Review Acara “Leadership Talks”


0

Tanggal 19 Februari 2010 pukul 12.45 WIB, saya sudah berjalan menuju PSJ UI. Ada satu acara yang saya masukkan di jadwal saya sejak seminggu lalu: Leadership Talks. Sederhananya, ini adalah sebuah acara tentang kepemimpinan global -itu yang saya tangkap dari konten acaranya. Menurut salah satu sumber dalam PPSDMS -hehe–, acara ini adalah salah satu ajang promosi program PPSDMS angkatan V.

Jadi, apa itu PPSDMS? saya tidak perlu menjawab ini, silakan saja buka http://ppsdms.org
Di sini, saya akan mencoba mereview acara sekaligus kontennya.

Jadi, ketika saya masuk, saya sempat kecewa selama 1-2 detik karena sudah banyak orang. Saya pikir bangku sudah penuh. Namun, ternyata saya salah. Ternyata bangku-bangku depan masih kosong! Ini yang membuat heran saya sejak dulu, mengapa setiap seminar bangku depan selalu kosong? mengapa peserta kebanyakan memilih bangku belakang? Bukankah bangku depan lebih jelas? Menurut seorang teman, itu karena karakter orang Indonesia yang kebanyakan masih pemalu kalau disuruh menjadi yang terdepan, hehe…

Singkatnya, saya menuju ke bangku baris 2 di sisi kanan. Mengapa baris 2? Yeah, karena bangku baris 1 diisi oleh alat-alat, MC, dan panitia, hoho…Di depan saya ada Shofwan al-Banna yang sedang mengutak-atik presentasi Power Point-nya. Terus terang, saya banyak belajar dari beliau ini. Belajar langsung ataupun dari buku-bukunya. Setelah Shofwan selesai mengutak-atik, kami mengobrol tentang beberapa hal. Kawan, inilah salah satu tujuan saya duduk di samping Shofwan: lumayan sebelum acara mulai dah dapet ilmu lebih, hehe..

Acara pun dimulai dengan pembukaan dari Okta sang P.O (Ketua BEM FIB UI 2009), lalu pidato dari perwakilan pak Gumilar (beliau gak dateng karena ada perlu mendadak). Yang membuat saya salut adalah acara menyanyi lagu Indonesia Raya dan pembacaan idealisme kami. Sudah sangat jarang acara-acara yang di awal acaranya menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Selanjutnya satu demi satu pembicara muncul. Mereka itu adalah:

1. Shofwan al-Banna Choiruzzad. Mapres Nasional 2006 dan juara I St.Gallen Symposium.

2. Agung Baskoro. Peraih “The Next Leader” Metro TV

3. Goris Mustaqim. Asia’s Best Young Entrepreneur versi Bussiness week

Silakan cari informasi tentang mereka di Google ya…

***

Talkshow pun dimulai dengan panduan moderator Kholid (Ketua BEM FE 2009). Sebenarnya masih ada Najwa Shihab tapi beliau datang belakangan karena terkena macet.

Ada satu hal yang terekam di otak ini, yakni ketika moderator bertanya kepada Shofwan apakah Avi (istrinya) hadir di acara ini? Shofwan menjawab Avi masih harus di rumah (mungkin untuk menjaga buah hati yang baru lahir). Selanjutnya, Shofwan berkata begini:

“Avi bilang, ada hal-hal besar yang harus dilakukan melampaui kepentingan diri sendiri”

Saya bergetar mendengarnya. Avi mementingkan kami dibanding dirinya sendiri yang pasti sedang ingin ditemani suami menjaga sang bayi.

“Jadi, dia mengizinkan saya ikut acara ini dan meninggalkan dia sebentar. Maka, saya pun berangkat.”

Istri yang mengagumkan -itulah yang ada di pikiran saya.

***

Menurut Shofwan, kepemimpinan masa kini adalah masa kepemimpinan inovatif. Bagaimana seorang Mark Zuckerberg menyajikan teknologi yang digabungkan dengan sesuatu yang telah dirampas teknologi. Apa itu? hubungan sosial. Jadi, Facebook menggabungkan antara teknologi dan kemampuan sosialisasi. Facebook jelas melakukan inovasi yang dahsyat. Kita mengenalnya dengan istilah “jejaring sosial”.

Pertanyaannya, bagaimana dengan Friendster, Hi5, dan situs jejaring sosial lain? mengapa mereka tidak booming padahal mereka sama-sama jejaring sosial? Mengutip pendapat Nukman Luthfie, itu adalah karena Facebook adalah jejaring sosial yang “cool”. Dia adalah jejaring sosial 2.0. Facebook telah berhasil menginovasi situs jejaring sosial sebelumnya: yakni Friendster. Ketika inovasi muncul, tenggelamlah sang konvensional. Ya, dalam konteks ini, Friendster adalah ihak jejaring sosial konvensional.

Jika kepemimpinan masa kini adalah innovation leadership, bagaimana dengan kepemimpinan di masa depan? saya sempat berbincang dengan Shofwan setelah acara berakhir. Dia memprediksi bahwa inovation leadership akan bertransformasi menjadi accelerated inovation leadership. Jadi, internet telah membuka kesempatan yang seluas-luasnya untuk inovasi. Yang terjadi adalah inovasi itu muncul di mana-mana. Ia bukan lagi monopoli lembaga-lembaga besar macam Nike atau orang-orang cerdas macam mahasiswa Harvard. Inovasi itu menyebar ke seluruh dunia dan muncul dari segala kalangan, indivdu-individu yang sebelumnya tak diperhitungkan. Inovasi itu meledak, kawan…!!! Maka, kepemimpinan masa depan adalah bagaimana kita memanajemeni ledakan itu dan bagaimana kita mempercepat innovation leadership kita. Adu cepat, kawan..kita adu cepat di inovasi dalam kepemimpinan. Untuk aoa adu cepat segala? Sebenarnya, kita adu cepat dengan masalah yang juga berkembang dengan sangat cepat. Di masa depan, kepemimpinan yang lambat mungkin tidak akan populer lagi.

Saya kira itulah poin-poin pokoknya. Lain dari itu saya pikir bisa dibaca dari review teman-teman peserta lain. Note ini sudah cukup kepanjangan, hehe…Lagipula, terus terang konsentrasi saya mengikuti acara ini agak terganggu karena AC yang begitu kencang sehingga saya kedinginan..

***

Semua perubahan besar digerakkan oleh dua hal: rasa sakit dan cita-cita. selanjutnya, pertarungan antara dua hal inilah yang menentukan usia gerakan perubahan itu. mari memenangkan mimpi dari rasa sakit.”

Itulah closing statement dari Shofwan. Pendek. Tegas.

Kawan, sadarlah bahwa bermimpi itu penting. Sangat penting malah. Jangan disangka kata “mimpi” yang selalu saya ulang-ulang di setiap kesempatan maknanya adalah “khayalan”. Sekali-kali tidak. Makna kata “mimpi” yang saya maksud lebih dari sekadar berkhayal, lalu selesai. Tidak. Mimpi yang saya maksud adalah sebuah cita-cita berani yang mungkin disangka mustahil oleh setiap orang. Dengan berani bermimpi, kita berani berjuang. Dengan berani berjuang, kita berani untuk sukses. Bahkan, ia adalah syarat pertama. Mimpi adalah cita-cita. Saya rasa, Shofwan pun menyadari bahwa mimpi itu penting –dalam konteks mimpi sebagai cita-cita, bukan sebagai khayalan kosong–. Oleh karena itulah Shofwan menutup paparannya dengan closing statement di atas.

Mari kita ulang sekali lagi:

Semua perubahan besar digerakkan oleh dua hal: rasa sakit dan cita-cita. selanjutnya, pertarungan antara dua hal inilah yang menentukan usia gerakan perubahan itu. mari memenangkan mimpi dari rasa sakit.”

“Pemimpin”, tulis sebuah artikel, “adalah pemimpi dengan huruf “n”.

Wahyu Awaludin
Indonesian Dreams Community
FIB UI 08


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
Wahyu Awaludin
Penulis, blogger, pemimpi, dan pebisnis. Seorang mahasiswa Sastra Indonesia FIB UI angkatan 2008. Mempunyai mimpi ingin mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media online. Kini sedang diamanahi sebagai salah satu peserta PPSDMS angkatan V Regional I Jakarta

One Comment

Leave a Reply