Pengalaman Exchange Diva Dhamayantie: Mau Kuliah Ke Korea, Ternyata Gak Susah!

Penasaran nggak sih, gimana rasanya exchange ke luar negeri? Kali ini, anakUI.com akan ngobrol-ngobrol bersama Diva Dhamayantie, mahasiswa Psikologi UI tahun 2016 yang juga mahasiswa student exchange di Sungkyunkwan University, Korea Selatan periode Spring 2018!


0

Hm, keren ya Maudy Ayunda, Gita Gutawa, Gita Savitri, Jerome Polin, bahkan salah satu temen SMAku yang bisa kuliah di luar negeri… Aku kapan, ya?

Pernah kepikiran pengen kuliah di luar negeri kayak mereka, nggak? Memang, keterima dan berkuliah di Universitas Indonesia sebagai kampus terbaik di Indonesia ini suatu kebanggaan, tapi rasanya penasaran aja gitu gimana sih, hidup dan menuntut ilmu di belahan bumi yang lain? Pasti bakal ada banyak hal baru yang bisa kita temukan.

Nah, untuk kalian anakUI yang ingin mencoba berkuliah di luar negeri namun saat ini sudah cukup puas kuliah di UI, salah satu program yang bisa kalian ikuti adalah Student Exchange dari International Office Universitas Indonesia!

Di sana, kalian bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa ke berbagai negara yang menyelenggarakannya. Durasinya pun beragam, ada yang berdurasi dua semester, ada yang berdurasi satu semester, dan ada juga yang hanya berdurasi sekitar tiga bulan atau satu trimester.

Penasaran nggak sih, gimana rasanya exchange ke luar negeri? Kali ini, anakUI.com akan ngobrol-ngobrol bersama Diva Dhamayantie, mahasiswa Psikologi UI tahun 2016 yang juga mahasiswa student exchange di Sungkyunkwan University, Korea Selatan periode Spring 2018!

Alasan tertarik daftar exchange: Karena dunia itu luas!

Sumebr: dokumentasi pribadi

Menurutmu, kenapa sih kita perlu untuk mencoba student exchange? Jadi, salah satu yang bisa didapat tentu adalah ilmu! Kalau kata orang, belajar itu sepanjang hayat, jadi kita harus terus coba untuk belajar terus menerus.

Selain itu, belajar di negeri orang bisa memberikan kita pengalaman baru untuk mengetahui gimana sih kondisi, budaya, dan rasanya tinggal di negara tersebut. Dengan begitu, rasa saling menghargai kita akan bangsa lain akan tumbuh semakin baik.

Kalau Diva sendiri, ingin mencoba exchange karena memang sejak dulu tertarik dan penasaran akan student exchange, serta didukung oleh keluarganya.

“Hmm, kayaknya ada peran keluarga gue yg lumayan supportif juga sih.. dari SMA tuh gue dan kakak gue kayak dipush untuk daftar AFS (American Field Services, program pertukaran pelajar SMA ke Amerika -red) meskipun akhirnya gak dapet, jadi mungkin rasa penasarannya masih nyangkut hahaha..”

Dukungan keluarga juga bikin Diva penasaran banget akan dunia luar yang luas, lebih dari sekadar wilayah Indonesia aja.

“Terus emang gw ngerasa dunia tuh luas, jadi pengen coba ngerasain tinggal di tempat baru, nambah pengalaman juga kan pastinya… Karena exchange tuh bener-bener nantang diri buat mandiri dan belajar adaptasi in a whole new level gitu hehehe…”

Gak cuma kemauan, tapi niat merupakan hal penting

Sumber: dokumentasi pribadi

Kalau menurut Diva, tentu hal pertama yang perlu ia persiapkan adalah niat! Kita harus tahu betul dengan apa yang akan kita lakukan dan apa saja konsekuensinya. Salah satu yang menjadi pertimbangan Diva dan bahkan membuat teman-temannya mengurungkan niat untuk mendaftar program exchange adalah karena kuliah yang akan lebih lama dan juga perpisahan dengan peer group masing-masing saat kembali ke Indonesia nantinya. Semua ini karena durasi exchange yang kira-kira satu hingga dua semester, jadi wajar aja saat kembali ke Indonesia, kita sudah ketinggalan pelajaran di kampus sebanyak dua semester.

Namun, satu hal yang turut membantu Diva dalam mengambil keputusan adalah dukungan dari keluarga dan teman-temannya, sehingga membuatnya lebih yakin dalam mengambil keputusan untuk mengikuti program exchange. Selain itu, pertimbangan yang matang serta kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi juga dipikirkan Diva untuk mematangkan keputusannya untuk exchange.

“Tapi inget ya, kalau ini hidup lu, yang jalanin lu, jangan patah semangat juga kalau reaksi orang-orang gak kayak apa yang lu mau.”

BACA JUGA: Begini Cara Pendaftaran Beasiswa Orange Tulip Scholarship 2020

Niat tersebut juga harus dibarengi dengan tindakan

Sumber: dokumentasi pribadi

Kalau niat tanpa tindakan, apa gunanya? Makanya, niat harus dibarengi dengan tindakan nyata yang pantang menyerah! Begitu juga dengan Diva, dengan niat yang ia punya ia langsung bertindak dan segera mencari-cari informasi exchange di website International Office UI. Mencari informasi exchange pun gak sembarangan mencari, namun juga diikuti dengan riset mengenai program yang disediakan, latar belakang kampus yang dituju dan program studi yang ada, hingga kehidupan di negara tersebut.

“Yang gue lakuin sih mantengin info exchange, yang buka dari univ mana aja, terus research juga univ-nya gimana… Habis itu gue liat deadline pendaftaran buat ngira-ngira harus punya hasil TOEFL kapan. Udah habis itu kontakan sama International Office UI (IO), urus berkas di fakultas, dan nunggu pengumuman dari IO lagi.”

Selain sikap rajin, sikap pantang menyerah juga diperlukan dalam mendaftar exchange, karena belum pasti berkasmu akan diterima oleh universitas yang bersangkutan. Diva juga mengalami penolakan di universitas yang ia daftarkan pertama kali, namun ia tetap pantang menyerah dan mencoba di program lainnya. Akhirnya, Diva berhasil diterima di program exchange di SKKU, Korea Selatan. Keren banget, ya!

Selain itu, jika ingin mendaftar program exchange tentu kita juga harus ketahui biaya yang dibutuhkan karena tidak semua program menyediakan program fully funded atau pembiayaan penuh. Diva sendiri tidak mendapatkan tanggungan biaya hidup di Korea Selatan dari program yang ia ikuti. Namun, karena rajin mencari tahu, Diva akhirnya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Korea Selatan untuk sehari-harinya, yaitu beasiswa GKS.

Pengalaman hidup di Korea yang gak terlupakan

Sumber: dokumentasi pribadi

Selain belajar di universitas Korea, kita juga bisa mendapatkan pengalaman yang berharga hidup di Korea, jika kita mengikuti exchange. Diva juga merasakannya, loh. Salah satu yang berkesan buat dirinya adalah berbuka puasa makanan Indonesia di Korea, bersama dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Korea.

“Gue suka ke KBRI buat makan Indonesia gratis, sih. Kebetulan gue juga ngelewatin bulan puasa pas gue exchange, jadi KBRI tiap weekend tuh open house gitu buat bukber (buka bersama) dan teraweh bareng. Tentu saja aku manfaatkan hahaha.”

Selain bertemu dengan sesama orang Indonesia di Korea, Diva juga senang karena bisa bergaul dengan banyak orang dari Korea dan bahkan negara lain sesama mahasiswa exchange. Di kelas, Diva bertemu dengan seorang teman yang bersahabat dan tertarik dengan Indonesia karena pernah punya teman dari Indonesia. Sementara itu di luar kelas, Diva pernah mengikuti makrab bersama anak-anak exchange dan bisa mengenali banyak orang dari berbagai negara, salah satunya dari Eropa. Menurutnya, hal ini menarik banget karena ia jadi bisa mengetahui bagaimana sifat dan budaya orang yang berasal dari daerah yang berbeda.

BACA JUGA: Informasi Beasiswa S2 Dalam dan Luar Negeri Terbaru 2019

Sedikit tips para pejuang exchange

Sumber: dokumentasi pribadi

Di akhir, Diva juga memberikan tips nih untuk para anakUI yang tertarik mencoba exchange ke luar negeri. Yuk, disimak:

  1. Harus yakin. Menurut Diva, persiapan berkas exchange itu tidak sulit, namun ribet. “Lu harus yakin untuk cukup rela dibikin ribet urus berkas sana sini, ketinggalan (atau ngejar lebih keras) kuliah di UI pas lu balik, dan siap dengan kemungkinan kalo tinggal di negara orang itu beda sama ketika lu liburan.” Kata Diva. Menurutnya, memang exchange tidak akan selalu happy, namun justru itulah experience yang didapat.
  2. Gak boleh males research.Mulai dari alur penerimaan exchange program, univ tujuan, daerah tujuan, scholarship, tempat tinggal di sana, daan banyak lagi.” Kata Diva. Banyak research itu akan sangat ngebantu dirimu sendiri supaya tidak bingung dan kekurangan informasi nantinya.
  3. Melatih TOEFL. Nilai TOEFL yang baik merupakan salah satu hal esensial dalam penilaian berkas exchange. Menurut Diva, tes TOEFL juga perlu dilatih agar mendapatkan skor yang memuaskan dan lolos seleksi. “Soalnya kesempatan exchange tuh menurut gue ga akan lu dapatkan semudah pas lu masih sekolah ya, apalagi di UI yang partner student exchange programnya udah lumayan banyak.

***

Nah, itu dia pengalaman Diva ketika prosesnya mengikuti exchange ke Korea dan tips dari Diva. Wah, rasanya jadi makin tertarik untuk ikut exchange, ya! Buat kalian yang mau mendaftarkan diri exchange, semangat ya! Atau masih penasaran akan pengalaman exchange di Korea? Kalian bisa banget hubungi instagram Diva (@ddhamayantie) atau instagram International Office UI (@ui_international). Semangat!

Sumber: dokumentasi pribadi

BACA JUGA: Raih Beasiswa New Zealand, Cara Wujudkan Impian Kuliah di Luar Negeri


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Ameni Nazaretha
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI yang suka menulis dan bermusik. Connect with her on LinkedIn.

0 Comments

Leave a Reply