Muharam: “Asyura dan Tasu’a”. Mari Berpuasa Sunah!


0

Tahun Baru Hijriyah baru saja berlalu. Berdasarkan sejarahnya, penetapan tahun baru Hijriayah adalah awal permulaan Rasulullah SAW Hijrah dari Mekkah ke Madinah. Lalu, kira-kira kenapa ditetapkan untuk dijadikan tanggalan Hijriyah? Alkisah salah satu Khalifah merasa prihatin karena mendapatkan surat dari seorang raja yang tidak mencantumkan tanggal pada suratnya. Karena keprihatinan tersebut sehingga ditetapkanlah 1 Muharam (tahun Hijrah Rasulullah SAW) sebagai tahun baru/permulaan tanggalan pada kalender Islam dan dengan adanya kalender Islam ini nantinya dalam pengiriman surat ataupun penetapan-penetapan lainnya dapat teridentifikasi.

Mungkin cerita di atas sepenggal kisah untuk mengetahui sejarah penanggalan Hijriyah. Di samping itu, agar ummat Islam mengingat kembali sejarah yang seharusnya memang dingatnya. Jangan kisah-kisah yang sudah ada, dilupakan begitu saja karena tergerus dengan sejarah baru semisalnya “kasus cicak vs buaya, Anggodogate, “KPK, Kepolisisan, dan Kejaksaan”, Bank Century, dll”. Selain itu, jangan sampai tahun baru Islam yang memang sudah ada terkalahkan kepopuleran dengan tahun baru masehi. Bukan maksud untuk membedakan, namun minimal tidak dilupakan sejarah Agama ini.

Kalaupun dibandingkan dengan perayaan tahun baru Islam dengan tahun baru masehi maka porsi kepopulerannya sangat jauh. Sebagai contoh, mungkin di sebagain kecil wilayah DKI Jakarta ada yang melakukan kegiatan tahun baru Hijriyah dengan Marawis, pengajian, berkumpul di Masjid, dll. Ada pula misalnya, Keraton Kasunan Surakarta, tahun baru ini diperingati dengan kirab malam 1 Sura. Namun, kondisi ini sekali lagi, terjadi hanya disebagian kecil tempat tidak memiliki efek yang masif dilakukan oleh ummat Islam di seluruh se-antero negeri layaknya tahun baru masehi.

Puasa Sunah Asyura  dan Tasu’a

Kembali pembahasan tentang bulan Muharam, menurut hemat penulis, ummat Islam ketika datangnya tahun baru Hijriyah, seharusnya dapat melakukan hal-hal yang sangat bermanfaat bagi dirinya. Maksudnya, memperbanyak ibadah kepada Allah SWT baik ibadah mahdhoh maupun ibadah ghoiru mahdhoh. Banyak macam yang dapat dilakukan oleh pribadi Muslim ketika datangnya tahun baru Hijriyah ini. Harapan-harapan pun pada dasarnya pantas untuk dipanjatkan kepada Illahi Rabbi.

Dalam buku Fiqh Ash-Shiam (Dr. Yusuf Qardhawi), disunnahkan bagi ummat Islam untuk menjalankan puasa, puasa sunah Asyura dan Tasu’a. Hari ‘Asyura adalah hari kesepuluh dari bulan Muharam, sedangkan hari Tasu’a adalah hari kesembilannya. Kedua puasa ini telah dikenal sejak masa jahiliah di tengah kaum Quraisy, sebagaimana dikenal oleh ummat Yahudi.

Aisyah berkata, “Hari ‘Asyura adalah hari puasa yang dipraktikkan oleh orang Quraisy di masa jahiliah dan Rasulullah SAW juga melakukannya. Ketika datang di Madinah beliau menjalankanya dan memerintahkan orang untuk menjalankannya.” Ketika kewajiban puasa Ramadhan datang, maka dihapuskanlah kewajiban ini dan hukumnya kembali menjadi sunah (dianjurkan) Rasulullah SW bersabda,

“Barangsiapa mau, maka berpuasalah dan barangsiapa tidak mau, maka tinggalkan la” (Mutafaq Alaih)

Jikalau kita kembali pada runtunan sejarah Islam maka kita akan mendapati bahwa pada bulan Muharam ini adalah ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah maka Rasulullah SAW menjalankan  dan memerintahkan kepada ummat muslim untuk berpuasa. Namun, ketika sesampainya di Madinah Rasulullah SAW mendapati Bani Israil juga menjalankan puasa.

Ketika bertanya alasan apa yang menyebabkan mereka menjalankan puasa, maka mereka menjelasakan bahwa bulan ini adalah bulan ketika Allah SWT menyelamatkan Musa A.S. dan Bani Israil dari musuh mereka (terjadi pada 10 Muharam) dan karena itu mereka berpuasa memperingati hari bersejarah tersebut. Lalu Rasulullah SAW bersabda,

“Saya lebih berhak atas Musa daripada kalian. Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa.” (Mutafaq Alaih)

Agar membedakan antara Yahudi dan Nasrani serta agar ummat Islam kemandirian dari yang lain maka Rasulullah SAW menganjurkan untuk berpuasa di hari kesembian untuk membedakan puasa mereka (Yahudi dan Nasrani) dengan kaum ahlul kitab.

“Puasa sehari di hari Arafah dapat menghapus (dosa dua tahun), yang lalu dan yang akan datang dan puasa sehari di hari “Asyura menghapus (dosa) setahun.” (Mutafaq Alaih)

Berdasarkan hitung-hitungan sederhana yang dilakukan penulis, maka puasa sunnah ‘Asyura dan Tasu’a jatuh pada tanggal 26-27 Desember 2009 (9-10 Muharam 1431 H) karena 1 Muharam jatuh pada tanggal 18 Desember 2009. Kiranya tulisan ini bermanfaat bagi pribadi muslim dan ummat Islam pada umumya tidak hanya di DKI Jakarta, Depok, Bogor, hingga seluruh Indonesia melainkan ummat Islam di Dunia. Wallahu’alam

Best Regards,

Seno Negara’05


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
seno

One Comment

Leave a Reply

  1. khalifah yang di maksud Umar bin Khattab R.A.
    bukan al-Kisah, tetapi sejarah.
    (Al-kisah berkonotasi fiktif)

    sedikit info juga:
    Dalam Islam hanya ada tiga hari raya. Dua hari ‘Idh dan hari raya mingguan kita Jum’at. Tahun baru hijiriah hanyalah masalah penanggalan,bukan hari raya kita.

    http://omahkeong.blogspot.com