Prof. Ito, Guru Besar yang Baru Saja Meninggalkan Keluarga Besar

Universitas Indonesia kembali dilanda duka. Salah satu guru besar kita sekaligus dosen Fakultas Psikologi UI dinyatakan meninggal dunia pada Senin, 14 November 2016 lalu. Mari kita baca artikel berikut ini untuk sedikit mengenang dan mengenal beliau secara lebih dekat.


0

Pria bertubuh tambun dan rambut putih yang memiliki bio Twitter “a grandpa who love sax” ini begitu dicintai para mahasiswanya ketika mengajar di kelas. Tidak hanya mampu memberikan teori dari berbagai istilah psikologi yang harus dipahami, namun beliau juga mampu memberi contoh nyata menjadi praktisi dalam rumpun ilmu sosial tersebut, terbukti dari peran pentingnya sebagai seorang Presiden pada salah satu organisasi psikologi internasional.

Kesenangannya dalam bermusik dan penyayang keluarga merupakan ciri khasnya yang sangat dikenal keluarga dan koleganya. Candaan intelek khas seorang Profesor kerap dilantunkannya ketika mengajar, serta mampu menjadi kawan yang asik bagi cucu-cucunya ketika di rumah, membuat setiap orang bangga mengenalnya.  Tidak hanya itu, putra bungsunya, Dimas Aditya mengatakan, ia sangat memperhatikan masalah politik dan keamanan Indonesia.

Tak sedikit mahasiswa yang merasa beruntung mendapatkan sentuhan tangan dinginnya itu. Psikologi dan ilmu kebhinekaan yang diajarkan dianggap sangat penting dalam melahirkan pemikiran-pemikiran toleran dalam aktifitas sosial kemasyarakatan.

Adalah Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Guru Besar Fakultas Psikologi UI, yang kerap menjadi buah bibir di kalangan akademisi belakangan ini. Pria kelahiran Purwokerto, 2 Februari 1944, ini dikenal sebagai seorang Psikolog ulung serta penerjemah dan penulis buku-buku berkonten psikologi. Masa-masa pendidikannya dihabiskan dengan melahap dan mendalami bidang psikologi sosial. Mengawali pendidikan sarjana di Fakultas Psikologi UI pada 1968, berlanjut ke Edinburg University, Skotlandia dengan memilih jurusan Diploma in Community Development pada 1973. Tidak sampai di situ saja jalan-jalannya di negeri orang dalam menimba ilmu, Prof Ito (sapaan akrab) bergelar doktoral setelah lulus disertasi mengenai “Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivitas Dalam Gerakan Protes Mahasiswa” di Leiden University, Belanda pada 1978.

sarlito
Guru Besar Psikologi UI, Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (tengah) memberikan keterangan pers terkait kasus Jessica Wongso, Jakarta, Selasa (20/9). (via Liputan6)

BACA JUGA: Psikologi Bicara Generasi Kini untuk Nanti

Namun, kini kita telah kehilangan sosok inspiratif itu. Senin, 14 November 2016, pada pukul 22.18 WIB, Tuhan memanggil rindu ayah dari tiga anak ini ke pangkuan-Nya. Prof Ito dinyatakan meninggal dunia karena serangan penyakit pendarahan usus. Meski demikian, dokter menyebut jenis pendarahan tersebut adalah gaib atau tersembunyi. Tiada yang menyangka,  gastrointestinal (GI) yang diderita Prof Ito dapat berakibat fatal terhadap kesehatannya.

Prof Ito dikenal memiliki kemampuan menerjemahkan ilmu psikologi yang sulit dicerna menjadi mudah dipahami. Dengan kepulangannya, tak sedikit kalangan akademisi, bahkan politisi yang merasa kehilangan akan sosok intelektual yang cukup update dalam menanggapi isu-isu terkini. Tampak beberapa tokoh turut hadir melayat, seperti ayah Wayan Mirna Salihin, Gubernur DKI Basuki Tjahaya Purnama, serta Kapolri Tito Karnavian dan Mantan Kepala BIN AM Hendropriyono yang mengirim karangan bunga berbela sungkawa terhadap kepulangan Prof Ito. Kehadiran Basuki alias Ahok ditengarai keterlibatan Prof Ito rencananya akan menjadi saksi ahli kasus penistaan agama yang santer diberitakan. Begitu pula kehadiran ayah Mirna ke kediaman Prof Ito, sebab ia pernah menjadi saksi ahli kasus Kopi Sianida yang melibatkan Wayan Mirna Salihin dan Jessica.

 

Aktif Organisasi

Prof Ito tidak hanya dikenal sebagai pengajar dan pengamat psikologi kawakan, namun ia juga memiliki sejumlah kesibukan yang diembannya semasa bergelar pelajar hingga pengajar. Semasa sekolah, Prof Ito menggilai olahraga. Berbagai cabang olahraga, seperti basket, voli, tennis, dan karate pernah ditekuninya. Tak hanya olahraga, beliau juga senang menggeluti bidang seni musik.

Beda sekolah, beda pasca sekolah. Penggemar alat musik seksofon ini juga sempat terlibat aktif dalam berbagai organisasi, baik nasional maupun internasional. Diantaranya, Presiden ApsyA (Asian Psychological Association), anggota Board of Directors IAAP (Internasional Association of Applied Psychology), APA (American Psychological Association), ICP (International Council of Psychologists), SPSSI (Society of Psychological Studies on Social Issues), IPS (Ikatan Psikologi Sosial), dan ASI (Asosiasi Seksologi Indonesia). 

 

Pernah Menjabat Dekan dan Menjadi Guru Besar Tamu Universitas Mancanegara

Sekembalinya Prof Ito ke Tanah Air dari studinya, beliau disibukkan dengan berbagai kegiatan di bidang akademis, baik sebagai peneliti, ilmuwan, hingga penulis. Sebagai peneliti, beliau pernah menjadi fellow di East West Center di Hawaii, Amerika Serikat. Bidang kajiannya sangat beragam, terutama menyoroti masalah sosial, mulai dari masalah Keluarga Berencana alias KB, anak jalanan, pemukiman, lalu lintas, sampai terorisme.

Prof Ito juga pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi periode 1997-2004 dan Ketua Program Studi Kajian Ilmu Kepolisian di Program Pascasarjana UI. Nggak cuma itu, Guru Besar kita satu ini juga sering jadi tamu undangan kuliah umum di universitas mancanegara, seperti di Cornell University, Amerika Victoria University, Australia Nijmegen University, Belanda dan Universitas Malaya, Malaysia.                                                                                                                                                                                                                                                  c

BACA JUGA: 5 Profesor yang Diabadikan Sebagai Nama Jalan di Kawasan Kampus UI

 

Prof Ito Populer di Berbagai Media Massa Terkait Pemikirannya

Sebagai sosok yang malang melintang di dunia psikologi, Prof Ito kerap diundang di berbagai seminar dan kuliah umum untuk menyampaikan pemikirannya. Beliau juga kerap menerbitkan beberapa buku psikologi, seperti Psikologi Sosial, Pengantar Psikologi Umum, Prasangka di Indonesia, Membina Keluarga yang Bahagia, Seksualitas dan Fertilitas Remaja, dan masih banyak lagi.

Sosok Prof Ito sempat memicu polemik terkait pemikirannya tentang LGBT,  dalam salah satu tulisan kolomnya di majalah Indonesia, beliau menelurkan istilah “LGBT Gaul”. Ia menganggap LGBT merupakan sebuah penyakit psikologis yang dapat menular dan ditularkan, menurutnya sebagian besar pelaku LGBT saat ini berperilaku karena terpengaruh oleh faktor lingkungannya.

psikolog-sarlito-wirawan-berpulang
Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono (via merdeka)

Prof Ito Meninggal Karena Terserang Pendarahan Usus

Gastrotestinal (GI) merupakan jenis penyakit pendarahan di saluran pencernaan yang meliputi kerongkongan, lambung, usus kecil, usus besar, rektum, dan anus. Pendarahan tersebut dapat berasal dari salah satu atau lebih daerah kecil seperti ulkus pada lapisan lambung atau radang usus besar.

Penyebab terjadinya pendarahan itu bervariasi, tergantung di mana terjadinya. Jika di kerongkongan, yaitu tabung yang menghubungkan mulut ke perut bisa mencakup esofagitis dan gastroesophageal erflux, varises, dan sobekan lapisan kerongkongan. Sedangkan pendarahan di perut disebabkan radang perut, bisul, borok usus, dan kanker lambung. Pendarahan tersebut bisa dicegah dengan menjaga kebugaran tubuh dan pola makan yang rutin. 

Dengan kepulangannya ke pelukan Tuhan, Prof Ito meninggalkan seorang istri dan tiga orang anaknya. Prof Ito dimakamkan di TPU Tonjong, Parung pada Selasa, 15 November 2016. Dimas, putra bungsunya, mengaku tidak melihat adanya tanda ayahnya akan pergi dari dunia ini. Setelah menjalani masa perawatan selama lima hari di RS Asri Siloam, kondisi Prof Ito sempat membaik, namun kembali terkulai lemas. Saat mulai sadar, dikatakan Dimas, hal pertama yang ditanyakan ayahnya ketika tersadar saat di rumah sakit adalah kondisi politik Indonesia hari ini. 

Bagi keluarganya, Prof Ito dikenal bagaikan superhero yang dicintai banyak orang. Keteladanan ayah tiga anak itu, dikatakan Dimas, selalu menyuarakan aspirasi secara independen.

BACA JUGA: Sosok Heroik di Kampus yang Seharusnya Kamu Apresiasi

 

Baginya menyuarakan aspirasi secara independen dan tetap berpegang dalam kebhinekaan merupakan suatu yang harus dijaga dan dipelihara. Nah, adakah diantara Anak UI yang pernah mengikuti kelas Prof. Ito? Gimana sih pengalaman kalian saat diajar di kelas beliau? Yuk, ceritakan pengalaman kamu di comment box!

Jika kamu memiliki pandangan tersendiri tentang toleransi dan kebhinekaan, yuk bagikan informasi ini di Facebook, Twitter, dan Line kalian, dan yuk sama-sama kita teruskan pemikiran-pemikiran konstruktif Prof. Ito untuk kembali menjadi Indonesia!


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Alfridho Yuliananda
Alfridho Yuliananda adalah penulis FnS Digital Consulting yang sudah giat menggeluti dunia tulis menulis di berbagai media. Pemilik motto "semua tempat adalah sekolah, dan semua orang adalah guru" ini merupakan penggemar produk jurnalistik investigasi, Arsenal, dan pemusik Freddie Mercury.

0 Comments

Leave a Reply

Choose A Format
Trivia quiz
Series of questions with right and wrong answers that intends to check knowledge
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals