PKM, Yuk… Males ah, yang ada Gua makin sakit!


0
Pusat Kesehatan Mahasiswa
Pusat Kesehatan Mahasiswa

NB: Tulisan ini adalah semi-fiksi, seperti halnya semi-final, musim-semi, dan semi-…. film, semi fiksi merupakan cerita yang isinya juga setengah-setangah. Setengah kejadian sebenarnya, setengah rekayasa, setengah niat, maupun setengah hati untuk menulisnya. Jadi ini cerita menang pernah terjadi, namun karena menjaga harga diri dari pelaku-pelakunya semua nama dan tempat yang ada di tulisan ini adalah palsu (nama samaran).

Anak-anak panik waktu salah satu temen gua tiba-tiba pingsang di depan mushollah FISIP. Kontan anak-anak yang lagi pada nongkrong di Kopma (Koperasi Mahasiswa) sebenarnya sih Koperasi Pegawai karena ditulisnya begitu, cuma karena kalo disingkat kayaknya aneh aja Kopeg, Koppe, atau Kopi. Lagipula kalo Kopma itu, bisa dibilang lebih merakyat, walaupun tu koperasi harganya ngga mahasiswa banget, tapi berhubung tempat yang paling deket untuk jajan, ya akhirnya Kopma tetap jadi tempat favorit buat jajan.

Ups, kembali lagi ke kejadian pingsangnya temen gua itu. Iya, anak-anak yang di kopma kaget, tapi tetap belum memberikan reaksi apa-apa.

“Woi, tolongin dong, Nara pingsang nih!” Rina teriak dari depan mushalla ke arah anak-anak yang lagi duduk di kopma.

“Tolongin, ngga?” tanya gua kepada beberapa anak-anak.

“Ga, usah, paling lagi jatuh bentar. Keseleo kali, biasalah atlit, paling tadi pas ada tangga dia loncat-loncat dikit kayak latihan basket.” banyak yang komentar.

Akhirnya gua duduk lagi, tapi ketika gua liat kayaknya beneran pingsang tuk anak.

“Woi buruan pingsang beneran tuh!” teriak gua sambil lari menghampiri.

“Kenapa, rin?”

“Ngga tau, tiba-tiba pingsan”

“Ya udah, bawa dulu ke mushalla, buruan-buruan!” kata gua berusaha menangkan situasi dan sambil mencoba mengangkat. Tapi,sial. Gua baru nyadarin bahwa ternyata temen gua beratnya satu-setengah kali lebih besar dari tubuh gua yang mungil ini. Padahal tadinya gua berniat buat ngangkat sendirian, kaya Jake yang nolongin Rose pada saat dia mau bunuh diri, atau ngga kaya film-film Baywacth yang lagi nolongin orang-orang yang tenggelam. Tapi, ya sudahlah gua ngga seperi itu semua.

Akhirnya beberapa anak yang di Kopma pada datang bantuin gua, ada juga satpam, dan beberapa anak peremupuan. Cukup banyak yang bantuin, dan sepertinya emang bisa untuk mengangkat ke teras musahalla dan tenaga gua tidak dibutuhkan lagi. Tapi, karena udah terlanjur datang ngga enak juga ngga bantuin. Akhirnya gua cari celah yang bisa gua angkat. Gua liat kakinya ngga ada yang ngakat, dan walhasil bagian itulah yang akhirnya gua angkat, ya setidaknya gua ada kontribusilah.

Gua cerita dulu, sebenarnya kaki itu juga tadinya ada yang mau ngakat, namun mungkin dia lupa bahwa yang diangkatnya itu perempuan, bukan muhrim kali.

Sudahlah, akhirnya Nara bisa juga diangkat, tapi asli, gua liat muka-muka yang angkat pada merah-merah, nahan nafas, dan hahaha merem-melek. Keberatan kali.

Huh, setelah bersasah payah, akhirnya Nara dapat diangkat ke teas mushalla, tapi ups, mungkin karena merasa sudah selesai, semua orang yang ngangkat pada ngelepasan pegangannya ma Nara, dan apa yang terjadi…..

Kepala Nara langsung kejedot lantai musahalla.

Anak-anak kaget, takut, kasian.

Pak Satpam merasa bersalah, karena dia yang megangin badannya, dan dia yang pertama melepaskannya.

Gua? Gua biasa-biasa aja karena sebenarnya kaki yang gua angkat, tanpa gua bantuinpun kaki itu tetap keangkat tanpa mengurangi beban yang angkat pada posisi-posisi yang lain.

Tapi, Ajaib! Nara langsung sadar. Pasti gara-gara kejedot tadi. Akhirnya gua menarik kesimpulan, dan mungkin akan melakukannya lagi. Bahwa cara yang paling ampuh untuk membangunkan orang pingsang jangan pake minyak angina (karana belon tentu orang yang pingsang suka), pake air (karena kasiah kalo yang pingsang ngga bawa baju ganti, kedinginan), nah! cara yang ampuh adalah menjedotkan kepala yang pingsang ke lantai mushalla. Mungkin terlihat sadis, tapi terbukti manjur. Tapi ingat lantai mushalla ya, karena sering di buat shalat, jadi lantai itu beralih fungsi menjadi alat pengobatan.

Abis, ini apa lagi ya.

Bentar gua inget-inget dulu, soalnya udah agak lama gua tulis ini.

Oh, ya abis Nara dibawa ke mushalla, ternyata semakin banyak yang panik.

Beberapa orang ada yang nawarin minyak angin.

Ada yang nawarin air teh panas.

Ada yang nawarin air putih.

Oh ya, yang punya mushalla, Ketua LDK di sana, membantu dengan ngebawain sarung yang ada di daerah kekuasaannya.

Tapi, yang nyebelin ada yang nawarin tissue, bukan tissuenya yang nyebelin tapi yang nawarin abang-abang pedagang yang melihat peluang bahwa tissue merupakan hal yang dibutuhkan.

“Tissu De, tissue De, murah, dijual murah aja, buat orang pingsang 1000 perak deh!” tawar abang tissue nyebelin. Coba apa yang lo pikirin ngeliat orang kaya gini, dan apa yang akan lo perbuat?

Ya, gua ngusir orang itu dengan ketus, tapi yang namanya pedagang ngga mudah menyerah hanya dengan begitu.

“Murah De, permen juga ada, atau roti, mungkin anak itu belum makan makanya pingsang”

Cukup sudah, pedagang ini merusak suasana. Gua cari sandal-sendal yang ada di mushalla. Gua ambil, dan gua angkat tinggi-tinggi,

Berhasil! Pedagang itu ternyata cukup cerdas untuk pergi sebelum sandal itu sampai ke kepalanya.

Yah, begitulah. Semua orang ingin berkontribusi untuk menolongnya, walau kadang-kadang kontribusinya nyebelin.

Kalo Gua? Sekali lagi gua Cuma ngeliatin ngga berbuat apa-apa lagi. Bukannya gua ngga peduli, tapi gua memegang teguh kata-kata orang bijak yang ngomong bahwa “Semakin Banyak Tangan Semakin Ribet.” dan jelas gua akhirnya hanya melihat saja. Ya, setidaknya gua berkontribusi untuk mengusir pedagang yang berusaha menarik keuntungan dari situasi ini.

Kelanjutannya…..

Akhirnya anak-anak memutuskan untuk membawanya ke PKM (Pusat Kesehatan Mahasiswa), Inilah kelanjutan dari inti judul di atas.

Akhirnya gua bawa ke PKM pake mobil temen gua. Masalah bukan hanya sampai di sini. Ternyata ada yang gua pikirkan. Waduh, gimana ngangkat Nara ke mobil. Parkiran mobil dan mushalla jaraknya jauh 100 meter-an. Kalaupun jarak terdekat 20 meter-an.

Gua mencari-cari orang.

Pak Satpam sudah menghilang.

Orang-orang sudah tidak mengerubungi lagi.

Mushalla sepi…..

Gua berdoa…

Gua ngga bayangin, kalo gua harus mengangkatnya seperti Jack atau penjaga pantai ala Baywacht.

Alhamdulillah doa gua terkabul. Nara sudah bisa bangun, berjalan, walaupun harus dipapah oleh temen-temen perempuan yang lain.

Hhmm. Selesai juga, gua masukin temen gua ke dalam mobil. Gua, Ilman, Hani, dan Sani yang nganterin Nara ke PKM. Dari FISIP, lewat FIB, Perpustakaan, Rektorat, FKM, muter di Gang Senggol. Akhirnya sampai juga gua di PKM.

Tahun ini akhirnya gua menginjakkan kaki di gedung ini. Sebenarnya ini ketiga kalinya gua datang ke PKM. Pertama, waktu daftar ulang. Gua diperiksa kesehatan, tes mata, dan untung ngga ada tes darah segala. Kedua, nganterin temen gua yang pingsang abis main sepakbola. Ketiga ya, sekarang ini nemenin temen gua yang sakit. Dan mudah-mudahan ngga ada yang keempat, kelima, keenam, dan seterusnya. Apalagi bukan lagi nganterin temen gua yang sakit tapi kebalikannya gua dianterin temen gua. Semoga saja!

Kami berlima masuk PKM. Gua liat ada beberapa pasien yang sedang nunggu, gua liat di papan pengumuman ternyata sedang istirahat. Cukup lama juga istirahatnya jam 12 hingga 14. Artinya istirahatnya 2 jam. Gua liatin lagi para pasien yang antri di ruang tunggu. Gua perkirakan ada 4 pasien di depan temen gua ini. Pasalnya gua ngga tau yang mana pasien yang mana yang hanya menemani. Pasien yang pertama seorang perempuan. Dia terlihat pucat, sambil bersandaran dengan …. mungkin pacarnya yang memang bersedia menungguinya. Pasien kedua, perempuan juga, dia berada disamping pasangan yang tadi. Mukanya sedikit cemberut, nahan sakit sepertinya. Atau mungkin cemburu melihat pasangan sebelahnya. Soalnya dia tidak ada yang menemani. Yang ketiga, pria, dilihat dari mukanya tampaknya penyakitnya cukup parah. (Panu Akut mungkin). Dia tertidur bersenderkan dinding. Terakhir, seorang cewe berjilbab. Dia duduk diantara kami di berada ditengah-tengah Nara dan Sani. Dia merasa ngga enak, soalnya dia seperti tembok yang menghalangi percakapan kami. Gue mengira, sebenarnya dia ingin pindah tempat duduk tapi bingung mau bagaimana.

PKM. Tempat yang menurut gua emang didesain supaya orang ngga nyaman. Cob aloe perhatiin lantainya. Hitam-outih, kaya motif papan catur.Kalo lo berada di ruang tunggu terus liat ke lantai secara diagonal. Maka orang yang sehat akan menjadi pusing, yang pusing akan semakin sakit.

Ga percaya loe buktiin aja sendiri.

Dan ini dia pengalaman yang mungkin semua orang sering mengalaminya.

waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Loket dibuka. Nara dan Hani menuju loket untuk mendaftarkan diri, sedikit menyelak, soalnya pas loket dibuka dia buru-buru lari untuk mengambil urutan yang paling awal.

“Nara…..” terdengar suara memanggil dari dalam.

Gua pikir, wah sudah semakin hebat kayanya ini tempat. Baru pertama daftar langsung dipanggil. Palayanan yang cukup memuaskan. Pikir gua. Tapi ternyata gua salah. Nara dipanggil cuma karena dikartunya ngga ada foto.

“Ini fotonya mana?” tanya perawat dengan judes.

“Ngga ada Bu”, jawab Nara.

“Ini ngga bisa, harus ada fotonya”

“Bu, saya benar anak UI, ni mau lihat KTM saya”, Nara mengeluarkan dompet untuk menunjukkan KTMnya.

“Ini bu, coba ini liat muka saya, sama khan kaya yang di KTM!” Masih mencoba merayu Ibu Perawat. Dengan sedikit menyamai ekspresi mukanya dengan yang ada di KTM.

“Nga bisa, kalo ngga ada foto, ngga bisa diperiksa”.

“Ni, Bu fotonya”, Nara mengeluarkan fotonya. Ternyata setelah diperiksa di tasnya ada satu pas photo. Itu juga diambil dari kartu perpustakaan. Yah, daripada ngga berobat. Mungkin itu yang dipikirkannya.

Sial, aneh banget ni perawat, begitu takutnya dia kalo bukan anak UI. Gua ngga ngebayangin kalo ternyata Nara, tadi datang kesini dalam keadaan pingsang. Mungkin, dia akhirnya ngga bisa masuk karena ngga bisa nunjukkin foto. Terus anak-anak juga ngga tau fotonya disimpen dimana.

Kalo gitu mungkin gua akan berinisiatif, ambil HP trus gua foto Nara yang lagi pingsang. Terus gua cetak di Pocin. Terus gua tunjukkin foto itu ke perawatnya. Mungkin juga gua cetak ukuran 10R, biar bisa digantung di PKM. Agar perawatnya ngga lupa muka Nara.

Parah, banget pelayanannya. Gua jadi teringat pas, kejadian gua untuk kedua kalinya datang ke sini (Masih Inget). Waktu nganterin temen gua yang pingsan abis main bola. Kejadiannya sama, tapi lebih parah. Dia masih pingsang waktu dibawa ke PKM. Di sana dia harus nunggu sebelum ditangani. Karena waktu itu dia belum buat kartu berobat. kemudian dia juga ngga bawa KTM. Parah banget, dia belum bisa ditangani. Untunglah waktu itu ada kartu perpustakaan di tasnya, kalo ngga…..

Gua ngga ngerti, kenapa hal kaya gini bisa terjadi.

Untung temen gua masih hidup, masa dia harus “lewat” cuma gara-gara terlambat ditangani karena ngga bawa KTM.

Kembali menunggu.

Ternyata lama juga, hampir 30 menit gua nunggu, belum juga dipanggil.

Sementara itu, satu mobil. Mobil tersebut masuk hingga ke depan pintu PKM. Biasanya sih kalo mobil udah masuk gitu, pasti pasiennya parah banget, ya paling ngga dia masih pingsan lah. Benar saja, pas pintu mobil dibuka, ada seorang pria yang meminta membawakan apa ya namanaya “tempat tidur dorong” mungkin. Pasien itu harus dibawa dengan itu karena memang udah ngga sanggup jalan.

“Eh, kenapa tuh, mampus ya?” terdengar suara dari lorong surah sakit.

Gw ngga tau siapa yang ngomong, tapi gila, orang sakit disumpahin mampus. Hahaha, ancur banget nih PKM, lebih parah dari Puskesmas. Walaupun gua ngga tau maksud dia ngomong tuh ke pasien atau orang lain, tapi suaranya keras banget ampe kedengeran ruang tunggu. Gua mah, sama anak-anak Cuma bisa ketawa, soalnya ternyata bukan gua doing yang denger, yang lain juga denger, termasuk supir yang tadi minta sama satpam untuk bawain tempat tidur dorong.

Yang kasihan satpamnya, karena dari tampangnya yang gua liat dia jadi ngga enak sama pasien.

Loe semua pada tau, kalo tempat tidur dorong itu kan besar ya, pas banget sama pintu kalo dibuka cuma satu. Nah itu dia, pas pasien dimasukin ke PKM, pintu yang dibuka cuma satu, padahal kan dua-duanya bisa dibuka, walhasil beberapa kali sang satpam harus mengepaskan posisi tempat tidur itu, biar bisa masuk ke dalam. Sekali lagi ketidakprofesionalan pegawai PKM. Tapi, ups, salah…. Maksud gua mungkin mereka semua lagi pada panic jadi ngga sempet memikirkan hal-hal yang kecil, atau ngga mungkin kuncinya ketinggalan dibawa sama satpam lain yang udah ganti shif. (Yah, gua cuma mau ber-positive thinking.

30…35…40…menit sudah berlalu. Belum juga dipanggil.

Pasien yang tadi datang, udah balik, karena harus dirujuk ke rumah sakit lainnya.

5 menit lagi mesih menunggu….

“Nar, lu sakit apa sih sebenarnya…?” Tanya gua akhirnya karena bosan.

“Ngga tau, tapi mungkin karena belon makan.”

“Serius lu cuma karena belon makan”

“Iya, kayaknya”, Nara meyakinkan.

“Terus kenapa mesti kesini, kenapa ngga langsung makan aja?”

“Iya, gua juga mau makan abis ini, gua cuma minta vitamin aja.”

“Wah, serius lu, kesini cuma mau minta vitamin, udah ngantri lama cuma mau minta vitamin, minding gini aja deh, vitamin apa, biar gua beliin ke apotik, daripada di sini lama, ngga jelas juga keluarnya kapan?” gua coba memberi usul.

“Oh, jadi cuma mau vitamin, ah, gua juga punya, ya udah nih gua kasih. Abis makan, daripada lama-lama di sini.” Hani menimpali.

“Hehehe….gua juga ngga tau, kalo tau lama gini juga mendingan gua ngga dating kesini, mana harus rebut dulu dengan ibu-ibu pendaftaran.” Nara masih membela diri.

“Ya udah deh balik, yuk. Ngabisin waktu doing nih,” yang lain mulai mendukung.

“Ya udah deh balik,” akhirnya Nara setuju.

Akhirnya kami semua balik, ke mobil yang diparkir di halaman PKM. Tapi pas keluar sebentar.

“Nara….Nara….Mana pasien yang namanya Nara…?”terdengar suara dari dalam lorong.

Kami semua saling tatap-tatapan. Liat ke arah Nara, apa dia mau melajutkan meminta vitamin yang diidam-idamkannya.

Nara menggelengkan kepala.

Tapi, pas semua masuk mobil. Gua minta ijin dulu untuk ngambil sesuatu. Sampe PKM gua keluarin secarit kertas, gua tulis sesuatu, dan gua kasih ke loket pendaftaran.”

Sebelum si Ibu-ibu mengambil dan membaca, gua udah langsung lari menuju mobil dan gua suruh Ilman langsung tanjap gasnya. Dan gua langsung senyum-senyum.

Kalian tau apa yang gua tulis waktu itu? Gua tulis dengan hurup Kapital, sedikit ditulis agak Bold:

“NARANYA NGGA JADI BEROBAT, KAPOK. BUKANNYA SEMBUH YANG ADA MALAH SAKIT, BU!!!”


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
crliquid

Seorang mahasiswa yang mencari jati diri. Mencari kebenaran dalam kegelapan.

33 Comments

Leave a Reply

  1. hmm.. gw agak sedikit setuju kalo pelayanan di PKM agak sedikit menyebalkan, karena buat daftar, harus bawa foto dulu..

    tapi ceritanya lebay bener.. ga segitu lamanya nunggu ah gw.. gw 2-3 kali ke PKM, nganterin temen dan nganterin gw sendiri, nunggu cuma sekitar 10-15 menitan deh..

    tapi dasar cerita fiksi, nama gw diikutin di ceritu itu, hahaha..

  2. emang pelayanan PKM parah abis…

    gak cuman pelayanannya, kadang2 dokternya juga parah…. ga mau cerita ah ntar dikira mencemarkan nama baik hehe..

  3. bener bgt!!!
    waktu gw nemenin temen gw yg k PKM jg bgtu…
    lama bgt!…
    dah gitu…gk sembuh lg!adany tambah parah!
    akhirny dia harus ke rmh sakit jg…malah jd tambah mahal krna tmn gw itu harus beli obat lebih banyak (jenisny) krn saktny tambah parah…

    gk ngerti deh tuh PKM…kyk gk ada gunany…

  4. Denger2 c,obat2an yang diksi dr PKM dosis tinggi,.cz tmn gw yg skit panas abs minum obat yg dr PKM lngsng pusing trs ga lama sembuh..ati2 aj,obat dosis tinggi kan gaz baik bs bkin resistant sm penyakitny..
    Untuk penanganan yang lama, kita positive thinking aj..Orang sabar disayang Tuhan,,haha

  5. wew.. tambah 1 lagi cerita pelayanan birokrasi UI yang kurang baik.. jadi inget tulisan gw tentang bis kuning….

    tapi gw yakin suatu saat nanti, birokrasi UI akan lebih baik… yuk sama2 membantu memperbaikinya..

  6. Makanya laen kali ke PKM UI Salemba aja… kagak ribet! Daftarnya gak muluk², jarang ngantri panjang, obatnya bisa milih.

    Langsung aja dateng ke PKM UI Salemba, di daerah parkiRan montor FKG UI

    +iR+

  7. Kalo ke Salemba mahal ke ongkosnya kali yak? :mrgreen:
    Hmm, selama menggunakan fasilitas dari PKM, selama ini saya baek2 aja tuh. Emang pelayanannya kurang ramah, terutama petugas registrasi yang Ibu2 itu.
    Dokternya ga semuanya ga bersahabat kok, ada juga yang ramah.

  8. Alhamdulilah, selama 3 kali berobat ke PKM saya selalu mendapatkan pelayanan yang baik. Dua Kunjungan pertama, saya berobat ke poli gigi untuk konsultasi mengenai lubang gigi. Dokternya benar-benar ramah dan mau menanggapi pertanyaan saya. Berkat itu, gigi saya nggak dicabut :D, cukup dibersihkan karang gigi-nya + ditambal. Kunjungan ketiga, saya berobat ke poli umum pas sakit saat UAS ^_^;. Dokter yang melayani juga ramah, bisa diajak bercanda lagi. Sayangnya, obat yang diberikan terlalu “tinggi” khasiatnya. Saya diberi resep antibiotik, padahal sakit yang saya alami pengobatannya bisa dengan obat biasa.

    Pengalaman saya berobat di puskesmas daerah adalah kalau diberi obat, pertama-tama hanya dikasih obat yang “tidak begitu hebat” (nggak tahu istilahnya hahaha ^_^;). Kalau sakit masih berlanjut, baru sang dokter memberikan obat lain yang “lebih hebat dari obat pertama”.Nah, kalau masih sakit juga sang dokter bakal mengeluarkan surat sakti, surat rujukan ke rumah sakit :D.

  9. ya teerima kasih komentarnya.
    wah, klo ke salemba jauh juga ya.
    tapi, mungkin sekali-kali gua akan coba.
    tapi, emang ngga semua, ko. gw juga ngga men-generaalisir ko. tapi ya selama gw datang (2kali) mengalami hal yg seperti itu.

  10. seingat gw si uda sekitar 3 kali gw ke PKM dan emang si bapak atau Ibu yang ada di bagian registrasi “taat” banget ama peraturan yang ada.

    gw ga nyadar kalo lantainya motif catur. .haha

  11. ada benar nya juga tuh.
    saya juga pernah igt saya pernah skt demam panas, g tau kenpa, dtang ksitu, lum pernah daftar, tapi bwa ktm, akhirnya dsuruh daftr dulu ribet lah, eh ditanyaan foto juga, mana ada foto, untung ada tmn yg nganterin gw dia foto pke hpnya trus dictak di pocin, dan parahnya tmen gw itu cetak nya di kertas biasa, dah balik k PKM lagi ditolak pula.
    bayangin aja tuh prosesnya berapa lama belum nunggu yg lumayan lama, akhirnya karena temen gw dah terlanjur mo nolongin gw kali dia balik lagi ke pocin untuk cetak pke glossy. baru deh diterima, dan nugguuuuuuu laamaaa.
    baru di periksa.

    Apa, di PKM tidak ada istilah ato slogan “Dahulukan keselamatan dan kesehatan civitas akademika UI” yah…

    Thx

  12. oia sebagai tambahan, kenapa saya blum buat kartu nya adalah karena teman saya pernah bilang, dia pernah ingin buat kartu PKM mumpung masih sehat jadi nanti kalo sakit bisa langsung, tapi teman saya mendapat tanggapan, “bikin kartu nya nanti saja kalau sudah sakit…”

    apa ada yang pernah mengalami hal yang serupa atau sebaliknya..

    tolong di share yah..

    thx

  13. cerita yang menarik,
    saya sendiri termasuk orang yang jarang sakit, kalaupun sakit paling sakit2 biasa, itu pun ga pernah minum obat. Akhirnya, saya juga jarang pergi ke PKM. Karena itu, belum pernah merasakan kekecewaan seperti yang dialami ama Nara. Tapi, saya berharap ke depannya pelayanan PKM bisa semakin baik.

  14. Wah..segitu parahnya kah PKM tuh??? Saya emang jarang ke PKM., Makanya saya juga kurang tau seluk-beluk PKM., Jadi agak malas nich mo ke PKM kalau begitu keadaannya., Ya,, untuk ke depan diharapkan supaya lebih baik aja^^

  15. tulisannya Muhammad Iqbal
    FISIP/Kriminologi/2006 Lebay banget….

    tapi, yang pasti ini beberapa hal yang juga gue pertanyakan tentang PKM UI (yg di depok).

    1. waktu masuk UI, kan kita test kesehatan, trus hasil test kesehatan itu kemana ya. kok kita nggak pernah di kasih tau hasil chek nya?

    2. Kita kan bayar ya, setiap semester uang DKFM sebesar 75.000 (liat aja di riwayat pembayaran siak ng).DKFM = dana kesejahteraan dan fasilitas mahasiswa. coba deh kaliin sama jumlah mahasiswa yang ada di UI, berapa banyak coba uangnya. mungkin dana itu juga masuk ke PKM, tapi kalo pelayanan dan fasiliitasnya gak maksimal. percuma dong
    kita bayar ?

    3. Kalo gue nggak pernah ke PKM selama gue kuliah di UI, berarti gue rugi dong. kan udah bayar ?

    4. berapa % sih anak ui yang pernah berobat ke PKM ?

  16. Masalah foto itu memang brengsek buanget! Waktu aku masih kuliah di UI (wisuda Februari 2008) pernah sekali ke sana dan ditanya foto walau jelas-jelas ada KTM.

    Apalagi, KTM UI bukan tipe KTM yang mudah dipalsukan kayak KTM2 universitas Yogya yang cuma dari karton dilaminasi.

  17. saya ada sedikit cerita panjang tentang pelayanan dan sikap di PKM
    Saya pernah kecewa ama pelayanan di PKM,
    pertama emang betul yang saya rasaian pas nyampe mesti ada foto segala,mana ada orang sakit inget ama foto???
    kedua ini yang saya alami setelah saya berobat, saya rasa malah tambah parah makanya 2 hari kemudian saya balik kesana, dengan alasan mau minta surat terusan ke rumah sakit biar lebih pasti, tapi malah sama yang meriksa nya(entah saya lupa namanya) dibilang saya kena demam doank titik.. saya si mohon periksa ke lab aja biar lebih pasti malah beliau bilang lebih parah lagi “berarti anda tidak percaya dengan saya, berarti anda merendahkan PKM donk”gile bener orang sakit nih..pada akhirnya sih beliau bikin juga surat ntu..
    yang saya kecewa banget diagnosa dokter PKM ntu salah dan kata-katanya. karena pas saya ke rumah sakit saya positif kena DBD dengan trombosit rendah banget, kata dokter rumah sakit kalo telat sedikit aja saya bisa….
    ga ngerti lagi saya.

    semoga engga ada lagi cerita seperti ini.

  18. Huaa huaaa huaa, pengalaman di PKM yang sama (nyata). Tapi apa iya itu “perawat”? soalnya gue yang perawat jadi tersinggung Nih. Tapi masih untung sih tidak pakai kata sandi profesional kami “Ners”. Jadi ya nggak pa pa lah, kalau memang benar beliau perawat, bisa buat contoh (yang tidak boleh ditiru).

  19. Aduuuhhh….jadi inget ama PKM yang emang bener2 “Nyaman” Bangeettt..hehehehehe..

    Oíya tambahan lagi satu yang “unik” di PKM (Depok)…Apotik-nya…..kayakny dulu (Waktu gw kuliah tahun 2002), ada peraturan “OBAT GRATIS SELAMA 3 HARI”…itu kalo nggak salah deh…hehehehehe…en jenis obat2-nya….pasti seragam (khusus-nya Antibiotik…hehehehe..pasti AMOXICILIN..), ga tau deh sekarang dah berubah atau belumm =)

  20. Yah namanya juga gretongan, emang biasanya ngeselin.
    Tapi obatnya manjur lho.
    Pas gw terkena penyakit legendaris mahasiswa (diare), abis minum obat langsung berenti lho!Walopun sebelumnya dipermalukan terlebih dahulu oleh mbak dokter.
    O iy PKM tu dokter-dokternya dari mana ya? apa mahasiswa dr FK UI, kok muda2?
    Apa iya mereka kurang kompeten kayak cerita #20?

  21. Kok beberapa kali pingsan ditulis “Pingsang”, doang ditulis “doing”.. copas dari Word tanpa edit sama sekali yah..

  22. PKS , Partai yang Paling Melecehkan Perempuan Indonesia

    Bicara tentang peran partai terhadap kemajuan Perenpuan Indonesia yang boleh disebut, bahkan menghambat karier perempuan di Indonesia adalah PKS. Partai ini bukan hanya diskriminatif terhadap perempuan, tetapi juga melecehkan keberadaan perempuan, sebagai istri dan ibu.
    Bagaimana tidak melecehkan? Coba lihat, mulai presiden partai, Tifatul Sembiring hingga Sekjennya Anismata, plus pengurus partainya, hampir semua melakukan Poligami. Ironisnya, saat masalah poligami dipertanyakan, dengan enteng salah satu orang DPP PKS mengatakan, bahwa pengurus PKS memang diperbolehkan melakukan poligami, dengan alasan kenyataannya , jumlah perempuan Indonesia lebih banyak dibandingkan laki-laki. Tentu saja, di luar alsan ISLAM memang mmbolehkan Poligami.
    Coba bayangkan betapa naifnya, orang-orang yang duduk di Partai yang notabene katanya berjuang untuk rakyat, tapi malah melecehkan perempuan. Bukankah perempuan itu bagian dari rakyat? Nah, kalau sampai orang-orang dari PKS yang menghalalkan dan malah menganjurkan poligami , menjadi pemimpin di negeri ini, betapa menderitanya kaum perempuan di Indonesia, karena bisa jadi Undang _Undang yang dulu melarang pegawai negeri/ABRI menikah lagi itu, akan dihapus oleh PKS dan diubah untuk “boleh menikah lebih dari satu”.
    Tak hanya itu, PKS juga partai yang tidak menghargai arti “cinta sejati” dan bahkan cenderung mengabaikan perasaan anak-anaknya. Lihat apa yang dilakukan pendiri PKS, Hidayat Nur Wahid. Belum kering tanah kuburan istrinya, sudah menikah lagi, bahkan belum hitungan setahun istri barunya sudah melahirkan. Coba bayangkan, pernah beliau ini menghitung bagaimana perasaan keluarga istri pertamanya yang sudah meninggal dan anak-anaknya yang baru kehilangan ibunya? Apapun alasannya, para kaum lelaki PKS ini sepertinya lebih mementingkan pemuasan shahwad, ketimbang menghargai perasaan manusia. Orang seperti inikah yang akan kita jadikan pemimpin? Keteladanan apa yang bisa kita tiru?
    Di luar melakukan pelecehan kepada perempuan Indonesia, PKS juga tidak menghargai eksistensi wanita untuk berkarier. Coba saja salah satau alasan PKS tidak mendekat PDIP hanya karena pemimpinanya perempuan, Megawati. Soal mengapa PKS tidak setuju dengan eksistensi perempuan sebagai pemimpin ditanyakan dalam wawancara di sebuah televisi, Hodayat Nur Wahid dengan santai mengatakan, “kalau masih ada lelaki, mengapa perempuan?”. Masyaallah, kalau semua orang PKS punya pendapat yang demikian, betapa tidak adilnya sikap PKS ini terhadap perempun yang memang punya kemampuan dalam memimpin,baik di politik, ekonomi, atau apapun juga. Ini sama dengan kita kaum perempuan dibawa ke jaman Jahiliyah, karena perempuan hanya akan dianggap sebagai konco wingking (teman di belakang), budak, pembantu dan pemuas nafsu.
    Wahai perempuan Indonesia inikah partai yang akan Anda dukung? Dari partai inikah kita akan memiliki pemimpin di negeri ini? Kalau jawaban kita “iya”, betapa bodohnya kita!

  23. maaf, untuk jaga kesehatan dan penyembuhan mslh penyakit anak2 mahasiswa yg rata2 pada kos, paling baik adalah dengan obat2an yg alami (herbal), gak mahal (ada yg murah tp b’kwalitas dan halal) dan aman (herba scr fitrah cocok utk makhluk hidup drpd obat2an sintetis), tapi mmg lbh efektif di kombinasi dgn bekam. mau coba???

  24. @liatliat
    Woy Iqbal.. negh gw pamong… bisa sakit jg lw??
    hahahahahaha….

    Klo pengalaman gw yah…
    dokter yg recomended tuh dkter Adit (yg cowok) gw klo sakit prefer ma dy… penyakit gw tiap 6 bln sekali paling radang/amandel… ampe dr adit hapal muke gw…. (-__-!
    ama doi dikasih obat emang macem2… tpi efektif kok… selain itu gw jg pernah berobat ke pkm.. trs waktu ngambiL obat…

    Org PKM: ” Mas obat ny abis”
    Gw: “trs gmn?”
    Org PKM : “tebus diluar aja”
    Gw: “WTF???”

    bbrp bln yg lalu temen gw tabrakan motor… trs doi k PKM… dan.. mengalami hal yg sama…. “obatnya tebus diluar aja mas, abis negh”

    mang pkm gak pernah ngecek stok obatnya yah??
    gw nulis apa adanya yah,,,

    semoga tulisan ini bisa terbaca pihak PKM ato petinggi UI yg msh peduli ma kita… 🙂

  25. gw pikir PKM cuma bermasalah di
    “wrong person in wrong place”,,

    “orang birokrasi yang saklek, ditaruh ditempat yang seharusnya lebih mementingkan perhatian…”

    tau kan gw ngomongin siapa… XD,,

    =========

    @Tuti
    propaganda yang anda lakukan,
    justru memperburuk nama musuh-musuh
    dari apa yang anda serang…