Wah ada Bikun UI nyasar guys! Pernah engga sih kalian melihat ada bycoon alias bikun alias bus kuning UI yang ada di luar kampus UI? Wah kalau kalian melihatnya, tentu kalian beruntung banget lho. Tentunya bikun ini gak nyasar sih guys. Cuma ya mungkin di pikiran pertama kalian saat melihat ada bikun di luar UI pasti kalian akan latah “njir, ada bikun nyasar“. Kalo kamu cewe mungkin latahnya “ihh yaampun lucu banget sich ada bikun nyasar“.

Kuningku yang Mencolok, Membuat Matamu Tercolok-colok

Yang ini benar banget. Bayangkan di jalanan yang ramai didominasi kendaraan warna monoton (hitam, putih, abu-abu, biru gelap, merah tua, dan warna sejenisnya), tiba-tiba kalian disuguhi pemandangan bus guede (iya gede banget kalo dibandingkan kendaraan lainnya), warna kuning nge-jreng, dan ada logo UI di bodinya. Bangga banget gak lo? Bus kampus lo terlihat menjadi sentris di jalanan. Orang-orang di pinggir jalan atau pengendara kendaraan lainnya akan berkata “Apaan tuh Kuning-Kuning?”, “Oh bis UI”, “Bagus ya”, “Iya” (datar banget si!).

Sumber: dokumentasi pribadi

Mahasiswa kampus lain akan iri “Bis kampus gue ga sekeren itu”, “Kampus gue ga punya bis”, dan lain-lain.

advertisement

Aku Lagi Ngisi Bensin Lho!

Nah bisa jadi bikun nyasar ke luar karena ingin ngisi bensin. Kalian mungkin pernah terbelenggu oleh pertanyaan: “Bikun kalo ngisi bensin di mana ya?” Ternyata jawabannya adalah bycoon kalo mengisi bensin di POM Bensin Margonda atau Lenteng Agung atau Kelapa Dua. Kalian mungkin jarang melihat Bikun keluar UI untuk mengisi bensin karena ya biasanya bikun akan mengisi bensin di POM Bensin saat akhir pekan.

Bisa jadi lagi Disewa/ Dipake buat nganterin kegiatan anak mahasiswa

Bisa jadi Bikun lagi Disewa/ Dipake buat nganterin kegiatan anak mahasiswa. Iya sih, bikun bisa disewa sekalian dengan abangnya. Biasa dipake kalo ada acara-acara kegiatan gitu. Misal kalau ada acara perlombaan mahasiswa ke luar kota. Berapa biaya sewa bikun untuk acara di luar UI? Mungkin kamu bisa menghubunginya langsung abang-abang bikun yang suka nongsky di halte Asrama UI.

Terharu Nggak Sih Kalian Tatkala Melihat Bikun di Luar UI?

bikun nyasar gaes

Sumber: dokumentasi pribadi

Pernahkah kalian berpikir, bus kuning UI yang hanya beroperasi mengelilingi kampus UI merasa begitu bosan. Ya iya, mungkin karena rute-rute yang dilalui bikun itu-itu saja. Kalo dihitung-hitung sih rute bycoon mengelilingi UI hanya 7-8 kilometer.

advertisement

Mungkin bus kuning UI iri hati dengan bus Transjakarta. Yang bisa berkeliling Jakarta dan sekitarnya, memiliki jalur yang bebas hambatan.

Atau bus kuning iri hati dengan bus AKAP (AKAP kepanjangan Antar Kota Antar Provisi *buat kalian yang belum tau) yang bisa mengelilingi dari ujung provinsi ke ujung provinsi lainnya melewati pemandangan yang indah, melaju dengan kencang, rasakan lembutnya jalan tol, dan sebagainya.

Sementara bus kuning UI hanya bisa keliling dengan jarak yang tak jauh, melaju dengan pelan, Tiap satu-dua menit selalu berhenti di tiap titik pemberhentian. Dan mengamuk kalau ada ojol berhenti di depannya. ‘TETT-TETT-TETTT!!’ Klakson dibunyikan dengan amarah si abang bikun yang menggelora laksana bintang kejora membalut kain sutera.

advertisement

Bisa diibaratkan bus kuning UI itu seperti burung yang berada di sangkarnya. Tidak bisa keluar bebas guys! Keluar bebas hanya saat-saat tertentu saja. Makanya pas bikun keluar UI dia akan merasakan kelegaan dalam hati dia bergumam “wah dunia luar seperti ini yha

Tapi kehadiranmu selalu dinantikan kami kun! (Ucapku pada Bikun)

dari kami yang lari-larian mengejar bikun

advertisement

tersenyum tatkala pintu sudah ditutup, namun dibukakan kembali oleh supir bikun

terimakasih menyelematkan waktuku

Bagaimana pun juga bikun sangat berjasa. Bikun boleh menyombongkon diri kepada bus transjakarta atau bus AKAP karena membawa secercah harapan bagi mahasiswa-mahasiswi Universitas Indonesia, bakal pemimpin bangsa. Lihat pula, setiap kali para calon pemimpin bangsa ini turun dari Bikun, tak jarang mereka berucap / berteriak “Terimakasih pak!“.  Abang bikun: ‘Lha khan terimakasihnya ke gw, bukan ke lu kun”