayanan yang memuaskan selama di pesawat. Sungguh Garuda Indonesia Melayani Dengan Hati. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya yang memberikan kami uang saku sehingga kami bisa membeli oleh-oleh buat teman-teman JIP. Kami juga berterima kasih pada para staf Konsulat Jenderal RI di Ho Chi Minh City yang mau membantu akomodasi perjalanan kami selama di Ho Chi Minh City, dan juga kepada pada Pak Ahmad Fauzan Zikri beserta istri -Mbak Abi- dan keluarga, yang keduanya merupakan alumni fakultas Tehnik Universitas Indonesia angkatan ’96 yang telah bersedia menerima kami untuk tinggal di sana selama beberapa hari. Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ibu Luki Wijayanti (Kepala Perpustakaan Pusat UI), Ibu Johartien Ramona (Bendahara Asosiasi Pustakawan Indonesia), Ibu Sri Mamudji (Kepala Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Indonesia) dan Ibu Lily Mulyati (Kepala Pusat Dokumentasi Hukum, Fakultas Hukum Universitas Indonesia), Bapak Lulus (Donatur Rumah Pintar – Bogor) yang telah membantu membiayai perjalanan kami selama di Vietnam. Ungkapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Bapak I Nyoman Gurnitha -Konselor KBRI Vietnam di Hanoi- yang telah menerima dan menjamu kami dengan hangat ketika kami berkunjung ke KBRI Hanoi. Tak lupa pula staf pengajar di Departemen Ilmu Perpustakaan FIB UI, Bagian Kemahasiswaan dan Alumni FIB, beserta pihak-pihak yang selalu mendukung kami, yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu di sini.

Hidup Mahasiswa!!

Maju Terus Kepustakawanan Indonesia!