Hai temen-teman kampus tercinta, (hehe,padahal saya udah alumni). Saya hanya mau berbagi cerita (ya curhatlah). Kejadian ini membuat saya terenyah tentang mental lulusan UI, kampus tercinta ini.

Kejadian ini berawal ketika saya ngekos di suatu kota industry di Provinsi Banten. Saya bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang yang saya belum tau background / personality nya terutama untuk pria berumur 30an, ada semacam perasaan buruk sangka terhadap orang yang tidak saya kenal (kecuali rekan kerja dan untuk urusan kerja) tetapi berusaha sok akrab dengan saya dan saya akan bersikap dingin jika bertemu orang seperti ini.

Suatu hari, pulang kerja, dengan kondisi capek. Dan kerja itu capek (this is not world of having fun at all especially for you, fresh graduate). Saya bersama dua temen perempuan sedang duduk di ruang tamu, nonton kartun seperti biasanya. Kemudian ada seorang penghuni kosan, seorang pria umur 30an awal, I don’t even know his name, I don’t smile to him, I don’t even speak to him, sebut saja namanya Pak Dodo dan dia join duduk nonton TV sambil menyapa (entah nyapa kesiapa, toh ekspresi saya dingin) : “Pada gak pulang Jakarta neh weekend nya?”

advertisement

Saya tidak menjawab dan hanya satu temen saya yang menjawab. Saya asik dengan kartun dan makan indomie sambil motong2 cabe  rawit. Pak Dodo pun ke dapur, mau masak indomie juga kali, dan kembali ke ruang tamu, dengan seenaknya dia jalan kearah saya dan sok akrab (hey I don’t know you, WTH!!).

Pak Dodo: “wah ada cabe neh, gw ambil yak?”

Itu cabe punya saya, dan saya memandang muka dia dgn pandangan jutek plus dingin. Dan dia langsung ngambil cabe milik saya tanpa ijin, I said to him (dengan muka dingin): “Gue gak ngasih lu, sapa yang nyuruh lo ngambil,?”

advertisement

Pak Dodo: “ya gue pinjemlah, ntar gampang balikin.” (Sambil cengar-cengir dan TIDAK MENYADARI EKSPRESI DINGIN GUE DARI TADI. WTH!!)

Saya teriak: “Hey gue gak ngasih lu, gue gak suka ama lu, bahkan gue gak kenal lu.” (nada marah)

Pak Dodo: “Gampanglah Cuma minjam gini ah.” (masih cengir2 sok akrab)

advertisement

Saya: “eh gue gak suka ama lo, sadar gak she gue ngomong apa. Anj*ng banget seh.”

Gue tereak Anj*ng bukan karena masalah cabe, tapi krn dia mengganggu gue.  Murni hanya karena saya tidak terbiasa dengan kelakuan orang asing yang mencoba akrab dgn saya tapi tidak peduli dengan sikap jutek saya.

Pak Dodo marah dan tereak :”hey kamu gak berpendidikan apa, blablabla baa..”

advertisement

Ya intinya itu pak Dodo marah-marah, gak terima omongan gue dan nyumpah-nyumpah mau manggil armada preman kota sini yg dia kenal (Do you need anyone else help for against me (a girl without gun)!!!??).

Cerita pertengkaran ini belum berakhir gitu aja, keesokkan harinya, gue bangun jam 5 subuh dan gue menemukan tumpukan sekilo cabe rawit plus selembar kertas. Oh God!!.. dan inti dari kertas itu adalah dia maki2 gue sbg org kampong gak berpendidikkan gak tau ada jelek, ya semua omongan ababil lah. Gue Cuma senyum2 ketika diparagraf akhir dari surat ancaman ke gue..Guess??wht did he write?

Unbelievable, he wrote: DASAR KAMU ORANG KAMPUNG, KAMU GAK TAU SIAPA SAYA YA. SAYA LULUSAN UNIVERSITAS TERKEMUKA DI INDONESIA, BUAT KAMU TAU YA, SAYA LULUSAN S1 UNIVERSITAS TEKNOLOGI MALAYSIA DAN S2 DI UNIVERSITAS INDONESIA.

What???Sebagai alumni UI gue malu dengan tingkah dia. Ditulisan ini saya tidak membenarkan sikap saya yang memaki dengan tidak sopan, saya juga tidak menganjurkan anda untuk bersikap dingin kepada orang asing (tapi saya memang selalu bersikap dingin dengan org terlalu sok akrab), disini saya sepenuhnya sadar kalo saya salah, memaki tidak sopan memang salah (but please see the case; maaf, masa lo masih tetep sok akrab walau gw udah tereak dan tampang dingin bin jutek?bukan masalah cabe, tapi gue lebih menganggap kalo dia org asing aja sok akrab dan seenaknya gak gubris gue apalagi klo gue temen dia).

Temen-temen UI, disini saya ingin menggarisbawahin permasalahan ISI SURAT YANG “PAMER” SBG LULUSAN UI di forum YANG TIDAK tepat. Terlepas apakah bener dia lulusan UI atau tidak tetapi sbg Sebagai lulusan universitas terkemuka tidak perlulah kita koar-koar sbg alumni UI, tunjukkan dalam riset akademis, bekerja dalam prestasi, tereakkan “saya alumni UI” di forum akademis dengan karya.Tapi jika benar Pak Dodo lulusan UI, Saya jadi berpikir, apakah karena untuk S2 di UI terlalu mahal sehingga hanya org berduit tanpa otak yang bisa masuk UI?atau kita dikampus tidak diajarkan beretika?Apa yang salah? Ingatlah pepatah, “padi makin berisi semakin runduk.” Pantaskah seorang S2 lulusan UI menyombongkan gelar magister di secarik kertas dendam kesumat?

Mohon maaf jika tulisan ini tidak berkenan pada pihak-pihak tertentu. Tapi ini hal yang membuat saya semaleman berpikir, apa hubungannya memaki saya dgn sebutan orang kampong dan kemudian pamer sbg lulusan UI. Karena Saya secara pribadi paling tidak suka menyebut almamater saya untuk forum yang tidak berhubungan dengan akademis (kecuali interview kerja or ditanya bos), saya lebih suka menunjukkan kualitas UI di diri saya dengan kerjaan kantor saya dapat beres, saya lebih unggul dari temen lain di kantor.

Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk menjelekkan almamater UI, saya punya data nama lengkap Pak Dodo dan fakultas yang dia ambil, dan saya sendiri almni UI. FTUI2007.