Orde Baru Ala Rektor(at)


0

Banyak mahasiwa baru yang terlunta-lunta karena tidak segera bisa menempati asrama. Terutama mereka yang berasal dari luar Jawa – Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan lain-lain –. Apalagi, mereka yang tidak memiliki sanak saudara, atau bahkan senior waktu SMA yang kuliah di UI.

Jika sebelum-sebelumnya, setelah mahasiswa baru mendaftar ulang, mereka langsung bisa mendapat jatah kamar di asrama. Namun, kali ini berbeda sama sekali. Semua kebijakan dan penjatahan siapa yang berhak tinggal di asrama diserahkan ke mahalum tiap-tiap fakultas. Sehingga, tentu saja, keputusan mereka mendapat hak atau tidak itu, baru keluar bersamaan dengan selesainya proses penilaian berkas-berkas pengajuan keringanan biaya kuliah. Yang itu sendiri, baru selesai sekitar satu minggu dari waktu pendaftaran ulang. Ini menyisakan pertanyaan, di mana mereka (yang di sebut di awal tulisan ini) akan tinggal?

Sejenak mungkin kita bisa menerima alasan rektor(at) mengalihkan wewenang penentuan siapa-siapa saja yang berhak tinggal di asrama dari otorita asrama ke mahalum fakultas. Katanya, dari proses seleksi berkas pengajuan keringanan biaya kuliah, bisa diketahui secara pasti siapa yang paling berhak tinggal di asrama. Intinya, tujuan diadakannya sentralisasi ini, agar seleksi calon penghuni asrama bisa tepat guna. Katanya pula, disinyalir, selama ini, banyak penghuni asrama berasal dari Jabodetabek atau mahasiswa dari keluarga mampu. Sehingga, hal ini dinilai tidak tepat guna dan perlu dibenahi dengan pengalihan wewenang.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah efek kebijakan yang akan dilakukan ini sebanding dengan terlunta-luntanya mahasiswa baru yang tidak punya siapa-siapa di sini? Jawabannya tidak! Bayangkan, mereka yang tidak mampu harus menunggu selama lebih kurang satu minggu untuk mendapat keputusan bisa tinggal di asrama atau tidak. Padahal, seperti kita tahu, tidak ada kos-kosan atau kontrakan yang mau menyewakannya hanya dalam seminggu. Artinya, selama itu pula, harus di mana mereka tinggal? Belum lagi, ternyata terbukti sampai hari ini, tetap saja pengalihan wewenang ini tidak menghasilkan keputusan yang benar-benar tepat. Misalnya, ada mahasiswa baru yang dari sisi apapun dia berhak tinggal di asrama, tetapi dari pihak mahalum fakultas tidak dapat hak itu. Terbukti pengalihan wewenang ini tidak menyelesaikan masalah.

Padahal, jika berbicara masalah tepat guna atau tidak, sebenarnya di asrama akan terjadi proses seleksi alam dengan sendirinya. Artinya, jika mereka yang memaksa tinggal di sana adalah anak dari keluarga mampu, seiring berjalannya waktu, mereka tidak akan kerasan juga, dan akhirnya memilih keluar dan tinggal di tempat yang lebih cocok sesuai dengan kebiasaan di rumahnya. Jadi, tidak perlu dengan mengadakan sentralisasi kewenangan seperti itu. Toh, efeknya jauh lebih menyulitkan, tidak hanya bagi mahasiswa baru, tetapi juga untuk keluarga atau tamu yang akan menyewa kamar di asrama. Dan, toh, selama ini juga tidak ada masalah dengan koordinasi yang dilakukan oleh otorita asrama sendiri dalam hal penentuan dan pembagian calon penghuni kamar asrama. Kesulitan saat ini bermula karena semua bentuk perizinan dan persetujuan dilakukan di rektorat oleh direktur fasilitas umum.

Kita melihat adanya gejala sentralisasi di UI. Kasus asrama hanya satu contoh kasus, selebihnya masih banyak lagi. Apakah ini mengindikasikan UI tengah menerapkan metode Orde Baru di kampus ini? Mari kita awasi bersama-sama.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
perkinster

44 Comments

Leave a Reply

  1. ——-Kita melihat adanya gejala sentralisasi di UI——

    kalo ndak salah, bukan sentralisasi. sekarang yang pegang asrama itu adalah tiap fakultas. tiap2 fakultas telah terjatah untuk mendapatkan kamar menurut kuota. penyediaan asrama pada saat ini terasa kurang disebabkan karena masih berjubelN temen2 dari daerah yang masuk melalui KSDI dan PPKB. dan masih adanya perbaikan2 dari asrama — contoh: gedung B&C masih dalam renovasi yang akan dipergunakann unutk temen cewek pada nantiN

  2. Bukan begitu mbak,
    Pengelolaan asrama benar-benar terpusat.
    Semua hal yang berkaitan dengan asrama harus atas persetujuan Direktur Umum dan Fasilitas UI.
    Even, buat minjem gazeebo asrama pun harus mengajukan surat tertulis ke Direktur Sarana dan Fasilitas UI.
    Pengajuan masuk asrama yang lewat Fakultas pun, merupakan kebijakan sentralisasi karena hal tersebut dikeluarkan oleh Pihak Rektorat UI.

  3. yaelah, tinggal pake aja tuh gazebo.. gazebo adalah area publik kalo kummpul mah tinggal kumpul aja– kan mahasiswa asrama berhak untuk kumpul, kecuali untuk sesuatu yang besar dan berjadwal contoh P3a.

    pada kenyataanN perubahan sistematika birokrasi asrma adalah hal yanng biasa. otoritas asrama memang ada “gejolak” tersendiri dengan pihak rektorat. so sehingga sekarang otoritas asrama langsung dibawahi oleh pihak rektorat(baru2 ini), dengan anggapan(mungkin) dengan langsung dibawahi oleh rektorat, kawasan asrama dapat lebih baik(muga2– doa penulis).

    tentang masalah dapet dan tidak dapetN temen UMB asrama(UMB kali ini hanya disebar +- 200 kamar) harus ditanggapi dengan hati dingin. Sekarang, temen2 bisa lihat bahwa asrama sedang penuh oleh teman2 daerah juga(KSDI—600 org:red) gedung B&C sedang direnovasi ulang sepenuhN(yg akan ditempati oleh temen2 mahasiswi pada nantinya). & satu lagi tolong diingat masih ada kamar2 temen 2006 yg belum dibalikin kunciN&belum dicat ulang(hoi… 2006).

    semoga… 2 bulan k-depan, seluruh temen2 yang membutuhkan asrma dapat menempati kamar2 diasrma ^_^ ketika temen2 ppKB& kSDI selesai matrikulasi.

    —- birokrasi adalah seni —-
    smuga

  4. Semoga ke depan, “permasalahan” yang menyangkut kebijakan demi kebijakan bisa lebih baik dan pro-aktif untuk mereka-mereka mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.

  5. ngapain ngomongin asrama, kurang kerjaan, bro?
    santai aja kali, jangan cuma bisa ngritik, cuy,,
    rektorat sedang mencoba merapihkan sistem yang sudah usang.
    itu artinya rektor orang yang progresif dan dinamis.
    kalo lo nulis kayak ginian, artinya lo orang yang suka status quo dan statis serta stagnan!

    Apa kata dunia kalo generasi muda indonesia seperti ini!

    perubahan itu sesuatu yang pasti, cing…

  6. Seperti biasanya… birokrasi yang makin ngejelimet. Bukannya makin mempermudah, tapi malah makin mempersulit. Dan kalaupun mau diadakan proses seleksi siapa-siapa yang berhak tinggal di asrama, seharusnya prosesnya harus lebih cepat untuk menghindari terlantarnya mahasiswa baru, apalagi yang berasal dari luar kota.

  7. Kayaknya yang pada komen disini gak pada pake fakta dan gak ngerasain apa yang para maba itu rasaian.

    1. Gw ngerasain sendiri ketika puluhan maba Fasilkom (dan orang tuanya) dari luar daerah (PPKB dan UMB) pada berkeluh kesah (ke gw) karena gak dapet asrama dan belum dapet kosan juga (jatah maba Fasilkom di asrama cuma 9 orang). Secara, gw ngurusin ginian di fakultas

    2. Asrama penuh sama anak KSDI. elo-elo pada tau gak sih, klo anak KSDI itu anak berduit, standar hidup mereka tinggi (sorry, bukan offense ke anak KSDI). Secara ekonomi, mereka tidak lebih berhak menempati asrama, tapi karena rektorat mewajibkan mereka dengan alasan mencegah culture shock, mereka terpaksa harus tinggal di asrama. Padahal anak-anak PPKB dan UMB dari luar daerah yang kurang mampu lebih berhak menikmati asrama dan menikmati fasilitas pencegahan culture shock juga (khan sama-sama dari daerah).

    3. Status Quo? elo faham gak definisi status quo? pertahanin kondisi lama yang bermasalah dan tidak menerima perubahan ke arah yang lebih baik. klo liat kondisi sekarang (dan kedepan pun kemungkinan masih bakal terjadi), efek negatif dari perubahan sistem ini justru lebih besar ketimbang positifnya. Satu fakta aja gw buka (baru kemaren gw alami), dulu klo mau nyewa kamar tamu tinggal dateng aja ke TU asrama. sekarang klo mau nyewa kamar tamu musti dapet izin dari rektorat (pegang surat rekomendasi dari Unit Umum dan Fasilitas UI).

  8. setuju sama hilman…

    jadi orang jangan cueksbebeks dong..!
    calon temen2lo tuh!..kalo mereka sewaktu2 curhat ke lo masalah ini, apa lo masih tega ngomongin apa yang lo omongin sekarang?

    kasian kan anak 2008..

  9. Hmm.. baru tau kalo ada aturan mhs mampu seharusnya ga masuk asrama. Perasaan dulu dibilangnya kayak gini:

    Asrama dimaksudkan untuk mahasiswa/i yang berasal dari luar Jakarta dan Depok
    Luar Jkt dan Dpk, bukan luar Jabodetabek.

  10. @anak_asrama

    gak ada yang bilang anak mampu gak boleh di asrama kok.

    yang gw bilang itu:
    “Secara ekonomi, mereka tidak lebih berhak menempati asrama.”

    artinya, bisa aja khan klo emang punya duit lebih gak usah di asrama UI yang murah meriah. kasih kesempatan mereka yang anggaran akomodasi bulanannya terbatas.

    btw, kan di fasilkom dapet jatah 9 orang tuh buat tinggal di asrama. tapi yang daftar banyak banget lebih dari 30 orang. akhirnya mahalum gw menginstruksikan agar para peminat asrama diseleksi berdasarkan 1. jalur masuk (PPKB diutamakan), 2. asal daerah (lebih jauh diutamakan) dan 3. kondisi ekonomi (menengah ke bawah diutamakan). begitulah. . . . .

  11. benar tuch…belakangan sebelum di umumkannya asrama banyak anak daerah yang terlunta2 alias ga da kepastian bisa tinggal di asrama ato ga….beruntung klo punya sodara klo ga?? Semakin ribet kampus kita saat ini

  12. Ditakutkan dengan adanya syarat “tak mampu” seperti itu, akan memberi efek negatif bagi anak asrama sendiri (ex: minder di kampus)

  13. setuju ma no.12
    ntar malah terjadi diskriminasi dalam pergaulan anak-anak asrama, pasti ntar bakalan ada tagline “anak asrama sih..”, “kok naksir ma anak asrama?”, “pantes, anak asrama” dll dsb

    bukannya sekarang banyak kosan yang murah juga ya, 150rb dapet tuh… daripada di asrama hehe..

  14. ni, aku tambahin data lagi,
    kenapa mahasiswa KSDI diwajibkan tinggal di asrama?

    padahal notabene mereka adalah dari kalangan mampu, jangankan cuma kosan, margonda residen aja mereka sanggup..!

    Lalu di mana letaknya kebijakan tepat guna dan tepat sasaran itu…?

  15. heran, kenapa sih angkatan 2008 apes mulu? ya UN nambah lah, ya peraturan berubah2 jadi tambah ribet lah..ya biaya nambah lah.. mau menuntut ilmu aja koq dipersulit ya

  16. #15: dan kelihatannya anak2 2007 beruntung banget: UN terakhir 3 matpel, Padus wisudanya ada Dian Sastro, ikut Padus 100 tahun Kebangkitan Nasional, etc. etc.

  17. Gw juga gx sepakat klo calon penghuni asrama disyaratkan “tidak mampu”.

    Tapi, untuk momen sekarang. Dimana banyak sekali calon penghuni asrama dari luar daerah yang mengalami kesulitan finansial dan pengenalan medan klo harus cari tempat diluar, sepertinya teman-teman KSDI harus mau mengalah.

    Caranya gimana? nah, setelah matrikulasi KSDI selesai jangan pada nerusin di asrama, cari aja tempat lain. Biar asrama diberikan pada teman-teman PPKB, UMB, dan SNMPTN.

    Gx ada niat lho offense ke anak-anak KSDI, mereka khan saudara kita juga.

    Poin yang ingin gw tekanin justru Kebijakan Rektorat yang melakukan sentralisasi pengambilan keputusan atas asrama yang membuat banyak calon penghuni asrama terkatung-katung. That’s the point !!!

    ~Sorry berat buat anak-anak KSDI yang merasa tersinggung dengan komen beberapa pihak, termasuk komen gw.

  18. Sebenarnya data anak KSDI semuanya mampu banget ampe bisa nyewa Margonda Residence tu dari mana sih? Jangan ampe kayak “pakar segala pakar” ya…
    Apalagi, ditambah sifat kita yang suka over-estimate.
    Kalau menurut saya, solusinya adalah: kenapa matrikulasi KSDI+PPKB tidak disamakan saja waktunya seperti yang selama ini terjadi antara PPKB, PPSTD, PEDATI. Terus, mahasiswa via UMB jangan dimasukkan serempak dengan PPKB agar tidak terjadi keramaian seperi ini.
    Opsi lain, jumlah mahasiswa yang masuk via UMB sebaiknya tidak sampe 80 %

  19. waduh. begini nih kalo pemikiran jenuh yang ga suka perubahan. pertama mari kita singkirkan dulu fakta sekarang(karena yang mo didebatin kebijakannya).

    pertama ga salah kalo misalnya sape2 yang nerima jatah asrama wewenangnya ada di fakultas (dan tidak langsung oleh kepala asrama). karena emang bener secara logika mahalum fakultas itulah yang lebih tau kondisi anak2 tersebut. secara mereka yang ngurusin advokasinya.

    kedua ga salah anak KSDI yang notebene tajir di taro di asrama. bahkan kalo perlu diwajibin. hal ini dimaksudkan agar anak2 yang tajir itu bisa merakyat. bisa ngerasain susahnya jadi anak asrama. dan bersosialisasi terhadap sesamanya. gw malah ga suka ma orang yang bilang kalo tajir di margo residen aja. duh cuy, tu cuma bikin adik2 kita itu semakin menikmati kemewahan. dan malah membuang dia dari pelajaran hidup di asrama.

    Nah. kalo udah tau yang seharusnya baru dah dikritisin.

    atu rektorat tidak siap dengan kebijakan barunya. malah ngorbanin banyak mahasiswa daerah yang bener2 butu asrama dan cenderung kurang mampu buat tinggal di kosan (ato margonda residen. he).

    -bersambung, coz lobat..daaa-

  20. kedua ga salah anak KSDI yang notebene tajir di taro di asrama. bahkan kalo perlu diwajibin. hal ini dimaksudkan agar anak2 yang tajir itu bisa merakyat. bisa ngerasain susahnya jadi anak asrama. dan bersosialisasi terhadap sesamanya. gw malah ga suka ma orang yang bilang kalo tajir di margo residen aja. duh cuy, tu cuma bikin adik2 kita itu semakin menikmati kemewahan. dan malah membuang dia dari pelajaran hidup di asrama.

    Very good point

  21. lho, kok kayanya jadi ngoffense KSDI ya? gimanapun, mereka tetep saudara kita se-UI bukan?

    yang harus dikomentari, dikritisi, dan dikasih itu kebijakan rektoratnya, bukan anak-anak KSDInya.. iya nggak sih?

  22. @atasku

    I’ve got your point

    Terus gimana solusi buat temen-teman PPKB, UMB yang udah terlanjur terlunta-lunta. gak kebagian tempat di asrama dan sampe sekarang masih numpang di berbagai tempat (khususnya bagi yang finansialnya terbatas)

    Tapi tetep aja gw berpendapat supaya setelah matrikulasi, anak-anak KSDI pindah ke tempat lain aja. Gantian sama anak UMB dan SNMPTN yang bakal dateng awal agustus.

    ~Gw Anak Daerah Yang Gak Pernah Ngerasain Nikmatnya Hidup di Asrama UI

  23. hahaha
    asrama…
    KSDI…

    pokonya hidup SPMB!!
    hidup kos-kos-an (bukan asrama)!!

    btw,gw pernah dikasih tahu sama temen gw yang anak asrama, katanya sebenernya di asrama tuh
    ada semacam organisasi yang seharusnya membela kepentingan asrama tuh…apa ya namanya??? FORKAT kalo ga salah…

    kemana kalian anak2 FORKAT???
    urusin donk asrama kalian…
    masalah2 penghuni…
    masalah2 apaan kek…
    hahaha

    ga BEM UI, ga FORKAT
    SAMA AJA!!

    hohoho

  24. KSDI = Kerjasama Daerah dan Industri.
    iya bener man, yang harus diliat dan dkritsi tuh kebijakan dari rektoratnya , bukannya kawan2 KSDI. lah mereka jug amaba kan? gak tau apa2an.

    bem ui ma forkat semangat yak!!
    jgn banyak ngomonglah, konkret aja sekarang mah…pasti banyak yg dukung kok!fight!
    hehe..

  25. si nomor 30 kok kayaknya doyan bgt ya offense?hehe..berasa kamu yg paling banyak peduli deh.
    tapi bagus juga sih ada yg ingetin, meskipun gak asertif.hehe…

  26. heran deh, sama rektorat (red: rektornya)
    uda pada baca Tempo yang keluar pas BEM UI dan fakultas pada aksi di rektorat kmrn blum?
    ada kolom hasil liputan mou-nya ayahanda (pak gum maksudnya, whe…) terkait dengan beasiswa untuk atlet, lewat program KSDI. masih proses sepertinya, dari 17 atlet ansional akan diseleksi mjd 10 atlet.
    di situ pak gum bilang, akan ada penambahan fasilitas kampus untuk apartemen atlet, plus dengan failitas lainnya, dana kan memakan lahan 7hektare. bayangkan?!
    wah, keren sih, visioner bgt kita punya rektorat, bakal banyak atelet yang mengharumkan bangsa Indonesia yang lahir dari rahim UI. tapi, prioritas untuk skrg ga sih?
    anak2 maba jalur UMB aja, banyak yg ga registrasi, dan ga tau kenapa?
    uda mikir mau babat lahan 7ha untuk atlet masa depan.
    wah…wah…wah…
    asrama yang udah ada aja masih direbutin kamarnya sama anak KSDI, UMB, dan PPKB daerah.
    duh, duh, duh…pak gum, pak gum?!

  27. wahwahwah
    #32 kayanya udah buruk sangka aja tuh
    ama #30…
    #30 sbenernya ga bemaksud buruk kok
    gw-nya aja yang kurang bisa milih2 kata…
    gw dukung banget kalian smua yang konkret
    ga kaya gw yang cuma bisa ngomong doank, ga asertif lagi…
    ga konkret (gw tampar muka gw sendiri dulu ah…plakk!!)
    *auww
    maksud gw…gw cuma mo ngingetin aja
    supaya sistem penerimaan MABA nantinya balik lagi aja ke SPMB kaya jaman kita2 dulu…supaya ga ribet hehehe
    oia, terus gw juga cuma mo ngingetin ‘n ngasih semangat supaya lembaga2 formal kaya BEM UI ‘n FORKAT memaksimalkan peran2nya!!
    Gw taw kok kalo #32 itu anak BEM UI…
    Smangat ya!!

    Yang penting kan do more, do more
    Gw smangatin lo semua yang konkret!

  28. wajar kalo kebijakan baru di kritik, lihat hasilnya nanti, gw sih percaya sama bapak Gum, hohoho,,

  29. bwt smuanta
    ni ku lg cari info tentang ui
    mo nanya, komplek kost2 an di UI itu dimana y? kisaran harga nya berapaan? trus klo s2 boleh tinggal di asrama jga y?
    tengkyu

  30. kemaren gue dapet cerita dari temen.
    (cerita nyata:)

    tentang program yang kayak2 kerja sama daerah tu.

    nah, adek kelasnya tuch pinter
    tapi kurang mampu gitu -anak
    bengkulu-

    trus dia diajuin dapet
    program kerja sama daerah buat masuk ui.
    nah pas diajuin, si daerah tu ga mau
    bayarin penuh dan si anak suruh bayar 60%
    JELASLAH DIA GA BISA BAYAR

    nah, yang jadi sebel. suatu ketika
    adek kelasnya yang lain. ngajuin juga.
    n karena dia anak pejabat, dia bisa
    dapat tuch rekomendasi dari daerahnya.
    masuk UI lah.(entah biayanya ditanggung
    bapaknya, atau dll)

    yang jelas, sampe sini udah Jelas
    sistem2 yg kayak gituan tu rawan
    banget kolusinya!

    duh,buat kuliah aja dah berkolusi!
    gimana ntar, ilmu yang didapat!
    mungkin ga pernah barokah kali ya!

    usul:
    HAPUSIN AJA PROGRAM2 KERJA SAMA
    DAERAH KAYAK GITU di TAON DEPAN!
    (kecuali kalau dibetulin sistemnya)

  31. Apa !!!!!!!!!!!!!!!!!
    Anak KSDI tajir – tajir!
    “g semua kale”
    jangan asal ngomong ya, bang!
    kami anak KSDI “DI BAYAR” saya ulangi “DI BAYAR” kurang mengerti ” DI BAYAR” masih tidak mengerti “Apa Kata Dunia?”.

    “DI BAYAR” oleh pemerintah daerah, pemerintah kota, atau industri untuk berkuliah di Universitas Indonesia. Kalau kami telah selesai diwajibkan bagi kami anak – anak KSDI untuk kembali ke daerah, kota atau industrinya untuk berkerja sesuai nota kontrak kerja yang telah ditetapkan atau disetujui ada pula anak – anak daerah yang membayar secara pribadi hanya menggunakan pemerintah daerah, pemerintah kota, atau industri sebagai fasilitator. tapi tiiu masih dalam ruang lingkup anak daerah.

    KSDI = Kerja sama Daerah dan Industri

    Di “KHUSUSKAN” bagi mahasiswa dari daerah dan Industri, apabila lulus kembali ke daerah masing – masing dan membangun daerahnya. Namun, bagi anak – anak daerah yang pembiyaannya dilakukan sendiri atau di bayar oleh kan orangtuanya, dibebaskan dari tuntutan kembali kerja untuk daerah (tapi ingat!!! masih ruang lingkup anak daerah).

    Mengapa ada KSDI?

    Karena selama ini pembangunan hanya terjadi di pulau jawa saja, tidak merata ke provinsi atau daerah yang lainnya.

    Akan tetapi, ada penyimpangan dalam program ini, terdapat anak – anak jakarta super – super tajir mengikuti jalur KSDI yang seharusnya jalur ini khusus bagi anak – anak daerah dan industri. Penyimpangan ini harus dipertanyakan, kenapa bisa seperti ini, karena program ini di khususkan bagi anak – anak yang berasal dari daerah.

    Selain itu..

    Dalam surat persyaratan dari UI apabila calon mahasiswa baru tidak lulus ujian nasional atau ujian sekolah, uang yang telah diberikan akan dikembalikan dan diberi pemotongan sebesar Rp 3.000.000,00 untuk biaya program matrikulasi. Akan tetapi, ada sebagian teman – teman dari program KSDI yang tidak lulus ujian nasional dan ujian sekolah, bisa kembali mengikuti program matrikulasi dan menjadi mahasiswa UI sepenuhnya. Masalah ini juga harus dipertanyakan.

    Sekarang dimana keadilan, ketegasan, dan kepribadian tegas rektorat terhadap masalah ini? Karena kami anak – anak KSDI tidak mau dianggap remeh oleh sebagian kalangan mahasiswa UI, dosen UI, atau rektorat tentang nasib kita di UI yang hanya mengandalkan uang bukan kepandaian.

    jadi saya berpengharapan bagi Abang – abang, Mbak – Mbak, BEM UI, dosen UI tolong hargai kami MaBa dari KSDI. Kami juga perduli dengan apa yang terjadi di lingkungan kampus tercinta ini, karena kami merasa kami telah menjadi bagian dari Universitas Indonesia.

    Terima kasih!

  32. Masalah yang dialami adalah sistem yang UI jalankan jadi jangan salahkan kami MaBa KSDI, tapi salahkan rektoratnya yang kurang selektif dalam memilih mahasiswanya.

    “suatu ketika
    adek kelasnya yang lain. ngajuin juga.
    n karena dia anak pejabat, dia bisa
    dapat tuch rekomendasi dari daerahnya.
    masuk UI lah.(entah biayanya ditanggung
    bapaknya, atau dll)”

    (tapi masih dalam ruang lingkup anak daerah! salah direktorat kalau anak pejabat itu OOT hanya untung duit doang)

  33. saya anak KSDI juga.. tidak tinggal di asrama kok, tapi ditawarin sama UI..

    untung saya memilih untuk tidak tinggal disitu, kalo cuma untuk di kambing-hitamkan begini…..

  34. -Kita melihat adanya gejala sentralisasi di UI-

    hehe. UI emang menuju sentralisasi.. contoh nyata : pencairan dana Block Grant buat BEM FE UI yang tadinya bsa ke dekanat sekarang harus ke rektorat…karena sekarang sistemnya sentralisasi keuangan.. duit masuk harus lewat rektorat..duit keluar ya harus lewat rektorat juga

    tujuannya sih bagus..istilahnya pemerataan pendapatan fakultas tajir dan tak tajir biar sama2 sejahtera..gitchu..

    buat anak2 KSDI..kok ceritanya menarik ya? hehe.. mau donk minta nomer telfonnya buat wawancara.. gue anak BOE FE UI..

    terutama buat anak KSDI nomer 41..

    Semangat! 🙂

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals