Pemira UI Ribut Terus Tiap Tahun? Kenapa Sih Bisa Begitu?

Setiap kali memasuki masa Pemira UI, selalu saja ada keributan yang menarik perhatian. Biasanya sih di media sosial. Bisa saling serang di linimasa LINE, bikin akun bodong untuk hate speech, sampai berbalas meme.


0

Wah gak nyangka udah pemira lagi! Ternyata cepet juga ya? Kalian sebagai anak UI gimana? Pastinya udah pada punya jagoannya masing – masing, dong. Siapa pun yang kalian pilih, usahakan kalau pilihan kalian tersebut adalah mereka yang kalian rasa sudah paling tepat dan bisa memberikan kontribusi terbaik untuk UI.

Satu hal yang penulis soroti selama 7 semester kuliah di UI (dan sudah pasti terjadi)  adalah, setiap kali memasuki masa pemira, selalu saja ada keributan yang menarik perhatian. Biasanya sih di media sosial. Bisa saling serang di linimasa LINE, bikin akun bodong untuk hate speech, sampai berbalas meme. Seru sih liatnya. Siapa sih yang gak suka melihat adanya keributan wara – wiri di beranda medsos kalian? Kalau penulis sih seneng – seneng aja. Bukannya kenapa – kenapa, adanya keributan ini menandakan bahwa mahasiswa UI sangat kritis dalam memberikan suaranya.

Penulis gak akan membahas lebih lanjut lagi keributan apa saja yang muncul di pemira tahun – tahun yang lalu atau sekarang. Take notes juga kalau penulis bukan timses salah satu paslon. Kali ini penulis hanya ingin membahas apa sih yang menyebabkan munculnya fenomena keributan di masa Pemira, terus kenapa sih kita, orang – orang awam yang bukan bagian dari timses, bisa ikut-ikutan ribut mendukung salah satu paslon?

BACA JUGA: Rekap Acara Grand Closing Pemira IKM UI 2020, Ini Paslon Yang Terpilih

Polarisasi Kelompok

Sumber: behavioralscientist.org

Yap, salah satu penyebab utama dari keributan yang sering muncul di musim Pemira disebakan karena adanya kelompok yang terpolarisasi. Terpolarisasi di sini memiliki arti bahwa identitas yang dimiliki masing – masing paslon tidak lagi sebatas nama dan program kerja yang ingin mereka bawakan untuk UI, namun juga mencangkup isu – isu lainnya yang sebetulnya kurang relevan untuk UI tapi ikut melekat pada diri masing – masing paslon. Se – simple perbedaan merek mie instan favorit, deh. Misalnya nih, si paslon A adalah tim penyuka Indomie. Sementara paslon B adalah tim penyuka Mie Sedaap. Kita akan selamanya berpandangan bahwa pendukung paslon A sudah pasti penyuka Indomie, dan pendukung paslon B adalah penyuka Mie Sedaap. Padahal bisa aja loh, masing – masing paslon mengonsumsi mie instan favorit lawan politiknya. Kita aja yang terlalu buta dihitam-putihkan oleh polarisasi kelompok.

Bahkan bagi kita mahasiswa lainnya yang tidak tergabung dalam timses, adanya polarisasi kelompok ini dapat membuat kita memiliki antipati terhadap teman kita sesama mahasiswa yang memiliki pandangan politik yang berbeda. Kita jadi mengucilkan, menjauhi, bahkan melabeli teman kita dengan sebutan – sebutan yang sebetulnya belum tentu benar adanya. Hmm.. balik lagi ke perumpamaan di atas, gara – gara temen kita milih paslon A, kita bakalan selamanya melabel ia sebagai penyuka Indomie. Padahal belom tentu. Siapa tahu dia suka Sarimi? Hihihihi

Anchoring

Sumber: lssmn.org

Anchor atau jangkar. Yup, suatu fenomena yang terjadi ketika kamu menggunakan informasi awal mengenai seseorang untuk menilai orang tersebut secara keseluruhan. Pernah gak sih di saat Pemira, kamu memperoleh informasi bahwa salah satu paslon berasal dari satu kalangan kelompok tertentu. Lalu pengalamanmu di organisasi maupun fakultas mengingatkanmu bahwa orang – orang dari kalangan kelompok tersebut memiliki kinerja yang baik dan memuaskan. Kamu pun langsung memutuskan untuk memilih paslon tersebut tanpa memerhatikan isu – isu yang mereka bawakan.

Atau mungkin sebaliknya, kamu justru memandang negatif pada salah satu paslon tanpa mempertimbangkan track – record sebelumnya dan pencapaian yang dimiliki karena kamu mendengar paslon tersebut merupakan bagian dari kelompok tertentu. Hayoo.. ada yang pernah begini?

Confirmation Bias

Sumber: simplypsychology.org

Kurang lebih mirip dengan fenomena anchoring, confirmation bias adalah suatu fenomena di mana kita hanya menerima suatu informasi yang sesuai dan sejalan dengan kepercayaan kita. Tidak hanya itu, kita juga ikut menginterpretasikan bukti yang ada di lapangan sesuai dengan apa yang kita mau. Nah, biasanya fenomena ini sering banget kita temukan di kolom komentar pendukung masing – masing paslon.

Ketika misalnya timses paslon A dituduh curang oleh timses paslon B. Kita yang secara kognitif sudah mendukung paslon B, pastinya tidak mudah percaya akan tuduhan tersebut. Mau seberapa banyak bukti yang diberikan oleh pihak paslon A, bukannya menjadi percaya, pada akhirnya kita justru melihat hal tersebut sebagai usaha dari pihak paslon A untuk menjatuhkan paslon  B yang merupakan pilihan kita. Waduh.. gawat tuh kalau sampai kita mengalami ini!

Apakah kamu mengalami salah satu fenomena dari ketiga fenomena yang disebutkan di atas? Atau mungkin ketiganya? Aduh, tandanya kamu belum rasional tuh dalam memilih…

sumber gambar header foto: suma UI

BACA JUGA: Ingin Menjadi Ketua BEM UI atau Anggota DPM UI? Ini Syarat-Syaratnya yang Harus Kamu Tahu!


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Cindy Rachma Muffidah
Cindy is a psychology student who is also a passionate writer and book reader. More of Cindy's Articles.

0 Comments

Leave a Reply