Selayang Pandang

Hujan rintik mulai turun, di jalan selasar sebuah fakultas ekonomi dan bisnis universitas ternama di Indonesia, terlihat seorang berbaju puti abu-abu terlihat sibuk dengan kumpulan kertas-kertas di tangannya. Dengan sapu tangan seadanya, anak tersebut berusaha mengelap kumpulan kertas berisi berita tersebut. Terlihat panik tersemburat dari wajahnya. Sedangkan di sisi lain banyak anak-anak lain yang berpakaian necis dengan buku-buku tebal berharga ratusan ribu lalu lalang tak peduli.

advertisement

Rasa syukur langsung muncul dalam benak saya karena saya masih bisa merasakan pendidikan di universitas yang masih menjadi universitas terbaik di dunia. Bagi siapapun kesempatan tidak akan datang dua kali, jadi tentu kita tahu apa yang harus dilakukan. Entah apa yang muncul dalam benak anak tersebut dalam dua tahun mendatang, apakah akan tetap menjual kertas-kertas berita di tempat yang sama atau menjadi seorang anak dengan buku-buku tebal terbitan luar negeri di tangannya.

Berbicara tentang pendidikan secara umum di Indonesia memang tiada habisnya. Jika bisa dirunut, jumlah huruf pun tidak akan bisa merepresentasikan banyaknya masalah yang terjadi. Lihat saja mulai dari buruknya sarana dan prasarana, rendahnya gaji pengajar, rendahnya peringkat human development index Indonesia (yang salah satu parameter penentunya adalah kualitas pendidikan) sampai pada pendidikan yang menjadi komoditas politik. Walaupun masih banyak hal-hal lain yang membuat pendidikan Tanah Air patut berbangga semisal kepingan-kepingan medali berbagai olimpiade sains nasional, piala kompetisi bisnis internasional, sampai pada gelar best speaker di arena debat dunia, namun kualitas pendidikan kita masih jauh dari apa yang dicita-citakan.

Pendidikan memang akan selalu berkorelasi dengan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Selanjutanya, kualitas suatu sumber daya manusia, dalam konteks akademis dan non-akademis, akan selalu berkorelasi positif dengan kemajuan suatu bangsa. Bukan rahasia jika Jepang bisa membangun industri otomotifnya, Amerika Serikat yang bisa membangun industri penerbangan dan ekspedisi luar angkasanya ataupun Singapura yang mampu menjadikan apa yang sejatinya tidak dia punya menjadi keunggulan kompetitifnya.

advertisement

Tidak bisa dipungkiri jika kualitas sumber daya manusia kita masih rendah. ESCAP Population Data Sheet tahun 2006 yang diterbitkan PBB menunjukkan sebanyak 35,29 persen rakyat Indonesia tidak tamat sekolah dasar, 34,22 persen tamat SD, dan hanya 13 persen yang tamat SLTP. Data itu menempatkan human development index-HDI Indonesia pada urutan ketujuh dari 11 negara Asia Tenggara, atau rangking 108 dari 177 negara. Vietnam yang baru terbebas dari pergolakan di dalam negeri, IPM-nya peringkat kelima di Asean atau ke-108 dunia (Kompas, 10 Desember 2007). Dalam tataran pembangunan SDM pendidikan baik dari tingkat dasar, menengah sampai tinggi tentu perlu mendapatkan porsi perhatian dari pemerintah.

Peran Strategis Perguruan Tinggi

advertisement

Tanpa mengesampingkan pentingnya peran pendidikan dasar dan menengah, jenjang pendidikan tinggi tidak bisa dipungkiri memegang peran startegis dalam mewujudkan sumber daya manusia yang siap kerja dan berkompetisi di era global. Peran strategis tersebut dirumuskan dalam tri dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian pada masyarakat. Sebagai suatu konsesus nasional, tri dharma menjadi moda penggerak sekaligus cita-cita perguruan tinggi, apapun itu bentuk perguruan tinggi tersebut. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2008 jumlah perguruan tinggi Indonesia mencapai 2.800 perusahaan. Pendidikan dan pengajaran dapat diartikan sebagai upaya transfer ilmu pengetahuan, dimana keberdaannya tidak bisa dilepaskan dari tri dharma yang kedua yakni penelitian dan pengembangan. Melalui penelitian dan pengembangan inilah, akan ada nilai tambah dan temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan. Tri dharma ketiga adalah pengabdian masyarakat. Bukan rahasia lagi jika saya atau teman-teman semua tidak bisa hidup tanpa orang lain. Konsekuensinya kita harus selalu berinteraksi dengan orang-orang lain. Pengabdian masyarakat yang dilakukan unsur perguruan tinggi lainnya merupakan bentuk perilaku good citizenship. Inilah nilai-nilai yang secara indah dirumuskan dan tentunya diharapkan akan dapat diwujudkan dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia.

Status Quo

advertisement

Jika menilik pada status quo, lantas pertanyaan yang muncul adalah, apakah kita sudah menjadi mahasiswa yang bertri dharma, apakah perguruan tinggi di Indonesia sudah berusaha mewujudnya? Dan secara general apakah tri dharma sudah terwujud? Jika menilik pada pendidikan, mungkin boleh diakui jika secara intelegensi mahasiswa Indonesia bisa dibilang lebih baik jika dibandingkan mahasiswa negara lain. Kita mampu menghafal banyak buku dalam waktu singkat lantaran dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah, kebiasaan itu yang memang ditanamkan oleh mayoritas sekolah di Indonesia.

Namun faktanya, budaya pendidikan di kalangan mahasiswapun seringkali kurang memperhatikan bagaimana esensi pendidikan yang dijalani. Budaya belajar kebut semalam dan rendahnya budaya baca masih seringkali ditemukan di kalangan mahasiswa Indonesia. Contoh yang lebih sempit dalam lingkup Fakultas Ekonomi UI, budaya belajar wayangan tersebut juga menjadi kebiasaan yang umum dilakukan. Secara pribadi, saya yakin tingkat kestresan mahasiswa di sini akan naik dengan drastis ketika masa-masa ujian tiba, lantaran banyak mata kuliah yang baru dipelajarai dan mau tidak mau dikuasai untuk mendapatkan indeks prestasi yang diinginkan. Dalam hari-hari biasa, bagi sebagian mahasiswa (sebagian besar mahasiswa maksudnya), facebook masih sangat menarik untuk dibuka, banyak judul film-film baru dan acara TV yang layak ditonton, ataupun kegiatan kepanitiaan yang banyak menyita waktu tapi terasa menyenangkan. ”Masih lama juga ujiannya!” itu kalimat sakral yang menjadi justifikasi.

Bangsa Indonesia juga dikenal sebagai bangsa yang lemah dalam hal penelitian dan riset ilmiah. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal menyatakan produktivitas peneliti Indonesia yang sangat rendah salah satunya dibuktikan dalam bentuk rendahnya kontribusi ilmuan Indonesia dalam jurnal internasional. Kemampuan ilmuwan Indonesia memberikan kontribusi terhadap jurnal internasional hanya 0,8 artikel per satu juta penduduk/tahun, padahal jumlah peneliti di Indonesia mencapai 7900 orang (Tempo, 13 April 2009).

Nyatanya banyaknya jurnal ilmiah yang dihasilkan oleh peneliti dan akademis suatu negara seringkali menjadi acuan untuk mengukur kualitas budaya penelitian di negara tersebut. Tidak perlu bertanya tentang penelitian yang super kompleks untuk menanyakan bagaimana budaya ilmiah berkembang di kalangan mahasiswa Indonesia. Lihat saja dari budaya menulis yang rendah, berapa banyak mahasiswa kita yang bisa menulis sumber referensi dengan baik dan benar, berapa banyak mahasiswa yang bisa menulis karya tulis tanpa ditemukan adanya indikasi plagiarisme, atau berapa banyak mahasiswa yang mau menulis dan membuat proposal penelitian misalnya dalam rangka Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Terlebih lagi dalam hal pengabdian masyarakat. Masih banyak mahasiswa yang acuh terhadap apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Hidup gw, hidup gw, hidup mereka, hidup mereka itu mungkin prinsipnya. Poin positif secara personal saya apresiasikan kepada organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada, yang secara konsisten dan berkelanjutan melakukan banyak program pengabdian masyarakat.

Dalam segi daya saing, universitas-universitas di Indonesia juga masih belum mampu menembus jajaran kehormatan universitas-universitas terbaik dunia berdasarkan peringkat yang dirilis oleh Times Higher Education – QS World University Rankings tahun 2008. Pada tahun 2008, hanya ada tiga universitas Tanah Air yang menembus jajaran top 500, dimana UI menduduki peringkat 287 yang tercatat relatif lebih baik dibandingkan dengan peringkat universitas lainnya. Times Higher Education – QS World University Rankings merupakan salah satu referensi handal dalam menentukan peringkat universitas di dunia. Peringkat diukur dengan berbagai macam tekni dimana variabel yang dinilai meliputi bagaimana budaya pendidikan dan penelitian ilmiah.

Apa yang bisa dilakukan?

Mewujudkan tri dharma bukan hanya monopoli para petinggi perguruan tinggi atau bahkan pemerintah melalui DIKTI. UI misalnya punya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat. Dalam aplikasinya, sebagus apapun suatu strategi, maka tidak akan berarti tanpa didukung peran aktif pihak yang menjadi subjek sekaligus objek strategi tersebut. Tentu kita semua mengetahui bagaimana pentingnya perancanaan dan pelaksanaan fungsi managemen dalam mewujudkan efisiensi dan efektivitas kerja. There’s no free lunch, tidak ada kesuksesan yang datang dengan sendirinya. Jika menginginkan indeks prestasi yang baik tentu harus ada usaha, harus ada budaya baca bukan melakukan ”pertunjukan wayang” pada malam hari menjelang hari ujian. Jika pun, kita adalah seorang mahasiswa yang memang sudah ”kecanduan” dengan internet, kenapa kita tidak menyempatkan sekian menit untuk membuka situs-situs berita atau situs-situs ilmiah hanya untuk sekedar tahu apa yang terjadi di luar dunia kita. Dalam hal pengabdian masyarakat, inisiif sederhana juga bisa dilakukan. Alangkah indahnya jika kita meluangkan sedikit waktu di akhir pekan untuk mengunjungi rumah-rumah singgah dan mengajarkan anak-anak jalanan tentang apa itu internet dan apa saja manfaatnya.

Atau mungkin dalam liburan semester panjang ini, tidak ada salahnya untuk mencoba ikut kuliah kerja nyata (KKN) UI yang diselenggarakan oleh Direktorat Kemahasiswaan UI, di Pulau Miangas Sulawesi Utara pada Juli sampai Agutus nanti. Mengacu pada apa yang dikatakan oleh salah satu da’i ternama Indonesia, toh kita bisa mewujudkan tri dharma mulai dari diri kita sendiri, mulai dari bentuk yang kecil dan mulai dari sekarang. Inilah saatnya untuk menjadi pribadi yang cerdas tidak hanya secara akademis namun juga emosional. Hidup ini terlalu bermakna untuk tidak dihargai, karena kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Lantas, apa yang kita tunggu untuk tidak menjadi mahasiswa yang ber-tri dharma?!