Plastik : Material Bermasalah ataukah Solusi?


0

Apakah anda aktivis gerakan anti plastik? Tunggu dulu.. mari coba simak tulisan berikut. Plastik, belakangan ini merupakan jenis material yang paling sering kita temui terutama pada kemasan. Penggunaan plastik banyak menuai kontroversi. Berbagai masalah mulai dari keamanan produk untuk kesehatan sampai masalah limbah plastik sering kali dilontarkan oleh aktivis gerakan anti plastik. Banyak pihak yang mengeluhkan sifat limbah plastik yang sulit terdegradasi. Di sisi lain, justru banyak pihak yang menganggap plastik adalah material yang mampu menyokong kemajuan teknologi modern. Plastik dinyatakan dapat meningkatkan efesiensi bahan baku, energi, dan waktu. Sejauh manakah efesiensi dari bahan plastik ini?

W. Haensel, direktur eksekutif PlasticsEurope, menyatakan bahwa di negara berkembang, sebagai contoh, 50% dari makanan di buang begitu saja ke tempat sampah atau ke kebun. Pada negara maju – karena penggunaan plastik- hanya 3%. Dengan meminimalisasi buangan ini, dan kebutuhan untuk memproduksinya, kita menghemat sejumlah besar energi produksi. (lebih banyak ketimbang energi yang digunakan untuk memproduksi plastik! Thanks to plastic!

Energi yang dihemat pada transportasi barang-barang juga adalah pertimbangan penting. Jika dibandingkan dengan kaca. Untuk setiap 100 gram produk, kemasan kaca akan memiliki berat sekitar 100 gram, sementara itu, kemasan plastik hanyalah 3 gram saja.

Kemudian tengoklah peran plastik pada bidang transportasi. Sektor transportasi merupakan salah satu sektor yang paling banyak mengkonsumsi energi dan sektor ini juga yang paling cepat pertumbuhannya dalam mengkonsumsi energi. Generasi terbaru dari pesawat terbang lebih hemat bahan bakar. 50% dari boeing 787 Dreamliner dibuat dari plastik, membuat 20% lebih ringan dan menghemat 20% konsumsi bahan bakar.

Begitupun dengan mobil, kini lebih ringan dan lebih hemat bahan bakar. Penggunaan komponen plastik pada mobil telah meningkat sebesar 15% dalam 15 tahun terakhir – menghasilkan penghematan energi sebesar 14%. Sebuah studi menunjukkan penggunaan 5% plastik setiap 100 kg logam akan menghemat 10 juta ton CO2 per tahun! Selesai penelitian W. Hansel!

Banyak yang salah kaprah tentang bahaya plastik. Memang diakui, plastik tertentu memiliki potensi bahaya. Dikatakan potensi, karena bahaya ini hanya akan timbul jika dikenai perlakuan tertentu. Perlakuan yang dimaksud umumnya adalah perlakuan panas. Umumnya plastik Sangat mudah terdegradasi dengan panas karena plastik memiliki melting point (titik didih) yang rendah. Bahaya yang terkandung pada plastik umumnya juga bukan bahaya laten (bahaya bawaan). Melainkan bahaya yang timbul akibat ditambahkan senyawa kimia lain. Pada PVC misalnya, monomer PVC yaitu Vinyl Chloride merupakan zat yang karsogenik (dapat menyebabkan kanker). Namun setelah dipolimerisasi menghasilkan PVC yang aman dan memenuhi FDA (Food and Drugs Approval). Masalah kemudian timbul jika PVC ini misalnya ditambahkan senyawa kimi lain seperti plasticiser. Beberapa plasticiser seperti diocthyl Phtalatae (DOP) dinyatakan sebagai bahan yang berbahaya untuk kesehatan. Namun, apakah ini berarti DOP tidak boleh digunakan?. Jawabannya adalah boleh dengan syarat tidak digunakan untuk aplikasi yang dapat menimbulkan potensi bahaya.

Limbah plastik juga menimbulkan masalah besar bagi manusia. Di Jakarta khususnya, limbah plastik dapat ditemukan dimana-mana, Di depan rumah, di pinggir jalan, apalagi di kali!. Sifatnya yang sulit hancur menjadi masalah utama. Namun kendala ini bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sifat plastik yang dapat di recycyle (daur ulang). Meski tidak semua jenis plastik, namun kebanyakan plastik mampu diproses ulang untuk menghasilkan produk “baru” yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Plastik merupakan bahan yang mudah untuk diproses dan tidak memerlukan energi yang besar. Bahkan bisa dikatakan, pengolahan plastik hanyalah bagian dari usaha pemanfaat minyak bumi agar tidak terbuang percuma. Unit pengolahan polimer Polypropylene (PP) milik Pertamina misalnya dibangun untuk memanfaatkan “sisa” minyak bumi. Meski pernyataan ini tidak dapat dikenakan pada industri komersil polimer raksasa. Plastik memiliki umur yang panjang. Dengan begitu sekian persen energi pengolahannya dapat dihemat sedemikian rupa. Plastik sangat fleksibel. Sifat-sifatnya sangat memungkinkan untuk direkayasa. Dengan melakukan perlakuan proses tertentu atau dengan penambahan zat aditif tertentu, plastik bisa dibuat sesuai dengan aplikasi yang diinginkan.

Menurut saya, masalah plastik itu bukanlah pada dzatnya. Tetapi lebih kepada bagaimana cara memanfaatkannya. Saya sangat mendukung dengan program 3R. Reduce, kurangi penggunaan plastik. Sudah menjadi kebiasaan yang sangat buruk bagi sebagian masyarakat kita dalam memanfaatkan plastik ini. Plastik menjadi benda murah sekali terutama kantong kresek. Mulai dari toko kelontong, tukang gorengan, sampai mall-mall besar menggunakan kantong kresek sebagai media pembungkus. Sudah begitu gratis lagi!. Jadilah plastik hanya bahan sementara, sekali pakai langsung dibuang. Kedua adalah Reuse, gunakan plastik secara berulang-ulang. Ketiga adalah Recycle, daur ulang produk plastik.
Dengan ketiga langkah ini, diharapkan masalah utama yang sering timbul akibat plastik dapat diminimilisasi seefesien mungkin.

Jadi, bukannya “jangan gunakan plastik!” tetapi “Gunakan plastik dengan cerdas!”. Bukan begitu? )

Referensi:
The 10 th Internasional PVC Conference, IM3, 2008

Khairul Umam

Teknik Metalurgi dan Material UI 2005

Studi Ilmu Polimer

www.umam.web.id

www.jaketkuning.com


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Khairul Umam AL Batawy
Khairul Umam, saat ini sedang menjalani kuliah di Teknik Metalurgi dan Material Universitas Indonesia (semester 5, 2007). menjalani aktivitas sehari-hari sebagai mahasiswa sekaligus enterpreneur muda.. harapannya, agar kelak menjadi yang terbaik sesuai harapan orang tuanya melalui namanya, khairul umam (umat-umat terbaik). Semoga Allah memudahkan jalanku dalam mewujudkannya.. amien..

One Comment

Leave a Reply

  1. saya aktivis gerakan anti plastik >>> walaupun masih dalam tingkat pengurangan :-p
    contoh: gw kalo makan bungkus prefer ndak pake plastik. biasanya gw kantongin langsung ke tas.

    dalam masalah plastik terdapat masalah kebudayaan —->>> bisa dilihat dari kebudayaan belanja di daerah eropa. lu disana ketika belanja nggak akan pernah di kasih yang namanya plastik2 gedhe yang jelas yang biasanya dikasih ama hipermarket cs. orang eropa lebih prefer untk memakai tas belanjaan sendiri atau langsung memakai tas2 mereka(bayangkan kalo indonesia, lu masuk hipermarket trus bawa tas, paling2 lu di tempelengin am satpamN ^.^)