Salemba (juga Cikini) Bercahaya: Sebuah Cerita untuk Bintang-Bintang


0

Selasa, 10 November 2009, bertepatan dengan peringatan hari pahlawan, jaket kuning Universitas Indonesia kembali turun ke jalan. Pejuang-pejuang muda itu menyeru para pembesar negeri ini di depan istana negara dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), menyeru agar mereka, dengan segala otoritas dan fungsi kelembagaan yang telah menjadi amanah  mereka, segera mengambil sikap yang tegas terhadap pelemahan gerakan pemberantasan korupsi di negeri ini, demi tegaknya keadilan, demi rakyat Indonesia yang terampas hak-haknya akibat korupsi, demi Indonesia yang lebih baik. Maka, mari sambil membaca tulisan ini, pekikkan, HIDUP RAKYAT INDONESIA!

Kisah di atas cukuplah diurai dalam satu paragraf, menjadi sebuah paragraf sumbang, demikian bila kita berkaca pada kaidah-kaidah resmi Bahasa Indonesia. Akan ada banyak institusi pers, intra maupun ekstra kampus, cetak dan elektronik yang akan mewartakannya dengan lebih mendalam bagi teman-teman, pun sejatinya, tulisan ini, ingin sejenak, memutar waktu ke belakang, sehari sebelum aksi itu. Sebagai bagian dari rangkaian acara kampanye Pemira IKM UI 2009, panitia Pemira, menghelat grand opening yang dilanjutkan dengan eksplorasi visi-misi kandidat Ketua dan Wakil ketua BEM UI 2009, di Salemba, teruntuk sahabat-sahabat FK dan FKG.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa kampanye yang berlangsung di Salemba akan berlangsung “keras”, baik bagi para kandidat, maupun panitia. Penyakit menahun yang diderita oleh rekan-rekan Salemba yang bernama komunikasi, telah membuat BEM UI, suka tidak suka, dirasa oleh rekan-rekan di sana, kurang bergaung aktivitasnya di salemba. Dan ibarat syair lagu grup band Stinky, yang populer di dekade 90-an, terbentang jarak antara kita, Depok dan Salemba, yang kemudian menimbulkan tanya, “mungkinkah kita akan selalu bersama?”

Namun, dengan berbekal keyakinan bahwa rekan-rekan Salemba bukan siapa-siapa, maka panitia pun berangkat ke sana. Sombong? Samasekali bukan, karena panitia, juga bukan siapa-siapa, juga presiden, kapolri, rektor atau dekan, mereka bukan siapa-siapa. Kita semua hanyalah insan yang karena cinta-Nya, punya kesempatan untuk bertransformasi dari sebuah sel sperma, menjadi bentuk kita yang sekarang, hidup, dengan satu misi sederhana, “melakukan yang terbaik dalam setiap titik hidup kita”*, maka cukuplah kita berjuang untuk melakukan yang terbaik, dalam hal ini sebagai panitia, kandidat serta konstituen Pemira.

Perjalanan ini kami mulai di FKG, pasca istirahat makan siang yang menutup proses grand opening kami yang dilakukan dengan berkeliling ke kedua fakultas. Turunnya hujan menyapa kami, membuat acara harus dipindahkan dari lapangan bulutangkis di samping kantin, menuju ke ruangan A402 FKG. Kekhawatiran bahwa animo sahabat-sahabat FKG, akan berkurang akibat hujan ternyata tidak terbukti, kerja keras dan cergas dari rekan-rekan berlangsung lancar. Sahabat-sahabat FKG, termasuk 2 panelis yang hadir, bang Addys selaku ketua BEM FKG, dan mba moya sebagai ketua BPM, beraksi dengan luar biasa, kritis, intelek namun tetap santun. Para calon benar-benar “diserang” dari berbagai aspek, semata demi menguji kepantasan mereka dalam melangkah menjadi UI 1.

Menjelang pukul 4 sore, eksplorasi jilid 1 Salemba di FKG, berakhir dengan baik, setelah istirahat 20 menit, panitia dan para kandidat pun melanjutkan merajut asa di FK. Kesuksesan di FKG, tidak membuat pandangan panitia akan “kerasnya Salemba” luruh, masih ada FK Bung.Eksplorasi di FK, dibuka kurang lebih pukul 16.30, dengan 2 orang panelis, kembali mewakili lembaga eksekutif dan legislatif fakultas, bang Adi,ketua BEM FK UI dan Bang hendy, BPM.Tensi mulai meninggi begitu kedua panelis ini mulai melakukan penetrasi, para kandidat, tercatat beberapa kali kemudian mengeluarkan jawaban yang dinilai kurang memuaskan, hingga mengundang riuh rendah sorak penonton.

Suasana kian panas begitu sesi tanya jawab dengan floor dimulai, setelah menunaikan ibadah sholat maghrib.Dalam sesi ini, pertanyaan-pertanyaan kian deras mengalir, membedah tingkat intelektualitas maupun integritas para kandidat, ketika para kandidat menjawab dengan kurang tegas dan jelas, tak urung, sorak sorai penonton kembali membahana memenuhi aula bawah FK UI.Ada pertanyaan yang kritis dan tajam, ada teriakan dan ada pula sorakan, namun ternyata, menjelang pukul 22.00, ketika para kandidat akhirnya sudah dieksplorasi dengan cukup paripurna, maka ada satu yang menjadi milik semua, demi menjadi insan yang lebih baik, yaitu pembelajaran.

Teriakan dan sorakan itu, ternyata jauh dari niatan untuk menistakan kandidat, itu adalah sebuah ujian mental bagi calon-calon UI 1, yang nantinya akan meminpin pertempuran kita semua demi rakyat Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pun tidak serta merta kemudian hanya mengambang di ranah normatif, dengan bersama-sama, para kandidat dan penanya meramunya dengan konstruktif demi sekali lagi, sebuah pembelajaran.Malam itu, Salemba benar-benar bercahaya seperti bintang, intelektualitas mereka berpijar, memberikan pencerahan dalam hati semua yang hadir, termasuk pada akhirnya diri mereka sendiri, itulah “kerasnya Salemba”.

Semoga inilah awal dari kisah yang indah, bahwa dengan jarak yang terbentang, adalah mungkin! Untuk terus bersama. Seperti bintang, yang kadang hilang saat siang, dan di kala langit malam ditutupi mendung, namun sejatinya selalu ada. Seperti bintang yang tetap mampu menyinari bumi, melewati jarak tahunan cahaya, maka adalah doa kita, bahwa sahabat-sahabat di depok akan selalu ada bagi sahabat-sahabat di Salemba, begitu sebaliknya.bahwa siapapun yang terpilih, yang sudah jelas, tidak berkuliah, berkantor, apalagi tinggal di sekitar Salemba (Berdasarkan alamat kandidat pada formulir pendaftaran), akan tetap mampu hadir bagi hati-hati yang ada di kampus Salemba, walupun tidak selalu secara fisik dan nyata.

Karena seperti yang penulis sadari beberapa jam lalu, saat penulis turut serta dalam aksi ke istana negara dan gedung DPR, apapun warna makara kita, kita cuma 1.Kita adalah sebuah kekuatan moral yang punya amanah untuk mempersembahkan niat baik kita bagi rakyat indonesia dengan segala perspektif  keilmuan, dan minat bakat yang kita miliki, itulah kita.Mari terus berkaya, demi bangsa Indonesia!

Untuk bintang-bintang di kampus Salemba, FK dan FKG(termasuk di dalamnya kampus cikini, karena kalian juga adalah FK UI), teruslah berpijar..

*Kutipan dari buku Laskar Pelangi, tetralogi Laskar Pelangi

Haryo_starseeker_146@yahoo.com_Humas Pemira IKM UI 2009


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

like like
0
like
dislike dislike
0
dislike
lol lol
0
lol
syebel syebel
0
syebel
omg omg
0
omg
atut atut
0
atut
sumringah sumringah
0
sumringah
wtf wtf
0
wtf
panpem

One Comment

Leave a Reply