Bukan, ini bukan tulisan yang semata-mata ingin mengenang kembali romantisme masa lalu acara tahunan Petang Kreatif bagi para mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Ini juga sama sekali bukan tentang berbagai polemik dan masalah-masalah yang mucul terkait dengan keberlangsungan acara yang sering dianggap sebagai ‘lebaran’ akbar nan sakral FIB tersebut. Ini hanyalah sebuah curahan kegelisahan, sebuah refleksi dari apa yang penulis lihat dan rasakan.

Tak dapat dipungkiri, waktu memang mampu mengubah segalanya. Kita tidak bisa serta-merta menjadikan hal-hal yang bersifat tradisi sebagai acuan terhadap apa yang akan kita lakukan di masa kini. Budaya bukanlah sesuatu yang mutlak harus dipertahankan. Ia bersifat dinamis dan fleksibel sesuai dengan realita sosial yang berlaku saat ini. Dengan kata lain, budaya bukan sesuatu yang bersifat absolut, layaknya dogma.

Generasi ini tentu sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan generasi 90-an, generasi yang masih merasakan hal-hal yang tidak lagi dialami oleh generasi sekarang. Tentu saja, budaya yang berlaku mau tidak mau juga ikut mengalami perubahan. Setidaknya, hal itu terjadi pada keadaan mahasiswa di Universitas Indonesia, khususnya FIB dalam hal ini.

Ya, jargon “Buku, Pesta, dan Cinta” benar-benar menggambarkan ciri khas lingkungan kampus FIB yang kental dengan keunikannya tersendiri. Keseharian dari fakultas yang memiliki 15 jurusan ini tak pernah lepas dari semarak acara-acara unik nan menarik. Tidak berlebihan rasanya ungkapan “tidak ada satu mahasiswa yang berpenampilan sama dengan mahasiswa lainnya” yang dikenakan kepada para mahasiswa FIB. Kampus yang terkenal dengan atmosfir bebas dan heterogen ini sepertinya layak disebut sebagai kampus paling ‘nyeni’ jika dibandingkan dengan kampus lainnya di lingkungan UI.

BACA JUGA: 5 Pandangan Orang tentang Anak Sastra (Ini Curhat Kami Anak FIB)

Namun, sekali lagi, waktu memang mampu mengubah segalanya.

advertisement

Salah satu adegan dalam pertunjukan teater yang ditampilkan oleh mahasiswa baru Ilmu Filsafat pada acara Petang Kreatif 2015 (via flickr)

Kecenderungan perilaku yang hanya mementingkan pencapaian akademis ketimbang pelengkap kehidupan kampus (yang tentunya non-akademis) mulai menjadi tren di kalangan mahasiswa FIB. Belum lagi batasan-batasan yang berlaku sedikit banyak memiliki imbas terhadap wadah ekspresi dan apresiasi seni dari kampus ini. Hiruk-pikuk dan kemeriahan pun perlahan-lahan memudar, bahkan terancam hilang sama sekali. Padahal, hal inilah yang membedakan mahasiswa FIB dengan mahasiswa dari fakultas lainnya.

Tentu saja, setiap tradisi pasti punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Tengok saja perbandingan antara tradisi Timur dan Barat, Indonesia dan Malaysia, Batak dan Jawa, bahkan antara satu daerah dan daerah lainnya dalam satu kota yang sama. Akan tetapi, bukan berarti kekurangan tersebut dapat diatasi dengan menghentikan sebuah tradisi secara keseluruhan. Ada aspek-aspek positif dari tradisi yang tentunya masih layak dan patut untuk dipertahankan, demi membangun karakter dari suatu masyarakat yang memiliki tradisi tersebut.

BACA JUGA: Petang Kreatif FIB UI: Haruskah Tradisi ini Dipertahankan?

Menurut hemat penulis, Petang Kreatif bukan sekedar acara hura-hura belaka. Ia juga menjadi media dari penanaman nilai yang menjadi kelebihan karakter dari mahasiswa FIB. Terlepas dari ketidaktepatan metode-metode yang dipakai untuk mempersiapkan pertunjukan tersebut, terdapat nilai-nilai yang menjadi hal positif dari acara ini. Rasa kekeluargaan dan keintiman dari satu jurusan dibangun selama rangkaian proses persiapan acara tersebut, mulai dari mahasiswa baru, senior, hingga alumni. Teater sendiri memiliki banyak manfaat yang masih mampu untuk dieksplorasi lebih lanjut. Mungkin, hal ini yang luput untuk disadari oleh pihak-pihak yang menyangsikan manfaat dari Petang Kreatif.

Salah satu adegan dalam pertunjukan teater yang ditampilkan oleh mahasiswa baru Ilmu Filsafat pada acara Petang Kreatif 2015. (Sumber: https://www.flickr.com/photos/derweise/)

Mahasiswa FIB yang bebas berekspresi lewat seni dalam Petang Kreatif (via flickr)

Bagaimanapun juga, seni merupakan hal yang sudah melekat ke dalam suatu budaya. Ekspresi seni menjadi etalase yang dominan tentang fluktuasi dan dinamika dari suatu masyarakat. Sehingga akan hampa rasanya nanti, jika Petang Kreatif sampai benar-benar hilang dari tradisi seni FIB.

Nostalgia tidak lagi akan berarti apa-apa. Kekerabatan dan kehangatan mungkin akan sirna begitu saja. Apa yang terjadi saat ini bukan tidak mungkin akan memiliki dampak yang sangat besar bagi generasi penerus almamater kuning dengan lambang makara berwarna putih itu. Dan nantinya, semua hanya tinggal cerita untuk disesali. Tak ada lagi apa-apa.

advertisement

Jargon yang ada pun, hanya tersisa menjadi “Buku, Pesta, dan Cinta semata.



[reaction_buttons]