Saat kamu mendengar kata ‘narsis’, apa yang ada di benakmu? Apakah ketika kata ini muncul, kamu mulai membayangkan orang-orang yang selalu aktif membagikan kehidupan mereka di media sosial? Atau mereka yang tidak berhenti-henti membicarakan diri mereka sendiri? Apakah temanmu yang selalu ingin menang sendiri adalah seorang narsistik? Apakah baik-baik saja jika saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki karakter narsistik? Apa yang harus kamu lakukan saat orang tersayang  bersikap narsis dan mulai membuat hidupmu tidak nyaman?

Mengenal Narsistik

Sumber: pinterest.es

Ayo berkenalan dengan gangguan narsistik, sebuah gangguan kepribadian yang cukup popular dikenal oleh masyarakat luas. Penggunaan istilah ini seringkali salah sasaran, dan biasanya disematkan pada mereka yang terlihat memiliki kepercayaan diri lebih dibandingkan kebanyakan orang. Lalu ada juga anggapan bahwa hanya kelompok dengan usia tertentu yang cenderung bersikap seperti ini. Padahal, gangguan narsistik dapat ditemukan di berbagai kalangan usia dan tidak hanya ditandai dengan kepercayaan diri yang berlebihan. Lebih jelasnya, apabila ada seseorang yang kalian curigai memiliki gangguan ini, ada beberapa karakteristik-karakteristik lainnya yang harus kalian pahami sehingga kalian tidak asal dalam menilai seseorang, dan tentunya juga, lebih waspada.

BACA JUGA: UI Waspada, Kisah Penjambretan Ini Harusnya Bisa Nyadarin Kamu untuk Selalu Aware dengan Keadaan Sekitar

Gangguan narsistik, atau Narcissistic Personality Disorder adalah sebuah gangguan kepribadian yang dikarakteristikan dengan rasa mementingkan diri yang berlebihan, kurangnya empati, dan selalu ingin dikagumi oleh orang lain.

Gangguan ini juga ditandai dengan kebiasaan pengidapnya yang sering memberikan komentar merendahkan dan menyakiti orang lain secara verbal.  Penggunaan kata ‘narcissistic‘ sendiri berasal dari nama seorang tokoh di mitologi Yunani bernama Narkissos yang diceritakan jatuh cinta dengan dirinya sendiri. Well, pengidap gangguan ini pun memang terlihat seperti jatuh cinta dengan diri mereka sendiri. Mereka harus terlihat sempurna, sehingga tidak ada yang lebih baik dari diri mereka, dan semua-muanya hanya boleh berjalan berdasarkan pada peraturan yang telah mereka tetapkan.

narkisos

Narkissos (sumber: psychologytoday.com)

Menjadi anak, teman, atau pasangan dari seorang narsistik tentulah tidak menyenangkan, bahkan cenderung melelahkan. Mereka tidak dapat menjalani hubungan yang tulus dengan orang lain, bahkan jika orang lain tersebut adalah darah dagingnya sendiri. Pujian dan rasa kagum harus terus menerus diberikan untuk tetap menghidupkan jiwa seorang narsistik meskipun mereka sendiri selalu merendahkan. Selain itu, mereka merasa perlu untuk mengatur semua yang ada pada orang lain, mulai dari cara berbicara, berpakaian, berjalan, dan tidak akan pernah merasa puas. Ketika orang yang diatur mulai menjauh dan meninggalkannya, seorang narsistik merasakan ketakutan luar biasa dan kehilangan kontrol akan emosinya.

advertisement

BACA JUGA: 7 Ciri ini Menunjukkan Bahwa Emosimu Sudah Stabil dan Siap Menjadi Pribadi yang Lebih Dewasa

Saya menjalan hubungani dengan seorang narsistik? Apa yang harus saya lakukan?

Pergi.

Berhubungan dengan seseorang yang terus menerus merendahkan dan mempermalukan kita bukanlah suatu ciri dari hubungan yang sehat, dan meninggalkan pasanganmu merupakan suatu hal yang tepat. Persiapkan dirimu dengan terus mengingat bahwa apa yang pasanganmu katakan, terutama yang merendahkan, tidak benar dan kamu adalah seorang yang berharga.

Bergabunglah dengan orang-orang yang menyayangi dan menghargaimu.

Apabila hubungan ini meninggalkan trauma yang membekas dan mengganggumu dalam menjalani kehidupan sehari-hari, carilah bantuan profesional yang dapat menolongmu mengobati hal ini.

Bagaimana jika saya adalah anak dari seorang yang narsistik?

Hubungan darah tidak akan pernah terputus begitu saja, dan keputusan untuk meninggalkan orangtua tentunya bukanlah pilihan bagi kebanyakan orang meskipun untuk menjaga kesehatan mental diri sendiri. Menjadi seorang anak dari mereka yang memiliki gangguan ini juga berpotensi menyebabkan berbagai gangguan selama masa perkembangan. Bagaimana tidak, orangtua dengan gangguan ini biasanya selalu memaksakan anaknya agar menjadi perhiasan yang dapat terus menjaga kesempurnaan image mereka. Mereka akan membuat anak mereka terus merasa tidak cukup dan bersalah sampai memenuhi keinginan yang mereka miliki. Lebih dari itu, karakteristik utama dari orangtua yang narsis adalah adanya tawaran cinta dan kasih sayang yang bersyarat, yang mana mereka ungkapkan biasanya dengan: ‘Kalau kamu pintar baru jadi anak mama‘ atau ‘Siapa dulu dong, anak ayah!’ atau ‘Kalau kamu tidak mau melakukan itu, kami tidak sayang lagi sama kamu’ dan… masih banyak lagi.

advertisement

BACA JUGA: Kasih Sayang Bunda Sepanjang Hayat

Oleh karena itu, cobalah untuk memahami kondisi orangtuamu. Jika mereka tidak ingin menemui terapis untuk mengubah perilaku, kamu lah yang harus mengubah dirimu menjadi lebih kuat dalam menghadapi mereka. Ingatkan dirimu bahwa mereka-lah yang mempunyai gangguan, dan kamu baik-baik saja. Orangtuamu mungkin akan menganggapmu anak yang tidak berbakti, dan mulai membanding-bandingkan dengan anak lain yang ada di keluargamu, atau bahkan yang ada di televisi. Tidak apa, mereka sedang memainkan tipuan mereka agar kamu mau kembali memenuhi kebutuhan mereka sebagai seorang narsistik.

Sumber: gograph.com

Kenali dirimu

Sayangi dan mulailah memaafkan semua hal yang ada pada dirimu. Tumbuh besar dari orangtua yang narsistik tentunya membuatmu selalu menyalahkan dirimu sendiri. Percayalah bahwa kamu hanyalah manusia yang tentunya tidak luput dari kesalahan. Maafkan juga dirimu yang pernah memercayai omongan orangtuamu yang sifatnya merendahkan dan menyakitimu.

Jika kamu merasa semuanya terlalu berat untuk kamu tanggung sendiri, ada baiknya untuk mencari bantuan profesional. Lagipula, kamu sendiri sudah begitu kuat dan sabar menanggungnya sendiri sejak kecil sampai sekarang tanpa ada seorang pun yang tahu. Pergi ke psikolog  untuk melakukan konsultasi adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang sehat dengan dirimu sendiri, dan tentunya membantumu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama pada anakmu di masa yang akan datang. Berikut ini ada nomor telepon yang dapat kamu hubungi dan alamat lengkap dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi UI

Telp: (021) 78881150 

Alamat: Gedung Kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Pondok Cina, Beji, Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16424

BACA JUGA: Cara Sederhana Membentuk Jati Dirimu Selama Kuliah di Kampus Kuning

Header image reference: narcissist