Seperti merindukan perasaan lega ketika dulu saat menjadi mahasiswa baru UI dengan adanya program BOPB yang bisa meringankan biaya kuliah tiap semester sehingga bisa mengalokasikan uang untuk membeli buku teks dan diktat yang menunjang kegiatan perkuliahan. Kuliah berjalan lancar hingga akhirnya waktu wisuda S-1 untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) pun tiba. Kini seakan para mahasiswa berjalan di atas jembatan dua pilihan, harus berhenti pada gelar tersebut karena biaya kuliah yang membengkak atau terus maju yang sepertinya hanya menjadi pilihan bagi golongan yang mampu.

Mahasiswa diwajibkan membayar Rp 7.500.000 per semester dengan uang pangkal sebesar Rp 10.000.000,- bagi yang ingin melanjutkan pendidikan ke klinik demi memperoleh gelar dokter gigi. Pukul rata ! Sangat terpukul hingga sikap terbata-bata. Ketika ditanya tentang transparansi pengalokasian dana, mereka bilang untuk pembelian alat-alat, maintenance, bla bla bla dan sebagainya. Kabarnya pula, hanya 25% dari jumlah tersebut yang diberikan kepada fakultas dan 75% nya menjadi urusan universitas. Sehingga fakultas pun tidak bisa berbuat apa-apa.  Tidak ada solusi yang diberikan, apalagi program BOPB sudah tidak dapat dipergunakan sebab hanya spesifik untuk yang menempuh program s-1.

Teruntukmu Bapak, dari awal kami masuk ke Universitas Indonesia yang dengan bangga memakai jaket kuning bersama satu tujuan kita, tiada lain mimpi kami adalah menjadi dokter gigi terbaik yang bangga dimiliki bangsa Indonesia, yang akan mengabdi kepada masyarakat. Uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya harus dengan uang. Lalu bagaimana nasib kami yang terhalang oleh dinding uang sehingga kami tak sanggup berjalan lagi ? Haruskah mimpi kami berhenti sampai disini tanpa melanjutkan pendidikan klinik ?

advertisement

Dengan hanya tulisan sederhana ini semoga terbaca, sesederhana kami meminta keadilan agar kami bisa belajar dengan tenang melalui solusi keringanan biaya, dan menjadi dokter gigi yang sukses meningkatkan tingkat kesehatan gigi dan mulut seluruh penduduk Indonesia.



advertisement