Peluang untuk Maju dari Realitas Kondisi Sosial Bangsa yang Menyedihkan


0

Negara dan masyarakat yang lemah, mungkin itu istilah yang pantas disematkan terhadap realitas kondisi sosial terkini bangsa kita. Kepedihan hidup seperti sudah merupakan makanan sehari-hari anak bangsa, dan terus-menerus menjadi lingkaran setan yang seakan tidak terpecahkan. Bila menilik secara seksama kepada realitas kondisi sosial bangsa kita yang terkesan cukup menyedihkan ini, maka dapat diketahui bahwa permasalahan sosial yang muncul itu sebenarnya hanyalah refleksi dari lemahnya struktur negara maupun masyarakat yang menjadi tulang-belakang eksistensi bangsa.Contoh permasalahan sosial yang bisa diambil untuk melihat gambaran nyata dari pernyataan ini adalah masalah ketersediaan bahan bakar minyak tanah bagi berjalannya kehidupan sehari-hari rakyat Indonesia. Penggunaan bahan bakar minyak tanah untuk keperluan rumah-tangga secara langsung menciptakan situasi ketergantungan yang akut antara rakyat Indonesia dengan bahan bakar yang bersumber dari fosil tersebut, meskipun bila ditelaah lebih-lanjut dapat diketahui bahwa minyak tanah sesungguhnya merupakan hasil pengolahan minyak bumi yang belum sempurna, ini dengan mengingat bahwa minyak tanah masih dapat diolah lagi menjadi avtur yang notabene merupakan bahan bakar pesawat terbang. Maka, sudah menjadi semacam kepastian bahwa ketika muncul sinyalemen dari pemerintah bahwa akan ada pereduksiran pasokan minyak tanah di Indonesia, ketersediaan minyak tanah untuk kehidupan sehari-hari rakyat pun akan berkurang yang disertai dengan adanya harga eceran minyak tanah per-liternya yang membumbung tinggi.

Refleksi eksistensi kondisi sosial negara serta masyarakat yang lemah secara jelas terlihat di sini, pemerintah mengupayakan agar masyarakat bisa beralih untuk menggunakan gas bagi kehidupan sehari-harinya untuk mengurangi penggunaan minyak tanah, namun jelas terlihat bahwa penerapan kebijakan yang muncul sangat kurang memperhatikan lingkup budaya masyarakat yang masih cukup kental menyokong penggunaan minyak tanah pada skala rumah-tangga. Selain itu, kebijakan yang diterapkan dalam wujud konversi minyak tanah ke gas melalui pembagian kompor gas ke masyarakat cukup mengesankan minimnya sosialisasi kebijakan, dan terlihat adanya model penerapan kebijakan yang bersifat ‘setengah-hati’ mengingat kompor gas yang disebarkan ke masyarakat itu penyebarannnya bersifat tidak merata serta menggunakan lapisan besi kompor yang tipis. Sehingga, bila kemudian peredaran minyak tanah untuk keperluan rumah tangga akan dihentikan sama sekali oleh pemerintah sudah dapat dibayangkan bahwa masyarakat Indonesia akan mengalami krisis energi yang kronis, apalagi masyarakat Indonesia sekarang ini juga nampak masih ‘termanjakan’ dengan penggunaan minyak tanah bagi keperluan rumah-tangga sehari-harinya tanpa memperlihatkan upaya yang baik secara kolektif untuk mencari bahan bakar alternatif untuk keperluan rumah-tangganya.

Bila mengamati contoh permasalahan sosial yang seperti itu, dengan jelas nampak realitas kondisi sosial bangsa Indonesia yang menyedihkan karena antara negara dan masyarakat ternyata hanyalah saling melengkapi dalam kelemahannya masing-masing. Oleh karena itu, untuk mengupayakan adanya peluang bagi kemajuan bangsa ini langkah yang perlu ditempuh adalah langkah yang bisa mengarahkan bangsa ini kepada pemecahan permasalahan yang dihadapinya. Penulis secara pribadi melihat pengembangan briket arang organik yang dilakukan oleh Bapak Kopral Ujang Solichin di Ciamis dengan memanfaatkan limbah sampah organik dapat menjadi contoh langkah yang bisa mengarahkan bangsa ini kepada pemecahan permasalahannya, secara khusus untuk keberadaan bahan bakar alternatif bagi keperluan sehari-hari rumah-tangga. Penulis sendiri bahkan telah aktif berada dalam rantai pemasaran briket arang organik tersebut yaitu sebagai manajer pemasaran di wilayah Depok dan sekitarnya.

Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa langkah-langkah inovatif seperti itu patut dikembangkan di berbagai bidang pembangunan di Indonesia, dengan melibatkan segenap komponen anak bangsa sehingga realitas kondisi sosial bangsa yang kini tengah berada dalam kondisi yang menyedihkan bisa bergeser ke realitas kondisi sosial yang baik, dimana pada realitas kondisi sosial yang baik itu terdapat hubungan antara negara dan masyarakat yang bersifat saling menguatkan. Mari berkarya menciptakan beragam peluang untuk kemajuan bangsa dengan apa saja kekuatan yang kita miliki.


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Bagyo

Seorang alumni UI yang memilih menjadi wiraswasta pada bidang kemitraan pengembangan usaha kecil dengan teknologi tepat guna.

0 Comments

Leave a Reply