Jaga Indonesia, Hidup Rakyat Indonesia: Aksi Tolak Hak Angket KPK

Akhir-akhir ini, sosial media kembali diwarnai oleh pemberitaan aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa. Tertanggal 7 Juli 2017, mahasiswa UI kembali menggelar aksinya dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Berbeda dari biasanya, aksi yang bertemakan “Tolak Intervensi, Berantas Korupsi” ini digalakkan bersama dengan para mahasiswa ITB, ILUNI UI, para akademisi mulai dari mahasiswa tingkat S1, S2, S3, hingga guru besar sekalipun, beserta para seniman dan juga Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara yang semuanya menyatakan keberpihakannya terhadap KPK.

Aksi ini digalakkan terkait dengan disahkannya usulan hak angket DPR kepada KPK oleh Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR yang sebelumnya juga menuai kericuhan pada rapat paripurna DPR. Pasalnya, keputusan rapat paripurna yang terjadi pada 28 April 2017 tersebut dirasa merupakan keputusan sepihak Fahri Hamzah karena mayoritas anggota DPR yang hadir tidak menyetujui usulan tersebut dengan alasan letak keberpihakan aspirasi yang tidak tepat (dilansir dari www.kumparan.com). Di sisi lain, BEM UI sendiri terdorong untuk menggalakkan aksi ini karena menilai bahwa hak angket tersebut merupakan upaya pelemahan KPK (dengan dibentuknya Panitia Khusus Hak Angket) serta dengan diangkatnya Agun Gunanjar sebagai ketua Pansus beserta beberapa orang lainnya yang sesungguhnya merupakan orang-orang yang terduga terlibat dalam kasus korupsi e-KTP.

 

#ShameOnYouDPR (via detikNews)

 

BACA JUGA: Mengenai Aksi 121 BEM SI, Ini Tanggapan BEM Se-UI!

 

Dalam aksi yang digelar di depan gedung DPR ini, para mahasiswa dan segenap massa menuntut DPR untuk segera membubarkan panitia khusus hak angket DPR serta menarik pengajuan hak angket terhadap KPK tersebut. Massa terus menyuarakan aspirasinya dan menunggu pemenuhan janji oleh sang wakil ketua DPR, Fahri Hamzah untuk ditemui dan membuka dialog. Namun, sayangnya massa tidak dapat menemui beliau dengan alasan sedang berhalangan hadir karena agenda lain. Akhirnya, seperti yang sudah terviralkan di sosial media, para mahasiswa diundang masuk untuk melakukan audiensi dengan Panitia Khusus Hak Angket. Di dalam audiensi tersebut mahasiswa terus mendesak para Panitia Khusus yang dipandang sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melakukan klarifikasi dan dialog terbuka di depan massa yang terus menunggu di depan gedung DPR. Akan tetapi, para anggota DPR terus berkelit dan bersikukuh untuk mengadakan dialog di dalam forum tertutup tersebut.

 

Hidup Rakyat Indonesia (via infoteratas.com)

Awalnya, dialog berjalan dengan sangat baik, akan tetapi kericuhan mulai terpicu ketika salah satu anggota Pansus dari fraksi PDIP mengatakan, “Koruptor itu juga manusia, sudah maafkan koruptor. Jangan kejam-kejamlah”. Hal tersebut langsung membuat para mahasiswa terpicu. Di sisi lain, para Pansus merasa kurang dihargai karena para mahasiswa memilih untuk tidak menandatangi absen yang diedarkan. Hal itu pun membuat para anggota Pansus beralasan untuk tidak menemui massa karena merasa perwakilannya sendiri dinilai kurang tertib. Akan tetapi, bersumber dari salah satu mahasiswa UI, pihak mahasiswa sendiri mempertimbangkan untuk tidak menandatangani absen tersebut untuk mewaspadai supaya tidak menjadi celah tersendiri bagi para mahasiswa UI dan ITB. Dikhawatirkan penandatangan tersebut bisa dipelintir menjadi sebuah persetujuan oleh mahasiswa UI dan ITB terhadap hak angket dan lain sebagainya. Dialog ini pun berakhir tanpa titik temu dengan pengetukan palu secara sepihak oleh ketua Pansus.

Selengkapnya dapat dilihat di video berikut:

Video kericuhan audiensi tersebut memang semakin viral hari-hari ini. Hal itu membuat masyarakat memberikan komentar-komentar tersendiri. Ada yang mendukung aksi mahasiswa tersebut tapi banyak pula yang menyayangkan sempat terjadinya kericuhan. Bagaimanapun, mahasiswa akan tetap berjuang menyuarakan aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Hak angket akan terus terdampingi dengan sedemikian rupa. Aksi Tolak Angket tertanggal 7 Juli 2017 itu pun belum menyentuh babak final dan akan ada tindak lanjut lagi dari mahasiswa UI.

Satu hal yang pasti adalah mahasiswa tidak akan membiarkan rakyat Indonesia tertindas dan memperjuangkan haknya sendirian. Mahasiswa tidak akan membiarkan bangsa ini membunuh dirinya sendiri dengan korupsi yang merajalela. Agent of change tidak hanya menjadi sebuah istilah bagi mahasiswa UI, melainkan sebuah gaya hidup dan tujuan penuh arti. Kini, apabila kamu merasa perlu menjaga negeri, marilah berdiri dan berantas korupsi.

HIDUP  RAKYAT  INDONESIA!

 

BACA JUGA: Seperti Apa Mahasiswa UI Hari Ini di Mata Masyarakat?

ACTION! 2.0

Apa iya mahasiswa idealnya gak cuma belajar? Terus, kita sebagai mahasiswa harusnya ngapain? Emang apa sih, gerakan mahasiswa itu?   Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, Departemen Kajian dan Aksi Strategis BEM IM FKM UI 2017 mempersembahkan … Baca Selengkapnya

Mengenai Aksi 121 BEM SI, Ini Tanggapan BEM Se-UI!

Beberapa bulan belakangan ini, Indonesia banyak dirundung masalah. Gejolak politik yang kian membara, hampir memberangus keberagaman dan kedaulatan negara. Belum kelar polemik penistaan agama yang dibungkus dengan isu makar, memasuki awal tahun 2017 ini, Indonesia kembali kedatangan masalah anyar yang membuat gerah para aktivis dan mahasiswa untuk terjun langsung mempertanyakan berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai gagal memenuhi kebutuhan ‘wong cilik’.

Melipir ke Tragedi ’98 dan Semanggi yang diinisiasi oleh kebersatuan mahasiswa dalam menggalakkan massa untuk menuntut reformasi terhadap rezim Soeharto, kini BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) kembali menyerukan aksi bertajuk “Reformasi Jilid 2” hari ini, 12 Januari 2017 atau disebut Aksi 121. Rilis pemberitaan yang datang langsung dari website resmi BEM SI itu menghimbau agar seluruh mahasiswa di Indonesia turun dan meramaikan jalan, guna menuntut kebijakan pemerintah yang dinilai semena-mena dan main-main dalam membuat berbagai keputusan.

Aksi Bem SI 20 Mei 2015 (via teropong)

Tertanda Koordinator Pusat BEM SI yang juga Ketua BEM UNJ, Bagus Tito Wibisono menggencarkan gelora aksi bela rakyat hari ini. Aksi itu merujuk kepada beberapa hal dan kebijakan yang dinilai sewenang-wenang dan saling lempar tanggung jawab oleh pemerintah. Beberapa hal yang menjadi poin penting berdentumnya jantung para mahasiswa itu, antara lain:

· Kenaikan harga BBM non subsidi sebesar Rp 300,00 per liter
· Pencabutan Subsidi Listrik Golongan 900VA
· Kenaikan Tarif Administrasi STNK, TNBK, dan BPKB.

Berkaitan dengan seruan aksi 121 itu, BEM Se-UI yang baru saja mengalami pergantian kepemimpinan baru, langsung bereaksi menanggapi masalah ini. Mujab, selaku Ketua BEM UI, mengeluarkan rilis Evaluasi bersama BEM Se-UI untuk meninjau berbagai masalah kebijakan teranyar yang dikeluarkan pemerintah di tahun ini.

 

BACA JUGA: Sudah Kenalkah Kita dengan Pemimpin BEM Universitas Indonesia yang Baru?

 

BEM Se-UI menilai kenaikan BBM, meskipun kecil, tentu akan berdampak pada perekonomian. Sebab, kenaikan BBM kali ini timbul berbarengan dengan kenaikan harga komoditas pasar lainnya. Sementara, pencabutan subsidi listrik golongan 900 VA, dinilai akan merusak daya beli dan meningkatkan inflasi. Kenaikan biaya Tarif Dasar Listrik, dalam evaluasi BEM Se-UI, dapat mengakibatkan komponen biaya masyarakat semakin bertambah dan mengurangi daya beli kebutuhan yang lain. Sedangkan, kenaikan tarif administrasi STNK, TNKB, dan BPKB justru menunjukkan bagaimana negara melihat rakyat hanya sebagai sumber pendapatan bukan sumber pengembangan negara agar lebih unggul.

BEM Se-UI juga mempertanyakan, mengenai pejabat pemerintahan yang saling lempar tanggung jawab pada masalah kenaikan tarif administrasi STNK, TNKB, dan BPKB tersebut. Hal itu terjadi ketika Presiden Joko Widodo justru mempertanyakan perihal kenaikan administrasi surat kendaraan tersebut. Padahal, PP kenaikan administrasi itu ditandatangani langsung oleh Presiden Jokowi. Hal ini mengundang pertanyaan besar, apakah (lagi-lagi) Pak Jokowi tak tahu mengenai isi PP yang ditandatanganinya?

BEM SI pada aksi 2 tahun Jokowi-JK (via lensaremaja)

Singkatnya, BEM Se-UI memiliki pandangan yang sama dengan BEM Seluruh Indonesia terkait kebijakan yang dinilai tak dapat dimaklumi tersebut. Sebab, langkah kebijakan yang dilakukan dinilai tidak bijak dilaksanakan di tengah iklim sosial, politik, dan ekonomi Indonesia tidak kondusif. Ditambah lagi adanya dugaan kenaikan berbagai biaya, sebagai sumber pemasukan negara non pajak, itu dinilai hanya menutupi ketidak sampaian target penerimaan negara dalam APBN 2016, yang membuat negara mencari cara untuk memperbesar penerimaan dan mengurangi pengeluaran negara.

Meski BEM Se-UI sepakat dan sepandangan terkait beberapa kebijakan anyar tersebut, namun BEM Se-UI menyatakan tidak akan ikut andil dalam aksi kali ini. Beberapa poin yang ditelurkan BEM Se-UI terkait Aksi Bela Rakyat 121 ini adalah sebagai berikut:

· Setelah melakukan koordinasi antara BEM UI dan BEM Se-UI dalam Chief Executive Meeting yang diatur dalam pasal 12 UUD IKM UI Perubahan tahun 2015 tentang penyikapan politik luar, BEM Se-UI memutuskan untuk tidak melakukan mobilisasi massa untuk Aksi Bela Rakyat 121.
· Mendukung aksi tersebut sebagai upaya yang sah dan wajar untuk menyuarakan aspirasi sebagai warga negara.
· Tidak melarang jika ada fungsionaris BEM UI 2017 maupun mahasiswa UI yang ingin turut serta dalam aksi tersebut sebagai individu.

BEM Se-UI juga menilai aksi upaya Reformasi Jilid 2 yang digaungkan di website resmi BEM SI masih memerlukan pra-kondisi yang belum terpenuhi saat ini. Selain itu, biaya politik dan ekonomi yang ditimbulkan akan menjadi sangat besar, yang tentunya bakal memberati rakyat sebagai penanggung pajak. Untuk itu, BEM Se-UI memilih sikap untuk menunggu Presiden Jokowi angkat bicara dan menunggu pertanggung jawabannya atas masalah kebijakan-kebijakan yang diputuskan.

 

BACA JUGA: 4 Cara Aksi Mahasiswa yang Kekinian

 

Kita sebagai mahasiswa sangat wajib ikut bersuara terhadap berbagai kebijakan yang dapat menyengsarakan rakyat. Sebagai penyambung lidah masyarakat dan juga agen perubahan, sudah saatnya kita bersatu padu menyerukan kebijakan pemerintah yang bisa menohok rakyat. Namun, ikut atau tidaknya kita dalam aksi adalah hak individu. Sebab, bersuara tidak hanya lewat keramaian, tapi lewat kesunyian dengan tulisan pun kita bisa bersuara. Untuk itu, mari bagikan artikel ini di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar semua orang tau apa yang sedang terjadi di Indonesia saat ini!

Kalau Papa Minta Saham, BEM UI Minta Kita untuk Tandatangani Petisi

Teman-teman tentu masih ingat dong kasus papa minta saham yang sempat menjadi hot issue nya Indonesia akhir tahun lalu? Yup, kasus yang melibatkan Ketua DPR RI kala itu, Setya Novanto, menjadi perbincangan semua media hingga masuk ke proses persidangan etik oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Kasus yang sangat mencoreng nama baik Dewan Perwakilan Rakyat tersebut kemudian ditangani lebih lanjut oleh MKD sembari memeriksa alat bukti berupa rekaman sadapan yang dilakukan para peserta diskusi pembahasan perpanjangan kontrak PT Freeport di Indonesia. Kasus yang juga dikecam Presiden sebab Novanto mencatut namanya untuk meminta sejumlah ‘jatah’ atas biaya perpanjangan kontrak tersebut. Kasus yang digadang menjadi salah satu kasus korupsi terbesar tersebut berangsur-angsur tenggelam setelah Novanto mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR RI tak berselang jauh dari bocornya kasus ini.  

Aksi BEM se-UI Desember 2015 lalu untuk mendesak Setyo Novanto mundur (via detik.com)
Aksi BEM se-UI Desember 2015 lalu untuk mendesak Setyo Novanto mundur (via news.detik.com)

  BACA JUGA: Katanya UI Butuh Duit? Mahasiswa Lakukan Seruan Aksi   Masa-masa yang dinantikan guna mencari kebenaran kasus tersebut justru menuai kejutan terhadap publik. Sebab pada 27 September lalu, hasil sidang Permohonan Peninjauan Kembali Putusan Mahkamah Kehormatan Dewan terhadap kasus Setya Novanto menyetujui pemulihan nama baik Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut. Dalam kasus yang juga melibatkan Mantan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai saksi, dinyatakan MK, bukti yang dibawa Sudirman berupa rekaman pembicaraan Novanto dianggap tidak valid untuk dijadikan barang bukti. Kekecewaan publik berlanjut ketika pada 30 November lalu, yakni Setya Novanto kembali dilantik menjadi Ketua DPR RI. Meskipun MK menyatakan bukti yang digunakan tidak sah sebab dilakukan secara ilegal, tetapi kasus tersebut sejatinya masih belum kelar, mengingat keberadaan alat bukti untuk mempermulus perpanjangan kontrak PT Freeport di Indonesia masih meninggalkan bekas noda hitam. Pernyataan MK tentang ketiadaan bukti yang sah juga telah menafikkan bahwa kejadian tersebut telah dilakukan.

xkaxgbgbgrwzrks-800x450-nopad
Peringatan untuk menjaga etika berpolitik (via change.org)

Pengangkatan kembali Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI merupakan sebuah penistaan terhadap moral dan etika, sebab penyelesaian “Papa Minta Saham” masih menimbulkan kontroversi dan pertanyaan besar. Dalam hal ini, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia bersikap menolak keras terhadap pengangkatan kembali Ketua DPP Partai Pohon Beringin tersebut duduki pemuncak DPR RI.   BACA JUGA: Korupsi di Bangsa Ini Dimulai dari Mahasiswa?   Melalui surat petisi yang dibuat Ketua BEM UI Arya Adiansyah mengajak semua orang untuk menandatangani petisi tersebut, guna mengecam pelantikan kembali Setya Novanto sebagai Ketua DPR RI dan memintanya untuk mundur dari jabatan itu sekarang! Bagi kalian yang ingin menandatangani petisi bisa diklik link berikut! Total hingga saat ini ada 500+ pendukung dari 1000 suara yang diinginkan.

petisi
Halaman muka petisi (via change.org)

Nah, apakah kita semua sudi mempunyai Ketua DPR RI yang memakan uang rakyat dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya? Jika kalian setuju Setya Novanto turun dari jabatannya, silahkan bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian untuk bersama-sama menggalang suara melawan KORUPSI!

Sebelum Rindu Berujung Temu, Pokoknya #AkuMasihKangen !

Mengingat masa-masa #AkuKangen yang dilakukan pada peringatan Hari Pahlawan, Jumat (28/10), para pengawal pemerintahan, BEM se-UI masih menantikan pertemuan yang dijanjikan. Kala itu, aksi yang dilakukan sebagai evaluasi dua tahun kerja Presiden dan Wakil Presiden Indonesia digelar bersama 300 mahasiswa yang terdiri dari serikat BEM se-kampus kuning di Istana Merdeka.

Aksi bertajuk #JumatBersamaBapak itu dilaksanakan dengan menuntut lima poin penting yang dianggap terabaikan oleh pemerintah Indonesia. Lima poin tuntutan aksi tersebut berupa:

a). Penolakan privatisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi;

b). Tuntutan pembatalan izin reklamasi Teluk Jakarta dan Teluk Benoa;

c). Tolak kebijakan ekspor konsetrat bahan tambang Indonesia;

d). Evaluasi perencanaan fiskal Indonesia;

e). Peningkatan cukai rokok sesuai amanah Nawacita.

cv12j9eviaachfw
Aksi #JumatBersamaBapak pada 28 Oktober 2016 (via BEM UI Official)

Sebagai kaum intelektual yang dituntut untuk kritis terhadap berbagai kebijakan negara, para mahasiswa UI rela berhujan ria demi menemui rindu sang Bapak Negara. Namun, aksi yang berlangsung selama lima jam tersebut tak menemui hasil. Bak anak terlantar di jalanan, sang Bapak tak ingin menghangatkan tubuh sang anak untuk masuk ke dalam Istana.

 

BACA JUGA: Dari #AkuKangen sampai #AkuMasihKangen, Kapankah Rindu ini Berujung Temu?

 

Meski sang Bapak tak menengok anak-anaknya di pelataran jalan, namun ia menugaskan Kepala Staffnya untuk menemui mahasiswa. Hingga pada Senin, (7/11) melalui perwakilan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa seluruh kampus kuning, sebanyak 20 mahasiswa diterima Kepala StaffKepresidenan, Teten Masduki di Istana Negara.

cafe_1
Pertemuan BEM se-UI dengan Teten Masduki, Kepala Staf Presiden RI pada Senin (7/11) (via Offcial Line BEM UI)

Perwakilan mahasiswa berjakun itu kemudian mulai mengemukakan pemikiran kritis dan skeptis mereka terhadap pemerintahan Presiden ketujuh RI Jokowi.

“Kami menolak segala bentuk privatisasi pendidikan tinggi di Indonesia, dan mendorong pemerintah berpartisipasi lebih dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi,” tegas Ketua BEM UI Arya Adiansyah sebagaimana dilansir dari laman resmi Kantor Staf Kepresidenan RI.

Teten kemudian menanggapi tuntutan tersebut dengan berujar, anggaran pendidikan Indonesia telah mencapai 20 persen dari APBN, dan sedang giat mengkaji ketepatan sasaran anggaran. Menurutnya, APBN Indonesia telah habis untuk membangun sekolah-sekolah yang rusak. Tak hanya itu, tanggapan mengenai penaikan cukai rokok ditanggapi positif oleh Teten.

Ia mengatakan, “Saya juga berpendapat, rokok banyak mudharatnya, jadi belanja rakyat untuk rokok harus dialihkan ke ekonomi produktif. Tinggal menunggu bagaimana rencana kebijakan pemerintah selanjutnya, sebab hal itu terkait dengan masalah ketenagakerjaan.”

 

BACA JUGA: Isu Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu Per Bungkus ini Ternyata Kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Loh!

 

Tak selesai sampai situ, pada Selasa (15/11) mewakilkan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Deputi 4 Bidang Komunikasi Politik dan Strategi Tatang Badruttamam mengunjungi sekretariat BEM UI untuk membicarakan lebih lanjut terkait audiensi BEM se-UI ke Kementerian terkait isu yang dibawa aksi evaluasi dua tahun Jokowi/JK.

Menurut Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI Denny Yusuf, kedatangan perwakilan Staf Kepresidenan guna menjanjikan BEM se-UI dipertemukan dalam satu forum dengan Kementerian terkait untuk berdiskusi mengenai poin-poin yang dituntut para mahasiswa tempo hari.

“Disepakati untuk lebih lanjut untuk bertemu dengan para menteri terkait,” ujar Denny ketika dihubungi via Whatsapp.

cafe_0
Deputi 4 Bidang Komunikasi Politik dan Strategi, Tatang Badruttamam berkunjung ke Pusgiwa UI (via Official Line BEM UI)

Dengan demikian, apakah kerinduan ini akan berhasil berujung temu? Bagi yang #AkuMasihKangen untuk berdiskusi langsung dan ingin mewujudkan Indonesia yang lebih baik, yuk bagikan artikel di akun Facebook, Twitter, dan Line kalian! Bagi kamu yang ingin ikut memberi poin masalah tambahan untuk dievaluasi, mari coret di kotak komentar di bawah ini!

Dari #AkuKangen sampai #AkuMasihKangen, Kapankah Rindu ini Berujung Temu?

Mengenang kembali peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, waktu itu para pemuda dari berbagai asal seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Ambon, dan lainnya berkumpul bersama untuk merumuskan Indonesia yang baru. Kongres yang diadakan beberapa kali akhirnya menyatukan suara pemuda-pemuda dan kemudian mengikrarkan janji yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Kalau melirik kembali filosofi Sumpah Pemuda itu sendiri, kira-kira bisa nggak, ya, aksi BEM se-UI yang dilakukan pada 28 Oktober 2016 di Istana Negara sejalan dengan perjuangan para pemuda 88 tahun yang lalu? Rasanya bisa banget! Tepat pada 28 Oktober 2016 Jumat lalu, BEM se-UI memiliki caranya sendiri untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Peringatan ini juga sebagai evaluasi kerja Presiden dan Wakil Presiden selama dua tahun masa kepemimpinannya.

cv1cv7kvmaa1uia
Persiapan aksi mahasiswa UI (via twitter BEM UI)

BACA JUGA: 4 Cara Aksi Mahasiswa yang Kekinian

Aksi yang tenar dengan #AkuKangen ini bertujuan untuk menyuarakan beberapa permasalahan yang mungkin terabaikan oleh Pemerintah dan dirasa perlu untuk diingatkan kembali. Secara garis besar, tuntutan yang ingin dikemukakan BEM Se-UI dalam aksinya adalah

(1) Penolakan privatisasi dan komersialisasi pendidikan tinggi;

(2) Batalkan izin reklamasi Teluk Jakarta dan Teluk Benoa;

(3) Tolak kebijakan ekspor konsentrat bahan tambang Inodnesia;

(4) Evaluasi perencanaan fiskal Indonesia, terakhir

(5) Tingkatkan cukai rokok sesuai amanah Nawacita.

Atau untuk lebih jelasnya, bisa kamu baca di sini.

Itulah lima tuntutan yang dibawa oleh sekitar 300 mahasiswa UI dari semua fakultas ke depan Istana Negara pada Jumat lalu. Kalau zaman-zaman peristiwa Sumpah Pemuda disatukan karena cita-cita membangun Indonesia, BEM se-UI pada tahun ini juga sama. Sebagai mitra kritis yang sejatinya bertugas untuk mengawal pemerintahan, maka nggak salah kalau aksi kali ini lebih menekan Presiden untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan terkait.

cv1cufmusaarp7n
Bikun yang mengantarkan mahasiswa ke titik aksi (via twitter BEM UI)

Untuk melancarkan aksinya, perwakilan mahasiswa yang ikut serta dalam aksi ini berkumpul di halte Psikologi UI pukul 08.00 dan digiring menggunakan tiga Bikun. Ets, tu baru kloter pertama. Kemudian, kloter kedua menyusul pada pukul 12.30. Terbayang, dong segimana banyaknya?! Adakah kamu yang di antara 300 mahasiswa yang melakukan aksi tersebut?

Mahasiswa yang melakukan aksi di depan Istana Negara tidak lupa mengenakan Jakun kebanggaan dan menyuarakan suara mereka dengan lantang. Aksi tersebut dilaksanakan mulai pukul 14.00 sampai 19.00. Sore itu hujan mengguyur Jakarta dan Presiden nggak memenuhi kerinduan mahasiswa sehingga pertemuan yang dinantikan belum bisa terlaksana. Kayaknya #JumatBersamaBapak yang sempat diusung gagal terlaksana karena Bapaknya nggak mau membersamai mahasiswa di Jumat itu, ya?

cv13fbnvyaa7qfc
Meski hujan dan sempat mendapat larangan, namun massa tetap semangat (via tiwtter BEM UI)

BACA JUGA: Jakun Itu Dipake Buat Apa Aja Sih?

Tetapi, bagaimanapun, si Bapak merespon melalui Kepala Staffnya, bahwa beliau akan menemui mahasiswa pada hari ini, Rabu, 2 November 2016 sehingga perjuangan belum berakhir sampai #AkuKangen tetapi akan ada perjuangan lebih lanjut lagi.

Kalau aksi 28 Oktober 2016 itu menggaet #AkuKangen, maka aksi selanjutnya diberi #AkuMasihKangen. Wajar lah kalau masih kangen, karena kerinduan yang telah lama terbendung itu belum juga berujung temu.

cwa5syavmaafysu
#AkuMasihKangen (via twitter BEM UI)

GERAKAN MAHASISWA UI: Dimana oh dimana?

Bahwa sesungguhnya mahasiswa adalah pemuda-pemudi yang memiliki keyakinan kepada kebenaran dan telah tercerahkan pemikirannya serta diteguhkan hatinya saat mereka berdiri di hadapan kezaliman. Oleh sebab itu, sepatutnya mahasiswa bergerak untuk mengubah kondisi bangsa menuju masyarakat … Baca Selengkapnya

Laskar Anti Korupsi

banyak cara dilakukan untuk menyumbangkan ide melawan korupsi. banyak aksi telah dilakukan. kami di sini, sama dengan teman-teman semua. melakukan tindakan untuk melawan korupsi di Indonesia. aksi kami, tindakan kami, kontribusi kami adalah Laskar Anti … Baca Selengkapnya

Posterkuu.. Dibuang Sayang

yuhuu..ini postingan pertama gw! (agak norak dikit maklum yaa cui..) walaupun begitu, sialnya bukan berita bahagia yang akan gw bagikan, tapi laporan aksi jail tangan – tangan yang belum pernah merasakan sulitnya bikin poster acara … Baca Selengkapnya

Press Release Aksi BEM UI 9 Desember 2011

Siaran Pers Kami Minta Kejelasan Anda, Pak Gumilar!!! Beberapa saat ini, Universitas Indonesia (UI) kembali digemparkan oleh laporan sejumlah pihak ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai tindak dugaan korupsi yang dilakukan oleh Rektor UI. Ditambah … Baca Selengkapnya

SELAMAT Hari Solidaritas Jilbab Internasional, 4 SEPTEMBER 2011

demo jilbab

#JilbabItuCantik

Bulan Juli tahun 2004, tokoh-tokoh Muslim di seluruh Eropa berkumpul di kota London, Inggris. Mereka menggelar konferensi mendukung jilbab, sebagai reaksi atas keputusan pemerintah Prancis yang menyatakan melarang jilbab di institusi-institusi pendidikan dan institusi publik.

Konferensi dibuka oleh walikota London, Ken Livingstone dan dihadiri oleh 300 delegasi, mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Hadir pula dalam konferensi itu tokoh cendekiawan Muslim Sheikh Yusuf Al-Qaradawi dan Profesor Tariq Ramadan. Dari hasil konferensi itu terbentuklah Assembly for the Protection of Hijab (Majelis untuk Perlindungan Jilbab) dan seluruh peserta mendeklarasikan tanggal 4 September sebagai International Hijab Solidarity Day (Hari Solidaritas Jilbab Internasional). Dalam konferensi itu, para peserta merancang berbagai rencana aksi untuk membela hak kaum perempuan Muslim untuk mempertahankan busana muslim mereka.

Baca Selengkapnya