Perspektif Mahasiswa UI Yang Menikah Saat Masih Berkuliah (Bincang UI #1)

Kurang lebih satu bulan yang lalu, ada sepasang suami-istri yang 'katanya' selebgram mengunggah sebuah konten di youtube bertemakan perjalanan cinta mereka. Dilengkapi dengan judul yang menarik perhatian viewers, pasangan ini menggunakan embel-embel 'nikah di usia 16 tahun' sebagai judul video mereka. Siapa yang gak kaget dan penasaran, kok bisa ya menikah di usia semuda itu? Apa diperbolehkan? Sayangnya dalam artikel ini tidak akan membahas pasangan yang sempat heboh tersebut, melainkan akan dibahas perspektif mahasiswa UI yang telah memutuskan untuk menikah saat masih berkuliah. Penasaran?


0

Disclaimer: Tulisan ini dibuat bukan untuk mengampanyekan suatu ideologi, memaksakan kehendak, apalagi untuk mengadu argumen. Silahkan berkenalan dan menikmati cerita dari teman kita yang memutuskan untuk tetap serius belajar dan bahkan aktif berorganisasi meskipun memiliki peran lain yang  sama-sama memerlukan pertanggungjawaban tinggi selain sebagai mahasiswa maupun project officer, yaitu sebagai suami dan istri.

Nikah muda. Topik yang kontroversial, bukan? Beberapa bulan yang lalu, netizen Indonesia ramai membicarakan topik ini di berbagai platform media sosial, mungkin kamu salah satunya. Nah buat kamu yang gak ngikutin berita ini, pasti bertanya-tanya, emangnya ada apa sih? Tenang aja! Kamu gak usah sedih karena merasa ketinggalan. Aku akan menceritakan semuanya dari awal, oke?

Kurang lebih satu bulan yang lalu, ada sepasang suami-istri yang ‘katanya’ selebgram mengunggah sebuah konten di youtube bertemakan perjalanan cinta mereka. Dilengkapi dengan judul yang menarik perhatian viewers, pasangan ini menggunakan embel-embel ‘nikah di usia 16 tahun‘ sebagai judul video mereka. Siapa yang gak kaget dan penasaran, kok bisa ya menikah di usia semuda itu? Apa diperbolehkan? Karena seperti yang kita ketahui, baik bagi laki-laki dan perempuan telah di atur batas usianya untuk menikah dalam UU perkawinan, yaitu 19 tahun.

Loh, kalo kayak gini jadinya bukan menikah muda dong, tapi lebih ke pernikahan anak?

Ya bener sih, makanya banyak juga yang berkomentar bahwa pesta pernikahan yang diabadikan dalam konten tersebut kesannya seperti melanggar peraturan negara. Apalagi konten ini dibuat bebas dapat dilihat oleh berbagai kalangan umur sehingga banyak  anak-anak di bawah umur yang termakan konsep indahnya biduk rumah tangga bak dunia dongeng  happily ever after dari cerita yang mereka bawakan, terlihat dari komentar mereka yang terkesan ‘iri’ dengan kesuksesan si pengantin wanita yang di usianya ke-16 tahun berhasil menaklukan hati pria mapan nan tampan dari keluarga kaya raya berusia 25 tahun yang terlihat selalu menghujaninya dengan perhatian, kasih sayang, dan juga harta (liat aja instagramnya, hehe). Sementara mereka (anak-anak di bawah umur yang kemakan konten) masih harus bersusah payah menempuh pendidikan SMA dan berkutat dengan segala ujian.

Sumber gambar: pinterest.dk

Cukup tentang mereka…

Cukup tentang mereka dan segala kontroversinya, penulis rasanya lebih tertarik membahas topik ini di lingkungan mahasiswa UI. Kenapa? Ya seperti yang kita ketahui, menjadi mahasiswa UI saja sudah berat, apalagi ditambah menjadi seorang istri atau suami. Berangkat dari asumsi dan rasa penasaran, penulis pun membuka diskusi  dengan  menanyakan beberapa pendapat anak-anak UI mengenai topik yang cukup sensitif ini. Sebut saja Z, M, dan R. Mereka adalah tiga mahasiswa UI yang mau memberikan pendapat mereka dengan jujur dan terbuka.

“Nikah muda, balik lagi ya, bukan nikah anak. Selama lo nikah dengan usia yang kurang dari ketetapan UU, yaitu nikah anak jatohnya. Kalo ditanya setuju gak setujunya, gue jawab secara personal gue gak setuju. Karena menurut gue nikah itu sakral. Lo berjanji gak cuma di hadapan negara tapi juga di mata Tuhan. Konsekuensinya ga tanggung-tanggung kalo ternyata lo cuma main-main. Jadi gue secara personal ya no” – Z, (laki-laki, 22 tahun)

“Menurut gue, kalo lo merasa udah sanggup, dan orangtua lo full support ya gak apa. Toh itu hidup-hidup lo. Yang penting pertimbangkan dengan matang-matang” – M (laki-laki, 22 tahun)

“Nikah muda ya?… hmm.. Gue sendiri sih gak mau, dan gak akan mau kalaupun dipaksa ortu gue. Tapi gue bukan siapa-siapa, jadi gak bisa komen mengenai mereka yang milih buat nikah muda. Live your own life” – R (perempuan, 22 tahun)

Setelah menanyakan pendapat, gak lengkap rasanya kalo penulis ga menyempatkan waktu untuk mewawancarai teman-teman mahasiswa UI yang memang  memilih untuk menikah saat masih berkuliah. Biar lebih fair dan gak terkena bias, narasumber yang dipilih tidak hanya dari jenis kelamin tertentu. Penulis langsung menghadirkan dua orang mahasiswa UI, laki-laki dan perempuan, untuk bercerita mengenai rumah tangga kecil mereka, dengan keunikan dan masalahnya masing-masing.

Perkenalkan narasumber penulis, yaitu X (perempuan) dan Y (laki-laki), menikah di usia yang berbeda, yaitu 19 dan 21 tahun. Berasal dari jurusan yang berbeda dan tidak saling mengenal. Punya pandangannya masing-masing mengenai nikah muda, dan cukup menarik untuk disimak. Let’s go!

BACA JUGA: 4 Teknik Jujitsu Mendapatkan Pacar di Perkuliahan

1. Di semester berapa kalian menikah?

X: Libur semester 4, mau ke semester 5

Y: Akhir semester 3

2. Bagaimana kalian bisa bertemu dengan pasangan masing-masing?

X: Kami bertemu di suatu acara keagamaan. Kebetulan acara itu diadakan oleh pihak sekolah calon suamiku. Ya bisa dibilang kami tidak saling mengenal pada awalnya. Sampai akhirnya ada suatu kejadian yang mendekatkan kami. Setelah akhirnya memutuskan berpacaran dan siap dari segala sisi, kami memutuskan sudah menikah.

Y: Kami sudah berteman sejak SMP, tapi tidak pernah pacaran.

3. Bagaimana dengan pasangan kalian, apakah usia kalian berbeda jauh?

X: Seumuran. Aku 19, dia 20 tahun

Y: Kita kalo di kuliah satu semester, cuma gue beda setahun lebih tua usianya. Gue 21 dia 20.

4. Mengapa menikah muda? Dan bagaimana reaksi orangtua kalian mengenai keputusan kalian ini?

X: Selain aku merasa kalau he’s the one, aku sudah mengenal dia dan keluarganya, kita juga merasa sudah siap. Nah, kebetulan keputusan menikah ini dari kita berdua (X dan suami), bukan dari keluarga yang meminta. Tapi emang kita yang sungguh-sungguh. Dan alasanku juga bukan semata-mata karena kita pengen menghindari zinah doang. Kita udah satu visi dan misi. Kebetulan suamiku juga udah kerja. Nah kalau dari sisi reaksi orangtua ya pastinya kaget dong, tapi bukan kaget yang kayak mereka mikirnya kita ngambil keputusan ini karena hamil duluan dan semacamnya. Enggak sih, cuma mereka sempet ngajakin aku brainstorming dulu mengenai keputusan aku ini. Apakah aku siap apa enggak nantinya meninggalkan hal-hal yang biasa aku lakuin sewaktu aku single dan akan gak bisa aku lakuin setelah menikah, kayak misalnya main lama-lama sama temen, gitu deh.

Y: Karena gue merasa dibandingin gue dosa karena gue selalu mikirin dia (calon istri), gue mending jujur aja dan langsung ngajakin ke tahapan yang serius. Dan ternyata gayung bersambut, dia ngerasain hal yang sama juga dengan gue. Tapi gak segampang karena saling suka kita juga banyak pertimbangan. Apalagi gue laki-laki, gue pastinya harus siap ditanya oleh pihak keluarganya masalah finansial semacamnya. Bersyukur orangtua gue ternyata positif banget dan malah ngedukung, termasuk dalam finansial. Mereka gak ada kaget-kagetnya, hehehe..

5. Selain orangtua, bagaimana reaksi dari orang sekitar kalian?

X: Aku punya adek, yang satu SMA dan SD. yang SD belom ngerti apa-apa jadinya mah masa bodo gitu kalau kakaknya mau nikah. Yang SMA pastinya kayak “ngapain sih lo kak ngambil keputusan segampang itu” ya gitu sih. Tapi setelah diomongin baik-baik yang mereka pada akhirnya ngerti. Kalau dari pihak suamiku, kebetulan dia punya kakak laki-laki. Kakaknya itu nerima banget walaupun dilangkahin, dan supportif. Kayaknya keluarga jatohnya ya emang nerima-nerima aja sih karena mereka udah tahu. Yang justru bikin gak enak tuh malah reaksi dari beberapa temen di kampus. Agak heran aja sih, padahal banyak yang nge-claim kalo mereka open minded, tapi kok gak bisa nerima kalau aku nikah muda. Oh ya, ada juga malah yang ngomongnya gak enak, kayak misalnya “Loh kok lo kuliah? gue kira lo jadi ibu rumah tangga aja” gue bales tuh “Ya makanya buat jadi ibu rumah tangga yang baik gue belajar dong” atau ada juga yang nyinyir “nikah muda?? nanti anak gue dikasih makan apa?” dan saat itu gue yang denger langsung bales aja bilang kalo gue gak suka dan tersinggung sama omongan dia. Gitu deh. Itu juga belom tatapan ‘merendahkan’ dari beberapa orang yang sebenernya gue aja bahkan gak pernah ngomong sama dia.

Y: Kebetulan kalo temen-temen di kampus bahkan dosen punya tanggapan yang positif banget. Mereka bahkan hampir semua dateng ke pesta. Beberapa temen juga udah nganggep istri gue kayak temen sendiri, padahal istri gue bukan anak UI. Tapi ya namanya omongan jelek pasti ada aja sih. Apalagi gue cowok. Yang terjahat tuh bilang kalo gue gak bisa nahan nafsu-lah, kebelet lah. Ada juga yang ngatain fisik istri gue. Ya tahu lah. Gue biasanya ajakin ngomong baik-baik aja sih. Ajak diskusi. Gue ga pernah percaya kalo kekerasan harus dilawan kekerasan juga.Ternyata setelah gue ajak diskusi mereka paham juga, meskipun masih kontra juga sih.

6. Setelah menjalani beberapa bulan dengan kehidupan baru kalian, apa yang kalian rasa paling berbeda?

X: Pastinya ada beberapa hal yang masih harus aku usahain di awal pernikahan. Kayak misalnya setelah memutuskan buat nikah dan satu rumah dengan orang baru. Walaupun aku udah cukup  lama kenal dengan suami gue pun, pastinya banyak banget hal-hal yang masih butuh penyesuaian, dan perbedaan-perbedaan itu pastinya ada. Sesimple perbedaan bagaimana dia diajarin sama orangtuanya dan aku diajarin orangtuaku.

Y: Perbedaan sikap istri gue dengan yang biasanya gue kenal dengan saat kita berdua doang di rumah. Itu sih. Gue intinya banyak-banyak sabar dan selalu ngingetin diri gue sendiri saat itu, kalau nikah muda adalah pilihan gue. Konflik juga sering banget di awal-awal kita tinggal serumah. Salah satunya adalah ketika gue sadar bahwa istri gue ternyata belom dewasa. Dia sempet nangis dan ngancem gue malah, minta dipulangin ke orangtuanya gara-gara gue kerasin suara gue dikit aja. Untungnya saat itu gue bisa ngendaliin emosi dan ngalah, meskipun ya balik lagi, pelan-pelan gue perlu ngasih tahu juga ke dia kalau pernikahan kita ini bukan cuma ada gue juga, tapi dia. I’m not alone in this situation.

7. Bisa ceritain gak tentang peran kalian sebagai mahasiswa dan juga pasangan dari suami kalian, dari awal kalian menikah sampai sekarang?

X: Jujur ya, awal-awalnya aku bilang ke diri aku sendiri, kayaknya IP pasti turun nih. Karena apa? ternyata capek banget jadi seorang istri. Mungkin karena aku dan suamiku langsung pindah ke rumah kita dan di sana kita ngerjain semuanya sendirian. Ya meskipun suamiku mau bagi-bagi tugas, ternyata gak gampang buat ngurus rumah sambil belajar dan megang organisasi. Tahu gak, saat itu aku malah lagi megang suatu acara fakultas yang skalanya nasional. Di situ aku bener-bener capek dan bahkan nangis. Hehehe lebay ya. Tapi tahu gak, ternyata asumsiku semula tuh salah. IP ku justru mengalami peningkatan dan bahkan ada suatu momen di mana dosen matkul tertentu ngumummin nilai utsku tertinggi di kelas. Apa ya, mungkin dengan segala beban yang aku yang aku tanggung aku dipaksa untuk bisa time management yang lebih baik.

Y: Setelah nikah gue sibuk jadi asisten dosen dan panitia di suatu acara. Gue bilang ke diri gue pasti gue sanggup. Ya emang sih gue sanggup, tapi istri gue yang akhirnya complain. Serius deh, lebih cerewet dari nyokap gue malah. Apalagi pas lihat gue pulang malem, di rumah sibuk di depan laptop, hari libur tetep harus rapat. Gue sebenernya ga enak sama dia, dan di awal gue ga komunikasiin apa-apa. Gue pikir dia ngerti karena dia mahasiswa juga. Tapi ternyata ya gitu. Dia ngambek dan bodohnya saat itu gue gak paham apa yang dia mau. Jujur gue masih merasa bersalah. Ditambah setiap masa ujian gue sibuk di kamar buat belajar dan review materi. Itu tuh bener-bener bikin dia bete karena dia maunya gue tetep bisa bagi waktu gue sebagai mahasiswa dan suami. Gue coba jelasin ke dia. Susah deh pokoknya kalau udah bahas ini, hehehe. Gimana gue ngatasinnya? Ya mau gak mau gue harus latihan manajemen waktu. Karena si istri yang makin ngotot dan gak mau gue tinggal, gue ajak dia kuliah. Pas gue lagi kelas, dia nunggu di Perpusat. Selesai gue kelas, gue ajak dia ke Margo kek, nonton, makan, ya seneng-seneng aja lah. Di rumah pas dia capek dan istirahat gue belajar, nugas, dan ngurusin kepanitiaan. Gitu.

8. Masalah apa yang paling sering muncul?

X: Sebenernya pada dasarnya tuh semua masalah komunikasi, sih. Kayak misalnya nih antara aku dan suami adanya perbedaan bahasa cinta dari kita berdua. Hmmm gimana ya jelasinnya. Sebagai contoh kayak aku ini tipe yang butuh banget sentuhan fisik. Aku pengen dia peluk aku, cium kening, belai-belai rambut, sebagai tanda dia nunjukin kalau dia sayang gitu loh sama aku. Sementara dianya merasa udah cukup dengan ucapan. Buat ngatasin masalah ini ya aku mau gak mau harus komunikasiin maunya aku apa. Kayak waktu itu juga ada rekan kerja suamiku yang ngirimin dia dm isinya foto cewek-cewek cantik di instagram. Padahal dia tahu sendiri dong kalo temennya itu udah nikah. Yang aku lihat sih ya dari foto-foto yang dikirim itu suamiku ga nanggepin. Tapi masih aja. Ngeselin gak sih. Nah itu aku omongin ke suamiku enaknya gimana sama orang yang emang kayak gitu perilakunya

Y: Istri gue tuh super cemburu sama gue. Apalagi dengan gue masih kuliah gini dan jurusan gue yang emang nekenin banget kerja kelompok, mau gak mau gue pasti ada aja saatnya harus kerja kelompok bareng temen-temen cewek. Bayangin dong, dia pernah maksa buat dibawa ke kampus karena cemburu gue selalu satu kelompok sama salah satu cewek. Ya udah, gue turutin. Gue sih prinsipnya selama gue gak ngelakuin yang gak bener, ya kenapa gue harus takut. Setelah dia ikut gue kerja kelompok, pas banget, cowoknya si cewek yang satu kelompok sama gue mulu nih dateng nganterin dia makan apa ya kalau gak salah. Di situ gue cuma bisa senyum-senyum sendiri lihat istri gue malu. Tapi untungnya UI luas ya, dia bisa langsung pergi ke mana dulu biar gak ketahuan malunya. Hehehehe

9. Setelah kalian menjalani pernikahan kalian ini, apakah ada perubahan yang kalian alami dari dalam diri kalian?

X: Banyak banget sih, salah satunya nih yang paling menonjol  yaitu aku jadi lebih assertive. Percaya gak? Ini terjadi saat aku menghadapi omongan-omongan kurang mengenakan dari temen-temen di kampus mengenai status baruku ini. Ingetkan ceritaku tadi kalau ada aja yang nyinyir, padahal aku kira mereka fine-fine aja karena nganggep mereka udah open minded semua. Nah salah satu dari mereka pernah ada yang bilang kalau dia nikah muda, anaknya mau dikasih makan apa. Saat itu aku ada tepat di samping dia dan jelas banget denger itu. Dia sempet sih bilang maaf dan nanya apakah aku tersinggung apa enggak. Aku yang dulu pasti bilangnya, “enggak kok gak papa” tapi sekarang rasanya beda. Saat itu aku langsung bilang di muka orang itu kalau aku tersinggung atas ucapan dia. Selain dalam menghadapi kenyinyiran temen-temen di kampus, perubahan sikap ini muncul juga pas lagi kerja kelompok. Tahu kan misalnya kerja kelompok yang mahasiswanya kebanyakan haha-hihi ketawa dan ngobrol? jujur aku kesel banget dan biasanya aku cuma bisa sabar. Sekarang beda ceritanya. Aku bakal tegesin ke mereka kalau aku cuma bisa dari jam segini sampai segini. Kalau mereka ngelanggar, ya aku langsung pergi. Segampang itu.

Y: Banyak banget. Mungkin dari yang dulu biasa sibuk sendiri dan ngerasa kayak bebas banget, sekarang jadi serba kepikiran apa aja. Gak kayak dulu ya yang ada di pikiran cuma diri gue sendiri. Sekarang gue harus mikirin mengenai diri gue, istri gue, kuliah gue, dan bisnis gue. Semuanya campur aduk ada di otak gue saat gue lagi di kelas. Lagi ngerjain laprak. Lagi jadi panitia di suatu acara. Ini serius loh, ditambah istri gue sekarang udah hamil. Gue makin-makin overthink. Ada suatu poin dalam hidup gue yang mana gue ngerasa nyesel banget mutusin buat nikah di saat gue belom lulus kuliah. Mungkin semuanya bakal lebih baik lagi, atau mungkin justru lebih buruk lagi. Gue gak tahu.

BACA JUGA: Nyatanya Tuhan Memang Satu, Kita Saja Yang Tak Sama

10. Mengenai kehamilan, apa pendapat kalian dan pasangan?

X: Aku dan pasangan untuk sekarang menunda dulu kehamilan, untuk kebaikan kita berdua. Tapi ya balik lagi, kehendak Tuhan gak bisa kita tolak kalau misalnya mau dikasih sekalipun kita udah pakai kontrasepsi. Ditanya mengenai siap apa enggak jadi ibu saat masih harus berkuliah? Ya pasti aku siap-siapin karena aku sendiri yang memilih untuk menikah, dan aku gak akan berhenti kuliah sekalipun hal itu terjadi. Kuliah itu adalah tujuan awal aku, dan pernikahan yang aku pilih adalah takdir yang Tuhan tetapin ke aku. Aku harus jalanin keduanya tanpa harus ada yang dikorbanin salah satu,

Y: Istri gue positif hamil setelah beberapa bulan kita menikah. Kabar bahagia sih menurut gue, karena dari awal kita gak kepikiran program kontrasepsi dan segalanya. Ya disyukurin aja. Cuma bebannya jadi ke istri gue, karena masih harus kuliah dalam kondisi hamil dan karena dia merasa ga sanggup, dia milih berhenti kuliah. Dia sendiri yang memutuskan dan gue cuma bisa mendukung semua yang dia pengenin dan butuhin. Di awal pastinya gue minta dia buat mikirin keputusan dia berhenti kuliah itu mateng-mateng. Dan ternyata menjadi ibu rumah tangga untuk beberapa waktu adalah keputusan yang paling tepat saat itu menurut dia. Dan dia di awal-awal sempat drop, nangis karena nyesel mungkin ya. Gue lah di situ yang ngeyakinin dia supaya kuat. Untungnya gue juga yang masih jadi mahasiswa  berusaha buat suasana rumah supaya gak berbeda dari kampus, dengan sering ngajakin dia ngobrol tentang topik-topik terkait jurusannya, diskusi, ngajakin ke seminar yang diadain sama jurusan-jurusan yang ada di UI dan bahkan beliin buku kuliah buat dia. Selain itu  gue  open banget sama temen-temennya yang mau main ke rumah. Gak lupa juga gue janji sama dia nantinya pas gue udah lulus, gue yang gantian jaga anak kita di rumah dan dia yang kuliah. Kita sama-sama berjuang di rumah tangga ini. Gak ada gue doang atau dia doang.

11. Apa yang pengen kalian sampein buat teman-teman yang ingin ngikutin jejak kalian nih,  yaitu nikah saat di usia kalian atau bahkan lebih muda lagi, atau teman-teman kalian pada umumnya?

X: Jujur ya, aku sering banget komen di media sosial terutama di akun-akun yang menyerukan nikah muda. Menurut aku, nikah muda yang selalu dikampanyekan di media sosial sama artis dan seleb internet tuh yang enak-enaknya aja. Mereka mungkin (yang bilang enak-enaknya aja) ya mereka yang nikah muda dan berasal dari keluarga kaya raya. Beda sama aku dan suami yang emang masih ngerintis semuanya dari awal. Itu salah banget sih. Mereka gak pernah ngomongin konflik-konflik apa yang bakalan dihadapin, apa yang mesti ditinggalkan dan diubah. Gitu. Dan buat yang nyinyirin aku, mohon banget buat gak cepet-cepet ngejudge aku dan keputusanku ini. Karena ya yang kalian liat kan cuma di luarnya, kalian gak tahu apa yang ada di antara aku dan suami.

Y: Nikah muda itu mayoritas ceweknya yang muda, cowoknya biasanya udah mapan. Makanya keliatannya enak-enak aja tuh kalau yang kalian lihat di internet. Gak ada yang pernah diskusiin gimana kalau misalnya si cowok juga masih duduk di bangku kuliah. Apalagi gue anak UI, yang mana banyak pandangan orang tuh nganggep gue tipe yang ambis dulu ngejar nilai, dapetin kerjaan dan posisi yang bergengsi, baru nikah. Makanya gue seneng banget ada yang coba buat menggalih dari sisi gue, karena biasanya lebih banyak yang menggalih dari sisi istri. Gue sebagai cowok, kadang masih suka merasa nyesel sama keputusan gue ini karena gue takut suatu saat istri gue merindukan hal-hal yang seharusnya bisa Ia capai sebelum ketemu gue. Makanya gue harus kuat dan fokus sama tujuan awal gue, yaitu sebagai mahasiswa. Gue tahu banyak banget komentar negatif dari orang sekitar gue tentang gue dan istri, gue gak akan biarin apa yang mereka omongin ke kita tuh jadi kenyataan. Pesan gue buat semua laki-laki yang belom lulus kuliah dan pengen nyoba kayak gue, gue hargain banget niat lo tersebut karena nikah emang ibadah. Tapi inget kemampuan lo dan calon istri lo sendiri. Bukan cuma finansial, tapi emosional. Jujur untuk finansial gue bersyukur karena dari SMA gue udah punya bisnis yang mapan dan orangtua gue dan istri mau bantu kalau emang lagi kepepet dan butuh. Tapi untuk emosional, siapa yang bisa bantu? Semuanya ada di tangan kita. Salah-salah kita gak cuma ngancurin diri kita sendiri, tapi juga ngancurin orang lain. Dan untuk orang lain yang gak kenal sama gue dan istri, yang gak tau apa yang kita sedang upayakan dan apa yang kita pengen capai, plis deh, gak usah ikut campur. Lebih baik kita sama-sama saling mengenal dulu sebelum menilai.

Sekian hasil wawancara penulis dari kedua teman kita, sesama mahasiswa UI, mengenai perspektif mereka terhadap nikah muda yang sudah mereka jalani. Setuju atau tidaknya kamu, adalah hak kamu sebagai pembaca yang menilai. Mohon diambil baik-baiknya saja terutama apa yang bisa kita pelajari dari kedua belah pihak. Ciaoooo!

BACA JUGA: When Your Gadget is Your Bestfriend or Your Lover, Ikatan Emosional Antara Manusia dan Mesin

Sumber gambar header: wedding


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Cindy

Cindy is a psychology student who is also a passionate writer and book reader.

2 Comments

Leave a Reply

  1. Nemu ini di twitter setelah sekian lama anakui gak bikin artikel. topiknya menarik bgt dan kontroversoal sih.. cuma lebih enak dibikin narasi dan dipersingkat, gk ush plek2an ditulis hasil wwncaranya.. tapi bagus sih ku tetap baca sampe akhir.. good job buat author dan anakui yang dapet ide wawancarain mahasiswa2 ini!!

  2. kalo bolej request dong kelanjutan kabar mereka setelah beberapa tahun kemudian.. klo boleh loh ya

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals