Adalah jahat ketika mengatakan bahwa PK (Petang Kreatif) harus dilarang karena tradisi tidak harus terus menerus dilestarikan, apalagi membandingkannya dengan tradisi penguburan bayi perempuan di peradaban Arab zaman dahulu.

Adalah tidak benar juga jika PK harus dipertahankan dengan memandang satu sudut pandang, yaitu mempertahankan tradisi. Sebagaimana yang terjadi pada dunia nyata, bahwa tradisi tidak bisa terus menerus tetap ada hingga sekarang. Sebuah sunnatullah bahwa tradisi akan hilang sesuai dengan perkembangan zaman. Sebuah sunnatullah juga bahwa akan muncul banyak tradisi baru dalam kehidupan masyarakat.

BACA JUGA: Fakultas Teristimewa di UI? Ya FIB Jawabannya. Emang Ada yang Lain?

Pekan Kreatif FIB UI. Kompak ya? (via festivalbudayaui)

Ada sebuah julukan baru yang hidup di masyarakat zaman sekarang ini, yaitu Generasi 90-an. Jika bisa diterjemahkan secara bebas, generasi 90-an adalah generasi yang ketika masa itu menikmati permainan-permainan tradisional seperti petak umpet, lari jongkok, dan lain-lain. Generasi yang menikmati hari Minggu pagi duduk di depan televisi melihat acara-acara kartun di RCTI, Indosiar, atau mungkin SCTV. Generasi ini pula yang menjadi alasan dibuatnya berbagai meme hingga buku.

Di saat ini, generasi 90-an tidak bisa melakukan apa-apa dengan kondisi anak-anak saat ini. Generasi 90-an tidak bisa mengintervensi mereka untuk menerapkan gaya hidup yang sama saat mereka kecil. Generasi 90-an hanya bisa mengenang dan menyayangkan kondisi generasi saat ini. Generasi ini diam-diam merutuki kenakalan anak-anak seumur SD, bahkan adik atau saudaranya yang berbeda kehidupannya.

Dari hal tersebut timbul pertanyaan; apakah tradisi generasi 90-an bisa diterapkan ke generasi baru? Jawabannya bisa, tapi tidak sedemikan sama dengan yang terjadi pada generasi 90-an. Tentu ada generasi-generasi saat ini yang masih bermain permainan tradisional, tentu ada juga mereka yang duduk manis di hari Minggu untuk menonton kartun. Akan tetapi, apakah mereka meresapi hal yang sama dengan generasi 90-an?

advertisement

BACA JUGA: Inilah yang Dirasakan dari Festival Budaya UI ke-30 Kemarin

Festival Budaya UI ke-30 (via fesbud30th)

Dari penjelasan di atas, hilangnya PK di generasi-generasi selanjutnya di FIB adalah sebuah keniscayaan. Apalagi jika kita melihat pola-pola yang belum tentu akan cocok dengan mahasiswa-mahasiswa saat ini. Latihan malam hingga dini setiap hari, tekanan dari angkatan atas yang keras, pemaksaan maba untuk terlibat aktif, atau mengekang maba melalui AD/ART sehingga mereka wajib mengikuti PK.

Apakah ini tradisi patut dipertahankan?

Jadi, Mahasiswa FIB UI, terserah kalian ingin mempertahankan PK atau tidak.



[reaction_buttons]

advertisement