PEMIRA UI Beyond The Politics


0

Pemira lagi! ga kerasa (well…kerasa sih,humas gtu loh) bem ui 2009 bentar lagi mnemui akhirnya (sooo much to do still). Kaya biasa,pemira emang slalu jd event yg ga pernah sepi dr hingar bingar keseharian kita di kampus. Mau yang peduli atau engga, mau yang emang hobi ngintrik politik atau engga, atau yg berniat tulus memperbaiki keadaan atau mencari rente politik kampus,doesnt matter, pemira biasanya jadi “buzz” yang kuat. Mencontek salah satu quote di HI, “you may not be interested in Pemira,but Pemira will always be interested in you”. Ok lah, coba kita diskusikan pemira ini yah. Btw tulisan ini tidak bermaksud politis mendukung siapa-siapa kaya satu tulisan yg udah bahkan ada di anakui.com, gw cuma coba kasi pandangan aja ttg salah satu aspek di pemira yg juga jd bahan bacaan gw di kuliahan sehari2 : POLITIK.

Kenapa ngomongin Politik di Pemira? selaen karena gada lg yg bs gw omongin, mnurut gw politik penting ditlisik karna sering banget kita denger beberapa nada miring yang mengandung kata politik di dalamnya ketika ngomongin pemira, seperti : “ah itu politik kampus tuh” atau “ah dia maju tuh politik buat mecah suara gosipnya” atau “dasar politik,apa aja dilakuin untuk menangin pemira”. Yaah pokonya sejenisnya lah (kenapa kaya anak sd bikin kalimat pake kata politik yah?). Demikianlah gmana politik kampus didekatkan dengan makna yang tidak begitu positif (bila tidak menyebutnya sebagai buruk,licik,dan akal2an demi suara semata). Sebagai mahasiswa FISIP,ini sewajarnya bikin gw gregetan…why the campus politics is the culprit? apa yang salah? hmmm…

Penjelasan yang menurut gw selayaknya dipertimbangkan (selaen utk menyelamatkan politik dr muntahan kebencian) adalah karena politik kampus is part of the problem, not the solution.Mungkin pengalaman gw di ngintrik2 politik minim banget,,,tp ya itu td…proses perebutan suara dr berbagai kalangan (walaupun ada yg ga “berbagai” sih tp yaudah lah anggap aja kita pengen suara dr berbagai kalangan) yang belum berbasis ide adalah masalahnya. Betapa sering kita melihat kampanye yang sangat kontras…tanpa bermaksud nyolot…tp liat deh,ada yg dr kuning,item,biru,ijo,merah,abu2. Ciri masing2 ini sangatlah kental. Ga aneh juga suka ada spirit klmpknya tinggi…menggunakan infrastruktur organisasi/perkumpulan tertentu. Berjuang agar grupnya yg menang pastinya.Trus kalau mau minta dukungan,pendekatan grouping yg digunakan Sebagai mahasiswa fisip,gw ga nganggap ini salah, ini wajar banget malah. You always want part of your group to win,that’s natural. In the end, politics in liberal term kan proses “capture and recapture institution’s interest since there’s no single autonomous interest of power”. Apanya donk yang bikin gregetan?

“I S U  R I I L”

itulah yang hilang menurut gw. Logikanya sederhana. Siapa sih yang ga pengen lingkungan yang lebih baik? siapa yg ga pengen BEM UI jd lebih guna? siapa juga yang ga pengen biaya kuliah UI jd trun? what kind of mad-man yang ga pengen fasilitas lbh baik dan suaranya terwakili? pertanyaannya kan apa sih yg rencana lu kandidat bs bikin idup gw lebih bener di UI,gtu bkankah? Jadi,harusnya…di pemira itu,waktu dan energi banyak dihabiskan utk perdebatan bagaimanakah cara mencapai hal2 baik itu, bukan yang lain. Logika diadu, alasan didebat, angka dihidangkan dan solusi dipaparkan. Mana yang paling mampu menjawab pertanyaan itulah yg seharusnya menjadi sorotan, bukan yg lainnya. ini kan beyond politics mnurut gw,apa pun afiliasinya pasti mau gtu. Tp kenapa ya yg bikin seru malah bukan angka-angka dan logika-logika yang diadu utk menjawab permasalahan? Akan menjadi keputusan yang sangat sulit utk rakyat kalau benar-benar perhatian sama what is it with the program yg bikin gw kebantu. Ada tiga yang menurut gw penting di-address.

Pertama, weapons of mass distractions (destract lho ya…bukan destruct. Pengalih perhatian,bukan penghancur). Ini gw ngutip kata2nya Paul Krugman, ekonom yang (sayangnya) anti-friedman. Kita musti nyadar kadang orang ga milih berdsrkan apa kepentingannya secara langsung,tp seringkali milih berdasarkan hal2 yg gada hubungannya sama keadaan mereka,tp entah kenapa mereka milih juga. Apa aja sih “senjata pengalih perhatian ini”? banyak bung! identitas sempit, pendekatakan ketokohan,gosip, penampilan juga,hihi…konyol? sempit? boleh aja berpikir gtu,tp engga juga ah mnurut gw,wajar ko.Amartya Sen bilang klo identitas itu kan kedalaman pemaknaannya dikonstruk oleh aktornya (“konstruk”,kaya siapa gtu yg sering pake kata2 ini). Dan rasa primordial dan hal2 distractions itu bs jadi lebih penting utk manusia, mengalahkan “riil issues debate” yg langsung ngaruh buat mereka. Toh kepuasan kan subjektif ya…mungkin banyak orang yg puas klo identitas itu yg lebih penting sehingga riil issues di-entar-entar ajalah…sekali lagi ini “normal”. Terserah sampean utk ter-distract atau engga. Susah buat nge-judge soale.

Kedua,ada ga “raison d’etre” institusi yg di-pemira-in? jangan-jangan orang riuh rendah membicarakan the whole weapons of mass distracttions simply karena “there are no riil issues to discuss about”. atau there are much about nothing? who knows? Mungkin BEM UI atau BEM fak emang udah ga relevan lg dlm mempengaruhi hidup mereka mungkin? siapa tau kan pikiran orang? Anda boleh insist klo ia ngaruh,ok fine. Tp kan pemaknaan itu kan sbjective. Mungkin ia ngaruh buat sebagian orang tp buat sebagian lain (large part i believe) ga relevan, ga ngaruh. So..yaudah…marilah berasik2 dgn hal2 distractions td. Sementara itu,index kualitas kehidupan dinamika kegiatan mahasiswa di kampus ya sgitu2 aja,no progress. Skali lg, ini hanyalah kemungkinan. Tp menurut saya, gw harap alasan kedua ini ga masuk akal (mulai subjective-nya,nasionalisme gw pada bem tumbuh). It matters ko. Liat deh adek2 maba yg rela ngantri ke ruang bem stlh kakak2nya bantuin advokasi mreka. Liat deh gembiranya sebuah fakultas waktu ia menang olimpiade olahraga dan ilmiah yg diadain bem itu, liat deh betapa celingak celinguknya wartawan ketiga gada orang berjaket kuning pas demo, atau yg lainnya lah (gamau pamer berlebihan). Klasik? mungkin…atau “raison d’etre” bem yg udah bertambah jauuuuh lbh banyak yg blon di jwab sehingga orang dengan mudahnya “ah ga relevan”? mungkin…

ini alasan yg bikin gw paling takut : people loose faith in the very institution (bem)

This disfunctionality is tiring them up! serem ga lu! organisasi yg mnurut gw punya sejumlah peluang untuk bikin pengalaman kita sedikit lebih banyak,potensi kita sedikit lebih berkembang,pandangan kita sdikit lebih kaya, kaki kita sedikit lebih kuat (gara2 jalan nanjak ke pgw),atau rektorat kita sedikit lebih bijaksana (ngareep) ini loosing the faith of the very important reason why it exists in the first place : temen2 mahasiswa nya sendiri. Terlalu seringnya kita utk fokus di politik kampus lewat intrik,perdebatan idologi,dan weapon of mass distractions telah membuat kita mungkin lupa bahwa ada mata yg slalu ngeliat kita,semangat yg menunggu kita,minat dan bakat yg tinggal diserap jd percuma…menoleh pada lahirnya organisasi2 baru yg muncul utk menjawab hal2 baru itu. Who knows? I hope this is not and will never be true as i keep faith on bem (kenapa jg gw serve staun ini).

Untuk penutup,ayo temen-temen…ayo!no more paying attention to weapon of mass distractions,no more empty faith,no more fungky politics,no more IGNORANCE. Mari penuhi pemira yg akan datang ini dengan antusiasme akan perdebatan, the hunger for real solutions, the thirst of relevansi, dan spirit of Satu UI. Dan ini smua ga bs ngandelin para kandidat yang akan maju doank (gmana bs kalau rakyatnya sabodo?). As untuk mahasiswa,mari kita seleksi kandidat yang menjauhkan kita dr weapons of mass distractions, kandidat yang ada faith untuk percaya sama our common goods, dan kepercayaan kalau kita semua pasti lebih baik asalkan sedikit kerja lebih keras dan sedikit saling percaya sama common sense dan common people. Kalau kata temen saya, harapan itu masih ada. Dan yg perlu diinget : politics is still the way to get beyond. Viva UI!


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
patryapratama

Mahasiswa FISIP, jurusan HI, angkatan 2006

24 Comments

Leave a Reply

  1. well, satu pertanyaan besar yang harus dijawab:
    Emang Masih Peduli???
    kenapa ga peduli?
    udah jenuh juga kali ya sama yang ada,, ga da perubahan signifikan. kampanye menjawab(mungkin) tpi kepengurusan tidak menjawab, walaupun gw yakin semua orang yang maju pasti punya niat baik dan luhur.
    tpi emng perlu dievaluasi ada apa dengan niat yang baik dan luhur itu, kenapa tetep ga efektif ya??

    Jenuh lah, intinya,,

  2. Ok, let see what the author wrote in his last paragraph,

    “kalo kata temen saya harapan itu masih ada”

    Nah, don’t u think, O! reader that the writer showing up his affiliation..

    he told us bahwa ia adalah bagian dr pengurus BEM skrg.. Ini udh jadi rahasia umum kalo kpemimpinan d UI (mahasiswa) memang di isi oleh org” yg memiliki afiliasi dgn salah satu partai ‘hitam putih kuning’..

    mereka yg menamakan anak tarbiyah dgn topeng Lembaga dakwah Kampus n ditunggangi partai politik..

    We, need a change..!!!

  3. kebetulan kenal sama si penulis…
    Patrya PKS???
    hahahahahaha

    tpi gw sepakat si, kalo masalah si penulis sedang menunjukkan afiliasinya..
    mudah2an emang tahun ini banyak alternatif yang bisa jadi pilihan. dan mudah2an kualitasnya bisa dipersaingkan

    denger2 dari panitia dah ada 3 formulir yang keambil

  4. haha… ‘menarik’ juga.
    ternyata rekan-rekan sekalian semudah itu menjustifikasi penulis menunjukkan afiliasinya ke partai kebanyakan sampah itu.

    klo begitu, coba tela’ah quote ini yg gw dapat dari tulisan sebelum ini
    “Saya sungguh mengherankan jika ini dipakai sebagai standar negatif. Tarbiyah tidaklah identik dengan perilaku partisan, ideologi bisa saja, tapi jelas-jelas saya sebagai orang yang aktif di dakwah kampus menyatakan bahwa kami bersetia kepada manhaj dakwah kampus yang menyatakan bahwa aktivitas kampus harus berpola pikir mahasiswa yang tidak partisan. Selain itu tegas saja saya katakan bahwa mereka selama yang saya kenal bukanlah orang-orang yang partisan, berbeda dengan saya.”

    Ini malah bukti nyata pembelaan diri kadrer PKS ni.
    wkwkwkwkwk (mau ngeles nih yeeeee)
    Rahasia Umum bang…… hahaa

  5. “We need a change”???
    The word WE refers to???
    and what kind of change do you expect Pacarku???

    smile
    ^^

  6. ihh waw!! 3 formulir yah yg keambil??

    ohh pantes ajah.. mungkin rezim incumbent mulai ketar-ketir dengan kehadiran salah satu calon yg hendak meruntuhkan dominasi mereka..

    dari postingan farif tino seperti menunjukkan indikasi ke arah sana (ketar-ketir)

    ke masalah politik, sebenarnya politik itu memang enggak kotor, tapi politik MENGKONDISIKAN pelakunya untuk berbuat kotor..

    lihat saja waktu itu Yudha HI’05 diisukan dibiayai oleh salah satu partai di salah satu koran kampus.. WTF!!
    mang mereka jg ga dibiayai partai??

  7. jiah, Patrya PKS???
    hahaha,
    pasti Patrya tertawa senang akhirnya pembentukan citra diri agar dikenal sebagai orang PKS berhasil!
    dan selanjutnya tinggal benar2 mendaftar sebagai anggota DPC lu pat!

    hahaha!

    bagus pat, tingkatkan terus frekuensi pemakaian celana bahan dan sepatu sendalmu. ke depannya jangan lupa jaket itemnya yah…

    *maaf, jadi ngomentarin orangnya, bukan tulisannya… habis lucu sih.. xp

  8. Mmm . . . . lagi2 tread yang selalu menghasilkan perdebatan mengarah kepada penghinaan . . .

    Ini ga ada perubahan apa????

  9. Heeey mahasiswa (juga mahasiswi)

    BELAJAR !!!

    Gue ngerasa, selama gue ngampus, banyak kerjaan dan urusan yang tidak mencapai level substantif karena kita terlalu banyak ribut dan berkerumun di hal-hal yang tidak penting, salah satunya yang kita liat di komentar2 ini. POLITIK IDENTITAS. Gak perduli kucing hitam atau putih yang penting bisa nangkep tikus (kata Deng Xiao Ping).

    Well, berkaca aja sih, output besar apa yang udah lu dan organisasi lu hasilkan? Jawab … Khususnya yang bermanfaat buat pengurus dan konstituen lu

    PS. Ini berlaku buat semua yah, baik yang dikritik maupun sang pengkritik

    Capek dengerin kata orang, Bro… Isinya pepesan kosong semua, coba aja perhatikan baik-baik, lu pasti sepakat deh sama gue

    Yang ngejek-ngejek tarbiyah, rata-rata hatinya dengki dan cabarannya emang pepesan kosong gak guna. Yang orang tarbiyah juga kadang gak peka, terlalu merasa benar dan apologetik terhadap perubahan…

    Yang kita butuhin itu totalitas dan hati yang bersih buat membangun, sepakat!

  10. sepakat dengan bung tigor bahwa kita jangan sampai terjebak dengan politik identitas. Tp juga harap diingat bahwa politik identitas tetap relevan untuk disandingkan dengan kebijakan atau hal2 yg riil. Selain itu,politik identitas juga selayaknya dibahas lebih lanjut menghilangkan tabu2 yg ada slama ini. Sepakat juga,jangan kita apologetik klo menjadi tarbiyah dan nyalahin aja klo jd non-tarbiyah. Tp juga hrs ingat bahwa ga smua tarbiyah itu apologetic dan ga smua orang pembenci tarbiyah itu hanya penuh kedengkian. -hanya menambah perspektif-

  11. Political Identity is only one of the most important aspects in political practice, including the popular vote in UI. So, there are still many aspects in political practice, including in UI.

    speaking about political practice, I think that all of the BEM UI’s leader candidate always show up his/ her brain, beauty/ charming, and behaviour.

    So, any kind of his/ her political identity, political fashion show always take an important part in every campaign per year.

  12. Speaking about “weapon of mass destraction” in political practice, I think that it’s so natural, regular, and very smart. Why?? In democracy era, the most important thing to win the election is gather the most people to vote you (the candidate). This is based on the philosophy like this: “Vox Populi Vox ….(Maybe Dei or God)”. So, that way is the shortest and the fastest thing to win the election.

  13. How about idealism? Yaph !! When we want to present the “vox Dei” in the earth, sometimes, that “Vox Dei” have benn contaminated by “the voice of evil, or the voice of bad man”. So, I think, it’s impossible for us to present the God Voice excelently, correctly, and without wrong in the earth.

  14. So, we can only look the very well God’s creation (human/ people) in every political champaign; like the good-looking of people, political identity, the speaking skills, and of course the prosperity that the candidate speaks about, etc.

    Because of that, Democracy only can show up little things from the voice of God; the things that many people like and enjoy them so much !!

  15. @baim ttg weapon of mass distraction : distraction emang slalu ada,tp masalahnya klo distraction itu melebihi isu riil akan jd masalah mnurut gw. Mnurut gw,pendapat lu terlalu terpusat sama “bagaimana memenangkan pemilu”,ketimbang bagaimana menjadikan pemilu sebagai solusi dengan menawarkan berbagai ide.

  16. bakal lebih parah kalo rencana S1 cuman tiga tahun terlaksana.. seperti di malaysia…sehingga mahasiswa gak bisa gerak..dan bau2nya UI akan seperti itu…hati2 aja…