Polemik Syarat Capres 2009


0

Tahun depan 2009 bakal ada pesta demokrasi, terutama yang paling seru adalah Pilpres. Masih ingat periode periode sebelumnya selalu hiruk pikuk, heboh dan bahkan rusuh. Tahun 1998 tak terlupakan peran kita sebagai mahasiswa. Peran yang serupa oleh mahasiswa angkatan 66. Setelah reformasi 98 peran kita sepertinya mulai memperlihatkan hasil atau malah terpinggirkan?

Pilpres secara langsung sepertinya bisa dikatakan progress. Biarlah anak FISIP yang menjelaskan itu, mereka lebih berkompeten mungkin. Saya anak Fasilkom cukup mengamati dan menulis sedikit opini yang tidak penting.

Setiap kali mau pilpres selalu saja ada kekisruhan Parlemen di Senayan sana. Isu isu besar yang hampir selalu muncul antara lain, Gender, Kesehatan Jasmani Rohani Presiden, Taraf Pendidikan Presiden. Dapat dilihat masing masing isu ditujukan untuk menjegal Capres tertentu.

Kali ini untuk Pilpres 2009 Senayan kembali memanas membahas soal UU tentang syarat Capres. Kalau isu gender telah usang maka kali ini ada isu yang sedang hangat, yakni isu syarat perolehan suara 30% oleh partai atau fraksi untuk dapat mengajukan Capresnya. Kebetulan kemarin seusai UTS PMRPL, MetroTV menggelar Today’s Dialogue dengan topik “Polemik Syarat Capres 2009”.
Meutya HafidzSepeninggal host yang lama Najwa Shihab yang alumni anak FH UI itu, Today’s Dialogue diasuh oleh Meutya Fafidz dengan format baru sesuai dengan episode akhir tahun 2007 “Meretas Jalan Reformasi“.

Berikut reportase acara Today’s Dialogue kemarin berdasarkan ingatan saya. Nara Sumber yang duduk didepan adalah:

  1. Priyo Budi Santoso (Ketua DPP Golkar)
  2. Anas Urbaningrum (Ketua DPP Partai Demokrat)
  3. Muhaimin Iskandar (Ketua DPP PKB)
  4. Maruarar Sirait (Ketua DPP PDIP)

Sedangkan Nara Sumber yang duduk dibangku penonton adalah:

  1. Jeffrie Geovanie (Dir Eksekutif The Indonesian Institue)
  2. Fuad Bawazier (Ketua Partai Hanura)
  3. Fahri Hamzah (Sekjen PKS)

Sebelum acara dimulai Meutya mempersilahkan para penonton yang datang dari keempat partai pendukung para Nara Sumber yang duduk di depan untuk mengumandangkan Adzan… eh bukan, maksud saya mengumandangkan Yel Yel mereka.

Kesempatan pertama untuk PDIP dengan menyanyikan sebuah lagu yang liriknya sudah diubah ada kata kata “Megawati pasti kembali”. (Lagu itu termasuk Yel apa bukan sih?)

Kemudian kesempatan kedua untuk PKB yang banyak terlihat Ibu Ibu mengenakan kerudung dan Bapak Bapak berpeci. Saya pikir mereka mau nyanyi juga, kasidahan. Rupanya gak nyanyi, tapi Yel mereka “Mau makmur? Pilih Gusdur…”.

Dua kelompok pendukung yang lain Yelnya gak karu-karuan, mirip seperti Yel Yel penonton Sepak Bola di Senayan yang sedang panas karena klubnya kalah. Pokoknya jelek Yelnya. Lama lama saya pikir Yel Yel ini menggelikan.

Syarat perolehan suara minimal 30%

Setelah iklan acara berlanjut dan kesempatan pertama diberikan kepada Priyo Budi Santoso wakil dari Golkar yang menyatakan perolehan suara partai harus 30% untuk boleh mengajukan Capres.

Priyo menjelaskan bahwa jangan sampai salah terima soal itu, itu bukan harga mati katanya. Anas Urbaningrum mengatakan idealnya sih 15% saja. Muhaimin Iskandar mengatakan kalau 30% berarti maksimal Capres yang bisa diajukan cuma 3 capres dan itu terlalu sedikit, rakyat perlu banyak pilihan tukasnya.

Fuad Bawazier mengatakan ide 30% itu kurang logis karena sekarang ini ada banyak partai, beda kalau partai hanya ada 3 mungkin bisa masuk akal. Kemudian lagi Fuad bilang, boleh saja 30% tapi diberlakukan nanti tahun 2014, kalau diberlakukan 2009 kelihatan ada kepentingan sesaat.

Priyo menjelaskan bahwa tujuan dibuat syarat 30% suara itu adalah untuk membentuk pemerintahan yang kuat sebab kalau tidak nanti pemerintah akan goyah digoyang Parlemen terus.

Teori itu dibantah langsung oleh Fahri Hamzah (Sekjen PKS) yang mengatakan bahwa lemahnya pemerintahan karena gagalnya konsolidasi Parlemen oleh pemerintah dan tidak ada hubungannya dengan pencalonan. Priyo buru buru menambahkan bahwa angka 30% itu bukan harga mati buat Golkar.

Syarat Capres harus sarjana.

Kita tahu Megawati dan Gusdur tidak menyandang gelar sarjana. Tapi Gusdur diangap intelektual dan Megawati tidak. Sekarang pembahasan oleh masing masing Nara Sumber tentang UU yang mengatur akan hal itu.

Fuad mengatakan jangan tetapkan UU buat hari ini karena pihak pihak yang dirugikan pasti akan keberatan jadi kalau mau buat UU, buatlah untuk diterapkan jauh kedepan jadi tidak ada yang keberatan.

Anas mengatakan tidak harus sarjana, yang penting bisa diuji oleh publik atau debat terbuka dipublik. Fahri kemudian menambahkan lebih penting kita bisa menguji kemampuan intektual mereka daripada sarjana S2 atau S3 tapi tidak bisa diuji oleh publik.

Muhaimin kemudian berkomentar demokrasi memberi peluang pada siapa saja untuk menjadi Capres. Maruarar sebagai wakil PDIP berpendapat biarlah rakyat yang menilai, orang jagonya kan beda beda, ada yang jago presentasi ada yang jago kerja, jadi biar rakyat yang menilai.

Priyo dengan kalem mengatakan kami ngikut saja aturan yang berlaku. Mendengar sikap Priyo yang seblunya tegang kemudian sekarang jadi kalem dan santai penonton pada tersenyum dan tiba tiba Jeffrie Geovanie nyeletuk “Hati hati dengan Golkar, bisa demokratis sekali disini tapi di Senayan bisa keluar aslinya”. Penontonpun pada ketawa…

Jeffrie mengatakan masalah yang kita hadapi sekarang karena kita menjiplak system dari Amerika setengah setengah, kalau mau jiplak ambil semuanya tapi jangan ambil setengah setengah.

Syarat Sehat Jasmani dan Rohani.

Anas yang dulu duduk di KPU dimintai pendapat tentang hal ini dia mengatakan bawah seluruh UU tentang syarat pemimpin berbahasa terang: “harus sehat jasmani dan rohani”. Kalau mau diubah supaya Gusdur bisa masuk bisa saja tapi apakah itu patut atau tidak.

Pilpres 2004 mengatakan “Mampu secara jasmani dan rohani” sehingga memerlukan tafsir jadi timbul polemik, nah sekarang 2009 harus dibikin jelas supaya tidak ada polemik lagi soal itu.

Fahri berpendapat kita jangan membuat pengecualian untuk Gusdur lantas dibuat UU khusus, Fahri mengatakan harus tetap ada aturan itu dan apakah Gusdur bisa masuk atau tidak biar dokter yang menentukan, kita sebagai politisi tidak boleh memvonis kesehatan seseorang.

Muhaimin yang dimintai pendapatnya pada prinsipya setuju tapi bila ada aksi pengganjalan maka harus ada side opinion. Kemudian Meutya bertanya bagaimana kalau butuh tanda tangan Presiden. Muhaimin menjawab, ada system kePresidenan yang mampu membackup semua pekerjaan administrasi Presiden.

Giliran Priyo berpendapat bahwa Gusdur adalah guru bangsa tapi kita harus tunduk pada UUD45. Muhamin lantas menyergah dengan mengatakan UU itu harus memenuhi keadilan dan hak yang sama. Suasana jadi riuh dan dipotong iklan.

Pada penghujung acara Meutya memberi pertanyaan yang sama pada Nara Sumber: “Apa yang perlu di awasi sebagai publik pada pembahsan syarat Pilpres di Parlemen”.

Jeffrie menjawab bahwa Partai harus konsisten, kalau turun jadi 20% maka tak konsistensi, Golkar harus fight dengan angka 30%.

Priyo menjawab jangan desak kami untuk mempertahankan itu, karena ada kepentingan yang lebih besar. Ketika ditanya kepastian untuk turunkan angka itu ternyata Priyo menjawab tergantung suasana keinginan batin kami.

Jeffrie kemudian menangapi lagi dengan mangatakan bahwa dia menghargai Golkar karena berani ambil inisiatif tetapkan angaka 30% tapi harus konsisten katanya.

Opini

Reportasenya cukup panjang atau singkat? Yang jelas menurut kesan saya mereka belum ada yang benar benar rela bersikap tanpa memertimbangkan kepentingan partainya. Terlihat benar pada Priyo yang inkonsisten soal 30% dan Muhaimin yang defensif soal syarat kesehatan. Kalau Anas masih mending. Mungkin memang harus begitu kalau mau jadi politisi?

Untuk acaranya sendiri sih lumayan bagus tapi ada beberapa poin yang bikin jadi kurang bagus. Soal penonton yang diundang, mereka adalah konstituen dari partai masing masing sehingga ketika dilemparkan kuis tidak memberi gambaran yang obyektif. Mestinya penontonnya itu mahasiswa seperti pada epsiode Kasus Suap Jaksa.

Bagaimana pendapat teman teman tentang isu isu syarat Capres ini?


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf

2 Comments

Leave a Reply

  1. Gw dukung bapak tommy winata menjadi presiden RI gw pikir dia bisa menciptakan lapangan kerja yang signifikan di Indonesia nantinya.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals