Disclaimer: Cerita ini berasal dari salah satu mahasiswi UI angkatan 2017 yang mau berbaik hati menjadi narasumber dan berbagi pengalamannya sebagai korban ghosting seorang mahasiswa UI angkatan 2018. Hmm.. ada yang bisa relate?

Plis banget, semoga pada gak nangis atau malah ketawa ya pas baca ini. Gue sebenernya bingung mau mulai dan mengakhiri darimana, sama kayak kisah cinta gue dulu sama si doi. Gak pernah dimulai, dan gak pernah diakhirin. Miris ya.

Sesuai dengan judul artikel di atas, gue mau berbagi kisah singkat (kalau kepanjangan nanti pada bosen) tentang pengalaman gue di-ghosting sama seorang cowok yang gue kenal sejak SMA. Bahkan selain gue di-ghosting, gue juga merasakan apa itu yang namanya dimanfaatin tanpa pernah menerima kata terimakasih dari orang yang memanfaatkan gue.

advertisement

Semuanya itu terjadi selama bertahun-tahun, dan setelah pada akhirnya gue sadar sama apa yang dilakukan cowok itu terhadap gue adalah hal yang salah, gue masih butuh lebih banyak waktu lagi buat gue bangkit dan berhenti nyalahin diri gue sendiri. Ternyata gak gampang, guys. Gue butuh waktu sekitar empat semester buat ngeyakinin kalau dia adalah orang yang jahat, dan Tuhan pun tahu kalau dia bukanlah orang yang pantas untuk menjadi pasangan gue.

Oke, gue cerita ya

Sumber: womenworking.com

Dimulai dari apa itu ghosting. Mungkin kalian udah pada tahu artinya apa, tapi kalau belum tahu ya gak papa juga. Supaya gak bertele-tele, gue jelasin aja ya. Ghosting adalah suatu bentuk taktik dalam mengakhiri hubungan yang dilakukan dengan menghilang dan memutus komunikasi tiba-tiba tanpa menyediakan penjelasan.

BACA JUGA: Gaslighting, Apakah Saya Baik-Baik Saja?

advertisement

Kelihatannya sih sederhana ya, tapi dampaknya bisa berupa penyiksaan psikologis yang cukup parah. Si korban akan mulai mempertanyakan tentang harga dirinya di mata orang lain. Selain harga diri, korban juga akan terus menerus memikirkan kekurangan dan salah apa yang Ia sebabkan sampai membuat seseorang ‘kabur’ dari dirinya secara tiba-tiba. Di situlah ‘fase-fase’ kritis yang harus dihadapi korban untuk beberapa saat, oh ya jangan lupa, korban juga dapat dipastikan mengalami kerusakan kepercayaan pada orang lain. Yakin deh.

Bagaimana dengan gue?

Gue sendiri masih sulit untuk menerima kalau diri gue adalah satu dari korban ghosting. Mungkin karena dulu gue terlalu suka sama si pelaku, jadi apa yang ada di otak gue jadinya gak rasional. Gue selalu melihat pelaku sebagai sosok yang menawan dan apa yang udah dia lakuin ke gue ya karena kesalahan gue.

Berawal dari dia yang memperkenalkan dirinya duluan ke gue dan berlanjut ke chat-chat di LINE dan juga DM Instagram, saat itu gue melihat dia sebagai sosok yang cool dan berbeda dari yang lainnya. Obrolan kita nyambung terus, dan rasanya kok kita saling melengkapi satu sama lain. Kesukaan dan kebiasaan kita bisa sama. Gue jadi mulai berpikir kalau kita meant to be together. cieee

advertisement

Sampai pada akhirnya…

Sumber: thereset.com

Pada akhirnya dia mula meminta bermacam-macam pertolongan ke gue, mulai dari permintaan tolong sesederhana ngerjain PR, sampai minta diajarin soal-soal SBMPTN. Terlepas dari semua bantuan yang gue berikan, gue bangga karena bantuan-bantuan yang gue berikan berhasil mengantarkannya menjadi mahasiswa UI meskipun harus gap year sebelumnya.

Tapi guys, kabar bahagia itu kayaknya bukan untuk gue.  Kabar keberhasilan dia menyusul gue ke UI ternyata adalah momen penanda berhentinya hubungan gue dan dia yang udah terjalin selama itu. Semua jerih payah gue, di mana gue selalu meluangkan waktu untuk mengajarkan dan mengerjakan tugasnya, gak dihargai sama sekali. Hal ini sempet bikin gue gak percaya saat melihat kenyataan bahwa dia langsung nge-block semua media sosial gue, setelah beberapa jam pengumuman SBMPTN keluar. Waktu itu gue nanya ke semua temennya yang gue kenal. Dan untungnya semua temannya mau bantu gue untuk menanyakan alasan kenapa dia nge-block semua media sosial gue, walaupun hasilnya sih nihil, yang mana dia gak memberikan jawaban apa-apa. Hufftt..

Gue pun tersadar

Satu hal yang membuat gue sadar kenapa ada aja orang yang mau melakukan ghosting, yaitu karena mereka (pelaku) melihat kita (korban) lebih rendah dan rapuh dari mereka. Apalagi kalau korbannya masih terus mencari-cari si pelaku, berusaha meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi seperti yang gue lakukan. Dan ada baiknya untuk si korban yang lagi merasa tidak nyaman karena emosi yang berkecamuk, sebaiknya gak berusaha menelan mentah-mentah emosi tersebut.

advertisement

Perlu banget disadari bahwa apa yang dilakukan pelaku tersebut bukan karena kesalahan kita, melainkan lebih pada ketidakdewasaan pelaku dalam bersikap. Atau emang udah dari sananya aja menjadi tabiat si pelaku. Gue belom coba research lebih jauh sih, apakah emang ada kepribadian tertentu yang membuat seseorang cenderung menjadi pelaku ghosting apa enggak.

Dari pengalaman gue sih, gue iseng waktu itu ngesearch nama pelaku di twitter. Percaya gak percaya, ternyata si pelaku udah terkenal jadi tukang ghosting bahkan dari SMP. Gue bisa tahu ini karena gue nemuin beberapa tweet dari cewek-cewek yang pernah menjadi korban, dan mereka bikin thread tentang pelaku. Haduh, kayaknya emang guenya yang sial ya? Bisa kenal sama orang kayak gini. Hehehe


Hmmm.. sekian nih cerita dari narasumber.

Untuk pembaca sendiri, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama? Atau mirip-mirip? Duh, gimana dong caranya biar kita-kita yang jadi korban bisa move on? Ada saran?

BACA JUGA: When Your Gadget is Your Bestfriend or Your Lover, Ikatan Emosional Antara Manusia dan Mesin

Tenang aja! hal pertama yang perlu kamu lakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan emosi yang kamu alami adalah berhenti mempertanyakan harga dirimu. Jujur deh, pastinya kamu malu kan ngeliat semua pesan-pesanmu cuma diread doang atau mungkin malah diblock kayak yang narasumber alami. Gak papa. Kamu gak perlu memaksakan dirimu untuk melupakan rasa malu tersebut. Embrace it! Tapi jangan lupa, kamu juga harus ingat bahwa apa yang terjadi, semua ini, disebabkan karena pelaku yang belum dewasa dalam mengakui perasaan mereka. Dan kamu, ya kamu, jauhhhh lebih baik dari mereka

Bukalah lembaran baru dengan orang baru. Mungkin kamu masih merasakan trauma dengan apa yang terjadi pada dirimu. Kamu pun mulai memiliki konsep yang negatif untuk memulai percintaan. Berhenti terjebak dalam situasi itu dan mulailah  melakukan apa yang membuatmu kembali menjadi dirimu sendiri. Berkenalan lah dengan orang baru. Yakin deh, kamu pasti akan dengan cepat melupakan rasa sakitmu itu.

Ceritakanlah ketidaknyamanan yang kamu alami pada orang-orang terdekatmu. Tahu gak, dengan menceritakannya kembali, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk melihat apa yang kamu alami ini dari sisi atau perspektif lain. Kamu pun akan tersadar bahwa tidak ada gunanya untuk menyesali apa yang terjadi dan semuanya hanyalah hal sepele yang biasa dilakukan oleh segelintir orang yang tidak dewasa.

Berhenti hubungi mereka. Hal ini dikarenakan apa yang kamu lakukan ini hanyalah membuang-buang waktumu saja. Lagipula, kamu tidak kehilangan satu hal pun dari mereka, dan mereka tidak akan mengubah keputusan mereka meskipun kamu membanjiri kotak pesan mereka dengan berbagai pesan. Tapi jika memang suatu saat dia kembali menghubungimu, take a step back! Jangan kembali jatuh ke dalam perangkap yang mereka buat dan cobalah untuk selalu hiraukan pesan mereka. You are so much better than this!

Nah… sekian tips dan trik yang bisa kamu terapkan apabila kamu sedang terjebak dalam situasi ini dan hatimu merasakan perasaan yang tidak nyaman akibat kelakuan dari si pelaku ghosting. Seperti apa yang dibilang oleh Jennice Vilhauer, PhD, seorang psikolog dan konsultasi yang menulis buku tentang ghosting, bahwa hal yang paling penting dalam suatu hubungan adalah:

“Know your own value, It’s really important to understand that you have value as a human being and to know that. If you don’t feel that you’re being treated in a way where you are being valued, it’s important to be able to make that choice yourself to say that this is not acceptable to you. This behavior is not okay. And you are willing to walk away from this”

BACA JUGA: Pertolongan Pertama Dalam Mengatasi Kecemasan

Referensi Gambar Header: Ghosting