Status UI Sebagai PTN-BH, Apa Sih Maksudnya?

Universitas Indonesia dikenal sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang berada di bawah naungan pemerintahan Indonesia. UI telah berdiri sejak tahun 1949 silam. 67 tahun berdiri, semua orang cuma tau kalau kampus makara adalah PTN. Namun, ternyata ada embel-embel tambahan di belakangnya, yakni PTN-BH. Anyway, status UI sebagai PTN-BH itu apasih maksudnya?

PTN-BH adalah singkatan dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. Perguruan tinggi yang berstatus PTN-BH adalah perguruan tinggi yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom. Dulunya dikenal sebagai PTN BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Status BHMN sendiri sudah ada sejak tahun 2000 dengan sejumlah PTN yang memiliki gelar tersebut. Empat Perguruan Tinggi Negeri yang pertama kali menyandang status BHMN dulu adalah UI, UGM, IPB, dan ITB.

Dengan menyandang status BHMN, perguruan tinggi tersebut memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri. Sementara itu, PTN yang tidak memiliki status BHMN/BH tidak memiliki otoritas dalam menentukan anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri. Setelah mengalami berbagai perubahan nama, BHMN pun diputuskan pada tahun 2012 berdasarkan Undang-Undang nomor 12 tentang Pendidikan Tinggi, menjadi PTN-BH.

Sampai tahun 2016 lalu, status PTN-BH telah diterima 11 perguruan tinggi. Tak sembarangan, pemerintah menerapkan persyaratan ketat bagi perguruan tinggi yang berhak menyandang gelar tersebut. Berbagai indikator ditetapkan, di antaranya perguruan tinggi bersangkutan harus masuk dalam peringkat sembilan besar nasional dalam publikasi internasional dan paten, telah berakreditasi “A” oleh BAN-PT, opini keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama dua tahun berturut-turut, serta perolehan prestasi kegiatan kemahasiswaan di level internasional.

 

BACA JUGA: Keputusan Akhir tentang Kenaikan Biaya Kuliah di UI Ditentukan Hari Ini

 

Apa sih keuntungannya?

Pasti banyak yang bertanya-tanya tentang perbedaan dan keuntungan dari status PTN-BH, “Toh sama-sama berstatus PTN, berarti sama saja dibiayai pemerintah tho?”

Ternyata tidak demikian guys. Selain pengakuan bahwa perguruan tinggi bersangkutan adalah perguruan tinggi berprestasi dan terbaik, tapi juga ada beberapa perbedaan lainnya. Pertama, penetapan PTN-BH diputuskan langsung dari Pemerintah Pusat, sedangkan PTN BLU (Badan Layanan Umum) yang biasa, ditetapkan atas Keputusan Menteri Keuangan atas usul Menteri Ristek Dikti.

Kedua, PTN-BH memiliki otonomi luas dalam hal akademik. Salah satunya, jika ada penutupan dan pembukaan program studi anyar, PTN-BH tidak perlu lagi persetujuan pemerintah, alias bebas melakukannya. Sementara, PTN BLU/Satker tidak bisa sewenang-wenang, dan harus berdasarkan keputusan pemerintah.

Ketiga, PTN-BH menetapkan tarif biaya pendidikan berdasarkan pedoman teknis yang ditetapkan langsung oleh menteri. Jadi, dalam menetapkan biaya pendidikan, PTN-BH wajib berkonsultasi langsung dengan menteri, berdasarkan pertimbangan keuangan mahasiswa, gaji orang tua, atau kemampuan pihak lain yang membiayai mahasiswa. Makanya nggak heran kalau UI punya BOP Berkeadilan, yang merupakan salah satu hak dasar yang dimiliki mahasiswa, murah, dan tidak memberatkan mahasiswanya. Sementara, PTN lain tanpa status Badan Hukum, cenderung menetapkan UKT atau biaya pendidikannya semena-mena, makanya sering banget tuh kita liat demo mahasiswa cuma gara-gara UKT yang nggak logis.

Keempat, meskipun terbilang terjangkau dalam biaya pendidikannya, namun bukan berarti kualitas dan fasilitas kampus yang berbadan hukum itu jelek, usang, dan nggak banget. Justru itu, mereka nggak ambil untung dari biaya pendidikan, tapi pendapatannya berasal dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Dari segi aset dan fasilitas yang dimiliki PTN-BH, secara resmi dimiliki PTN itu sendiri, walaupun itu berasal dari aset negara, tapi menjadi aset negara yang dipisahkan loh. Beda fasilitas dan aset bangunannya, tanah yang menjadi tempat berdirinya PTN-BH secara utuh milik negara yang diperoleh dari APBN.

 

Eniwei, perguruan tinggi mana aja sih yang dapet privilege itu?

Tentu yang pertama adalah kampus kita dong, Universitas Indonesia. Kemudian ada UGM, ITB, dan IPB di tahun yang bersamaan dengan penetapan BHMN. Setelah itu, pada tahun 2003, USU juga menerapkan, disusul UPI pada tahun 2004, UNAIR pada tahun 2006, dan UNPAD, UNDIP, UNHAS, serta ITS di tahun yang sama yakni 2015.

So, jangan bingung lagi ya teman-teman dengan gelar PTN-BH yang disandang UI. Sebagai kampus yang terus berprestasi di kancah mancanegara, nggak heran kalau kampus perjuangan selalu menjadi pejuang negara untuk terus menjadi yang terbaik di Indonesia, Asia, dan dunia. Bagikan artikel ini ke seluruh teman kamu di akun Facebook, Twitter, dan Line kamu agar semua orang nggak bingung lagi bedanya PTN-BH dan PTN BLU/Satker, atau biasa!

 

BACA JUGA: Adik SMA Pengen Berhasil Diterima di UI atau PTN Lain? Jangan Lakuin Hal-hal Ini Ya!

[Diskusi] Apa Pendapatmu tentang Mahasiswa yang Hanya Fokus di Akademis?

Pada kesempatan kali ini anakui.com ingin berdiskusi dan berbagi pendapat bersama teman-teman semua mengenai salah satu jenis mahasiswa.

Sebelumnya mungkin temen-temen udah pada tau mahasiswa itu banyak jenisnya, mulai dari yang aktivis dan organisatoris, mahasiswa yang apatis tapi ngegaul sana sini, sampai mahasiswa yang cuma fokus sama urusan akademisnya a.k.a akademisi. Nah inilah yang mau kita jadikan bahan diskusi online kali ini.

Menurut admin, mahasiswa yang tergolong akademisi dan ambisius itu memiliki banyak alasan mengapa ia melakukan hal yang demikian. Kira-kira kenapa ya?

 

1. Kuliah merupakan Hal yang Amat Berharga Baginya & Keluarganya

Tidak jarang bagi mereka yang memiliki kekurangan dalam hal finansial menganggap kuliah adalah hal yang langka dan berharga di keluarganya, oleh karena itu ia harus memaksimalkan kuliah untuk belajar, karena mungkin ada kesibukan dan tanggung jawab lain baginya untuk membantu nafkah keluarga. Walau sedikit di kampus yang mengetahui keberadaan mereka, di rumah mereka adalah harapan terbesar keluarganya untuk dapat bertahan.

2. Tujuan Hidup

Tujuan dan cita-cita setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang berusaha mati-matian masuk perguruan tinggi ternama benar-benar ingin belajar dan mengejar cita-cita mereka, dan ada pula golongan yang hanya sekedar gengsi, bahkan dia sendiri tidak paham nantinya akan mempelajari apa.

Mereka yang akademisi cenderung berjuang mati-matian untuk dapat berkuliah di tempat yang mereka inginkan, dan setelah mereka mendapatkannya, tentulah mereka juga harus berjuang mati-matian demi bertahan dan lulus dengan hasil memuaskan.

Bisa juga, tujuan mereka kelak memang menjadi dosen atau peneliti, atau akademisi dalam arti sebenarnya.

3. Tidak Tertarik Mengikuti Aktivitas Lainnya

Sesungguhnya hidup itu penuh dengan pilihan. Termasuk fokus di akademis. Nah ini juga menjadi alasan mengapa seseorang menjadi akademis, tidak tertarik mengikuti aktivitas lain seperti organisasi, entrepreneurship, dan sebagainya. Satu alasan simpel dan sederhananya adalah… “ya gue ga tertarik”. Minat, bakat, dan ketertarikan setiap orang memang berbeda-beda, dan sudah sepantasnya kita menghargai prinsip dan pilihan orang tersebut.

Buat bahan awal diskusi, segini dulu dari admin mengenai mengapa beberapa mahasiswa memilih untuk menjadi fokus di akademisnya, karena pasti orang tersebut memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih jalan tersebut. Setiap orang pada dasarnya baik akan pilihannya masing-masing dan berhak sukses atas segala apa yang telah diusahakannya.

Jadi bagaimana pendapatmu tentang mahasiswa yang hanya fokus di dunia akademisnya?

Ditunggu komentarnya ya!

 


Artikel dengan judul [Diskusi] adalah artikel yang mengundang teman-teman semua untuk berbagi pendapat lewat kolom komentar. Yuk ramaikan kolom komentar dengan merbagi apa pendapat kamu tentang topik ini?

Kalau teman-teman punya topik yang bisa memancing diskusi seperti ini, tulis saja di anakUI.com ya!


Gak Apa-apa IP Turun :)

Hai, teman-teman 🙂 Apa kabarnya nih setelah melihat nilai-nilai di SIAK bermunculan? Merasa lebih baik karena sesuai dengan harapan? Atau merasa lebih tidak baik karena tidak sesuai dengan harapan? Atau bahkan biasa-biasa aja? Emmm, ada … Baca Selengkapnya