Refleksi BOP Berkeadilan: Sebuah Evaluasi Komprehensif dari “Suara Muda”


0

Sebuah Pengantar “Minum Kopi”

“Adalah kebingungan”, emosi pertama yang menghinggapi ketika kami pertama kali menerima tugas OKK UI 2010 : menyusun esai mengenai isu-isu yang mungkin telah silih berganti, dari dingin menjadi panas lalu dingin lagi, dan bagaimana merumuskan solusi dengan berlandaskan idealisme yang sudah dari zaman ‘Hok-Gie’ diinterpretasikan pada kita pejuang muda, mahasiswa. Sekali lagi ,idealisme ! Inilah pertanyaan yang menjadi sumber utama kebingungan kami : isu seperti apakah yang harus kami angkat untuk memuaskan idealisme yang meluap-luap di tengah banjir isu-isu mainstream yang sedang merebak di lingkungan kita ?

Kata kuncinya adalah ‘lingkungan kita’.

Merupakan sebuah ironi ketika kita sering mengumpulkan baju-baju bekas untuk orang lain sementara sobekan baju di badan terlupakan. Tanpa bermaksud untuk merendahkan estimasi-estimasi para pendahulu dan dengan mempertimbangkan konteks masalah yang disediakan yaitu bangsa dan negara beserta hierarkinya, kami memutuskan untuk mendahulukan selangkah isu-isu yang benar-benar bergejolak di  antara kita yaitu di lingkungan kampus terlebih dahulu, tanpa meninggalkan topik-topik yang lebih bersifat global. Kami menilai bagaimanakah kita,para mahasiswa, yang dijuluki sebagai pembaharu tatanan, dapat mengubah wajah negara sementara kemelut kampus yang notabene rumah sendiri masih saja harus kita wariskan pada generasi kampus selanjutnya.

——————

Kampus UI kuning lagi. Banyak jaket kuning atau lebih populer dengan istilah ‘jakun’, milik kakak-kakak kami yang sudah terlebih dahulu mengenyam pendidikan di kampus perjuangan mengubah total warna UI hari itu : hari registrasi ulang bagi kami mahasiswa baru 2010. Namun, selain mengubah warna UI hari itu, penerimaan mahasiswa baru juga membawa konsekuensi logis pada isu usang yang terpaksa kita pakai kembali : Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan ( BOP-B ).

Sebelumnya, penting untuk dipahami, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk ‘merendahkan’,melainkan untuk lebih mengkritisi dengan berlandaskan pada upaya rekonstruksi cita-cita bersama, sebab kita sama-sama tahu, terlepas dari pro-kontra isu hangat ini, BOP-B memiliki esensi moral yang besar demi memenuhi kebutuhan kaum muda Indonesia untuk mengenyam pendidikan terbaik di kampus kuning.

Selain itu, apakah kami  bermaksud menonjolkan arogansi dengan mengatakan bahwa kami ‘berkompeten’ ? jawabannya,secara naturalis, tidak. Tulisan ini hanyalah sebuah “suara muda” yang berpedoman pada pengalaman sendiri dan sedikit survey di ‘pojok-pojok kampus’ untuk ‘diketengahkan’ demi pencarian solusi yang menyeluruh.

Untuk memulai bahasan elegi ini,alangkah afdhal-nya jika kita kembali mengkaji prinsip kedua yang dituang dari pemikiran bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara : Ing Madya Mangun Karsa ( di tengah memberi ruang untuk berprakarsa )

Ditinjau dari prinsip tersebut, kita dapat langsung menyimpulkan bahwa setiap individu yang ingin belajar dan ingin berpendidikan harus diberi kesempatan untuk berprakarsa. Dilihat dari perspektif pendidikan formal, hal ini dapat diterjemahkan sebagai dukungan untuk terus belajar, tanpa mempertimbangkan siapa mereka, apakah berdasarkan ras,agama,atau kategori yang paling menonjol terlihat perbedaannya di negeri kita yang kaya raya : status ekonomi.

Jika kita lebih menspesialisasikan konteks dalam ruang lingkup kampus kita sendiri, telah populer di kalangan civitas academica berupa program yang secara pribadi kami juluki ‘program tangan Tuhan’ : BOP-B. BOP-B adalah sebuah mekanisme pengajuan biaya  pendidikan dari mahasiswa kepada pihak UI..

Mengapa kami juluki ‘program Tangan Tuhan’?

Siapapun yang membaca defenisi BOP-B di atas akan mengatakan setuju bahwa BOP-B, secara esensial, adalah program yang benar-benar memanifestasikan prinsip pendidikan berkeadilan untuk semua. Sebab, mekanisme ini, memungkinkan mahasiswa yang tidak mampu secara ekonomi tapi memiliki penguasaan akademik yang memadai tetap dapat terfasilitasi untuk kuliah di kampus perjuangan. Mekanisme ini, jelas , adalah sebuah pertolongan,yang kami metaforakan dengan istilah ‘tangan Tuhan’.

Namun, kita semua mungkin sependapat bahwa esensi dasar sekali pun harus di back-up oleh faktor-faktor pendukung lain demi tercapainya hakikat dan esensi tersebut. Faktor-faktor ini, bukan hanya terkait dengan aparat dan sistem yang kredibel,  tapi juga dalam hal kesepahaman pihak-pihak berkepentingan, mengenai bagaimana dan dengan cara apa esensi tersebut dapat terwujud secara ril dan mumpuni.

Selanjutnya,kita masuk pada inti pembahasan. Kami berpendapat bahwa faktor-faktor pendukung di atas dapat dijawantahkan menjadi dua indikator evaluasi program BOP-B ini, yaitu berdasarkan perspektif psikologi sosial dan perspektif teknis yang dari sudut pandang periodik,masih bisa dipecah lagi menjadi evaluasi pra-moment ( sebelum kejadian ) dan evaluasi moment in progrees ( proses sedang berlangsung ).

Secara psikologi sosial, kami ingin mengutarakan pemikiran kami mengenai pentingnya pemahaman atas suatu objek atau masalah secara universal. Pemahaman pada objek apapun yang melibatkan khalayak harus mempertimbangkan estimasi,keinginan,dan pendapat pihak lain yang juga terlibat dalam kasus ini. Pemahaman yang kolektif ini jelas harus dibangun dari pemahaman-pemahaman subjektif dari pihak-pihak yang berkepentingan hingga tercapai kesepakatan bersama yang universal. Dalam konteks BOP-B, inferensinya sangat jelas, pihak-pihak tersebut adalah mahasiswa dan pihak universitas.

Kami memandang, secara psikologis, telah terjadi gesekan sosial antara pihak-pihak tersebut,dalam hal interpretasi yang berbeda atas data-data mahasiswa baru yang di survey ulang. Hal ini dapat terlihat dari proses advokasi yang membanjir. Belum lagi dengan masalah tergerusnya suara mahasiswa dalam pemakaian matriks  indikator pembayaran maupun  dalam transparansi proses penentuan biaya.

Terlepas dari apakah masalah-masalah tersebut benar atau tidak, dengan melihat dari suara-suara protes yang muncul ,dapat kita simpulkan bahwa memang terdapat perbedaan estimasi dan pendapat pagmatis mengenai isu ini.

Lantas, pertanyaan selanjutnya adalah jalan apakah yang harus ditempuh untuk mencapai sebuah pemahaman kolektif, yang jika tidak bisa dikatakan seragam, namun bisa dikatakan sependapat secara mayoritas?

Jawaban yang paling relevan : komunikasi.

Namun, masalah yang sering kali muncul dalam komunikasi “antara orang tua dan anak”  yang masih belum berubah sejak kakek-nenek kita masih hidup di dunia feodal adalah dominasi sang orang tua terhadap anak-anaknya. Penting untuk dipahami bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang harus didasari penghormatan pada masing-masing pihak, didasari dengan satu rasa, dan diimplementasikan dalam bentuk ‘berdiri sama tinggi,duduk sama rendah’. Jadi, berdasarkan aspek ini, kita bisa mengambil inferensi dan evaluasi yang sangat jelas, komunikasi yang membangun adalah komunikasi yang harus menghindarkan dominasi suatu kelompok atas kelompok yang lain,dalam kasus ini adalah dominasi ‘orang tua’ kita pihak universitas pada ‘anak-anaknya’ kita para mahasiswa.

Beralih pada indikator dalam perspektif teknis. Apapun yang ingin kami sampaikan disini hanyalah sekelumit keluhan-keluhan,yang kebanyakan diambil dari forum diskusi d website penerimaan.ui.ac.id, yang kami munculkan ke permukaan untuk mendapat perhatian kita bersama.

Secara pra-moment, mulai dari adanya keluhan publikasi tentang mekanisme BOP-B yang dianggap kurang mengakomodir seluruh Indonesia ( mengingat nama kampus kita adalah Universitas Indonesia , bukan universitas Jawa, Minangkabau,atau Aceh ). Hal ini penting, sebab sebagai satu-satunya universitas yang menyandar nama besar Indonesia, UI juga mengemban amanah dan tanggung jawab atas kebutuhan pendidikan tinggi generasi muda se-Indonesia. Hal ini jelas tidak diemban oleh universitas apapun selain UI di Indonesia. Sementara, dengan adanya publikasi BOP-B yang tidak memadai, akan menimbulkan sebuah stereotytipe bahwa biaya kuliah di UI itu mahal di kalangan masyarakat Indonesia yang pada akhirnya hal ini dapat dianggap sebagai upaya pendiskreditan rakyat daerah terpencil, khususnya luar Jawa.. Bahkan, dengan kurangnya publikasi UI kepada masyarakat akan melemahkan eksistensi UI sendiri sebagai universitas unggulan di Indonesia. UI sebagai universitas nomor satu di Indonesia harus membuktikan eksistensinya, tidak hanya sebatas acara-acara dalam ruang lingkup publikasi lokal, tapi melalui publikasi dan kegiatan skala nasional yang lebih menggigit.

Sedangkan, Secara moment in progrees, waktu pengiriman berkas yang dianggap terlalu pendek untuk menyiapkan banyak berkas, keanehan dalam isian form BOP-B seperti jumlah gaji yang tidak memisahkan netto dan bruto, kaburnya tanggal-tanggal penting, tidak adanya konfirmasi pengiriman email bagi yang mengajukan banding,dan sebagainya.

Masalah-masalah ini, jelas, membutuhkan suatu wadah untuk mengakomodir seluruhnya, penjelasan-penjelasan demi tercapainya kesepahaman sebagai upaya tindak lanjut, dan revisi-revisi untuk perbaikan pelayanan ke depan.

Penting bagi kita untuk memahami buah pemikiran Ki hajar Dewantara mengenai tujuan pendidikan, yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan,tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, status sosial, dan status ekonomi. Sementara, kasus BOP-B ini adalah momentum yang tepat untuk memperjuangkan pemikiran tersebut, sekaligus mewarisi nilai-nilai idealisme yang kita warisi dari Soe-Hok-Gie. Nilai-nilai idealisme yang beliau tuangkan dalam catatan hariannya ; “Now I see the secret of the making of the best person.It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Referensi :

http://penerimaan.ui.ac.id/forum/index.php?action=vtopic&forum=1 , 26 Juni 2010

http://penerimaan.ui.ac.id/id/user/result/bop/index/100668029 , 26 Juni 2010


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Khaira Al Hafi
Kegelisahannya pada kecendrungan pemuda untuk menuntut dan hanya bicara tentang perubahan Indonesia yang lebih baik sangat mewarnai perjalanan Al Hafi sebagai mahasiswa. Melalui organisasi yang didirikannya, UI to PIMNAS dan Kreanovator Indonesia, Al memiliki visi untuk menciptakan budaya 'perubahan adalah Saya' , dimulai dari diri sendiri. Ia pun percaya bahwa, agar perubahan tiap individu bisa berdaya guna untuk sekitarnya, dibutuhkan modal : ilmu. Itulah sebabnya Al sangat berminat di bidang riset sehingga dapat memenangkan berbagai kompetisi seperti Oikos UNDP International Economic Competition 2013, Green Economic national Call for Paper competition Fakultas Padjadjaran 2012, Inovator layak paten Kementrian Pendidikan Nasional 2013, Mahasiswa Berprestasi Beasiswa Unggulan Kemendikbud 2013, dll. Al juga telah diundang untuk berbagi pandangannya mengenai pemuda, inovasi, dan kepemimpinan pada berbagai kesempatan seperti G20 Youth Forum, St. Petersburg, Russia, Central and Eastern European Economic Meeting 2013, Warsaw, Poland, International Interdiciplinary Conference 2013, Venice, Italy, Konferensi Nasional Ilmu Administrasi Negara 2013 UI Depok, dan belasan kesempatan lainnya baik di luar maupun dalam negri.

One Comment

Leave a Reply