Sudah 5 tahun aku lulus dari Universitas Indonesia. Rasa-rasanya tidak banyak perbedaan, walau di beberapa tempat masih ada proyek pembangunan. Hari itu aku ingin mengisi acara, sebuah acara yang membahas tentang kehidupan pasca kampus. Aku menaiki kereta dari stasiun Tebet menuju Stasiun UI. Baru saja menaiki kereta, aku seperti terhantar terhadap peristiwa-peristiwa ketika aku masih kuliah.

Bagaimana dulu aku asyik duduk di pinggiran pintu kereta ekonomi. Dimana hal ini sangat mustahil di kereta commuter line sekarang. Bagaimana aku pulang dengan kereta terakhir dan keadaan sangat sepi mencekam. Aku mendekap tasku di depan sambil mata terus mengawasi kereta. Bagaimana aku hampir kecopetan tetapi keberuntungan masih ada di pihakku.

Turun dari kereta aku menuju halte bis kuning. Tujuanku saat itu adalah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya. Tempat kuliahku selama 4 tahun di jurusan Sastra Rusia. Aku menunggu Bis Kuning karena pada saat itu aku ingin merasakan kenangan-kenangan yang aku usahakan hilang sebelum aku menikahi istriku sekarang. Kenangan tentang seseorang yang menghiasi beberapa semester hidupku di kampus. Ah, kemana dia sekarang?

Bis Kuning sudah datang. Aku menaikinya dan arah Bis Kuning yang aku tumpangi memutar terlebih melalui rute FH-FKM-FIB. Saat aku menjatuhkan diriku di kursi paling ujung belakang Bis Kuning kenangan itu muncul kembali. Kenangan yang terus membuat aku tersenyum hingga akhir kelulusanku di UI.

. . .

Pada saat itu, November 2005. Hujan lebat mengguyur Jabodetabek dari tadi malam. Aku sudah berada di kursi Bis Kuning paling belakang. Rintik hujan yang menempel di kaca Bis Kuning membuat keadaan Bis Kuning memasuki suasana melankolis. Ditambah mendengarkan lagu bulan Desember dari band Efek Rumah Kaca. Siapa yang menolak suasana melankolis Bis Kuning yang saya rasakan saat itu? Saya sendiri saja selalu ingat suasananya. Bagaimana kalian?

advertisement

“Seperti pelangi setia menunggu hujan reda”

Bagaimana jika kalian berada pada posisi tersebut? Tentunya pada kalian yang sering menikmati Bis Kuning. Suasana Bis Kuning yang sepi di kala hujan dan diwakilkan oleh tetesan rintik hujan di di kacanya. Ditambah lirik lagu nan syahdu milik Efek Rumah Kaca tersebut? Saya yakin hidup anda belum sempurna jika belum melewati fase-fase ini di UI.

Bis Kuning baru memasuki FKM. Saat itu ada seorang gadis dengan payung bewarna merah menaiki Bis Kuning. Rambutnya lurus berponi ditambah lesung pipit di kedua pipinya. Sekilas seperti kebanyakan remaja saat itu. Dia memakai kaos dengan luaran kemeja denim berwarna biru langit.

Entah kenapa memandanginya ketika sedang mencapai klimaks suasana melankolis membuat aku tidak memalingkan wajah. Alih-alih menikmati suasana melankolis tersebut, Aku terus memandangi wajahnya dan mempelajari senyumnya dibalik fokus dia memandangi layar handphone.

Bis Kuning sudah sampai di seberang halte FIB. Aku bergegas turun dan tidak menyadari gadis itu juga ikut turun melalui pintu depan. Bis Kuning melanjutkan perjalanannya lagi, aku pun menikmati suasana sehabis hujan tersebut dengan menelusuri jalanan ke FIB. Gadis itu membuka payung berwarna merahnya. Dia berjalan di depanku. Tentu aku pun berusaha mengamati dia, mencoba meresapi tangan Tuhan yang hadir di suasana sehabis hujan tersebut.

Gadis itu ternyata berbeda tujuan denganku. Dia menyebrang ke FISIP. Gadis yang kelak aku ketahui bernama Rara itu terus berjalan dengan payung merahnya. Terus membelah keheningan UI sehabis hujan. Aku pun sudah sampai di FIB, melanjutkan aktifitasku sembari menerka-nerka apakah tangan Tuhan akan berhenti di situ?

advertisement

Bersambung…

*Cerita ini adalah fiktif belaka. Kalau ada kesamaan nama dan cerita. Anggap sja saya membantu kamu mengingat hal tersebut.



[reaction_buttons]