Sri Mulyani: Sebuah Kesan dan Opini

Saya tidak akan membahas mengenai kasus Bank Century di sini (mungkin lain kali). Saya juga tidak akan membahas mengenai kuliah umum Sri Mulyani dan insiden demo dari Front Aksi Mahasiswa Universitas Indonesia (FAM UI) yang menyertainya. Dua hal tersebut bisa Anda ikuti dengan lebih lengkap di tempat lain, salah satunya di Sri Mulyani Back to Campus for Academic Lecturing not Political Reason, Tentang Rusuh Demo Mahasiswa Saat Kedatangan Ibu Sri Mulyani Hari Ini, atau pada Kronologis dan Tujuan Aksi FAM UI 8 Maret 2010; tapi yang pasti bukan pada tulisan ini. Di sini, saya hanya ingin mencermati dan berbagi kepada Anda mengenai sosok Sri Mulyani; versi saya tentunya.

Foto : FAM UI Menghadang Mobil Rombongan Menkeu
Sumber : MetroTvNews.com (lihat video)

Sejatinya Sri Mulyani dijadwalkan akan memberikan kuliah umumnya pada hari Kamis, 4 Maret 2010 pukul 08.00 WIB, bertempat di Auditorium Soeria Atmadja, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI), kampus baru UI Depok. Pada 3 Maret 2010, tepat 1 hari sebelum hari-H, penulis menerima SMS dari panitia bahwa kuliah umum Sri Mulyani dibatalkan dan diundur menjadi tanggal 8 Maret 2010 dengan waktu dan tempat yang sama. Kecewa, sudah pasti.

Tapi wajarlah, toh beliau pasti punya alasan dan kesibukan tersendiri; terlepas dari Pansus Century yang akan melaporkan hasil kerjanya pada sidang paripurna DPR RI di minggu itu. Toh juga ekonomi takkan mungkin bisa terlepas secara penuh dari politik (itulah alasannya mengapa mata kuliah Ekonomi Politik masih diajarkan sampai sekarang). Masih untung cuma diundur, tidak dibatalkan; pikir saya waktu itu.

8 Maret 2010 saya kembali datang ke kampus, sedikit terlambat memang, yah mungkin sekitar 10 menit (dari jam 08.00 WIB). Tampak para pengawal ataupun rombongan dari ibu Sri Mulyani sudah terlihat berjaga-jaga di depan gedung dekanat, di mana kuliah umum itu akan berlangsung. Ah, Sri Mulyani pasti belum datang, toh para pengawal sedang bersiap-siap untuk menyambut beliau sekarang; pikir saya saat itu. Menunggu terlalu lama kehadiran beliau di kursi depan Biro Pendidikan (suatu bagian di gedung dekanat), saya pun berinisiatif untuk langsung masuk saja ke ruang auditorium; lumayan bisa ngadem dulu kan. Ternyata kuliah umum sudah dimulai dari tadi oleh Sri Mulyani.

Untung saja saya masih bisa masuk (walaupun cuma kebagian duduk di bagian belakang), padahal hampir semua ternyata sudah terisi penuh. TEPAT WAKTU. Itu hal pertama yang menjadi kesan saya pada beliau. Minimal, dia sudah membuktikannya di hari itu (Hari lain? Jangan tanya saya lah.. Mana saya tau.. Hahaha :-)), walaupun dia pasti memiliki kesibukan yang jauh-jauh di atas saya.

Saya pun duduk di sebelah kanan auditorium bagian belakang. Tak lama teman saya yang bernasib sama pun datang. 10 menit pertama, dari gaya berbicara beliau saya menemukan satu hal yang menjadi kesan kedua saya. TEGAS dan LUGAS. Ya, begitulah kesan yang saya tangkap (bahkan mungkin kebanyakan orang) dari gaya berbicaranya. Tapi bukankah salesman pun gaya bicaranya tegas dan lugas ya? Ya memang. Tapi tentu terserah Anda bagaimana melihatnya, bagi saya ini suatu kesan yang baik dan patut diapresiasi. Toh ini negara demokrasi, semua orang memiliki hak untuk berpendapat. Termasuk saya dan Anda tentunya.

Foto : Sri Mulyani pada sesi tanya jawab kuliah umum “Dinamika Perekonomian Indonesia” di FEUI Depok.

Materi kuliah ini tergolong cukup berat (bisa didownload pada link di akhir tulisan ini) dan menggunakan berbagai macam model ekonomi yang diilustrasikan (tentunya) melalui grafis/kurva-kurva (seperti layaknya kuliah umum dari mata kuliah jurusan Ilmu Ekonomi). 30 menit pertama, saya masih terjaga. Bahkan masih sempat mengupdate status twitter saya melalui ponsel. 30 menit kedua juga masih tetap terjaga akibat dari gaya bicara beliau yang lugas, sederhana, mudah dimengerti dan kadangkala juga diselipi dengan lelucon segar.

Ajaibnya, sampai akhir kuliah pun saya masih terjaga (haloo.. emang kalo kuliah lo ngapain aja? tidur? :D). Yap, kesan ketiga saya pada beliau adalah HUMORIS dan TIDAK MEMBOSANKAN. Beliau bisa menjaga ritme perkuliahannya dengan sangat baik. Ah, andaikan semua dosen FEUI seperti ini, terutama dosen Koperasi saya dulu :).

Di tengah-tengah perkuliahan beliau terkadang sedikit menyimpang dari topik untuk memastikan bahwa kita masih terjaga. Akan tetapi hal tersbut tetap berada dalam substansi yang berkaitan. Misalnya, beliau bercerita tentang pajak dan mengaitkannya dengan mahasiswa di kelas beliau ataupun dengan sebuah film dari Hollywood. Pada sesi tanya jawab, ketika ada seseorang yang bertanya mengenai akuntansi dan beliau pun mau tak mau harus harus menjawabnya, beliau dengan jujur mengakui bahwa beliau kurang confidence bila berbicara mengenai akuntansi. Beliau mengatakan bahwa akuntansi itu seputar debit, kredit, dan balancing, dan beliau kurang suka dengan hal seperti itu. “Eh, taunya sekarang saya malah disuruh ngurusin begituan (baca : anggaran)..”, begitu kira-kira selorohnya.

Atau pada kesempatan lain beliau kurang lebih berkata, “Saya tidak terlalu mengerti akuntansi dulu semasa kuliah.. tapi ya, saya tidak bego-bego amat..”. JUJUR dan RENDAH HATI, ya itu satu kesan lagi yang saya dapat. Bahkan seorang Sri Mulyani pun mengakui bahwa ia kurang percaya diri bila berbicara mengenai Akuntansi. Saya? Jangan tanya… ๐Ÿ™

Foto : Screenshot dari timeline Twitter penulis

Di akhir kuliah, pada sesi tanya jawab, ada salah seorang penanya yang menanyakan mengenai kasus Bank Century yang saat itu (bahkan sekarang pun masih) terkait erat dengan beliau. Namun, beliau memilih tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan alasan tidak sesuai dengan topik kuliah di hari itu (baca : Dinamika Perekonomian Indonesia). Menurut saya tindakan beliau tidak salah namun belum tentu benar juga. Tepat? Wah saya tidak tahu.. Yang jelas, saya juga akan mengambil tindakan seperti itu bila berada pada posisi beliau seperti saat itu. Manusiawi toh..

Itulah beberapa opini dari saya mengenai seorang Sri Mulyani. Baik semua ya.. Yang jeleknya mana? Oke, yang kurang saya suka adalah beliau kerap kali “menyindir” pihak-pihak lain yang notabene menurut saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kuliah saat itu. Beliau kurang konsisten (menurut saya). Tidak mau menjawab pertanyaan mengenai kasus Bank Century, namun seringkali menggunakan sindiran yang terkait dengan kasus Bank Century tersebut (walaupun digunakan sebagai guyonan agar peserta tidak mengantuk dan ini terbukti efektif :D).

Oya, bagi rekan-rekan yang tidak bisa hadir pada saat kuliah umum 8 Maret kemarin (atau bagi yang siapa saja yang berminat), materi kuliah umum Sri Mulyani “Dinamika Perekonomian Indonesia” bisa didownload di sini.

Tentunya tulisan singkat ini tidak bisa menggambarkan beliau secara 100% dengan segala kekurangan dan subjektivitas yang timbul. Tulisan ini juga tidak membahas apakah beliau bersalah atau tidak dalam kasus Bank Century; toh tulisan ini tidak dimaksudkan untuk itu sebagaimana telah saya jelaskan pada bagian awal tulisan ini. Minimal saya sudah menyampaikan pendapat saya mengenai beliau (baca : Sri Mulyani), walaupun secara terbatas. Bagaimana dengan Anda?

PERHATIAN. Tulisan ini dibuat dengan tujuan untuk berbagi kepada publik mengenai sosok Sri Mulyani Indrawati, yang saat ini (masih) menjabat sebagai Menteri Keuangan RI (dari sudut pandang seorang mahasiswa FEUI dengan segala subjektivitas dan kelemahan yang ada); terutama mengenai kesan-kesan dari penulis terhadap beliau.

Penulis bukanlah penggemar / fans beliau dan bukan pula partisan dari partai tertentu. Perlu diingat, tulisan ini berupa opini pribadi dan telah diposting oleh penulis pada kategori “Opini”. Penulis bertanggung jawab sepenuhnya atas tulisan ini sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku.

Tulisan ini juga dimuat pada http://iqbal24mei.wordpress.com/ dengan judul yang sama.

6 thoughts on “Sri Mulyani: Sebuah Kesan dan Opini”

  1. bang, tolong dong bikin semacam review kuliah Sri Mulyani dengan bahasa awam…soalnya biarpun dah baca PDF kuliahnya teep aja gw gak ngerti,hehehe..paling yang ngerti anak FE doang kan..

    Reply

Leave a Comment

error: This content is protected by the DMCA