[Seri 2 Urgensi GN] : Siklus Potensial Paguyuban

Mohon maaf kawan karena pada tulisan sebelumnya belum dijelaskan apa itu GN, maka disini kita akan coba mengenal secara singkat GN. GN merupakan Gerakan Nusantara yang awalnya bernama Paguyuban Nusantara. Wadah ini merupakan forum sinergisasi pergerakan paguyuban-paguyuban daerah yang ada di UI. Cita-cita besar dari gerakan ini adalah terwujudnya pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.

Terlalu lebay memang kawan, namun kita bisa buktikan nanti. Dalam seri pertama kita sudah membahas apa perbedaan antara paguyuban dan organisasi. Kesimpulannya paguyuban merupakan salah satu bentuk organisasi yang berbasis azas kekeluargaan. Hal inilah yang menjadi salah satu poin plus dan juga karakter dari organisasi tersebut. Sementara dalam seri kedua ini kita akan bahas apa urgensi dari keberadaan paguyuban tersebut. Yang pasti mereka bukan gerakan separatis berpaham primordial. Camkan itu kawan!

Ada sebuah peranan sentral dari paguyuban-paguyuban tersebut yang selama ini jarang disadari manfaatnya oleh sebagian besar sivitas akademika UI. Peranan ini jugalah yang merupakan sebuah pengantar untuk meneliti lebih jauh definisi lebih dalam dari paguyuban ini. Peranan sentral ini berawal dari sebuah sistem yang berjalan dalam bentuk siklus yang selama ini masih belum cukup optimal dijalankan oleh seluruh paguyuban.

Siklus ini dibagi menjadi tiga fase yaitu : penggalian potensi daerah, kaderisasi, dan pengembangan sistem. Penggalian potensi daerah disini yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh paguyuban yang bersentuhan langsung dengan daerah asalnya seperti salah satu contohnya yaitu kegiatan kunjungan (roadshow) yang dilakukan ke sekolah-sekolah setingkat SMA yang bertujuan memberikan pencerdasan pendidikan dalam bentuk pemberian motivasi dan informasi-informasi terkait perguruan tinggi kepada para siswa SMA dan sederajat.

Salah satu kegiatan tersebut berdasarkan hasil evaluasi ternyata telah berhasil meningkatkan antusiasme mereka untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi yang lebih baik. Hal ini tentunya secara tidak langsung berarti telah sukses menggali potensi-potensi yang awalnya terpendam karena minimnya informasi dan motivasi.

Selanjutnya yaitu kaderisasi, maksudnya disini adalah setelah potensi-potensi tadi berhasil digali maka untuk mengawal potensi-potensi tersebut agar tetap dapat berkembang pada jalurnya tentunya dibutuhkan pembinaan yang optimal agar dapat menghasilkan hasil yang maksimal.

Setelah kaderisasi mampu terselenggara dengan baik maka diharapkan potensi-potensi tersebut akhirnya dapat mengembangkan sistem-sistem yang telah ada sebelumya di paguyuban mereka menjadi lebih kreatif dan bermanfaat tentunya.

Sistem yang semakin baik otomatis mempengaruhi pola penggalian potensi daerah juga menjadi lebih masif yang akan diselenggarkan selanjutnya. Hal ini tentu juga akan berbanding lurus dengan hasilnya nanti yaitu : semakin banyaknya potensi yang akan tergali. Jika siklus tersebut digambarkan secara kuantitas maka hal ini akan seperti obat nyamuk bakar, semakin lama semakin membesar.

Jika siklus ini mampu dioptimalkan kinerjanya secara merata di seluruh daerah di Indonesia oleh masing-masing paguyuban, bayangkan dua puluh tahun lagi maka universitas indonesia akan menjadi the real university of indonesia. Bukankah hal ini seharusnya yang menjadi salah satu misi dari kampus ini ?

Tidak hanya disampai disana kawan, tahukah kau kelanjutannya?

Tunggu edisi berikutnya..

2 thoughts on “[Seri 2 Urgensi GN] : Siklus Potensial Paguyuban”

Leave a Comment