Suatu hari aku bertemu dengan sebuah Senja…

Di kala itu aku memandangnya dari kejauhan…

Ku perhatikan ia yang begitu semangat melangkah dalam semesta…

Tanpa peduli akan letih yang mengiring di pundaknya…

Tak puas pandanginya, aku pun mendekat…

Menyelami raut wajahnya yang renta…

advertisement

Menggenggam jemarinya…

Merajut rasa dan asa bersamanya…

Hingga ku tahu bahwa selama ini Sang Senja sebatang kara…

Tanpa putus asa, ia rangkai sisa-sisa hari tuanya dengan do’a…

Tanpa gusar, ia ubah raungan badai menjadi tarian bianglala…

Dan tanpa kecewa, ia sapu kisah di musim gugur yang kian berserakan…

advertisement

Senja, bertahanlah hingga akhir masa…

Tersenyumlah bersama semburat jingga…

Berlayar di negeri yang maya…

Hingga tiba di sebuah panama penuh cinta…

Sahabat, apakah yang akan kita pikirkan tentang hari tua? Apalagi di kala itu tak ada satu pun keluarga yang menemani kita tertawa dan bercengkerama dalam cerita. Entah, apakah kita termasuk orang yang dapat bertahan dengan hal itu atau malah sebaliknya hanya kalah dan menyerah.

Sebagian besar dari kita pastinya mengharapkan kehidupan yang membahagiakan di masa senja. Menguntai hari dengan orang-orang yang kita kasihi dengan senyum dan hangatnya peluk kasih dari mereka. Akan tetapi, hal ini belum tentu dapat dirasakan oleh semua orang dan bisa jadi kita salah satunya.

Bu Nurhayati, atau yang lebih familiar dengan panggilan Emak, sehari-harinya berdagang di Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Indonesia. Menjajaki minuman dan makanan ringan bagi para pelanggannya yang kebanyakan adalah mahasiswa, sendiri saja.

Sepintas, mungkin tidak ada yang istimewa dari diri seorang janda yang mulai memasuki gerbang usianya yang ke-58. Hanya seorang renta tanpa pendidikan yang tinggi, penjual makanan dan minuman ringan biasa, dan sebatang kara. Ya, ia hanya sebatang kara. Tanpa suami, anak, orang tua, dan keluarga. Sebab, dalam silsilah keturunannya Mak Nur adalah anak tunggal, begitupun suami dan orang tuanya. Dan generasinya pun ia tutup tanpa seorangpun keturunan. Ia tinggal di sebuah rumah petakan yang hanya berukuran beberapa meter saja. Mungkin semua ini memang kedengaran sangat klasik dan biasa saja. Namun, sungguh bagi saya dia benar-benar tak biasa.

Di dalam keterbatasannya itu, ia masih menunjukkan rona-rona kebahagiaan dalam raut wajahnya. Tanpa kecewa, ia jalani harinya dengan rasa syukur dan munajat kepada Yang Esa. Itulah yang saya dapatkan ketika bertanya padanya, apa yang ia rasakan saat takdir membuat kisah hidupnya seperti ini dan akankah ia merasa bahagia?

Dalam langkahnya, ada satu hal yang selalu ditekankan dalam hidupnya dan pantang ia lakukan, yaitu menengadahkan tangan dan meminta selain kepadaNya. Mungkin ia memang kekurangan, bahkan sangat kekurangan, renta dan lemah, akan tetapi itu semua tak lantas membuatnya merasa tak berdaya dan merendahkan dirinya dalam rasa iba orang-orang di sekitarnya. Justru sebaliknya, ia senantiasa memperbanyak memberi dan berusaha melakukan kebaikan bagi sekitarnya tanpa pamrih. Bahkan dahulu ia pernah berkerja menjadi petugas kebersihan di sebuah gedung yang menjadi pusat kegiatan dan kreativitas pemuda dengan sukarela tanpa gaji dan imbalan apapun. Sebenarnya pihak instansi pemilik gedung memberikannya sejumlah komisi setiap bulan untuknya, namun rupanya hal itu tak sampai kepadanya karena oleh seorang oknum pengelola gedung yang diberikan kepercayaan untuk menyampaikan hal tersebut malah menggelapkan komisinya dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi. Meskipun telah mengetahui peristiwa tersebut, namun tak ada sedikitpun rasa dendam dan kesal yang ditorehkannya. Hanya berserah diri dan tetap bersyukur, begitu katanya di akhir kalimat saat bercerita tentang kisahnya itu.

Itulah yang terjadi ketika keikhlasan yang menjadi pondasi dari langkah kita. Tanpa mengharap imbalan yang berati segalanya dapat dilakukan dengan senang hati. Satu hal yang mungkin seringkali kita lupakan namun berhasil Mak Nur lakukan.