Euforia lebaran itu identik sama yang namanya ngumpul bareng keluarga besar. Rame dan banyak makanan.  Kontras banget sama kehidupan anak kosan pada umumnya yang di kamar sepi dan gak banyak makanan. Nah, lebaran adalah momen ketika anak kosan harus meninggalkan habitat asli dan berkumpul bareng keluarga—kasian banget kalau harus stay dan lebaran di kosan, berbaikan dengan ibu kos yang tengil. Kelakuan dan suka duka anak kos ketika lebaran dilatarbelakangi oleh jiwa anak kos yang melekat dalam diri sehingga mereka harus melalui libur lebaran dengan hal-hal ini.

“Food. I see food!”

"Hmm, bisa dibawa ke kosan nggak ya?" (Sumber:)

“Hmm, bisa dibawa ke kosan nggak ya?” (Sumber: irfanprabudiansyah)

Ada banyak makanan dengan berbagai jenis; kue basah, kue kering, opor ayam, rendang, ketupat, biskuit, semua deh. Setidaknya pasti terbersit yang namanya keinginan – atau hasrat, lebih tepatnya – untuk membawa makanan-makanan itu ke kosan. Segitunya ya, anak kosan kalo liat makanan?

Iya. Serius. Bukannya rakus atau gimana, tapi salah satu bentuk joy of life bagi anak kosan adalah ketika ada makanan bersemayam di kamar ketika lapar menyerang pukul 2 dini hari. Mereka bakal harap-harap cemas, apakah makanan sisa bisa dibawa ataukah malah makanannya diabisin duluan sekeluarga.

Berkaitan dengan makanan, beberapa anak kosan yang sudah stadium empat biasanya memiliki keterikatan sama kertas nasi. Iya, kertas nasi yang coklat itu, yang biasanya membungkus mulai dari nasi padang sampe makanan warteg. Ada sensasi kenikmatan sendiri ketika makan nasi satu kepal, dan gak perlu repot-repot cuci piring selesai makan.

Bincang-bincang

"Pacar kamu mana?" (Sumber:)

“Pacar kamu mana?” (Sumber:Photo Credit: juhansonin via Compfight cc)

Mari sama-sama mengakui kalau di mana pun dan kapan pun, smartphone selalu ada dalam jangkauan kita. Salah satu momen yang paling mainstream buat pengguna smartphone adalah ritual scrolling down socmed sebelum tidur, diikuti chatting all-day. Terus kenapa? Ya gini deh, kamu pasti bebas melakukan itu ketika masih di habitat asli (baca: kosan), sedangkan saat lebaran kamu dikelilingi sama keluarga.

advertisement

Entah itu kamu diajak ngobrol sama om yang selalu lupa kamu tuh kuliah di mana meskipun udah kamu kasih tau setiap kali ketemu, atau tante yang inget banget sama kamu dan keep on asking gimana kuliahnya, kapan lulus dan gimana kehidupan asmara kamu saat ini. Kamu gak bisa dengan bebas bergaul dengan smartphone karena salah-salah malah salah jawab dan salah ngetik: yang harusnya diketik malah diomongin, yang harusnya diomongin malah diketik. Atau ketika lagi ngepoin foto orang, kamu gak fokus karena diajak ngobrol sama om, dan hampir saja nge-like foto orang yang bersangkutan padahal itu foto dua bulan yang lalu.

Jaga Image

Jaga image. (Sumber: gagusketut)

Jaga image. (Sumber: gagusketut)

Ada peraturan tak tertulis bahwa ketika disekitar keluarga, harus jaga image supaya terlihat baik. Kan, repot, kalau misalnya udah terbiasa bangun pukul 8 kurang 5 untuk ke kampus dan gak pake acara mandi, sementara selama libur Lebaran harus bangun pagi-pagi padahal gak ada kepentingan yang mendesak.

Tidur pun gitu, was-was kalau nyatanya kamu tidur ngorok, ngangkang, atau malah sleep walking. Keluarga yang baik gak bakal nge-judge sih, paling cuma dijadiin bahan lawakan kalo lagi pada ngumpul. Kamu gak bisa lagi deh tuh tiduran dengan posisi akrobatik, guling-guling nista di lantai kalau lagi bosen, atau “tanpa sengaja” kentut dan memecah keheningan; jaga image.

Toleran?

Kekuatan tante-tante yang penngin nonton sinetron. (Sumber:)

Kekuatan tante-tante yang penngin nonton sinetron. (Sumber: agustinasyuhada)

Lebaran itu ajang buat jadi toleran, terutama buat anak kosan yang sedang berada di sekitar saudara dan keluarga. Simply because anak kos kalo di kosan ya gak perlu jadi toleran, atau malah gak ada orang untuk ditolerir.

Contohnya, ketika di kosan dan tetangga kosan sebelah kamar malem-malem nyanyi lagu My Heart Will Go On ala Celine Dion, sementara suaranya untuk nyanyi Balonku aja gak mumpuni. Maka di chorus kedua, upayanya sejak awal lagu untuk terdengar melengking malah bikin bunyi megap-megap dead tune gitu, ganggu banget. Kamu yang gak perlu toleran dan bisa aja setel lagu yang sama di laptop dan speaker-nya pake suara full. Itu legal.

Namun ketika libur lebaran, kamu harus toleran. Ketika tante atau sepupu bersenandung, ya kamu gak bisa ngatain suaranya jelek. Ketika kamu mau nonton acara TV yang berkualitas, keluarga besar berebut remote TV pada waktu prime time, dan kamu harus menolerir dengan menonton acara yang dipilih oleh pemegang remote, entah itu berita infotainment atau malah sinetron gak jelas yang never ending.

advertisement

Kamu punya laptop atau smartphone yang bagus dan ada gamenya, harus rela membiarkan sepupu-sepupu atau ponakan-ponakan yang cilik-cilik itu mainin game kamu sementara kamu cuma pasang muka melas. Di kosan, gak ada acara tuh yang begitu. TV aja gak ada, lalu bisa main game sepuasnya.

Mau jalan-jalan pun harus sama keluarga yang seleranya belum tentu sama. Kamu yang doyan rendang bisa aja harus puasa makan rendang dan bela-belain ngikut makan gudeg, hanya karena itu pilihan sekeluarga. Kamu langsung kangen kosan dan Indomie goreng.

Hoi mahasiswa ada ga yang dikepoin sama keluarga atau saudaranya dengan enam pertanyaan ini pas lebaran kemarin? Share pengalaman kamu ditulisan itu ya.

Gimana, ada lagi yang harus kamu hadapi saat libur lebaran sebagai anak kos yang terlanjur cinta sama kosan? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter & Line, siapa tau temen-temen yang lain juga merasakan hal yang sama!

 



[reaction_buttons]