Kabar Duka Datang dari Alumni Kita di Ujung Sumatera

Malam itu, Senin (23/1) pukul 23.00, Tiarma Rajagukguk terbangun. Melihat seisi ruangan di rumah yang hanya ditinggalinya berdua bersama anaknya, Robinhot Sinaga. Namun, tak dinyana, anaknya yang memiliki penyakit lumpuh dan gangguan mental berupa stres, tak ditemui di rumahnya. Tiarna yang cemas, kemudian mengecek seluruh isi rumah dan semakin terperanjat ketika melihat kondisi pintu rumah yang sudah terbuka dan tak terkunci.

Kecemasan dan kekhawatiran yang menggelayutinya disampaikannya kepada tetangga sekitarnya, Doni Sianturi. Maklum, di usia 77 tahun, Tiarna tak kuasa bila harus sendiri mencari sang anak, ditambah rasa khawatirnya sebagai seorang ibu yang mendalam. Akhirnya, Doni berusaha mencari dibantu beberapa tetangga sekitarnya. Namun, karena malam kian larut, terpaksa pencarian terhadap Robinhot ditunda esok hari.

Keesokan harinya, Selasa pagi (24/1) warga ikut berpartisi membantu mencari Robinhot. Pihak Kepolisian Polres Taput dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah ikut membantu mencari. Merunut dari daerah rumah Robinhot yang berjarak hanya 25 meter dari Danau Toba, pencarian difokuskan di sekitaran danau.

Pencarian itu menghasilkan temuan berupa rumput dan tanaman di depan rumah Robinhot di pinggir Danau Toba. Tak hanya itu, warga juga menduga Robinhot terperosok dan tenggelam ke dalam Danau Toba setelah melihat adanya bekas gesekan, mengingat Robinhot mengalami cacat fisik berupa kelumpuhan. Hal itu membuat petugas dan warga melanjutkan pencarian ke dalam Danau Toba. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi lebih lanjut apakah korban sudah temukan atau belum.

Robinhot Sinaga, pria asli Sumatera Utara yang tinggal di kawasan Danau Toba itu merupakan lulusan Universitas Indonesia, dibuktikan dengan ijazah dan fotonya saat wisuda. Ia dikenal warga sekitar pandai, sehingga bisa tembus masuk perguruan tinggi favorit di Indonesia. Namun, di usianya ke 47 tahun, ia belum juga menikah bahkan mengalami gangguan stres psikologis serta kelumpuhan.

 

BACA JUGA: 5 Alasan Kenapa Alumni UI Adalah Menantu Idaman Orangtuamu

 

Jika benar Robinhot dinyatakan dan ditemukan membeku biru, duka bagi kampus makara semakin menambah daftar panjang kepergian keluarga besar. Belum kering air mata kehilangan keluarga besar, mulai dari mahasiswa baru, guru besar yang harus terlebih dahulu kembali ke pangkuan Tuhan, kini kita berharap alumni kita tak menambah daftar kepergian itu. Mari bagikan artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian agar semua orang mendoakan Robinhot Sinaga segera ditemukan dalam kondisi yang bugar dan sehat seperti biasa!

Umumkan Ketua Baru, “ILUNI UI Rumah Kita” Siap Berkontribusi demi Alumni dan Almamater yang Lebih Maju

Halo, mahasiswa aktif maupun alumni Universitas Indonesia! Sambil menikmati waktu senggang atau menghayati sisa-sisa liburan yang ada, anakui.com akan memberikan berita terbaru mengenai kampus kuning tercinta ini. Yup, sesuai judulnya, Ikatan Alumni Universitas Indonesia telah menggelar musyawarah nasional Iluni ke VII di mana untuk pertama kalinya Ketua Umum ILUNI UI dipilih oleh seluruh alumni UI secara online.

Dalam Pemira ILUNI-UI tahun ini, beberapa nama telah bersaing dan memberikan usaha terbaiknya untuk membuat visi misi bagi kampus tercinta, diantaranya adalah Fahri Hamzah (FE 1994), Ivan Ahda (Psikologi 2003), Arief Budhy Hardono (Teknik 1985), Valdo Maldini (MIPA 2008), Jenderal (Purn)  Moeldoko, dan eks Komisioner KPK Chandra Hamzah. Para calon bersaing memperebutkan suara ribuan voters para alumni UI melalui e-voting.

BACA JUGA: Ada Apa Dengan Iluni UI?

Arief Budhy Hardono  terpilih menjadi Ketua Ikatan Alumni UI  via arief2iluni
Arief Budhy Hardono terpilih menjadi Ketua Ikatan Alumni UI via arief2iluni

Dan hasilnya adalah… Jeng jeng jeng! Arief Budhy Hardono, alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia, terpilih menjadi Ketua Ikatan Alumni UI periode 2016-2019 dengan perolehan suara sebanyak 5.878 suara atau 52,76 persen dari total pemilih 11.142 orang. Bang Arief mengungguli suara Ivan Ahda 860 suara (7,72 persen), Faldo Maldini 936 (8,4 persen) dan Chandra M. Hamzah 3.468 (31,13 persen). Sedangkan dua calon yang lain, yakni Moeldoko dan Fahri Hamzah mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum dilakukan pemungutan suara.

Pemira ILUNI UI tahun ini berbeda dengan yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya. Awalnya, Pemira ILUNI UI menggunakan sistem perwakilan, di mana perwakilan fakultas yang mempunyai alumni lebih dari 10 ribu berhak mengirim perwakilan sebanyak sembilan orang, sedangkan fakultas yang jumlah alumninya di bawah 10 ribu berhak mengirim lima wakilnya untuk memilih. Total 120 orang yang akan memilih calon ketua.

Sekarang, Pemira dilaksanakan secara lebih demokratis. Total alumni UI mencapai 350 ribu orang, sedangkan yang terdaftar sebagai pemilih ada 32 ribu. Namun, yang tervalidasi dalam Pemira UI 22 ribu. Hasil Pemira Ketua Iluni UI 2016-2019 sudah lebih dari target, yakni mencapai 11 ribu pemilih. Tahun ini, kedaulatan ada di tangan alumni UI tanpa perwakilan.

BACA JUGA: Program Start Up Booster untuk Alumni UI yang Ingin Merintis Usaha

 

Kandidat yang memiliki tagline “ILUNI UI Rumah Kita” ini merupakan insinyur Teknik Sipil lulusan FTUI (1984-1990), yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa FTUI pada 1988. Ia adalah Direktur Pionir Beton Indonesia (Subsidiary of Indocement Heidelberg) dan Direktur PT Citra Margatama Surabaya  (subsidiary of Citra Marga Nusantara – toll road), serta Sekjen Perbasasi (Persatuan Baseball dan Softball Indonesia).

Ternyata, Bang Arief sudah aktif berkontribusi di organisasi maupun kegiatan kampus pada masa kuliahnya, terbukti bahwa ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Kemahasiswaan Senat Mahasiswa FTUI, Kepala Seksi Operasi Yon Resimen Mahasiswa UI, Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UI, Ketua Program Masa Bimbingan Mahasiswa Baru, sampai Kabid Pelayanan Alumni ILUNI FTUI.

“Tantangan menjadi ketua ILUNI UI ialah menyatukan semua ikatan alumni dari tingkat fakultas, wilayah, sampai komisariat untuk kembali ke rumah ILUNI UI, karena ILUNI UI mempunyai peran berkontribusi langsung memberikan informasi dan nilai tambah bagi almamaternya,” ucap Bang Arief mengenai tantangan yang mungkin di hadapi ke depannya selama mengemban amanah menjadi Ketua ILUNI UI.

3 Tokoh yang Berhijrah dari Kampus Makara menjadi Pengabdi Bangsa dan Negara

Sudah tidak diragukan lagi bahwa kampus kita tercinta, Universitas Indonesia, melahirkan lulusan-lulusan yang bukan hanya ahli dalam bidangnya, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi bangsa dan negara. Yak, contohnya saja 3 tokoh di bawah ini yang baru resmi dilantik dan mendapat amanah dari Presiden Jokowi sebagai menteri karena reshuffle kabinet pada 27 Juli 2016 kemarin.

Penasaran gak sih kira-kira siapa aja lulusan UI yang baru saja mendapatkan amanah untuk mengabdi kepada bangsa Indonesia tercinta ini? Yuk, langsung simak artikel anakui.com berikut ini!

 BACA JUGA: Tiga Rekomendasi Sri Mulyani bagi Pemuda Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Global

 

Sri Mulyani, Menteri Keuangan

Sri Mulyani, Menteri Keuangan via salaamgateway
Sri Mulyani, Menteri Keuangan via salaamgateway

Pertama, ada Ibu Sri Mulyani Indrawati yang merupakan lulusan terbaik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 1986 jurusan Ilmu Studi Pembangunan. Setelah itu, beliau memilih mengambil master dikombinasikan dengan doktor Phd  di University of Illinois Urbana-Champaign (UI-UC). Sekali lagi, ia mengambil jurusan spesialisnya “Public Finance dan Urban Economy.” Kedua gelar itu diraihnya dalam waktu  4 tahun.

Temen-temen juga pasti tau dong, sebelum menjadi Menteri Keuangan pada kabinet sekarang ini, beliau juga telah menjabat di posisi yang sama pada tahun 2004, kemudian menjadi salah satu direktur pengelola Bank Dunia. Sri Mulyani semakin berkilau di mata dunia khususnya di World Bank. Kabarnya ia pernah masuk dalam bursa calon presiden WB pada 2012 lalu. Dalam sebuah voting oleh LSM berkaitan dengan Bank dunia, posisinya mencapai posisi nomor 1 (46%) di bawah Kemal Darviss (44%) yang sebelumnya berada di atasnya. Pada tahun 2002-2004, Sri Mulyani dipercaya oleh presiden Megawati sebagai wakil Indonesia di IMF. Saat itu beliau menjadi direktur eksekutif dan membawahi 10 staf dari beberapa negara.

Masih ingat kasus mengenai Bank Century? Nah, di sinilah nama Sri Mulyani mulai sering kita dengar dan didengung-dengungkan. Merupakan kasus bailout dana talangan triliunan rupiah untuk menyelamatkan Bank Century yang katanya akan berdampak sistemik terhadap perekonomian Indonesia, seperti krisis monter dan ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada 1997-1998 hingga 1999. Akhirnya, dalam rapat KSSK Sri Mulyani diminta oleh BI untuk mengambil keputusan membubarkan bank tesebut atau menyelamatkannya. Pada 21 November 2008 beliau harus mengambil sikap. Sri Mulyani melihat Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik sehingga diambil alih Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). 

 

Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional

Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional via kemenkeufoto
Bambang Brodjonegoro, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional via kemenkeufoto

Masih dari makara abu-abu. Selain Ibu Sri Mulyani ada juga orang hebat yang lahir dan berkontribusi besar bagi jurnal-jurnal internasional terkait dengan perekonomian dunia. Beliau merupakan lulusan S1 Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Tidak salah lagi, beliau ialah Prof. Dr. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, putra bungsu (alm) Prof. Dr. Ir. Soemantri Brodjonegoro yang menjabat sebagai rektor Universitas Indonesia di tahun 1964 hingga 1973. Di usia yang masih muda, pak Bambang telah banyak berkarya melalui kiprahnya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, melalui karya tulis ilmiah dan juga dengan mengemban beberapa jabatan penting dalam perekonomian negara.

Beliau menjabat sebagai Guru Besar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan tercatat sebagai satu-satunya dekan di Universitas Indonesia yang diangkat saat usianya masih di bawah 40 tahun. Tidak heran jika dalam waktu singkat, profesor yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan ini diangkat menjadi dekan FEUI. Setelah mendapatkan gelar S1, gelar Master diambil dengan Jurusan Urban Planning di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat; dan gelar Doktoral (Ph.D.) didapatkan dari universitas yang sama pada tahun 1997 dengan mengambil Jurusan Regional Science.

Tulisan-tulisan ilmiah Pak Bambang tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya, mengingat telah banyak dipublikasikan di tingkat internasional. Contohnya saja oleh The Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) Singapura dan oleh Edward Elgar Inggris, serta Hitotsubashi Journal of Economics.  Beliau masih terus menulis makalah dan mempresentasikannya di seminar internasional seperti International Workshop on Intergovernmental Transfer Including Health and Education Finance di Korea dan juga pada The UN Conference for MDGs di Australia.

 

Sofyan Djalil, Menteri BUMN

Sofyan Djalil, Menteri BUMN via wsj
Sofyan Djalil, Menteri BUMN via wsj

Selain dari Fakultas Ekonomi, ada juga alumni Fakultas Hukum UI yang sekarang menjadi menteri. Setelah menamatkan pendidikan sarjana di Universitas Indonesia bidang studi Hukum  Bisnis, Pak Sofyan berhasil mendapatkan gelar Master of Arts-nya di Tufts University, Medford, Massachusetts, Amerika Serikat untuk bidang studi Public Policy pada tahun 1989. Dua tahun kemudian, beliau menamatkan Master of Arts in Law and Diplomacy (M.A.L.D.) di universitas yang sama untuk bidang studi International Economic Relation. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu, pada tahun 1993, dia sukses memperoleh gelar Doctor of Philosophy dalam bidang studi International Financial and Capital Market Lawstudi and Policy di Tufts University.

Wah, hebat juga ya beliau menyabet gelar ini itu dalam waktu yang bisa dibilang relatif singkat! Selain itu, posisi menteri yang diduduki oleh Pak Sofyan saat ini juga bukan sesuatu yang baru baginya. Tercatat sudah tiga kali dia menjabat menteri. Pertama, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kala itu, dia diangkat menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia ke-2 untuk masa jabatan 21 Oktober 2004 sampai 9 Mei 2007. Selanjutnya, masih pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, beliau kembali dilantik menjadi Menteri Negara BUMN Indonesia ke-4 untuk masa jabatan 9 Mei 2007 sampai 22 Oktober 2009. Sekarang, beliau mejadi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada masa pimpinan Jokowi.

Sebelum menjabat menteri, Sofyan telah dipercaya untuk menduduki posisi-posisi penting seperti Komisaris, PT Perusahaan Listrik Negara (1999-Mei 2002), Staf Ahli Menteri Negara Pendayagunaan BUMN bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM/Asisten Kepala Badan Pembina BUMN Bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM (Juni 1998-Februari 2000), Tim mediasi perundingan pemerintah RI dan GAM di Helsinki, Finlandia, (2004-2005), dan Anggota Tim Pakar, Departemen Kehakiman dan HAM RI (2001-sekarang). 

Setelah baca-baca artikel ini, pastinya kamu gak nyesel dong udah masuk UI? Bayangin aja, lulusannya banyak yang jadi menteri dan orang-orang hebat di bidang lainnya! Semoga ketiga alumni ini dapat membawa perubahan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, ya!

 

Sumber:

http://www.kompasiana.com/abanggeutanyo/menguji-reputasi-sri-mulyani-kembali_557217bf66afbd404a484b99

http://profil.merdeka.com/indonesia/b/bambang-permadi-soemantri-brodjonegoro/

http://profil.merdeka.com/indonesia/s/sofyan-djalil/

5 Pengalaman Mahasiswa yang Bikin Kamu Lebih Baik Saat di Dunia Kerja

Siapa yang lulus kuliah dari Universitas Indonesia tahun ini??? Well, selamat yaaaa!

Selamat, karena kamu udah lulus kuliah dan selamat, karena kamu baru saja memasuki real world dimana pengalaman akan menjadi guru kamu untuk bertahan hidup.

Nah, ngomong-ngomong soal pengalaman, sadar gak sih kalau selama ini kuliah di kampus kuning selalu kasih kamu pelajaran yang gak hanya pengetahuan tapi juga pelajaran hidup yang meaningful. Gak percaya? Yuk, simak refleksi pelajaran hidup yang gak kamu sadari berikut ini.

Sabar

Menempa kamu untuk menjadi pribadi yang sabar via dennytrisna
Menempa kamu untuk menjadi pribadi yang sabar via dennytrisna

Kuliah, selama ini telah menempa kamu untuk menjadi pribadi yang sabar.

Sabar saat nembak gebetan. Sabar saat akhirnya putus dan jadi mantanan meski 1 kelas tiap semester. Sabar saat ngerjain tugas individu. Sabar saat nungguin dosen di kelas berjam-jam yang akhirnya gak jadi datang karena sakit atau keujanan. Sabar saat kamu nge-draft skripsi yang gak kelar-kelar sampai berbulan-bulan namun akhirnya kelar juga.

Well, kalau kamu pernah bilang “Gue sabar, tapi ada batesnya!” – kami bisa jamin itu salah banget, Sob. Karena yang namanya sabar gak ada abisnya.

In real world, kesabaran kamu MASIH harus diuji berkali-kali lipat daripada saat kamu masih kuliah. Namun, karena kamu sudah banyak bersabar saat kuliah, lama-lama akan terbiasa dalam menghadapi berbagai tantangan kesabaran dalam hidup. Untuk langkah pertama, mungkin kamu akan menghadapi sabar dalam menunggu panggilan kerja.

Ya, sabar aja.

BACA JUGA: Resep-resep Rahasia Mengapa Anak UI Cepat Dapat Kerja & Kariernya Sukses

 

Teamwork

Kamu terlatih untuk bekerja sama dengan berbagai macam manusia saat kamu menjalani perkuliahan via okkmabimfikui2015
Kamu terlatih untuk bekerja sama dengan berbagai macam manusia saat kamu menjalani perkuliahan via okkmabimfikui2015

Yup, kita tentu masih inget kan, ada berapa kali tugas kelompok dalam 1 semester pada beberapa mata kuliah.

Kadang kita harus 1 kelompok sama mantan, atau 1 kelompok sama temen kamu yang tukang nyantolin namanya doang di paper kelompok, atau 1 kelompok sama temen kamu yang apa-apa mikirnya lamaaa banget sampe harus gigit buku biar dia ngerti. Yap, setidaknya kamu terlatih untuk bekerja sama dengan berbagai macam manusia saat kamu menjalani perkuliahan.

In real world? No, surprise. Kamu AKAN melakukannya lagi, dengan tipe-tipe orang yang lebih beragam (baca: lebih aneh-aneh sifatnya). Tapi tenang, kamu gak perlu cemas ataupun takut. It’s just a matter of time. Lambat laun kamu akan terbiasa untuk bekerja bersama orang-orang yang berbeda.

Bahkan, kamu akan terkejut saat bekerja bersama orang yang kamu pikir malas, ternyata dia malah yang menemukan solusi paling sederhana dari permasalahan yang kamu temui di lingkungan kerja nanti. Akhirnya, kamu akan merasa seru untuk bergaul dan bekerja sama dengan orang-orang dari beragam latar belakang, profesi, dan karakter.

It’s fun to know people, it’s fun to learn new things form various people. Percaya deh.

 

Multitasking

Kemampuan multitasking-mu diasah tanpa disadari via nsbe
Kemampuan multitasking-mu diasah tanpa disadari via nsbe

Saat dosen kamu baru ngasih tugas X dan ternyata tugas Y masih belum selesai tapi deadline-nya besok ditambah kamu belum nyuci baju dan belum beberes kamar, eehh kamu lupa janjian sama pacar….

Saat itulah kemampuan multitasking-mu diasah tanpa kamu sadari. One day, in real world, kamu akan melakukan hal yang serupa. Dengan metode yang lebih sempurna, dengan hasil yang lebih efektif dan tertata rapi.

Gak percaya? Coba cek, kakak-kakak alumni kamu yang harus baca e-mail klien saat ia meeting dan harus jemput anaknya dalam waktu 1 jam kemudian.

 

Leadership

Kkemampuan leadership membuatmu menjadi percaya diri saat kamu terjun di dunia kerja via okkmabimfikui2015
Kkemampuan leadership membuatmu menjadi percaya diri saat kamu terjun di dunia kerja via okkmabimfikui2015

Saat kamu kuliah, mesti ada satu pengalaman dimana kamu terjebak di situasi dimana dosen kamu nanya “Siapa yang mau jadi ketua kelompok?” lalu teman-teman kamu mundur teratur dan nunjuk kamu dari belakang. Kamu yang waktu itu lagi baru bangun gegara ketiduran di kelas, langsung diplototin dosen, terus nengok ke belakang dengan mulut ternganga “Hah? Gue? Jadi ketua kelompok?!”

Well, like it or not, that kind of experience taught you something about leadership. Kamu jadi lebih lihay dalam me-manage tugas kelompok dan memiliki wewenang untuk memerintahkan anggota kelompok yang mana buat ngerjain tugas yang mana. Bahkan, kamu pun berwenang untuk mintain duit-duit anggota kelompok saat mereka pada gak tahu diri kalau tugas kelompok itu harus di-print dan nge-print itu gak murah! – in other words, kamu bisa berhemat.

Disadari atau tidak, pengalaman itu melatih kemampuan leadership dan membuatmu menjadi percaya diri saat kamu terjun di dunia kerja. Kamu jadi tahu kapan harus bertindak dan kapan momen terbaik bagi kamu untuk mengajukan diri sebagai leader dalam project tertentu.

 

Manajemen Keuangan

Menata keuangan personal saat gaji pertamamu masuk via thevocket
Menata keuangan personal saat gaji pertamamu masuk via thevocket

Bukan, ini bukan mata kuliah. Tapi suatu skill yang kelak kamu akan berterima kasih karenanya.

Ingat saat kamu harus nabung buat bayar kosan dan belanja makanan sebulan? Ingat saat kamu harus muterin uang dan nge-plan nabung buat datang ke konser favoritmu yang harga 1 tiketnya bisa sampe sejutaan?

Pengalaman itu akan melatih kamu untuk menata keuangan personal kamu saat gaji pertamamu masuk. Kamu jadi tahu dengan persis apa yang bisa kamu nikmati saat itu dan apa yang harus kamu tahan untuk dinikmati di bulan berikutnya.

Nah, itu dia tadi 5 list mendasar yang kami temukan seputar bagaimana pengalamanmu di masa perkuliahan dapat membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik saat kamu lulus kuliah dan terjun ke dunia nyata.

Sekali lagi, selamat dan selamat datang di dunia nyata!

Yuk, bagikan pengalaman berhargamu saat kuliah di comment box dan bagikan artikel ini lewat Facebook, Twitter, dan LINE kamu sekarang!

Ada Apa Dengan Iluni UI?

Belakangan ini kakak-kakak kita, alias alumni, ramai memperbincangkan pemilihan ketua Iluni UI periode 2016-2019. Kehebohan itu dimulai dari kemunculan poster Dian Sastro dan Nicholas Saputra yang katanya ikut dalam pemilihan ini. Mereka membawa tagar “Ada Apa dengan Iluni UI?” sebagai bentuk plesetan dari film terbaru AADC2 yang akan segera rilis.

Najwa Shihab ILUNI UI

Juga ada Kak Najwa Shihab sang presenter Mata Najwa dengan jargon “Membangun Iluni UI dengan segenap rasa dan cinta.”

Majunya Pemimpin Muda

Meski menurut sumber terpercaya, pencalonan dua kakak kita itu hoax, mimin mau bahas tentang pemilihan ketua Iluni UI kali ini yang katanya jauh berbeda. Pada periode-periode sebelumnya, ketua Iluni hanya dipilih beberapa orang, namun sekarang siapapun alumni UI berhak memilih alias one man one vote.

Alhasil ada banyak calon yang maju, mulai dari yang senior banget (50K) sampai anak muda, dua di antaranya adalah Ivan Ahda (2003) dan Faldo Maldini (2008). Ada juga sederetan nama beken seperti Chandra Hamzah, Moeldoko dan Fahri Hamzah. Lalu apa aja sih persyaratan untuk menjadi ketua Iluni UI?

Ivan Ahda Calon Ketua ILUNI UI
Ivan Ahda, Calon Ketua ILUNI UI angkatan muda
Faldo Maldini, Calon Ketua ILUNI UI angkatan muda lainnya
Faldo Maldini, Calon Ketua ILUNI UI angkatan muda lainnya

Pertama, tentunya kamu harus udah lulus dulu dari UI. Boleh dari program dan fakultas apapun. Jadi kalau kamu masih ngerjain skripsi bab 4 yang tak kunjung di-approve dospem, pupus sudah harapanmu untuk maju. Apalagi kalau kamu masih muter-muter asrama untuk nyari tulang rusukmu yang hilang. #eh #salahfokus

Persyaratan kedua, kamu harus mengumpulkan minimal 250 KTP dari minimal lima fakultas untuk membuktikan kalau kamu mendapat dukungan. Ketiga, kamu harus menyerahkan uang sejumlah Rp 45.000.000 sebagai commitment fee jika kamu terpilih nanti.

Patungan Online

Untuk apa sih uang sebanyak itu? Mungkin jika nanti terpilih, ketua baru nggak semena-mena ngelepasin tanggung jawabnya gitu aja. Masalahnya uang segitu nggak sedikit. Artinya, mereka yang ingin maju, benar-benar murni karena panggilan hati untuk mengabdi pada almamater. Kalau mimin lulus nanti sih, uang segitu mending dipakai buat kawin. Eh nikah maksudnya.

Namun ada yang unik dari salah satu kandidat yaitu Ivan Ahda. Kak Ivan yang ingin maju karena permintaan banyak orang dan kalangan, malah melakukan crowd-funding alias patungan online. Uang segambreng gitu, terkumpul hanya dalam empat hari. NGGAK BERCANDA! (Situsnya: https://kitabisa.com/dukungiaforiluniui). Rata-rata sumbangan dari para pendukungnya berkisar Rp 200.000 s/d Rp 300.000. Selayaknya crowd-funding, arwahnya memang dari rasa kebersamaan.

“Ya gue dan temen-temen lihat programnya Ivan ini bagus dibanding kandidat yang lain,” kata Agus Taufiq, FT UI 2009.

“Apalagi doi masih muda (angkatan 2003), jaringannya luas banget dan pengalamannya di level nasional juga mumpuni.” Tambah Alfatih Timur, pemuda Indonesia yang berhasil masuk majalah Forbes.

Laman galang dukungan untuk Ivan Ahda di KitaBisa.com
Laman galang dukungan untuk Ivan Ahda di KitaBisa.com

Keren ya! Sekarang ini memang lagi nge-hitz banget anak muda jadi pemimpin di mana-mana. Selain ide mereka segar, semangatnya berkobar, mereka juga melek teknologi. Ya kayak kita-kita ini guys. Buktinya dengan keberadaan teknologi, uang pendaftaran bisa terkumpul begitu cepat dari segala arah.

Manfaat Iluni UI Apa sih?

Sebagai keluarga besar, pertalian ideologis kita diwadahi oleh lembaga bernama Iluni UI. Di sana para alumni bisa melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Selain untuk membangun jaringan dan memperkuat rasa kekeluargaan, Iluni UI juga dapat menjadi tangan penyalur bantuan bagi kita adik-adik yang masih kuliah. Di luar negeri malah lebih komprehensif lagi. Seperti di Harvard, ikatan alumninya membantu mereka yang baru lulus untuk mengembangkan apakah itu ide atau program mereka. Dibimbing secara konkret hingga sukses.

Ya kita tunggu aja deh ya, apa yang bisa dibikin sama kakak-kakak kita itu untuk UI. Mimin sih belum bisa ikutan milih karena belum lulus, tapi kalau ada yang mau daftar sebagai pemilih, jangan lupa buka register.iluni.net. Pendaftarannya ditutup tanggal 14 Mei 2016.

Jadi, bagaimana menurutmu pemilihan ketua Iluni UI kali ini guys? Wah? Udah langsung niat pengen maju juga begitu lulus nanti? He he he.

Beberapa Fakta yang Harus Kamu Tahu Sebelum Masuk Jadi Mahasiswa Fakultas Psikologi UI

Kamu adalah orang yang suka membaca karakter manusia? Menyukai dunia training? Atau tertarik pada perkembangan anak dan ingin bekerja di area itu? Semua ilmu dan keterampilan untuk bekerja di area tersebut bisa kamu dapatkan di Jurusan Psikologi Universitas Indonesia.

Sekilas Tentang Jurusan Psikologi UI

Sekilas Tentang Program Studi Psikologi via ciputranews
Sekilas Tentang Program Studi Psikologi via ciputranews

Fakultas Psikologi UI ini bisa dibilang sebagai Fakultas Psikologi yang istimewa. Kenapa? Karena Fakultas Psikologi UI merupakan Fakultas Psikologi Pertama di Indonesia dan sekarang menjadi acuan untuk pengembangan fakultas psikologi lainnya di Indonesia. Proses pembelajaran di Fakultas Psikologi UI menggunakan teknik terkini yang membantu mahasiswa mengoptimalkan dan merealisasikan potensi dirinya lewat pembelajaran melalui metode student-centered learning, collaborative learning, dan problem-based learning.

BACA JUGA: Jalur Masuk Universitas Indonesia

Di Fakultas Psikologi UI, mahasiswa dapat memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) setelah menempuh perkuliahan selama empat tahun. Untuk mendapatkan gelar psikolog, seorang sarjana psikologi harus melanjutkan ke jenjang S2 Program Master Psikologi.

Program Studi (prodi) atau jurusan psikologi dibuka pada pada kelas Reguler dan Paralel. Jalur masuk kelas reguler lewat SNMPTN, SBMPTN, dan SIMAK-UI. Sedangkan untuk kelas paralel, melalui SIMAK-UI dan PPKB.

 

Bagaimana Perkuliahan di Jurusan Psikologi UI?

Bagaimana Perkuliahan di Prodi Psikologi? via bempsikologi
Bagaimana Perkuliahan di Prodi Psikologi? via bempsikologi

Program Studi Psikologi di S1 tidak memiliki peminatan. Peminatan baru kamu temui ketika kamu melanjutkan studi ke program S2 Psikologi.

Adapun contoh-contoh mata kuliah yang akan temui di perkuliahan S1 nanti adalah sebagai berikut.

  1. Analisa Jabatan dan Beban Kerja (P) (PSPS605474)
  2. Asesmen Psikologis (PSPS605324)
  3. Bimbingan Pendidikan (P) (PSPS603262)
  4. Coaching, Mentoring, dan Counseling (PSPS604467)
  5. Dasar-dasar Intervensi Psikologi (PSPS605021)
  6. Dinamika Kelompok (PSPS604669)
  7. Diri dan Kehidupan Sosial (P) (PSPS603665)
  8. Disain Alat dan Kondisi Kerja (P) (PSPS606490)
  9. Filsafat Psikologi (PSPS603008)
  10. Identifikasi & Pengembangan Kreativitas (P (PSPS606280)
  11. Kesehatan Mental (PSPS605526)
  12. Kesehatan Mental Komunitas (PSPS606535)
  13. Kesulitan Belajar (P) (PSPS606281)
  14. Konstruksi Alat Ukur Psikologi (PSPS607338)
  15. Kuliah Kerja Nyata (UIGE600999)

Seperti di fakultas lain, kamu harus menempuh setidaknya 144 SKS untuk dapat lulus dari Prodi Psikologi ini. Dan mata kuliah di atas adalah beberapa di antaranya.

 

Ke Mana Setelah Lulus dari Psikologi UI?

Ke Mana Setelah Lulus dari Prodi Psikologi UI? via andraseptian
Ke Mana Setelah Lulus dari Prodi Psikologi UI? via andraseptian

Jangan pernah khawatir akan menjadi pengangguran selepas lulus dari Prodi Psikologi. Banyak bidang yang menjadi lahan kerja lulusan Prodi Psikologi, antara lain bidang penelitian, sumber daya manusia (sdm), pemasaran, jurnalistik, periklanan, lembaga swadaya masyarakat, pelatihan (training), hubungan masyarakat, pendidikan, sosial dan masih banyak lagi.

Ada pun beberapa profesi yang dapat dimasuki oleh lulusan Prodi Psikologi antara lain:

  1. Compensation and Benefit officer. Area kerjanya berkaitan dengan Payroll dan Penggajian karyawan, termasuk bonus.
  2. Recruitment officer. Mengurusi perekrutan mulai dari menetapkan kualifikasi yang harus dipenuhi pelamar hingga ke tanda tangan kontrak.
  3. Organization Development (OD) officer. Area kerjanya berkaitan dengan pengembangan organisasi.
  4. Training and Development (TD) officer. Area kerjanya berkaitan dengan peningkatan kompetensi karyawan dan program pengembangan karyawan.
  5. Konselor, baik untuk personal maupun perusahaan.
  6. Jika kamu tertarik untuk menjadi psikolog, kamu harus meneruskan pendidikan hingga S2 Psikologi dan mendapatkan gelar Psikolog. Banyak bidang yang membutuhkan psikolog, temasuk lembaga pemerintah, militer, dan swasta.
  7. Terapis Anak Berkebutuhan Khusus. Saat ini pemintaan terhadap Terapis Anak Berkebutuhan Khusus cukup tinggi seiring mulai banyaknya sekolah yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus.
  8. Trainer. Ingin seperti Mario Teguh? Mungkin ini adalah pekerjaan yang cocok untuk kamu. Ilmu untuk membaca karakter dan melejitkan potensi akan sangat berguna ketika kamu memilih profesi ini.
  9. Konselor karie Banyak dari kita yang mungkin asing mendengarnya. Namun, seiring meningkatnya level kemakmuran dan gaya hidup, konselor karier diperlukan oleh orang-orang yang tetap menginginkan kariernya cemerlang dengan melaksanakan advise dari sang konselor dalam mempertimbangkan untuk menerima atau tidak menerima pekerjaan baru, teknik interview, atau bagaimana mengatasi tekanan saat menghadapi wawancara.
  10. Psikolog o Tidak begitu terdengar di negeri kita walau sudah menjadi pekerjaan yang umum di luar negeri. Namun belakangan ini, profesi tersebut mulai terlihat, terutama di cabang sepakbola. Tugas dari psikolog olahraga ini adalah membantu performance atlet dari sisi psikologi, seperti memberikan motivasi, meningkatkan kepercayaan diri, dan juga melakukan treatment ketika atlet cedera.

 

Selain UI, Universitas Mana yang Punya Jurusan Psikologi?

Selain UI, Universitas Mana yang Membuka Prodi Psikologi? via bempsikologi
Selain UI, Universitas Mana yang Membuka Prodi Psikologi? via bempsikologi

Selain di UI, universitas negeri di wilayah Jawa yang membuka Prodi Psikologi dengan akreditasi A adalah UNAIR, UGM, dan UNPAD. Sedangkan universitas swasta area Jabodetabek yang membuka Prodi Psikologi dengan akreditasi A adalah Universitas Gunadarma, Unika Atmajaya, YAI Persada, dan Universitas Tarumanegara (Untar).

 

Berapa Biaya Perkuliahan di Jurusan Psikologi UI?

Berapa Biaya Perkuliahan di Prodi Psikologi? via bempsikologiui
Berapa Biaya Perkuliahan di Prodi Psikologi? via bempsikologiui

Biaya S1 Reguler di Prodi Psikologi berkisar Rp100.000–Rp5.000.000 dengan skema BOP-B (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan). Biaya ini dibayarkan per semester dan tidak lagi dikenakan biaya SKS. Untuk S1 Reguler, sejak 2013 sudah tidak lagi membayar uang pangkal.

BACA JUGA: Jurusan Manajemen UI dan Hubungan Internasional UI

Untuk S1 Paralel, besaran BOP adalah Rp8.500.000,00 per semester dan Rp11.000.000,00 untuk uang pangkalnya.

Apakah info di atas sudah cukup bagi kamu untuk membuat keputusan? Masih membutuhkan info lagi? Jangan ragu, datangi saja Fakultas Psikologi secara langsung dan cari tahu info yang kamu butuhkan di sana. Good luck ya!

Source:

http://www.ui.ac.id/akademik/sarjana-reguler/fakultas-psikologi/program-sarjana-psikologi.html

http://dialog.ui.ac.id/id/browse/detil/01.00.08.01

http://www.tekun.info/20-peluang-pekerjaan-lulusan-psikologi/

http://ban-pt-universitas.blogspot.co.id/2015/05/universitas-ptn-pts-jurusan-psikologi-terbaik-di-indonesia.html

Yuk, Simak Apa Kata Dosen Tentang Mahasiswa-mahasiswanya?

Selama ini, banyak pembahasan anakUI.com yang datang dari sisi mahasiswa, entah senior entah maba, entah alumni, atau entah baru berencana jadi alumni. Namun, kini BMKG mau mencoba melakukan sesuatu yang berbeda, yaitu mewawancarai dosen.

Yap, memang sudah pernah bahas dosen dari mata mahasiswa, entah itu dosen galak atau dosen cantik. Nah, biar adil mari cari tau tentang mahasiswa dari mata dosen. Siapa tau dapet pencerahan.

 

Si pemburu nilai

Si pemburu nilai via itb.ac.id
Si pemburu nilai via itb.ac.id

Ini salah satu tipe mahasiswa yang paling disayangkan oleh para pengajar atau dosen. Ya, si pemburu nilai. Loh, kenapa? Bukannya bagus ya memburu nilai? Faktanya begini. Ada mahasiswa yang memang pinter dalam banyak hal, dia rajin dan dia gak pernah bolos. Namun, si mahasiswa ini berperilaku demikian hanya karena menginginkan nilai A di semua mata kuliah, bukan ingin belajar atau bukan karena memiliki passion terhadap suatu mata kuliah atau materi.

BACA JUGA: Your Passion, Your True Strength

Memang bukan hal yang buruk, tapi sangat disayangkan. Beberapa dosen menganggap yang bersangkutan tidak mengejar ilmu, namun hanya berusaha terlihat pandai oleh dosen. Yap, dosen bisa lihat itu dan mereka kan ada rapat, jadi kelakuan mahasiswa dalam kelas berbeda dibicarakan oleh masing-masing dosen.

Dosen kabarnya lebih menyukai mahasiswa yang memang memiliki passion terhadap sesuatu, dan menganggap wajar bila ada pembahasan atau tema tertentu yang tidak dikuasai, namun mereka tetap mencoba. Akan terlihat jelas bahwa yang demikian memang mahasiswa pengejar ilmu, lebih menghargai proses daripada hasil akhir.

BACA JUGA: Mendongkrak Semangat dan Kualitas Belajar: Part 2

Mungkin ini penjelasan tentang rumor bahwa yang nilainya selalu straight A tidak sesukses mereka yang nilainya fluktuatif dari B, B+ hingga A. Asumsi logisnya adalah pemiliki nilai fluktuatif menghargai proses, mendapat pengalaman dan memang memiliki passion yang jelas sehingga mengerti apa yang harus dilakukan selepas dunia perkuliahan.

 

Nyontek dan kelakuan mahasiswa lainnya

Nyontek dan kelakuan mahasiswa lainnya via
Nyontek dan kelakuan mahasiswa lainnya via Photo Credit: Mr_Stein via Compfight cc

Ya, dosen tau kalau kamu nyontek. Kamu ngelirik dikit aja tuh keliatan di depan kelas. Mereka marah karena kamu gak mau berusaha lebih keras. Lebih parahnya, ada dosen yang gak suka mahasiswa nyontek karena beranggapan mahasiswa itu gak mau mengakui bahwa mereka memang belum mampu ngerjain tugas tertentu. Sama aja kaya kamu yang pengin punya pasangan yang jujur, dosen juga pengen punya mahasiswa yang jujur dan mau berkembang, bukannya nyerah terus nyontek.

Ya, dosen juga tau kamu suka chatting di kelas, mana ada mahasiswa yang nunduk-nunduk liat ke bawah meja atau ke dalam tempat pensil terus senyum-senyum? Tangannya juga obvious banget kalo lagi ngetik. Tapi ya kan gak semua dosen marah tentang yang begitu. Memang sih, mereka akan lebih seneng kalau kamu fokus memperhatikan, tapi mereka juga paham kamu mahasiswa dan paham kalau dalam situasi rileks, kamu lebih mungkin memberikan performa belajar yang lebih baik.

BACA JUGA: Tri Dharma Perguruan Tinggi, Fase Menuju Pembelajaran Sejati

Perkara telat, ya, sebagian dosen memang gak suka sama mahasiswa telat. Yang gak punya manner, sejenis sama mereka yang makan di kelas atau terang-terangan main sama temennya saat lagi kuliah. Tapi ada beberapa dosen yang menganggap keterlambatan, dalam batas waktu tertentu adalah hal yang wajar. Dengan kamu masuk kelas terlambat, mengucapkan salam dan meminta maaf, lalu menunjukkan rasa bersalah dan berusha keep up dengan materi yang sedang berlangsung, mereka bisa menghormati keinginan kamu untuk belajar.

Malah ada dosen juga yang menyatakan bahwa kamu lebih baik telat daripada tidak hadir, karena dengan tidak hadir kamu gak dapet apa-apa. Beragam kan dosen? Sama aja kaya mahasiswa.

 

Dosen muda & dosen senior

Dosen muda & dosen senior via commdept
Dosen muda & dosen senior via commdept

Nah, perbincangan spesial dari BMKG dengan dosen adalah pandangan mengenai perihal dosen muda dan dosen senior. Alasan kenapa mahasiswa lebih nyaman untuk berbincang di luar kelas dengan dosen muda dan dosen muda lebih bisa mengerti letak kesulitan mahasiswa nyatanya karena kedekatan pengalamannya.

Dosen muda masih dekat dengan kehidupan mahasiswa dan cenderung lebih bisa memahami bagian mana dari sebuah materi yang sulit dipahami oleh mahasiswa. Sedangkan dosen senior, kebanyakan sudah membentuk pola penjelasan tersendiri karena sudah bertahun-tahun mengajar, dan pola penjelasan itu tidak selalu dapat diterma oleh mahasiswa.

BACA JUGA: Belajar Cara Dewasa

Misalnya saja untuk penjelasan sebuah konsep. Mahasiswa akan lebih menangkap apa yang dimaksud apabila contoh yang diberikan dekat dengan kehidupan saat ini, misalnya film terkini atau fenomena sosial terkini. Sedangkan dosen senior yang sudah memiliki pola tersendiri, kurang bisa mencari contoh yang dekat dengan mahasiswa. Meskipun sekarang ini sudah banyak dosen senior yang mulai mengembangkan pola pengajarannya untuk lebih bisa berkomunikasi dengan mahasiswa saat ini.

Nah, lumayan informatif kan diskusi dengan dosen? Share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line supaya temen-temen kamu juga dapet info mengenai pandangan dosen tentang mahasiswa! Tunggu juga hasil diskusi BMKG dengan dosen lainnya ya!

 

7 Alasan Kenapa Masih Suka Ketemu Alumni di Kampus

Mungkin kamu bingung kalo melihat berbagai senior kamu yang udah jadi alumni tetap suka bersemayam di kampus. Mungkin kamu gak peduli, tapi lebih besar kemungkinan kalau kamu akan berpikiran kemana-mana tentang alumni-alumni yang berkeliaran itu.

BACA JUGA: 7 Entrepreneur Alumni UI yang Sukses Melahirkan Puluhan Ribu Lapangan Pekerjaan

Pemikir konvensional biasanya langsung terbersit di otaknya “Lah, mereka gak kerja apa?” Karena anakui gak sesederhana itu otaknya, mari kita luruskan beberapa hal mengenai alumni-alumni yang masih ‘ngampus’ itu.

 

Lagi S2

Mungkin mereka lanjutin S2 via silviajunaidi
Mungkin mereka lanjutin S2 via silviajunaidi

Ini mungkin aja. Kalau kamu lihat senior kamu yang udah jadi alumni, dan kamu inget banget kamu pernah dateng ke wisudanya beliau, kemungkinan dia emang bolak-balik kampus lagi S2 atau malah udah siap ngajar.

BACA JUGA: Nah, Ini Dia Perbedaan Antara Mahasiswa S1 dan S2

Sah-sah aja dong balik ke kampus? Kalau kamu sendiri gak tau alasan senior itu ngampus terus, berarti kamu gak bersosialisasi sama senior dan alumni kamu, sayang sekali.

 

Kerja di industri kreatif

Bisa aja mereka kerja di industri kreatif kayak Raditya Dika via kata-kata
Bisa aja mereka kerja di industri kreatif kayak Raditya Dika via kata-kata

Jam kerja industri kreatif itu gak sekonvensional dan strict jam kantor biasa. Bisa aja malah dia sekarang kerjaannya adalah penulis atau desainer grafis, atau dia bisnis dan punya passive income. Gak berarti kehadirannya di kampus bisa kamu jadikan alasan nganggep dia pengangguran dong? Meskipun mungkin, coba cari tau.

 

Kangen kantin

Atau mungkin mengenang masa-masa sering ngutang di kantin via
Atau mungkin mengenang masa-masa sering ngutang di kantin via bpmfmipaui

Ini makes sense juga, sih. Kamu juga kalau misalnya udah lulus ada kalanya kangen sama kantin kampus, terutama kamu yang semasa kuliah memang doyannya bersemayam di sana ngeliatin gebetan. Atau kamu emang suka nongkrong karena suka makan atau suka atmosfir rame-rame sayup-sayup suara obrolan kantin yang unik itu.

Boleh bangetlah alumni kangen kantin. Malah penulis berharap banget alumni macam Dian Sastro mau singgah ke Kansas lagi. Bolehlah sekalian foto bareng.

 

Dimintain bantuan sama senior kamu

Bisa jadi Dimintain bantuan sama senior kamu via bpmfmipaui
Bisa jadi Dimintain bantuan sama senior kamu via bpmfmipaui

Ini possible juga. Ada aja acara atau kepentingan senior kamu yang butuh bantuan orang yang berpengalaman, dan salah satunya adalah alumni.

BACA JUGA: Beberapa Alasan Kenapa Maba Harus Dengerin Seniornya

Boleh dong senior kamu summon alumni ke kampus buat minta bantuan, entah itu bantuin ngurus acara, jadi supervisor acara sampai ke ngelatih teater atau jadi juri lomba.

 

Ngutang jurnal

Ngutang jurnal via greensingkong
Ngutang jurnal via greensingkong

Yaaaa ini bisa dibilang yang paling mainstream. Mereka masih utang jurnal, mereka belum lulus secara maksimal karena ijazah masih ditahan gegara perkara tugas akhir yang kesannya eternal. Alhasil, bolak-balik kampus buat bimbingan jurnal deh sama dosen. Makanya kamu sering liat alumni berkeliaran.

 

Emang masih nganggur

Ya, walaupun ada kemungkinan masih nganggur juga sih via wepreventcrime
Ya, walaupun ada kemungkinan masih nganggur juga sih via wepreventcrime

Ini hard fact. Kenyataan kadang pahit dan ga setiap sarjana bisa dapet kerja dengan mudah. Dunia di luar sana keras, Bung. Tapi gak berarti kamu boleh nge-judge mereka based on that loh. Siapa tau, siapa tau loh ya, amit-amit sih, kamu lulus juga bakal bernasib sama. Amit-amit dah!

 

Ngunjungin pacar

Nah, atau nggak ngunjungin pacar yang masih belum lulus juga via hipwee
Nah, atau nggak ngunjungin pacar yang masih belum lulus juga via hipwee

Pernah denger pacaran beda agama? Berarti gak asing sama pacaran beda angkatan dong ya. Atau bisa aja angkatan sama tapi yang satu telat lulus. Intinya skenario ini juga mungkin jadi alasan kenapa ada alumni yang sering bolak-balik kampus, bahkan lebih sering dari kamu yang masih kuliah.

Nah, gimana, apa kamu ada alasan lain? Share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau emang ada temen kamu yang bertanya-tanya kenapa itu alumni di kampus kok masih suka ngeliat batang idungnya.

Nah, Ini Dia Perbedaan Antara Mahasiswa S1 dan S2

 

“Rocker juga manusiaa…”

Ya itu potongan lirik lagu, yang sebenernya bisa menggambarkan sedikit tentang pembahasan kali ini. Kamu, mahasiswa S1 adalah mayoritas di kampus. Di bawah kamu, ya ada dosen dan mahasiswa tingkat S2 dan S3 yang sangat lah minoritas. Kali ini, anakui.com akan bahas tentang mahasiswa S2 di kampus UI yang ‘berasa’ minoritas setelah berdiskusi dengan beberapa mahasiswa S2 setempat.

 

Dikira dosen

Sering dikira dosen viacatatandosen43
Sering dikira dosen via catatandosen43

Seserem dan setua apa pun wajah kamu, kamu tetep aja mahasiswa S1, beda dengan mahasiswa S2. Lawakan zaman S1 yang terlontar untuk temen berwajah boros alias tuwir itu awalnya lucu kalo kamu emang sebenernya masih muda. Lain cerita kalo kamu mahasiswa S2 dan seringkali datang dengan pakaian rapi karena menyesuaikan dengan mahasiswa S2 lain.

BACA JUGA: Informasi Beasiswa Jepang Terbaru S2 & S1 + Tips Mendapatkannya

Alhasil, sebagian mahasiswa S2 sering dikira dosen. Meskipun sebenernya ada mahasiswa S2 yang magang, atau dosen baday –iya, gue pake ‘y’ –yang disangka mahasiswa S2, tapi intinya suka ketuker antara mahasiswa S2 dan dosen, secara pemikiran umum kalau kamu main ke kampus tapi bukan mahasiswa, berarti ya dosen.

 

Nongkrong di kantin tak sama lagi

Nongkrong di kantin tak sama lagi via mozaicofmo
Nongkrong di kantin tak sama lagi via mozaicofmo

Yap, ini bener banget. Karena mahasiswa S2 jumlahnya gak banyak luber bikin sempit, kamu harus paham bahwa mereka jadi minoritas. Tambah parah kalau sebenernya mereka juga pernah S1 di kampus yang sama, dan cita rasa nuansa kantin udah berubah drastis.

BACA JUGA: Mau Daftar Beasiswa S2? Yuk Persiapkan Sejak Sekarang!

Biasanya di setiap ujung kantin ada temen dari jurusan lain bertebaran dan bisa bikin mahasiswa kesana-kemari riang gembira, sekarang harus nongkrong di satu meja aja karena gak kenal yang lain. Berasa minoritas karena kalau ketawa gak bisa sebebas dan seanarkis anak S1 yang memang mayoritas. Beda, deh pokoknya.

 

Gak bisa ikut lomba-lombaan

Gak bisa ikut lomba-lombaan via fahnissa
Gak bisa ikut lomba-lombaan via fahnissa

Beberapa lomba dalam fakultas umumnya punya sarat memiliki status mahasiswa aktif. Which means, sebenernya anak S2 bisa aja ikut lomba, dong. Tapi entah kenapa, jarang atau malah gak ada.

Entah mereka yang sibuk atau merasa terisolasi, atau memang gak mau ikut. Atau malah ada skenario kurang orang, misalnya tanding sepak bola S2 lawan S1, ya S2 gak sebanyak itu orangnya.

 

Temen seangkatan…

Teman angkatan yang terbilang sedikit via catatandosen43
Teman angkatan yang terbilang sedikit via catatandosen43

Gak ada temen seangkatan, maksudnya beda sensasi antara temen seangkatan S2 dan S1. Waktu S1, kamu punya temen seangkatan bisa ampe ratusan. Waktu S2, kamu bisa hafal semua temen S2 dalam waktu sebulan. Lebih sedikit, karena memang jumlahnya dikit.

Dan malah temen seangkatan gak selalu punya umur yang sama atau mirip. Kadang beda jauh, gegara baru dapet kesempatan kuliah S2 setelah 3 tahun lulus S1. Atau malah ada yang udah nikah jadi gak bisa berharap kamu diundang ke nikahan dia karena udah selesai tuh nikahannya.

BACA JUGA: Pernikahan Anak UI

Lucunya, kalau ada mahasiswa S2 yang baru masuk 2015, berarti dia itungannya juga maba, loh. Dia maba 2015, tapi maba S2. Gak sama juga sih sama maba S1. Yaaa… setidaknya gak perlu ikut ospek, so, well.

 

Panitia-panitiaan

Udah gak terlibat lagi jadi panitia-panitiaan via fahnissa
Udah gak terlibat lagi jadi panitia-panitiaan via fahnissa

Pasti ada beberapa mahasiswa S2 yang dulunya aktif sana-sini jadi panitia atau anggota organisasi. Namun ketika S2, gak ada kesempatan. Padahal mungkin kampusnya sama, tapi dia gak bisa ikut organisasi gara-gara ya emang bukan jatahnya dia. Meskipun dia pengin. Yaudahlah. Padahalkan S2 juga mahasiswa?

Nah, gimana, berasa gak buat kamu perbedaan ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’ S1 dan S2? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau ada anak S2 yang mau jadi donatur acara kamu? #ngarep

Ketahuilah, Enam Jenis Hadiah (Anti)Mainstream yang Muncul Saat Wisuda!

Andai jemari tak dapat berjabat.

Andai raga tak dapat bertatap.

Margonda macet tiada tara.

Sekitar Rektorat hilang sinyal, pending sepending-pendingnya.

Kurang dari dua minggu lagi, kampus kuning bakal mengadakan hajatan terbesar di Kota Belimbing pada tahun ini bertajuk Wisuda Genap dan Penyambutan Maba 2015. Yak. Tul sekali.

Menggabungkan perhelatan wisuda ribuan sarjana dengan ribuan abg kencur dalam satu tempat bernama Balairung memang sudah menjadi tradisi yang dilakukan kampus ini. Karena jumlah maba yang setiap tahun makin bertambah, kapasitas Balairung pun lama kelamaan udah nggak memadai lagi. Sampe-sampe, orang tua wisudawan dan keluarganya yang jauh-jauh datang hanya bisa menonton anak kesayangannya dari televisi.

Kampus mana lagi coba, yang wisudaannya kek’ nonton bareng drama Turki?

Nah, terkait dengan acara tersebut, tulisan gue di AnakUI.com kali ini bakal membahas tentang enam jenis kado buat orang spesial kita saat wisuda, baik yang mainstream hingga yang antimainstream dan bersifat personal. Please fasten your seatbelt andHere we go!!!

 

1. Bunga

(sumber: kompasiana.com)
(sumber: kompasiana.com)

“Basi! Madingnya udah siap terbit!” (Sastrowardoyo, 2002).

Banyak jenis, banyak warna, ada yang batangan ada juga yang berupa karangan. Bunga adalah hadiah yang paling mainstream yang pasti ada setiap wisuda tiba. Daerah seputaran Balairung yang biasanya gersang pun mendadak jadi Taman Bunga Cipanas hanya dalam waktu satu hari.

Ada yang perlu diperhatikan kala memutuskan untuk membeli bunga wisuda. Pertama, jangan menyerah kalo dikasih harga mahal. Tawar terus sampai harganya rasional. Nggak cocok? Tinggalin aja. Masih banyak tukang bunga lain di lautan. Mau lebih tega? Belinya jam 5! Dijamin para pedagang bakal membanting harga abis-abisan kayak jelang lebaran di Pojok Busana. Daripada nyisa, abangnya rugi, terus ditabur di Kalibata, kan?

Kedua, ingat. Bunga itu sifatnya nggak long last. Nggak sampe dua hari udah layu, busuk terus dibuang. Kaya pacaran. Indahnya di awal doang.

 

 

2. Coklat

(sumber: bestchristmasclub.blogspot.com)
(sumber: bestchristmasclub.blogspot.com)

 

Say it with chocolate, katanya.

Coklat adalah salah satu jenis hadiah yang nggak kalah mainstream dari bunga. Meski kadaluarsanya lebih lama, coklat adalah jenis kado yang paling nggak berbekas. Dibuka, dikunyah, nyelip di gigi, terus tenggelam ke pencernaan bersama dengan lemper, risol mayo, pastel, dan tipikal isi jajanan kotak yang bakal dikasih saat wisuda tiba.

Meski banyak jenisnya, jangan asal pilih coklat ya! Pilih coklat yang bagusan, mahalan dikit, dikasih pita. Jangan ngasih coklat dalam bentuk sari roti. Temen kamu lagi wisuda, bukan mau karyawisata. Paling krusial: jangan ngasih coklat dalam bentuk chiki. Dikata temen lu maniak pokemon yang mau mengoleksi tazos apa gimana?

Tapi gue yakin, siapapun pasti suka coklat lembaran yang warnanya kemerah-merahan, yang ada gambar Sukarno-Hatta. It works.

 

 

3. Boneka

Sejak kapan coba, Doraemon sama Piglet belajar Hukum Perdata? (sumber: lagoric-hobby-toys.blogspot.com)
Sejak kapan coba, Doraemon sama Piglet belajar Hukum Perdata? (sumber: lagoric-hobby-toys.blogspot.com)

Bersama dengan bunga dan coklat, boneka adalah salah satu contoh kado wisuda yang mainstream lainnya. Di hari wisuda nanti, beragam boneka berseragam toga dan Makara UI yang dibordir sekenanya bakal bermunculan, mulai dari boneka beruang, panda, macan, hingga sosok-sosok kartun nggak nyambung misalnya stok boneka Doraemon, Minnie Mouse, dan Masha yang jahitan kepalanya panjul peang bakal dijual demi meraup rupiah.

Udah mendadak banyak kembang, banyak yang jual boneka sayang anak pula. Fix. Ditambah ubi cilembu sama Masjid At-Taawun, sekitaran Balairung persis kawasan Puncak.

 

 

4. Selempang

(sumber: @kadountukmu)

Ketimbang tiga kado sebelumnya, menurut gue selempang adalah kado wisuda yang sifatnya lebih personal, pas langsung ke orangnya. Lewat jasa-jasa jualan wisuda yang ada di dunia maya, kita bisa me-request sendiri warna dan tulisan yang bakal kita sematkan ke teman sendiri, seperti (((NAMA LENGKAP))) + (((GELAR))), (((Akhirnya Cumlaude))), (((Wisuda Jomblo))), (((Miss Komunikasi))), hingga (((Makhluk Tuhan Paling Seksi))).

 

Tapi inget, wisuda adalah momen berharga yang dilalui bersama teman dan tentu saja k-e-l-u-a-r-g-a. Jadi, jangan sekali-kali beri teman kamu selempang bertulisan (((Dijual Cepat))), (((Butuh Uang))), atau (((Masuk Gratis Keluar Bayar))) yha.

Pokoknya, jangan.

 

 

5. Hadiah Handmade

11904713_872686806113697_825906488393678457_n
Papercut Wisuda Ala-ala (sumber: @paperishdesign)

Selain bersifat personal, kado yang berupa kerajinan atau sifatnya handmade ini biasanya nggak bakal bisa ditemui pas hari-H alias  harus dipesan jauh-jauh hari. Keuntungannya adalah selain waktunya yang bisa bertahan lama, apa yang bakal kamu dikasih ke orang spesialmu ini hanya ada satu di muka bumi ini. Ada banyak jenis kado yang biasa dijual untuk wisuda, misalnya karikatur, siluet, atau papercraft seperti yang di atas tadi. Nah, mumpung wisudaan masih cukup lama, nggak ada salahnya buat mulai nyari-nyari foto aib teman kamu dan mikir-mikir bakal pesan dari sekarang.

Kan lumayan, bisa dijadikan pajangan di kamar atau sekadar di meja kerja nantinya. Eak.

 

 

6. Bantal Wisuda

 

Cocok buat Wisudawan/i yang Haus Pelukan Pas Hari-H (sumber: @kumaha.inc)

Yang terakhir ini kayaknya agak jarang dan masih newbie di dunia perkadoan. Yha. Bantal wisuda.

Selain bersifat personal, nggak bakal bisa ditemui pas hari-H, serta hanya ada satu di muka bumi, kado wisuda berupa bantal sepertinya merupakan ide cerdas buat kamu yang kepengin hadiah yang kamu berikan akan berguna dengan sangat baik untuk teman-teman kamu sekalian.

Dengan harga yang lebih murah dari boneka, kado kamu yang satu ini pastinya bakalan lebih kepake dan dikenang. Lagipula, isian yang empuk, desain yang customable, dan ukuran yang gemes, nggak membuat nasib bantal ini berakhir sebagai pajangan doang. Teman kamu yang wisuda nanti bisa menggunakannya dalam berbagai macam kesempatan, misalnya dekorasi kamar, teman cuddling, ganjelan di mobil, atau sarana peluk-peluk kangen apabila kamu dan dia harus terpisah cukup jauh akibat jarang ketemu karena domisili kerja yang berbeda.

Karena persahabatan nggak melulu indah-indahnya doang. Justru, konflik dan iler-ilernya itulah yang selalu bikin kita keingetan.

 

 

*****

 

“We do not remember days, we remember moments.” – Cesare Pavese, The Burning Brand: Diaries, 1935-1950.

Menjelang wisuda tanggal 28 Agustus mendatang, nggak ada salahnya buat kamu untuk menyisihkan waktu dan turut menggerakkan perputaran ekonomi mikro Indonesia dengan memberikan hadiah gemas ke orang spesialmu nanti.

Ya udah deh, gitu aja.

Jangan lupa datang membawa hadiah dan mari ramaikan perhelatan akbar Wisuda Genap UI 2015!!!

 

 

Hormat saya,

Yang kebetulan ikutan diwisuda.

 

Hal-hal Menarik yang Cuma Ada Di Wisuda Sarjana UI

UI banget nih. Tiap tahunnya, UI menghasilkan ribuan sarjana dari berbagai cabang ilmu pengetahuan, meskipun UI juga, technically, menunda kelulusan ribuan sarjana yang nyangkut karena belum lulus beberapa matkul. Anyway, apa yang menarik sih dari wisuda sarjana UI?

 

Kemacetan di sekitar UI

Kawasan UI pastinya jadi macet via beritadaerah
Kawasan UI pastinya jadi macet via beritadaerah

Ini menarik? Sebenernya gak terlalu kalau kamu hanya melihatnya secara sederhana. Iya, UI ketika wisuda bikin macet. Macet banget. Karena banyak orang tua yang nganterin anaknya ke wisuda di Balairung, sampai parkir di sepanjang jalan yang masih ada space buat parkir. Mungkin bisa dibilang satu-satunya momen tempat parkir Balairung penuh adalah wisuda.

Lalu apa yang menarik? Yang menarik adalah banyak orang Depok dan sekitaran UI lainnya yang kadang merasa gak nyaman dengan kemacetan yang disebabkan oleh acara UI yang satu ini. Well, maaf deh kalau bikin macet, tapi bukankah kalau gak ada UI di Depok dan sekitarannya itu sekadar rawa-rawa dan hutan, yah? Semua udah sepakat akan hal itu loh.

 

Pak Dibyo

Selalu ada Pak Dibyo di Wisuda UI
Selalu ada Pak Dibyo di Wisuda UI

Tentu saja ada Pak Dibyo. Pak Dibyo ini bukanlah lagi sekedar dateng loh, tapi udah jadi simbol kehidupan. Simbol awal dan akhir. Dulu zamannya masih maba, mereka yang diwisuda disuruh nyanyi sama Pak Dibyo, kini beliau mengiringi mereka wisuda dengan nyuruh maba nyanyi juga. It’s almost poetic, y’know? Seakan-akan beliau bilang ‘Go ahead and sing, until you’re stand there with everyone sing for you!’ MAA—HAAA-SIS-WAA!

Selalu lebih semangat dari yang nyanyi maupun yang diwisuda.

Epik.

 

Penjual Bunga

Balairung jadi wangi karena banyak yang jual bunga via sinarharapan
Balairung jadi wangi karena banyak yang jual bunga via sinarharapan

Entah mengapa ada tradisi ngasih bunga ke senior yang diwisuda. Meskipun gak ngerti kenapa, tradisi tetep dilakukan. Akhirnya banyak mahasiswa yang ikutan jual bunga di sekitaran balairung untuk mahasiswa lain yang mau menghadiahi si senior kesayangan dengan seikat bunga. Pastikan dulu senior yang bersangkutan memang gak alergi bunga.

 

Senior yang diwisuda

Wajah-wajah bahagia karena berhasil diwisuda via Agus Ramanda
Wajah-wajah bahagia karena berhasil diwisuda via Agus Ramanda

Ya iyalah ada mereka. Merekalah yang jadi pusatnya. Wisuda adalah simbol selesainya perkuliahan mereka. Bau toga semerbak memenuhi udara. Senengnya gak ketulungan, berasa diangkat dari neraka dimasukin ke surga. Setelah 7, 8, 9, atau bahkan 10 semester bergulat, akhirnya lulus juga!

Padahal, menurut beberapa kesaksian dari mereka yang sudah alumni, itu adalah bentuk menyelesaikan neraka level 1 dan masuk ke neraka level 2. Tempat sarjana harus berkompetisi dengan sarjana lainnya untuk dapet kerjaan dan mempertahankannya meskipun gak sedikit kelar wisuda langsung nyebar undangan.

 

Senior yang belum diwisuda

Senior yang belum diwisuda via mochacom
Senior yang belum diwisuda via mochacom

Yah, semiris apa pun kisah kamu, mau diwisuda setelah semester 9 atau 10, gak ada yang semiris senior yang mengantarkan dan merayakan kelulusan temen seangkatannya atau malah kelulusan juniornya, sementara mereka masih harus bertarung di bangku kuliah. Mereka tetep dateng, dengan harapan di kesempatan berikutnya, giliran mereka yang pake toga.

 

Maba

Maba yang bangga pake jakun via rri
Maba yang bangga pake jakun via rri

Ya, bermodalkan latihan padus bersama Pak Dibyo dan sekotak nasi + ayam, para maba dengan mengenakan jakun yang masih mereka banggakan karena baru dapet sehari sebelumnya, bahkan ada yang badge makaranya belum dipasang karena entah males, lupa atau akhirnya nempelin pake double tape, mengantarkan kelulusan seniornya dengan lagu Gaudeamus Igitur. Entah apa artinya, itu bahasa latin, yang penting nyanyi. Mau sopran atau alto, bas atau tenor, melengking-lengking atau cuma lip sync, harus nyobain deh tuh yang namanya nyanyi di Balairung.

Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line! Mudah-mudahan pada cepet ngerasain wisuda!

Eits buat maba, ada tulisan bermanfaat buat kamu yang wajib kamu baca nih: Biar Gak Nyesel di Kemudian Hari, Jangan Lupa Buat Lakuin Ini Pas Jadi Maba.

5 Alasan Kenapa Alumni UI Adalah Menantu Idaman Orangtuamu

 

WARNING!!! Tulisan yang satu ini hanya diperuntukkan buat kamu, kakak-kakak alumni UI yang udah kece dan siap untuk berkeluarga.

Ish. Sombong banget! Mau ngomongin apa, sih?

Bukan apa-apa Masbro, kalau yang baca ini mahasiswa yang masih jomblo-jomblo unyu nanti sakit ati. Percaya deh.

Karena oh karena, kita bakal ngomongin seputar PER-NI-KAH-AN! Yup! Pernikahan haha.

Bagi kakak-kakak alumni, setelah lulus kuliah tantangan hidup berikutnya yang harus dihadapi adalah dunia kerja dan dunia pernikahan.

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, dan norma sosial. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi menurut tradisi suku bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.

Bagi sebagian orang, pernikahan tidaklah menjadi hal yang diutamakan. Namun, bagi sebagian lainnya, pernikahan bagaikan ultimate satisfaction of life yang harus dicapai demi mendapatkan kebahagiaan tertinggi. Hati siapa yang tak ‘kan tergoyang di saat orang tua udah membisikkan kalimat sakti, “Kapan ya, bapak/ibu bisa nggendong cucu? Kalau kamu kerja bapak/ibu kan kesepian di rumah.”

Ingin sih nikah, tapi sama siapa? Itu pertanyaan yang sering bergemuruh di hati kita. Namun, bagi kamu yang memang mempersiapkan diri untuk menikah, ada baiknya kamu mempertimbangkan bahwa pendamping hidup yang akan kamu nikahi adalah alumni dari Universitas Indonesia. Bukan, bukan bermaksud sombong. Namun ada beberapa hal baik yang bisa kita petik bersama dari karakter pribadi seseorang yang telah menjalani 3-4 tahun atau bahkan lebih di komplek kehidupan Universitas Indonesia yang mungkin akan sangat jarang didapatkan di lingkungan kehidupan lainnya.

 

Berjiwa Kepemimpinan

Berjiwa kepemimpinan. (Sumber: depoktren)
Berjiwa kepemimpinan. (Sumber: depoktren)

Sounds too good to be true, tapi bisa dicek. Tak sedikit mereka yang telah menghabiskan waktu untuk memperjuangkan hidupnya di lingkungan civitas akademika Universitas Indonesia, memiliki jiwa kepemimpinan yang tidak biasa. Sifat kemandirian yang telah terlatih secara tak sadar, sejak pertama kali menjejakkan kaki di kos-kosan pertama, sifat tak mudah menyerah saat mengerjakan tugas dan mengejar dosen pembimbing. Atau bahkan sifat yang membuat dirinya percaya bahwa setiap mimpi adalah hal yang sangat mungkin untuk diwujudkan, mampu membentuk jiwa setiap insan di Universitas Indonesia memiliki jiwa kepemimpinan yang tidak biasa.

Benar saja, udahlah seleksi masuknya susah, tiap hari ketemu manusia dengan beragam karakter bahkan tak sedikit ketemu orang yang bilang “Kamu yakin punya cita-cita jadi pilot? Udahlah fokus aja sama mata kuliah kamu.” Hal-hal seperti ini membuat para mahasiswa UI semakin memegang teguh mimpi yang mereka peluk erat-erat sedari hari pertama mereka melewati gerbang utama Universitas Indonesia. Mereka percaya pada mimpi. Dan ingatlah, ada kata “Pemimpi” di dalam kata “Pemimpin”

 

Kreatif dan Imajinatif

Kreatif dan imajinatif. (Sumber: youtube)
Kreatif dan imajinatif. (Sumber: youtube)

Pernah main ke kosan teman kamu yang kuliah di UI? Coba lihat rak bukunya, apa saja yang mereka baca? Coba lihat dinding kamarnya, apa saja puisi-puisi yang mereka tuliskan? Dan coba lihat koleksi musisi idolanya, siapa saja yang mereka idolakan?

Kemampuan untuk mengelola mimpi hingga menjadi nyata, bukan satu-satunya potensi alumni UI yang patut diacungi jempol. Perlu diketahui, untuk berpegang teguh pada mimpi, seseorang memerlukan role model yang juga berpegang teguh pada cita-citanya. Dan tak sedikit, dari sekian banyak role model tersebut, muncul dari kalangan seniman dan penggiat budaya. Orang-orang seperti Pramoedya Ananta Toer, Soe Hok Gie, Chairil Anwar, hingga Steve Jobs, Adolf Hitler, Leo Tolstoy atau Hayao Miyazaki, adalah sebagian dari tak sedikit deretan role model yang selalu memotivasi anak UI dari generasi ke generasi.

Hal ini membuat tak sedikit dari anak UI yang memiliki kemampuan berimajinasi dan kreativitas yang tak kenal batas. Ditambah lagi, lingkungan yang sarat dengan tenggang rasa dan saling apresiatif terhadap suatu karya semakin membuat mereka aktif dalam berkreasi. Mewujudkan karya dan ide-ide yang tak banyak orang lain pikirkan.

 

Menguasai Bahasa Asing

Menguasai bahasa asing. (Sumber: Youtube)
Menguasai bahasa asing. (Sumber: Youtube)

Percaya atau tidak, tak sedikit pula dari anak UI yang dalam kehidupan sehari-harinya berkomunikasi menggunakan bahasa asing. Bukan, bukan karena mereka tidak mencintai bahasa dan budaya Indonesia, melainkan sebaliknya. Di dalam hati sanubari mereka yang paling dalam, sungguh, mereka ingin tidak hanya memperkenalkan Indonesia namun juga berkeinginan keras untuk menunjukan produk dan karya Indonesia kepada dunia.

Karena itu, tak sedetik pun, anak UI melewatkan kesempatan emas ketika ketemu native speaker dari berbagai bahasa yang juga menuntut ilmu di kampus kuning ini. Tak heran, ketika mereka lulus kuliah, mereka dapat dengan mudah menguasai bahasa asing. Semudah mengenali adanya dialeg bahasa Belanda yang janggal pada film “Merah Putih”. Atau semudah mereka bisa membantu bule Perancis yang kesasar dan nanya arah jalan di depan rumah makan ‘Es Pocong’. Tentunya ini akan menjadi modal utama dalam meraih cita-cita.

 

Visioner

Visoner. (Sumber: ui)
Visoner. (Sumber: ui)

Karena berada di lingkungan yang mengapresiasi karya, dan memicu kreativitas dan imajinasi mereka, tak sedikit alumni UI dapat mengidentifikasi problem apa yang saat ini tengah melanda Indonesia dan tak sedikit pula dari mereka yang kini tengah mengerjakan berbagai project yang tentunya akan menyelesaikan problem-problem tersebut.

Kemampuan mereka dalam ‘melihat’ masa depan menjadi kelebihan tersendiri yang kemudian mereka tuangkan dalam berbagai karya cipta. Seperti Najwa Shihab dengan ‘Mata Najwa’-nya, Rhenald Kasali dengan Rumah Perubahan-nya, Tompi dengan musikalitasnya, Garin Nugroho dengan berbagai karya filmnya atau bahkan Alm. Ibu Ainun Habibie dengan berbagai kegiatan sosialnya.

 

Cinta Alam

Mapala UI
Mapala UI

Apa yang membuat Soe Hok Gie akhirnya mencetuskan ide untuk mendirikan organisasi Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA)? Tak lain dan tak bukan karena kecintaannya pada alam dan kemampuanya dalam berimajinasi yang disertai dengan aksi nyata.

Tak berhenti di sana, jika kamu perhatikan, mari kita hitung, ada berapa banyak kegiatan mahasiswa UI yang berkaitan dengan alam namun juga di waktu yang sama menyelesaikan problem sosial? Ambil contoh, jika kamu ke stasiun Depok Baru, kamu akan menemukan bilik menyusui khusus ibu hamil yang diprakarsai oleh teman-teman kedokteran UI. Hanya kepekaan terhadap alam sekitar dan kepekaan sosial yang tinggi mendorong terjadinya ide tersebut menjadi nyata.

Poin-poin di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kelebihan alumni UI yang patut kamu pertimbangkan untuk dijadikan pendamping hidupmu. Mungkin kamu dengan mudah berfikir, “Ah masa iya kampus lain nggak nemu yang kayak gitu?”

Namun, satu hal yang pasti, mereka yang memiliki tingkat kepekaan sosial dan kemampuan intelektual yang saling melengkapi bukanlah tipe manusia yang dapat kamu temukan dengan mudah. Tidak ada salahnya, jika kamu mencoba mencari dari lingkungan terdekat, salah satunya lingkungan civitas akademika Universitas Indonesia.

Sama alam aja cinta, gimana sama kamu? Eaaa~

Buang sampah sembarangan aja nggak mau, apalagi buangin perasaan kamu sembarangan. *makin Eaaa~~*

Jika kamu merasa setuju dengan ulasan kali ini, jangan lupa untuk bagikan ulasan ini melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu ya! Jika kamu punya hal lain yang perlu kami tambahkan, kami tunggu komentar terkini kamu di comment box! 😉

 

8 Hal Paling Penting yang Harus Ada di CV Kamu Biar Dilirik HRD

Kamu mahasiswa UI yang baru lulus kuliah dan lagi seru-serunya job-hunting alias nyari kerjaan? Bingung kok sampai sekarang CV atau daftar riwayat hidupnya belum ada yang jebol? Hmm, mungkin kamu perlu mengubah sedikit CV kamu supaya terlihat outstanding dan melihat contoh daftar riwayat hidup yang menarik.

Tahukah kamu? Dalam setiap perusahaan,  mungkin tidak hanya CV kamu yang diterima pada kotak masuk (inbox) surat-menyurat perusahaan tersebut. Mungkin CV kamu ditumpuk di tengah-tengah di antara ratusan atau bahkan ribuaaaan CV pelamar lainnya. Lalu, gimana caranya kamu mampu meyakinkan pihak HRD atau pihak perusahaan tempat kamu mengirim CV untuk melamar kerja bahwa kamulah yang terbaik dan pantas bekerja dibandingkan pelamar lain? Cuma modal ngaku-ngaku alumni UI? Yakin? Coba itung ada berapa banyak alumni UI yang juga apply ke perusahaan tersebut? Kamu doang?

Well, selamat ya. Ternyata nggak kamu doang. Jadi, gimana caranya supaya dia tertarik melihat CV kamu? Ada beberapa trik & cara yang anakui.com berhasil kumpulkan untuk membuat CV kamu dilihat oleh HRD, spesial buat kamu! Berikut di antaranya:

Format CV Menarik dan Professional

Format CV Menarik dan Professional. (Sumber:)
Format CV Menarik dan Professional. (Sumber:Photo Credit: EersteWerkgever.nl via Compfight cc)

Tampilkan keunikan dan keunggulan kemampuan personal kamu. CV kamu harus mampu merepresentasikan kompetensi, pengalaman, dan gaya presentasi diri kamu. Profesional yang dimaksudkan di sini tak harus bersifat formal dan membosankan, melainkan kamu harus membuat diri kamu tampil semenarik mungkin  pada CV yang kamu buat.

 

Singkat dan Padat

Kayaknya, mending CV harus singkat dan padat aja deh. (Sumber: hotneukpophj)
Kayaknya, mending CV harus singkat dan padat aja deh. (Sumber: hotneukpophj)

Jangan terlalu banyak membuang halaman, CV sebaiknya dibuat singkat dan padat. Agar pembaca tidak bosan, panjang CV disarankan maksimal dua halaman.

 

Data Diri Lengkap

Data Diri Lengkap. (Sumber: baike.m.sogou)
Data Diri Lengkap. (Sumber: baike.m.sogou)

Cantumkan alamat profesional kamu, termasuk nomor handphone dan e-mail untuk korespondensi. Pastikan email kamu bukan nunaCh4nti9ue89@yahoo.com yah! Pastikan juga semua data komunikasi yang kamu isikan, dapat dihubungi kapan saja oleh penerima CV. Di dunia professional, seseorang bisa dikatakan “professional” atau “tidak professional” hanya dengan menilai apakah ia sanggup mengangkat telepon kapan pun dibutuhkan.

 

Bertujuan Jelas

"Ih, CV apaan nih?!" (Sumber:)
“Ih, CV apaan nih?!” (Sumber:Photo Credit: Alan Cleaver via Compfight cc)

Tuliskan jabatan yang dituju, sesuai kode yang perusahaan berikan, jika ada. Serta utarakan kenapa kamu memilih perusahaan tersebut. Pastikan kamu melamar pada perusahaan yang pekerjaannya sesuai dengan passion kamu, atau setidaknya kamu menyukainya. Jika tidak, sebaiknya tidak usah melamar. Setiap perusahaan mencari pegawai yang mencintai apa yang dikerjakannya dan mengerjakan apa yang dicintainya.

 

Pendidikan, Pelatihan, Prestasi

kasih tau, apa aja prestasi kamu. (Sumber: flickr)
kasih tau, apa aja prestasi kamu. (Sumber: flickr)

Dalam kualifikasi, beri penekanan pendidikan atau pelatihan yang pernah kamu ikuti. Cantumkan penugasan, proyek individu, proyek kelompok, presentasi, nilai, prestasi yang pernah diraih, apa pun yang membuat kamu menonjol dan relevan dengan posisi yang diincar. Proporsi pencantuman antara tugas dan prestasi, perlu seimbang.

 

Pengalaman

Pernah jadi volunteer? masukin aja. (Sumber: di sini)
Pernah jadi volunteer? masukin aja. (Sumber: di sini)

Cantumkan pengalaman kerja bermakna yang pernah kamu jalani, baik secara profesional maupun sukarela, yang relevan. Termasuk kerja sukarela, penempatan saat Praktek Kerja Lapangan berkaitan dengan mata kuliah yang kamu ambil.

 

Kemampuan Khusus

Kemampuan khusus. (Sumber: allianceabroad)
Kemampuan khusus. (Sumber: allianceabroad)

Jelaskan pula kemampuan khusus apa yang kamu miliki dan kamu sangat skill-able dalam bidang itu. Misal: kepemimpinan, time management, project management, social media, design, photography, dan lainnya.

 

Referensi

Berikan referensi. (Sumber:)
Berikan referensi. (Sumber:Photo Credit: T-Oh! & Matt via Compfight cc)

Jika ada pihak tertentu yang merekomendasikan perusahaan tempat kamu akan bekerja, cantumkan nama pihak pemberi referensi yang bisa menambah kredibilitas kamu. Bisa tokoh di bidang kreatif, mentor saat bekerja sebelumnya, dosen pembimbing, atau seseorang yang memiliki reputasi baik di bidang yang dilamar dan pastikan orang atau institusi yang merekomendasikan kamu telah mengenal pribadi kamu dengan baik sebelumnya. Mintalah izin terlebih dahulu pada pihak pemberi referensi, bahwa nama mereka kamu sertakan, dan kirim update CV terakhir kamu ke alamat pemberi referensi sebagai backup data kamu saat dihubungi pihak perekrut.

 

Bila kamu berminat memasuki perusahaan yang bergerak di industri kreatif, seperti agensi periklanan atau  studio film, buatlah CV kamu terlihat atraktif, “menjual”, dan efektif dengan merancang CV kamu secara visual dan “berbeda” dari CV pada umumnya. Berikut di bawah ini adalah beberapa CV yang menarik dan atraktif secara konten dan visual :

(Sumber: di sini)
(Sumber: di sini)

 

 

(Sumber: di sini)
(Sumber: di sini)

 

Apa? Nggak cukup dengan contoh CV keren di atas? Tenang! Kami punya referensi lainnya, nih. Kamu bisa cek ke laman theultralinx ini. Semoga dapat pencerahan, ya!

 

Katanya Anak UI Kaya-kaya, Pintar dari Lahir, Kuliahnya Enak, Abis Lulus Pasti Sukses. Bener Nggak Sih?

Mungkin tak sedikit yang mengira bahwa menjadi mahasiswa UI itu enak. Fasilitas terjamin, punya teman sekelas cerdas-cerdas, dan selalu bisa diandalkan, bahkan tak sedikit yang mengait-ngaitkan kami, para mahasiswa dengan alumni-alumi UI yang sudah sukses.

Mungkin memang itu yang dibayangkan oleh orang-orang, terutama orang tua. Atau mungkin, itukah yang kamu bayangkan?

Maka ketahuilah, beberapa mitos seputar mahasiswa UI di bawah ini sengaja kami tujukan kepada kamu yang selalu menganggap bahwa kami, mahasiswa/i UI berbeda dengan mahasiswa lain. Bukan untuk menyombongkan diri, bukan, sama sekali bukan. Namun, justru untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kami, mahasiswa/i Universitas Indonesia tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus lain. Bahwa kami, tidak begitu istimewa.

Anak UI Sudah Pintar dari Sananya

Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)
Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)

Memang benar bahwa kami yang diterima di Universitas Indonesia, telah melewati tahapan seleksi yang tidak mudah yang bahkan menurut kami, hal ini pun terjadi di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Namun, ketahuilah tidak ada yang namanya mahasiswa “sudah pintar dari sananya”. Kita semua, mahasiswa, melewati proses yang sama. Derita tugas tiada akhir. Bagaimana reaksi dan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantanganlah yang membuatnya berbeda.

Karena talenta setiap manusia berbeda, cara belajarnya pun berbeda. Ada orang yang perlu menyetel musik untuk membuatnya rileks dalam menyerap suatu pengetahuan. Ada juga yang membutuhkan situasi rileks saat menjelang ujian, sehingga ia harus menonton film terfavoritnya terlebih dahulu sebelum ujian, atau bisa juga dia berlibur ke suatu tempat untuk membuatnya rileks. Ada juga yang memang kutu buku, yang sedari awal semester sampai saat pesta ulang tahun sahabatnya bacabuku teruuus.

Namun, akankah selalu si kutu buku yang mendapatkan nilai A setelah ujian berakhir? Belum tentu. Tergantung kemana tangan dosen menentukan takdir mahasiswanya. Ketika si kutu buku sudah belajar setengah mampus, lalu tiba-tiba dosen kasih C, dia bisa apa?

Sekarang coba tukar posisi. Kamu belajar mati-matian lalu tiba-tiba dapat nilai D hanya karena dosen nggak suka sama kamu? Lalu teman kamu di kampus sebelah seenaknya bilang “Kamu kan anak UI! Sudah pintar dari sananya.” Nah, gimana perasaan kamu? Enak? Selamat menikmati.

 

Anak UI Kaya-Kaya, ke Kampus Bawa Mobil

Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)
Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)

Well, memang tak sedikit mahasiswa UI yang membawa kendaraan pribadi. Namun, ketahuilah, tidak serta-merta kendaraan tersebut membuat kami kaya. Lho, kenapa?

Karena, meski ke kampus bawa mobil, sungguh menyakitkan jika harus menghemat makan siang di warteg dengan harga tidak boleh lebih dari Rp 7.000 dan mengingat-ingat bahwa kredit mobilnya belum lunas meskipun sudah bekerja di luar kuliah mencari tambahaan untuk melunasinya, khawatir hilang, atau tergores karena mobilnya bukan punya pribadi, melainkan pinjaman.

 

Anak UI Kaya-Kaya, Tinggalnya di Apartemen

Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)
Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)

Ketahuilah, harga kosan di area sekitar Universitas Indonesia jauuuuuuuuuuuuuh lebih mahal dari apartemen tempat sebagian dari mahasiswa UI menetap. Dan ketahuilah, meski harga sewa apartemen kami Rp 2.000.000-an, faktanya, kami tidak menyewa 1 kamar apartemen untuk 1 mahasiswa, melainkan untuk 5 orang atau bahkan ber-10 (jika nggak ketahuan).

Itu pun, ketika hari Minggu atau libur nasional tiba, kami bisa bernafas lega atau bahkan bersujud syukur. Kenapa? Karena kami berterimakasih pada situs-situs yang membantu kami untuk menyewakan kamar di apartemen kami. Ya, kamarnya kita sewakan secara online. Karena di saat libur tiba, tidak ada orang yang menempati. Ada yang pulang kampung, ada yang naik gunung, dll. Sehingga kami pun mendapat penghasilan tambahan yang cukup untuk memenuhi stok makanan bulanan kami.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Fasilitasnya Lengkap

Fasilitas anak UI lengkap.

Memang betul fasilitas di Universitas Indonesia bisa dikatakan memenuhi standar perguruan tinggi pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak membuat perkuliahan kami terasa enak-enak saja.

Ketahuilah, penambahan fasilitas seperti perpustakaan atau laboratorium, membuat kami pingsan setengah mati. Kenapa? Ya, karena TUGAS! Oh my… Semakin susah cari alasan untuk tidak mengerjakan tugas, semakin susah untuk menarik nafas dan menikmati hidup. Tidak seperti kamu yang kalau sore nggak ada kelas masih bisa tidur siang dan bermalas-malasan. Ketahuilah, bahwa istilah “tidur siang” adalah suatu kemewahan tersendiri bagi kami yang berkuliah di kampus perjuangan ini.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Abis Lulus Koneksi Alumninya Banyak

Pengusaha-UI-Chairul-Tanjung

Memang betul bahwa tak sedikit alumni Universitas Indonesia yang meraih puncak kesuksesan.Lalu, apakah hal tersebut memiliki relevansi tertentu terhadap kesuksesan kami yang baru lulus kuliah?

Ketahuilah, bagi kami yang baru lulus kuliah, kami tidak serta-merta bisa seenaknya datang ke Nicholas Saputra dan berkata “Hai kak, aku alumni UI loh, bagi kerjaan dong.” lalu berharap bisa sukses cepat. Ketahuilah, bahwa untuk ketemu alumni yang sukses itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalaupun ketemu, tidak akan terjadi hal yang istimewa.

“Oh, jadi kamu lulusan UI juga? Aku juga, lho. Angkatan berapa? Jurusan apa?”

“Iya, kak. Angkatan sekian, Kak. Jurusan anu, Kak.”

“Oh, gitu. Wah, seru ya. Bla bla bla… Oke, bye.”

Begitulah.

Sebenarnya masih banyak mitos lain yang rasanya perlu kami ceritakan, namun, kami harap dengan sekelumit mitos yang ada di atas, kamu bisa sadar. Sadar, bahwa kami tak jauh berbeda dengan kamu. Mahasiswa biasa dan tidak teristimewa.

Kenapa kami menulis ini? Karena kami menganggap keistimewaan itu TIDAK terletak pada kampus mana kamu menuntut ilmu. Namun, cara kamu beradaptasi terhadap tantangan hiduplah yang mampu membuat kamu, dan setiap mahasiswa, menjadi istimewa. Jika kamu setuju, maka jangan sungkan untuk membagi tulisan ini melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu. Sekedar bekomentar pun tidak masalah, karena dengan berdiskusilah kita bisa mengasah tidak hanya kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan sosial.

 

Kisah Misteri Legenda Kampus UI: Cewek di Depan Rektorat

Setelah sekian lama, nggak ada salahnya jika saat ini kita bernostalgia dengan kisah-kisah lama yang membuat kenangan kita di Universitas Indonesia semakin tak terlupakan. Dari sekian banyak kisah lama yang patut kita ceritakan kembali, salah satunya adalah kisah seputar memori yang terjadi pada tahun 1999.

Kisah ini kami dapatkan dari salah seorang senior di kampus berjaket kuning ini yang ia ceritakan dengan penuh semangat beberapa waktu lalu. Kisah yang satu ini tidak akan membuat kita menangis atau tertawa, namun jelas akan membuat kita mengingat-ingat hal yang terlupakan tentang bagaimana UI dikenal pada zaman dahulu kala.

Tanpa perlu panjang lebar lagi, yuk kita simak kisah seru berikut ini!

Cerita UI zaman dulu. (Sumber: cityanalysts)
Cerita UI zaman dulu. (Sumber: cityanalysts)

Pada suatu waktu, ada seorang mahasiswa (atau setidaknya di tahun 1999 masih jadi mahasiswa), sebut saja namanya Bagong (bukan nama sebenarnya, karena sebenarnya, namanya adalah Petruk). Bagong adalah tipe mahasiswa yang aktif di senat dan selalu berpartisipasi di setiap aktivitas kampus. Pada suatu malam, Bagong dan teman-teman kongkow-annya tengah sibuk mempersiapkan poster dan berbagai hiasan untuk acara 17 Agustus-an di kampus.

Satu demi satu anak senat pun pulang, karena hari semakin larut tapi pekerjaan organisasi belum jua tuntas. Akhirnya tersisalah Bagong dan seorang teman bernama Budi (kakaknya Ani yang ada di buku Bahasa Indonesia jaman esde itu, lho). Bagong dan Budi berencana untuk menginap di kampus karena pekerjaan organisasi yang belum jua tuntas tadi itu.

Akhirnya, Bagong dan Budi berencana balik dulu ke kost-an untuk mandi dan mengambil beberapa pakaian untuk ganti esok paginya, lalu kembali ke kampus untuk tidur di ruang senat setelah menyelesaikan poster dan beberapa hiasan.

Bagong dan Budi kemudian menumpang mobil Budi yang kebetulan AC-nya mati. Malam itu Budi dengan santai nyetir dengan dua jendela terbuka. Mereka melewati Gedung Rektorat Universitas Indonesia.

Tiba-tiba, di depan mobil tampak seorang perempuan berjalan sendirian di tengah gelapnya malam, saat itu jam tangan Budi menunjukkan pukul 23.30 WIB. Perempuan itu tampak berjalan dengan tertatih-tatih. Budi pun merasa perempuan tersebut membutuhkan bantuan. Ia pun berkata pada Bagong, “Cuy, liat deh, kok ada cewe kesasar malam-malam gini?”

Tak disangka, ternyata Bagong tidak melihat apa yang Budi lihat, “Mana sih? Kagak ada apa-apaan?” *sambil celingak celinguk*

“Itu loooh di depaan, liat ke depan atuh, Gong!” ujar Budi yang kesal karena disangka mengada-ada. Budi pun mempercepat laju mobilnya dan kemudian dipelankan untuk mendekati sang perempuan yang dibicarakan.

Tak lama, entah karena apa, Budi kelilipan. Selang beberapa detik, Budi yakin ia harusnya sudah berada di samping perempuan tersebut. Namun siapa sangka, perempuan tersebut menghilang. Ia dan Bagong pun akhirnya berdebat sengit perkara ada atau tidaknya sang perempuan tersebut.

Karena malam semakin larut, Bagong pun tak ambil pusing dan menghidupkan mobilnya kembali untuk menuju ke ruang senat. Eh, tak disangka-sangka, sang perempuan tersebut memunculkan wujudnya dari balik kaca spion mobil Budi. Namun, kali ini perempuan tersebut mematahkan lehernya dan melotot ke arah Budi. Sontak, Budi pun terkejut dan langsung tancap gas. Ia tak pernah lupa akan wajah pucat yang ditampilkan perempuan itu lewat kaca spionnya.

Usut punya usut, ternyata perempuan tersebut digosipkan sebagai perempuan yang mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan di gedung Rektorat Universitas Indonesia.  Kabarnya, perempuan tersebut gantung diri. Masih belum jelas musababnya, entah karena diputus pacar atau karena diperkosa.

Nah, apakah kisah ini kemudian patut dipercaya?

Hanya Budi, Bagong, Tuhan, dan Perempuan tersebutlah yang tahu. Yang jelas, penulis sih nggak mau mikirin lama-lama buat beginian. Hiii sereeem, haha, nggak mau kan tiba-tiba kamu kepikiran kisah ini sampai kebawa-bawa mimpi? Makanya, share kisah ini di Facebook, Twitter dan LINE kamu supaya kamu gak kepikiran yang aneh-aneh.

Nantikan kisah seru kami yang lainnya, yah!

5 Hal yang Cuma Bisa Dimengerti Anak UI Kalau Lagi Wisudaan

Wisuda UI

Iya, kamu  nggak salah baca. Artikel kali ini berjudul “5 Hal yang Cuma Bisa Dimengerti Anak UI Kalau Lagi Wisudaan” – yang artinya 5 rangkuman kami kali ini cuma bisa kamu ngerti kalau kamu pernah “wisudaan” di UI. “Wisudaan” – di sini bukan hanya berarti kamu lulus kuliah loh. Bisa jadi cuma ngelewatin orang yang lagi wisuda atau melakukan hal-hal yang waktunya pas wisuda UI berlangsung.

Buat kamu yang masih jadi Maba (mahasiswa baru) dan belum ngerti sama yang namanya wisuda (masa sih ada anak UI yang belum tahu arti wisuda? xD), berikut ada penjelasan dari Wikipedia:

Wisuda adalah suatu proses pelantikan kelulusan mahasiswa yang telah menempuh masa belajar pada suatu universitas. Biasanya prosesi wisuda diawali dengan prosesi masuknya rektor dan para pembantu rektor dengan dekan-dekannya guna mewisuda para calon wisudawan. Biasanya setelah acara selesai dilakukan acara foto-foto bersama dengan orang tua, teman-teman serta suami/istri dari wisudawan/wisudawati atau dengan pasangan wisudawan/wisudawati. Dilakukan biasanya setiap akhir semester dalam kalender akademik baik semester genap maupun semester gasal (ganjil). Pada wisuda biasanya memakai pakaian yang ditentukan, pakaian pria menggunakan hem putih dan celana hitam bersepatu hitam, pakaian wanita menggunakan kebaya tradisional tipis dengan kain jarik, tapi secara umum menggunakan baju toga.

Oke, kembali ke topik! Apa aja sih hal-hal yang katanya cuma Anak UI yang ngerti kalau lagi ada wisudaan di UI?

 1. Hari Wisuda di UI=Hari Termacet se-Universitas Indonesia, Margonda Depok, dan sekitarnya

3888673198_68f0ed7349_b
Macet! (Sumber:Photo Credit: Ikhlasul Amal via Compfight cc)

Yup, hanya di Hari Wisuda UI yang kagak pernah ada harinya di tanggalan-tanggalan kamu yang nggak kuliah di UI, tapi diperingati oleh kamu-kamu yang sering bulak-balik bunderan UI. Diperingatinya dengan apa? M-A-C-E-T a.k.a “mengheningkan kendaraan” selama wisuda UI berlangsung dan/atau selama kamu dan kendaraan kamu kuat aja ngejalaninnya. Maklum, kuliah di UI nggak pernah gampang. Penuh perjuangan dan peluh kerja keras.

 

 2. Hari Makanan Gratis

makan gratis. (Sumber:)
makan gratis. (Sumber:Photo Credit: juhansonin via Compfight cc)

Hanya di Hari Wisuda UI setiap Maba dapat makanan gratis. Biasanya sih fast food. Kalau beruntung, ada yang bisa dibawa pulang ke kosan. Lumayan kan buat nyetok semingguan?

 

3. Hari Kehilangan Sinyal

Ngeselinnya, nggak ada sinyal! (Sumber:)
Ngeselinnya, nggak ada sinyal! (Sumber:Photo Credit: pheezy via Compfight cc)

Buat kamu yang terlibat “wisudaan” di UI, pasti ngerasain momen-momen haru di saat kamu dan teman kamu berpisah… Bukan. Bukan karena dia lulus terus kamu belum, tapi karena sinyal kamu dan teman kamu tiba-tiba hilang dari peredaran. Apa pun providernya pasti lenyap seketika. Dan itu adalah hal yang tak akan terhindarkan.

 

4. Hari Pasar Bunga Dadakan

UI berubah kayak Rawa Belong
UI berubah kayak Rawa Belong. (Sumber: sewakost.com)

Hari Wisuda UI juga sering diperingati sebagai “Hari Pasar Bunga Dadakan”. Karena cuma di hari ini, kamu bisa tiba-tiba ngeliat mantan kamu jualan bunga demi ngeliat wisudaannya kamu. Atau bisa saja ada bakal calon gebetan kamu di luar kampus UI tiba-tiba datang bawa bunga. Bukan, bukan buat kamu. Buat dijuallah! Di hari ini, hampir semua orang yang kamu kenal atau nggak kenal bisa mendadak jualan bunga. Dan harganya pun beraneka ragam. Dari harga kaki lima sampai harga yang bintangnya lima juga ada. Ada aja!

 

5. Hari Pencairan

Bukan senior aja yang senang. Kamu juga! (Sumber:)
Bukan senior aja yang senang. Kamu juga! (Sumber:Photo Credit: Thompson Rivers via Compfight cc)

Bukan, bukan cairan aneh-aneh. Tapi ‘cair’-nya dana-dana untuk kegiatan organisasi kemahasiswaan. Jadi, kalau kamu punya acara yang akan dilangsungkan di kampus kuning, siap-siap aja deh ajuin pas deket-deket hari wisuda. Jarang-jarang loh proposal kamu cuma akan ditanggapi kayak: “dari mana?” “kapan acaranya?” “oh, yaudah.” lalu seketika tandatangan ‘acc’ pun meluncur. Cuss!

 

Nah, apakah kamu setuju dengan rangkuman kami seputar Keistimewaan Hari Wisuda yang Cuma Bisa Dimengerti Anak UI? Jika kamu setuju dengan rangkuman kami, jangan lupa untuk dishare di Twitter, Facebook, atau LINE kamu, ya! Kalau kamu merasa memiliki UI punya keistimewaan lain di Hari Wisudaan-nya jangan sungkan-sungkan untuk dishare ke kita yah. Siapa tau besoknya kamu bisa tiba-tiba ikutan wisuda…an.  😀

Photo Credit: Universitas Indonesia via Compfight cc

 

6 Selebritis Ganteng Lulusan Universitas Indonesia

Fedi Nuril

Oke, kita tahu tak sedikit dari alumni UI atau yang pernah berkuliah di UI yang menjadi figur publik. Entah menjadi pemain film, bintang iklan, penulis, model majalah, pengusaha, atau bahkan pakar politik. Namun, berapa banyak sih dari mereka semua yang ganteng-ganteng? Lalu, siapa saja yang paling ganteng di antara mereka?

Berikut 6 selebritis terganteng yang merupakan alumni UI hasil pencarian anakUI.com

 

Krisna Mukti

Krisna Mukti
(gambar: Metrotvnews.com)

Alumnus Sastra Belanda di Universitas Indonesia (UI) yang juga merupakan mantan pemain sinetron ini pada pemilu legislatif 2014 terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019 mewakili daerah pemilihan Jawa Barat VII dengan perolehan 31.987 suara.

 

Bondan Prakoso

Bondan Prakoso adalah alumni FIB UI
(gambar: gustav4art.blogspot.com)

Pemusik Indonesia yang mengawali karier bermusik dengan debut album “Si Lumba-lumba” ini juga merupakan alumni D-3 Sastra Belanda Universitas Indonesia loch! Ia memulai karier remaja dan dewasanya saat membentuk grup musik Funky Kopral Pada tahun 1999 hingga tahun 2002. Kini, ayah dari Kara Anabelle Prakoso ini tak henti menelurkan berbagai karya musik baik melalui grup musik yang dibentuknya maupun secara solo.

 

Nicholas Saputra

Nicholas Saputra

Aktor Indonesia berdarah Jawa-Jerman ini namanya mulai dikenal setelah membintangi film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) pada tahun 2002. Pria peraih penghargaan aktor terbaik dari Festival Film Indonesia atas perannya sebagai Soe Hok Gie ini pun pernah menempuh studi bidang Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

 

Rayi Putra Rahardjo (Rayi RAN)

Rayi RAN
(gambar: WowKeren.com)

Lulusan ilmu filsafat Universitas Indonesia yang juga merupakan vokalis dari grup musik RAN ini sempat mengaku enggan untuk memanjangkan rambut di kepalanya. Ia merasa  betah untuk mempertahankan model potongan rambut super-pendeknya sejak kelas II sekolah dasar.

 

Dude Harlino

Dude Harlino
(gambar: Merdeka.com)

Putra Minangkabau yang juga merupakan alumnus dari SMA Negeri 36 Jakarta dan Universitas Indonesia ini sempat empat kali meraih gelar Aktor Terfavorit dalam ajang Panasonic Awards pada tahun 2007, 2010, 2013, dan 2014.

 

Fedi Nuril

Fedi Nuril
(gambar: KapanLagi.com)

Lulusan D3 Akuntansi Universitas Indonesia ini  mengawali kariernya dari dunia model. Selain menjadi model di catwalk, Fedi juga sering tampil sebagai cover majalah atau bintang iklan. Namanya sempat menjadi perbincangan saat sutradara film Hanung Bramantyo, memfilmkan novel karya Habiburrahman El Shirazy berjudul Ayat-Ayat Cinta pada tahun 2007.

Nah, siapa lagi sih? Alumni UI terganteng versi kamu? Yuk bantu tambahin di comment box ya! Jika kamu setuju dengan rangkuman kami, jangan lupa untuk di share di Twitter, Facebook atau LINE kamu!

7 Mantan Artis Cilik Era 90an yang Pernah Kuliah di UI

Dari judulnya aja, keliatan banget kalau misalnya ini cocoknya buat temen-temen yang masa kecilnya besar di tahun 90an. Zaman di mana lagu-lagu anak kecil itu fokusnya cuman di masalah sehari-hari aja kayak lagu “Du Di Dam” yang topiknya tentang masak-masak, lagu “Lumba-Lumba” yang topiknya tentang binatang lumba-lumba. Zaman di mana hidup anak kecil belum diracuni sinetron dan goyang dribble.

Nah, kenapa judulnya “mantan”, itu karena artis-artis cilik ini dulunya pernah jadi booming banget. Tetapi sejalan dengan bangsa alay datang jaman berubah, artis-artis ini berubah jadi dewasa dan makiiin ganteng dan cantik. Kalau penulis sih mikirnya mereka-mereka ini berhenti jadi artis, ya karena mereka sadar bahwa dunia entertainment bakalan naik turun. Kalo udah turun lalu mau jadi apa? Nah itu, mereka sadar bahwa karier di dunia entertainment itu ga menentu sehingga mereka meningkatkan kualitas mereka dengan kuliah di perguruan tinggi, salah satunya Universitas Indonesia.

Yuk lihat aja dah siapa aja mantan artis cilik yang lulusan UI ini, jurusan apa saja mereka?

 

Renaldy

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Renaldy

Untuk generasi 90-an pasti mengenal Renaldy yang menjadi penyanyi cilik dan presenter di acara Krucil di SCTV. Pelantun lagu “Rukun dan Damai” saat kecil ini, merupakan seorang lulusan Jurusan Komunikasi Universitas Indonesia, angkatan 2005. Setelah menamatkan kuliah di jenjang sarjana, Renaldy (sekarang dipanggil Dena Rachman), berkuliah di pendidikan pascasarjan di University of Bologna, Italia. Kini penyanyi cilik itu menjadi model dengan foto-fotonya saat di panggung catwalk.

 

Tasya Kamila

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Tasya Kamila 2

Siapa yang tidak mengenal artis imut dan menggemaskan pelantun lagu “Libur Tlah Tiba” ini? Penulis saja dulu suka banget ama lagunya sampe kalo tidur gak muterin lagu itu, gak akan mau tidur, hihi. Perjalanan karier bintang cilik ini melejit sekali dengan membawa unsur pendidikan dan sesuai dengan usia anak-anak kecil saat itu, tidak seperti sekarang yang didominasi lagu-lagu cinta dan lagu-lagu yang menurut penulis tidak cocok untuk didendangkan anak kecil. Tasya merupakan lulusan S1 Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia angkatan 2010 dengan menyelesaikan studinya dalam waktu 3,5 tahun dan mendapatkan IPK 3,58

 

Maissy

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Maissy

Jujur aja, pas ngeliat Maissy yang sekarang udah jadi dokter dan cantik banget, penulis kadang ngerasa, “Ya ampun, udah tua banget ya gue”. Penyanyi cilik ini masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia angkatan 2008 dan kini sudah menikah juga. Kalau dulu sering lihat Maissy ini centil dan lucu sekali tingkahnya, sekarang Maissy justru terlilhat lebih anggun, dewasa dan jauh dari sifat kekanakannya dulu saat menjadi artis cilik.

Penulis sebenernya kasih dua jempol juga dengan Kak Maissy ini, soalnya kan kalo kecil sering masuk dunia entertainment itu terkenal ntar jadi males belajar, eh kalo Maissy dia malah semangat dan akhirnya masuk juga kan di jurusan bergengsi di Indonesia itu. Ckck.

 

Bondan Prakoso

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Bondan Prakoso

Bondan Prakoso, sosok yang ayahnya penulis sangat tahu waktu ia kecil dan penulis aja gak tau sebenernya dia siapa pas kecil, haha. Penulis cuman tau kalo dia adalah penyanyi dengan hits single yaitu lagu “Bunga”. Artis yang merupakan lulusan D3 Sastra Belanda Universitas Indonesia ini, ketika sudah besar kemudian membangun grup musik “Bondan & Fade 2 Black”.

Oh iya, kehadiran Bondan Prakoso di kancah musik Indonesia ini, tidak berkaitan dengan terkenalnya ia saat kecil dulu. Bondan Prakoso memang hasil murni kerja kerasnya saat membawakan single “Kroncong Protol” ini. Sesungguhnya waktu dia besar dengan waktu dia kecil, gantengan pas gedenya si…. #eh

 

Mega Utami

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Mega Utami

Penulis sebenernya ga pernah nonton sinetron “Tersanjung” sih… Tapi ngeliat sinetron ini bisa tuntas sampai season 8 atau 10 *kalau gak salah*, sebenernya sinetron ini punya daya Tarik untuk masyarakat Indonesia kala itu. Sinetron ini jugalah yang mengangkat nama Mega Utami. Dia adalah aktris di film “Joshua oh Joshua” dan bermain di sinetron “Tersanjung 3” hingga “Tersanjung 5”. Gadis kelahiran 2 April 1992 ini adalah alumni dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

Dhea Ananda

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Dhea Ananda

Siapa yang tidak kenal Trio Kwek Kwek saat kita masih kecil dulu? Ya waktu kecilnya tergantung generasi mana dulu haha. Untuk generasi 90-an, Trio Kwek Kwek bikin penulis selalu seneng banget kalo denger lagunya *soalnya dulu belum punya radio*. Salah satu Trio Kwek Kwek, Dhea Ananda, merupakan lulusan Fakultas Ilmu Budaya jurusan Sastra China Universitas Indonesia. Wow! Lama gak kedengeran di televise atau radio, Dhea Ananda sempat muncul ke permukaan dengan membawakan single “Kau Tak Setia” *tapi penulis sendiri gak tau sih lagunya gimana*

 

Rachel Amanda

Mantan Artis Cilik Masuk UI - Rachel Amanda

Sebenernya nama artis cilik yang satu ini sama kayak namanya penulis *yak langsung ditebak~ ditebak~~ silahkan Pak Bu*. Nama artis cilik yang sudah menjadi remaja cantik ini adalah Rachel Amanda. Sebetulnya namanya memang sudah meredup, tapi pas penulis liat lagi fotonya, inget banget nih dulu suka sensi liat dia cantik gitu hahahaha. Penulis emang orangnya sensian gitu deh kalo ngeliat sepantarannya pas kecil terus bisa pake baju apa-apa kesukaan dia hahaha geje yak. Well, dia sedang menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi. Katanya sih dia pindah dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, terus dia ngambil ke Psikologi. Yaaa semoga betah ya Mbak Rachel Amanda ini, hehe…

Sudah disebutin semua kan tujuh mantan artis cilik yang pernah mengenyam pendidikan di kampus Universitas Indonesia ini. Kaget kan lihat transformasi artis-artis cilik itu sekarang menjadi besar dan cantik-cantik banget sekarang, bahkan ada yang bener-bener gak mirip sama waktu kecilnya. Hahaha. Yaa people change, dude. Itu artinya, lo semua udah pada tua :v hahahahaha

Bagaimana, apakah masih ada lagi artis cilik era 90an yang masuk UI dan belum disebut di artikel ini? Tambahkan di komentar ya! Share juga di Facebook, Twitter, LINE, atau WhatsApp teman-teman ya!

7 Entrepreneur Alumni UI yang Sukses Melahirkan Puluhan Ribu Lapangan Pekerjaan

Kampus ini memang target dari banyak lulusan SMA yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Dari kekerenan mahasiswa di dalamnya yang menggunakan jas almamater warna kuning terus orasi depan DPR, penulis besarsampai artis-artis kegemaran atau pejabat-pejabat Indonesia yang juga sempat mengenyam pendidikan di kampus ini. Universitas Indonesia, itulah namanya.

Walaupun tadi penulis sudah bilang bahwa banyak artis dan pejabat yang berkuliah disini, ada juga pengusaha-pengusaha sukses yang dulunya mengenyam pendidikan di kampus yang didirikan pada tahun 1849 ini. Pengusaha-pengusaha sukses ini telah membuka puluhan ribu lapangan pekerjaan di seluruh Indonesia, menghasilkan suatu produk atau jasa dengan nilai yang sangat besar, dan memberikan contoh yang baik terhadap calon-calon mahasiswa ataupun mahasiswa di kampus UI. Yuk, kita lihat siapa saja pengusaha sukses hasil godokan kampus kuning ini!

 

Bapak Tirto Utomo

Pengusaha-UI-Tirto-Utomo

Mungkin teman-teman yang terlahir di tahun 90-an seperti penulis ini awalnya tidak begitu mengenal nama Bapak Tirto Utomo atau Kwa Sien Biauw. Gampangnya, teman-teman kalau misalnya beli minum di pinggir jalan, secara gak sadar bilang “Pak, beli aqua botol”. Terus? Bukan, bukan mau bahas abang-abang kaki limanya, tapi penulis mau membahas tentang pengusaha sukses yang membawa nama “Aqua” menjadi melejit di tanah air sebagai penggagas adanya air mineral botolan.

Sebelum Bapak Tirto mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, beliau sempat berkuliah di Universitas Gajah Mada. Kondisi tidak menentu saat perkuliahan, membuat beliau pindah kuliah ke Jakarta. Setelah ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum ini, Bapak Tirto ini kemudian merintis “Aqua” di Indonesia.

 

Bapak Fahmi Idris

Pengusaha-UI-Fahmi-Idris

Pengusaha sukses yang pernah menjadi Menteri Tenaga Kerja dalam Kabinet Reformasi Pembangunan, Menteri Perindustrian dan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi pada Kabinet Indonesia Bersatu, tentunya tidak dapat diragukan lagi eksistensi Bapak Fahmi Idris dalam pembangunan bangsa ini. Beliau saat masih menyandang gelar menjadi seorang calon sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, pernah menjadi ketua senat Fakultas Ekonomi dan ketua Laskar Arief Rachman Hakim. Kesuksesan beliau di bidang bisnis berawal dari mendirikan PT Kwarta Daya Pratama dan 2 tahun kemudian, bersama eksponen 1966, beliau mendidikan Kongdel (Kongsi Delapan) yang membangun Hotel Regent di Jakarta dan Regent Beverly Whilshire di Beverly Hills, California.

 

 

Bapak Boenjamin Setiawan


Pengusaha-UI-Boenjamin Setiawan

Teman-teman tidak mungkin tidak tahu perusahaan obat yang mengusung nama “Kalbe Farma” dengan logo yang khas atau mungkin teman-teman sering tahu jingle perusahaan ini di setiap iklan-iklan. Yap, perusahaan ini diusung oleh seorang dokter lulusan Universitas Indonesia. Bapak Boenjamin Setiawan ini sudah merasakan pahitnya jatuh-bangun saat membangun perusahaan obat ini. Salah satu sumber mengatakan bahwa perusahaan ini berawal dari modal kecil dan pabriknya menggunakan garasi mobil rumah beliau! Namun hasilnya sangat memuaskan, kini perusahaan Bapak Boen memiliki nilai 39 triliun untuk kapitalnya dan 1 triliun untuk bukunya. Wow.

 

 

Diana Rikasari

Pengusaha-UI-Diana-Rikasari

Siapa kaum wanita muda yang tidak tahu merk sepatu UP yang diusung oleh seorang fashion blogger, Diana Rikasari. Seorang lulusan Teknik Industri Universitas Indonesia ini, memulai usaha sepatu UP ini dikarenakan kegemarannya yang sering menulis di blog dan fashion. Sepatu ini jenisnya banyak dari wedges hingga sandal kasual dan usaha ini sudah dipasarkan melalui social media. Salah satu penghargaan yang didapatkan adalah Top 100 Youth, Women, Netizen (YWN) Marketeers December 2011. Wih bergengsi banget lho itu penghargaannya :O

 

 

Bapak Chairul Tanjung

Pengusaha-UI-Chairul-Tanjung

Penulis mengenal wajah bapak yang satu ini lewat sebuah buku yang berjudul “Chairul Tanjung, Si Anak Singkong”. Kocak sih judulnya, tapi panggilan ini dilontarkan oleh teman-temannya karena beliau adalah seorang anak kampung. Anak kampung yang kemudian menjadi milyarder! Jiwa bisnis Pak Chairul Tanjung ini muncul saat ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan memulai usaha kecil-kecilan dari berjualan buku, kaos hingga membuka usaha fotokopi di sekitar kampusnya. Dengan perjuangan jatuh bangun yang sudah dialami sejak kuliah, tak heran beliau sekarang dijuluki sebagai orang terkaya dengan mengakuisisi Bank Karman menjadi Bang Mega. Salut!

 

 

 

 

Ibu Kartini Muljadi

Pengusaha-UI-Kartini-Muljadi

Penulis ngeliat angka foto diatas, sumpah bikin melotot. Antara ngiri dan bangga banget punya sosok wanita yang menurut salah satu sumber masuk di deretan 50 orang terkaya versi Forbes. Can’t imagine how hard she passed those experiences but I really proud of her. Beliau adalah Ibu Kartini Muljadi, seorang wanita terkaya di Indonesia dengan mendirikan kantor pengacara dan konsultan, serta bisnis-bisnis lainnya yang ia turunkan pada anak-anaknya.

Awal bisnis Ibu Kartini ini adalah ketika suami beliau meninggal dan harus menjadi tulang punggung bagi anak-anaknya. Dengan bermodalkan ijazah dari salah satu tempat ia mengenyam pendidikan pergruan tinggi yaitu Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (by the way, di sumber-sumber profil Ibu Kartini ini nulisnya beliau lulusan fakultas itu. Pas penulis kroscek, sekarang fakultas Ibu Kartini ini dipecah jadi 2, yaitu Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan itu sekarang namanya jadi FISIP. Hehe sori kalo pada bingung nih!), ia masuk ke dunia notaris yang sebelumnya menjadi hakim muda di Pengadilan Istimewa Jakarta. Merasa dunia notaris ini semakin melesat, maka ia mendirikan kantor konsultan sendiri dan voila bisnis ini pun melejit bak roket.

 

 

Natali Ardianto

Pengusaha-UI-Natali-Ardianto

Berbekal pendidikan dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Natali Ardianto, yang terkenal dengan menjadi CTO dari Tiket.com. Tentunya menjadi pengusaha di bidang jasa, terutama startup, adalah hal yang sedang melejit saat ini akan tetapi persaingannya pun banyak. Penulis pernah diberitahu bahwa setiap startup akan punya customer-nya masing-masing. Ada yang lebih suka tempat ini karena ini, lebih suka tempat sana karena apa, dan sebagainya. Memang itu tergantung selera, tapi tidak jauh juga dengan kehebatan internet marketing yang sedang booming saat ini. Salut dengan keberanian Mas Natali untuk bergelut di bidang jasa!

Setelah membahas 7 pengusaha sukses jebolan kampus Universitas Indonesia ini, jujur aja, penulis ngerasa malu sih sama diri sendiri. Kok tetep ya gini-gini aja hidupnya, sementara yang lain lagi berusaha besar untuk mencapai kesuksesannya masing-masing. Ya sudahlah, memang tiap orang punya prestasinya masing-masing, tapi kita harus mikir lagi sebenernya dimanakah titik priceless kita yang berbeda dengan orang lain?

Yak, siapa lagi pengusaha lulusan UI yang teman-teman kenal? Share di komentar yaa!

 

Sumber

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Ini Tokoh-tokoh Politik Indonesia yang Lahir dari Kampus UI

Kita semua tahu, kiprah para alumni Universitas Indonesia mengisi berbagai panggung di negeri ini sudah tidak bisa dihitung lagi saking banyaknya. Termasuk lulusan-lulusan UI yang mendapatkan lakon di panggung politik. Tak jarang menteri-menteri yang dicomot oleh pemerintah saat ini pun rata-rata merupakan lulusan kampus ini karena dianggap mampu memenuhi sisi akademis panggung politik saat ini.

Sebetulnya siapakah orang-orang yang menjadi politisi hasil godokan Universitas Indonesia ini? Mari kita lihat 7 politisi yang merupakan lulusan UI dan menjadi lakon di panggung politik saat ini (bahasa gampangnya mah yang sering kedengeran di tipi-tipi, hahaha).

 

Bapak Akbar Tandjung

Akbar Tanjung

Bapak yang satu ini, penulis sudah sering dengar namanya saat Orde Baru alias saat rezim pemerintahan Pak Soeharto. Kira-kira penulis masih umur TK, tapi karena ayah penulis suka banget nyalain berita di ruang tamu, akhirnya sampai sekarang inget banget siapa Pak Akbar Tandjung. Beliau merupakan lulusan dari pendidikan teknik Universitas Indonesia. Sepak terjang beliau di dunia politik memang keren banget, beliau sejak zaman Soeharto, menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Kemudian pemerintahan selanjutnya, merekrut beliau menjadi Menteri Negara Perumahan Rakyat dan selanjutnya menjadi Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia. Hingga tahun, 2004 saat pemerintahan Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, beliau menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Bapak Fahri Hamzah

Politisi-UI-Fahri-Hamzah

Bapak H. Fahri Hamzah, S.E adalah wakil ketua DPR RI pada masa jabatan Bapak Jokowi di tahun 2014-2019 ini. Pada pemerintahan kedua SBY, beliau juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat. Politikus yang digandeng oleh Partai Keadilan Sejahtera ini merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan sebelumnya pernah menempuh pendidikan selama 2 tahun di Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

 

Ibu Meutia Hatta

Politisi-UI-Meutia-Hatta

Sosoknya yang lembut, ramah dan menginspirasi, itulah yang bisa didapatkan dari Ibu Prof. Dr. Meutia Farida Hatta Swasono. Anak perempuan dari mantan wakil presiden dan proklamator Indonesia Bapak Mohammad Hatta ini, pada tahun 2006-2010 menjadi Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia dan tahun 2004-2009 pun menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Beliau mendapatkan gelar doktor dalam bidang antropologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1991. Wanita kelahiran Yogyakarta, 21 Maret 1947 ini, sangat giat dalam memberi penegakkan pada kaum hawa. Beliau banyak memberi masukkan saat pemerintah hendak menegakkan kembali UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT).

 

Bapak Jero Wacik

Politisi-UI-Jero-Wacik

Nah, untuk menteri yang satu ini, penulis beneran selalu denger namanya dimana-mana. Beliau adalah Bapak Jero Wacik. Bapak kelahiran Singaraja, Bali, 24 April 1949 ini, merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan dari jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung. Beliau menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia menggantikan Darwin Zahedy Saleh saat reshuffle Kabinet Indonesia Bersatu II pada tanggal 18 Oktober 2011. Diluar dari berita miring tentang beliau, kita patut bangga juga bahwa masih ada orang-orang yang mau menjadi menteri dan bekerja pagi hingga larut malam untuk memikirkan negara kita 🙂

 

Ibu Rieke Diah Pitaloka

Politisi-UI-Rieke-Diah-Pitaloka

Ketika artis satu ini yang naik daun karena sebuah sitkom “Bajaj Bajuri”, penulis gak pernah tahu sebelumnya kalau dia adalah artis cerdas dengan prestasi yang melejit. Politikus yang satu ini berhasil membuat citra bodohnya di pemeran Oneng di sitkom tersebut menjadi berubah sangar saat dia duduk di kursi DPR saat tahun 2009-2014. Penulis seneng banget kalo disuruh bahas artis yang satu ini, walaupun dia artis tapi dia adalah politikus yang cerdas. Tak heran kalau ia langsung digaet oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan untuk menajdi anggota didalamnya.

Kariernya di dunia akademis, keartisan dan politikus sangat berimbang. Ia mengenyam pendidikan sarjana di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia dan Filsafat STF Driyakara, kemudian mengambil pendidikan S2 di Filsafat Universitas Indonesia. Sepak terjang wanita cerdas ini berawal menjadi wakil sekretaris jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa saat dipimpin Muhaimin Iskandar, lalu ia mengundurkan diri dan masuk ke keanggotaan PDI-P. Saat ini, Mbak Rieke menjadi anggota DPD periode 2014-2019 dengan sebelumnya maju sebagai calon legislatif DPD dapil Jawa Barat VII.

 

Bapak Erman Suparno

Politisi-UI-Erman-Suparno

Foto diatas adalah Bapak Ir. H. Erman Suparno, MBA., MSI yang merupakan lulusan pascasarjana jurusan Administrasi Negara dari Universitas Indonesia pada tahun 2000. Bapak Erman dinominasikan sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi oleh Ketua PKB, Muhaimin Iskandar. Beliau merupakan anggota partai politik Partai Kebangkitan Bangsa dan saat dilantik menjadi menteri, ia adalah Wakil Ketua Komisi V DPR dan bendahara umum PKB.

 

Bapak Abdul Gafur

Politisi-UI-Abdul-Gafur

Siapa yang tidak jarang mendengar nama bapak politikus satu ini? Namanya adalah Pak Abdul Gafur yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Salut sebenarnya sama Pak Abdul Gafur ini, karena beliau adalah lulusan Fakultas Kedokteran dan menjadi seorang politikus. Well, emang gak selalu pekerjaan akhir kita akan sama sih ama program studi yang kita jalanin, hehe. Somehow, saat negara memanggil ya kita harus siap sedia #cie. Sepak terjang beliau di politik berawal dari tahun 1972, dimana beliau menjadi anggota DPR dalam fraksi ABRI dan pada tahun 1988-1997, beliau menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Selain itu, pada tahun 1993-2004, beliau juga menjadi Ketua DPP Partai Golkar.

Demikianlah profil 7 lulusan UI yang menjadi politikus terkenal di tanah air. Walaupun penulis sempat membaca ada sumber yang mengatakan kampus UI banyak menghasilkan koruptor, tapi itu hanya generalisir saja 🙂 Lagi-lagi, bagaimanapun juga, semua kampus tidak pernah mengajarkan menjadi koruptor, semuanya kembali ke urusan pribadinya ingin menjadi apa.

Tahu politisi Indonesia lulusan UI yang lainnya? Share di komentar ya!

 

Sumber:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12