4 Pandangan Umum dari Orang Awam tentang Anak UI

Gimana perasaanmu saat menjadi mahasiswa UI? Pastinya bangga, dong. Menjadi bagian dari universitas terbaik di Indonesia merupakan pengalaman yang mungkin nggak semua orang bisa merasakannya. Nggak hanya belajar, kamu juga diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, seperti gabung organisasi atau mengikuti berbagai macam kompetisi.

Namun, sebagai mahasiswa dari kampus top di Indonesia, kamu pasti sering dipandang berlebihan oleh orang awam. Mereka sering berekspektasi bahwa anak UI pasti serba bisa dan ibaratnya punya spek dewa.

Nah, berikut ini empat pandangan umum dari orang awam tentang anak UI. Kamu pasti relate sama salah satunya, deh.

Otaknya Encer alias Pinter Banget

anak ui
Ilustrasi: Pixabay/sasint

Butuh perjuangan ekstra untuk menjadi mahasiswa UI. Itulah sebabnya nggak semua orang bisa lolos seleksi. Kalau kamu berhasil lolos, kamu akan dianggap hebat oleh orang lain. Tak hanya itu, selama kuliah sampai kamu lulus pun, orang umum masih berekspektasi bahwa kamu adalah orang pintar.

Sebenarnya, pandangan ini nggak ada salahnya, kok. Namun, hal yang perlu ditegaskan adalah nggak semua anak UI pintar di bidang akademik. Ada juga yang kemampuan akademiknya kurang, tapi dia jago banget di bidang non-akademik.

Nah, kamu termasuk yang mana nih? Unggul di akademik, non-akademik, atau justru dua-duanya?

Serba Bisa atau Multitasking

anak ui
Ilustrasi: Freepik

“Katanya anak UI, kok gitu aja nggak bisa?”

Pernah nggak mendengar pertanyaan itu dari orang awam? Atau, jangan-jangan kamu sendiri yang pernah mendapatkannya?

Selain dianggap pintar, orang awam sering berekspektasi kalau anak UI itu serba bisa alias multitasking. Saat terjun ke masyarakat, magang, atau saat mulai bekerja, ada saja oknum yang iseng memberi pekerjaan lebih untuk anak UI yang baru lulus. Mereka kemudian menyindir si anak baru tersebut dengan dalih “katanya anak UI”.

Sebenarnya, pandangan itu nggak ada salahnya juga. Itu jadi bukti bahwa mahasiswa atau lulusan UI bisa diandalkan di masyarakat. Namun, kalau kamu disepelekan seperti itu, kamu bisa membela diri dengan sopan. Jangan sungkan untuk bilang “tidak” selama itu nggak merugikan diri sendiri dan orang lain, ya.

Penampilannya Good Looking

anak ui
Ilustrasi: Pixabay

“Anak UI mah cantik, badannya juga bagus,”

Ehh bukan, ya? Hehe.

Bisa dibilang, mayoritas anak UI memang menjaga penampilan sebagai bentuk self-branding. Mulai dari gaya berpakaian yang rapi-rapi sampai yang cenderung rebel sekali pun, mereka memiliki ciri khas gaya fashion sesuai dengan fakultasnya masing-masing. Terlebih lagi, mereka yang hits di media sosial umumnya memiliki tampang yang cakep dan keren. Itulah sebabnya orang awam beranggapan bahwa anak UI pasti good looking.

Pandangan itu nggak seratus persen salah, nggak juga sepenuhnya benar. Kalau kamu ingin tahu gimana kebenarannya, sering-sering aja mampir ke fakultas-fakultas di UI kalau kuliahnya sudah tatap muka nanti. Kamu nilai sendiri deh, penampilan mahasiswa UI sebenarnya seperti apa.

Berasal dari Keluarga Berada

anak ui
Ilustrasi: Pixabay

Nah, pandangan yang satu ini bisa dibilang disebabkan oleh faktor eksternal. Lokasi UI yang berada di dekat ibu kota sering kali dianggap sebagai kampus yang mahal. Tak hanya itu, biaya hidupnya juga dianggap perlu merogoh kocek yang dalam. Itulah sebabnya orang awam (khususnya mereka yang berasal dari daerah) beranggapan bahwa hanya anak dari keluarga berada saja yang bisa kuliah di UI.

Faktanya, UI nggak memandang kondisi finansial mahasiswanya. Masyarakat dari latar belakang sosial ekonomi apapun boleh kuliah di sini. Kalau ingin biaya kuliah yang murah, UI menyediakan BOPB (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan) yang biayanya disesuaikan dengan kondisi finansial penanggung biaya kuliahmu. Kamu juga bisa memanfaatkan beasiswa, seperti Bidik Misi dan beasiswa lain yang melimpah di kampus ini.

Nah, itu tadi empat pandangan umum dari orang awam tentang anak UI. Kamu relate, nggak? Tulis pandangan lain yang pernah kamu terima di kolom komentar, ya.

Momen-Momen Ngeselin Tapi Ngangenin Selama Jadi Anak UI

Halo semua! Apa kabar? Udah hari ke berapa ya kita semua #DiRumahAja? Kangen dong pastinya sama suasana kampus? Sama, aku juga. Di semester-semester terakhir ini, aku justru gak diberi kesempatan buat menghabiskan waktu di lingkungan UI, atau setidaknya merasakan kegiatan sebagai mahasiswa pada umumnya. Padahal, aku sendiri merasa masih banyak banget hal-hal yang belum aku coba selama menjadi mahasiswa UI. Emang ya, penyesalan selalu datang di akhir-akhir.

Terlepas dari itu semua, kali ini aku menceritakan sepenggalan kisah yang menurutku pasti dialamin oleh semua civitas UI. Sebenernya, hal-hal yang aku ceritakan ini pastinya ngeselin sih buat kebanyakan mahasiswa, begitu juga yang aku rasakan. Tapi  ternyata setelah beberapa bulan aku gak ke kampus dan merasakan dinamika perkuliahan biasa, kok jadi kangen ya? Mungkin kamu-kamu semua yang baca juga. Apa aja sih emangnya?

1. Udah nungguin bikun lama, pas mutusin naik ojek, bikunnya muncul.

Serius deh, kejadian ini berkali-kali terjadi padaku. Sebenernya bukan karena gak sabaran, tapi waktu itu aku bener-bener udah telat banget harus masuk sesi perkuliah berikutnya. Ditunggu lima menit, loh kok gak dateng-dateng juga. 10 menit… badan mulai gerah karena nungguin di halte bikun tuh panas, gengs. Nunggu lagi sampe tau-tau udah abis 50 menit sendiri dan si bikun pun tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Yaudah deh, akhirnya aku memutuskan untuk memesan ojek online (meskipun dalam hati agak sayang-sayang gimana gitu karena harus mengeluarkan uang sebesar 10 ribu rupiah dari balairung ke Fakultas Psikologi). Oke skip. Akhirnya 5 menit kemudian saat ojek telag datang dan aku sedang mengenakan helm yang si abang sediakan, terdengar deh tuh deru mesin bikun yang sangat khas bunyinya itu. Hiks. Nyebelin banget deh!

BACA JUGA: Ada Bikun Nyasar di Jalanan, Ada Apa Ya?

2. Nunggu ngantri berobat di Klinik Makara, Ett dah… Antriannya gak abis-abis!

Ada suatu masa di mana mahasiswa dari seluruh penjuru fakultas di UI sepertinya terserang masalah kesehatan secara serentak. Biasanya sih menjelang UAS. Mungkin kalian ada yang merasa familiar dengan momen ini. Di mana kalian harus duduk mengantri di ruang tunggu klinik dengan mahasiswa-mahasiswa sakit lainnya.

Biasanya nih ya, terdengar riuh rendah suara batuk dan bersin yang saling sahut-sahutan. Atau pemandangan mahasiswa lainnya yang tergolek lemas menyender di pojokan. Hihihi.. Nah, karena banyaknya pasien yang membutuhkan perawatan, ku sarankan bagi kalian untuk datang sepagi mungkin jika ingin menggunakan fasilitas Klinik Makara. Kalau kalian dateng jam 12an… hmm siap-siap deh kalian pasti baru dapet giliran berobat di sekitar jam 3-an!

3. Lupa balikin buku Perpus, dendanya bikin kantong kering!

Siapa yang pernah mengalami hal ini? Pastinya banyak dari kalian yang suka lupa untuk perpanjang buku perpus lewat email.. Tahu-tahu udah lewat 3 bulan! Nah loh.. Kalian pasti langsung panik-panik gimana gitu mengingat denda yang dikenakan dihitung perhari.

Salah satu temen penulis malah ada yang pernah lupa balikin sampe lima semester guys, dan tentunya denda yang dikenakan jumlahnya gak tanggung-tanggung. Untung aja pihak Perpusat  berbaik hati mengizinkan mahasiswa untuk membayar denda dengan cara menyicil. Hihihihi! Coba deh buat kalian yang pernah ngalamin hal ini, tulis komentar kalian dong di bawah, paling banyak kalian kena denda berapa sih?

4. Danusan pas WELMAB sambil make jakun, gerah abis!

Nah ini sih anak-anak budak kepanitiaan paham banget rasanya gimana. Keliling balairung sambil menawarkan barang dagangan demi pundi-pundi rupiah? Siapa takut! Momen ini adalah momen yang paling sayang untuk dilewatkan sebagai seorang mahasiswa UI. Meskipun panasnya…. ya tahu sendiri Depok panasnya kayak apa di siang hari, plus make jakun yang bahannya ga keringet friendly gitu deh. Tapi jangan salah! Momen ini tuh sebenernya penting banget buat kita karena pastinya bikin kita flashback lagi ke masa-masa di mana kita menjadi seorang mahasiswa baru. Ada yang kangen?

5. Ngumpulin tugas di SCELE/EMAS pas deadline… Servernya tiba-tiba lemot

Ini sih, aneh serius, Kemarin-kemarin bahkan beberapa jam yang lalu kayaknya scele/emas baik-baik aja. Tapi kenapa ya, bisa pas banget gitu tiap menit-menit terakhir waktu pengumpulan ditutup, mendadak website-website ini ngecrash.. lemot.. ketutup sendiri. Aduh beneran bikin panik! Apa jangan-jangan sengaja kali ya diprogram begini untuk ‘menghukum’ mahasiswa deadliner?

6. SIAK-WAR!!!!

Nah-nah, yang terakhir ini, momen yang paling sering bikin mahasiswa UI darah tinggi. Hari di mana SIAK WAR diadakan adalah hari di mana frekuensi kata-kata kasar yang dikeluarkan dari mulut anak UI melonjak melebihi rata-rata. Menurut kalian nih, apa sih yang bikin kalian paling sebel saat ngelakui SIAK WAR? Apa kah ketika berkali-kali kalian gagal masuk, atau justru saat mendengar teman-teman kalian yang lain sudah bisa tidur siang tenang dan mengambil semua kelas idaman kalian? Komen dong di bawah!

***

Wah guys, ternyata banyak juga ya momen-momen ngeselin yang cuma Anak UI paham rasanya gimana.. Tapi nih, seperti apa yang pepatah bilang, “You never miss the water till the well runs dry”  Yang mana bisa kita artikan dengan suatu saat nanti, akan ada waktunya di mana kita tersadar bahwa momen-momen ngeselin itu, yang dulu selalu kita maki-maki, cemooh, dan keluhkan, diam-diam menyimpan ukiran indah berupa kenangan manis yang baru akan kita rindukan setelah kita lulus nanti. Cieee.. pada sedih ya? Hehehe

Teruntuk Kalian Yang Pernah Jadi Korban Ghosting Oknum Gak Bertanggungjawab, Yuk Move On!

Disclaimer: Cerita ini berasal dari salah satu mahasiswi UI angkatan 2017 yang mau berbaik hati menjadi narasumber dan berbagi pengalamannya sebagai korban ghosting seorang mahasiswa UI angkatan 2018. Hmm.. ada yang bisa relate?

Plis banget, semoga pada gak nangis atau malah ketawa ya pas baca ini. Gue sebenernya bingung mau mulai dan mengakhiri darimana, sama kayak kisah cinta gue dulu sama si doi. Gak pernah dimulai, dan gak pernah diakhirin. Miris ya.

Sesuai dengan judul artikel di atas, gue mau berbagi kisah singkat (kalau kepanjangan nanti pada bosen) tentang pengalaman gue di-ghosting sama seorang cowok yang gue kenal sejak SMA. Bahkan selain gue di-ghosting, gue juga merasakan apa itu yang namanya dimanfaatin tanpa pernah menerima kata terimakasih dari orang yang memanfaatkan gue.

Semuanya itu terjadi selama bertahun-tahun, dan setelah pada akhirnya gue sadar sama apa yang dilakukan cowok itu terhadap gue adalah hal yang salah, gue masih butuh lebih banyak waktu lagi buat gue bangkit dan berhenti nyalahin diri gue sendiri. Ternyata gak gampang, guys. Gue butuh waktu sekitar empat semester buat ngeyakinin kalau dia adalah orang yang jahat, dan Tuhan pun tahu kalau dia bukanlah orang yang pantas untuk menjadi pasangan gue.

Oke, gue cerita ya

Sumber: womenworking.com

Dimulai dari apa itu ghosting. Mungkin kalian udah pada tahu artinya apa, tapi kalau belum tahu ya gak papa juga. Supaya gak bertele-tele, gue jelasin aja ya. Ghosting adalah suatu bentuk taktik dalam mengakhiri hubungan yang dilakukan dengan menghilang dan memutus komunikasi tiba-tiba tanpa menyediakan penjelasan.

BACA JUGA: Gaslighting, Apakah Saya Baik-Baik Saja?

Kelihatannya sih sederhana ya, tapi dampaknya bisa berupa penyiksaan psikologis yang cukup parah. Si korban akan mulai mempertanyakan tentang harga dirinya di mata orang lain. Selain harga diri, korban juga akan terus menerus memikirkan kekurangan dan salah apa yang Ia sebabkan sampai membuat seseorang ‘kabur’ dari dirinya secara tiba-tiba. Di situlah ‘fase-fase’ kritis yang harus dihadapi korban untuk beberapa saat, oh ya jangan lupa, korban juga dapat dipastikan mengalami kerusakan kepercayaan pada orang lain. Yakin deh.

Bagaimana dengan gue?

Sumber: entitymag.com

Gue sendiri masih sulit untuk menerima kalau diri gue adalah satu dari korban ghosting. Mungkin karena dulu gue terlalu suka sama si pelaku, jadi apa yang ada di otak gue jadinya gak rasional. Gue selalu melihat pelaku sebagai sosok yang menawan dan apa yang udah dia lakuin ke gue ya karena kesalahan gue.

Berawal dari dia yang memperkenalkan dirinya duluan ke gue dan berlanjut ke chat-chat di LINE dan juga DM Instagram, saat itu gue melihat dia sebagai sosok yang cool dan berbeda dari yang lainnya. Obrolan kita nyambung terus, dan rasanya kok kita saling melengkapi satu sama lain. Kesukaan dan kebiasaan kita bisa sama. Gue jadi mulai berpikir kalau kita meant to be together. cieee

Sampai pada akhirnya…

Sumber: thereset.com

Pada akhirnya dia mula meminta bermacam-macam pertolongan ke gue, mulai dari permintaan tolong sesederhana ngerjain PR, sampai minta diajarin soal-soal SBMPTN. Terlepas dari semua bantuan yang gue berikan, gue bangga karena bantuan-bantuan yang gue berikan berhasil mengantarkannya menjadi mahasiswa UI meskipun harus gap year sebelumnya.

Tapi guys, kabar bahagia itu kayaknya bukan untuk gue.  Kabar keberhasilan dia menyusul gue ke UI ternyata adalah momen penanda berhentinya hubungan gue dan dia yang udah terjalin selama itu. Semua jerih payah gue, di mana gue selalu meluangkan waktu untuk mengajarkan dan mengerjakan tugasnya, gak dihargai sama sekali. Hal ini sempet bikin gue gak percaya saat melihat kenyataan bahwa dia langsung nge-block semua media sosial gue, setelah beberapa jam pengumuman SBMPTN keluar. Waktu itu gue nanya ke semua temennya yang gue kenal. Dan untungnya semua temannya mau bantu gue untuk menanyakan alasan kenapa dia nge-block semua media sosial gue, walaupun hasilnya sih nihil, yang mana dia gak memberikan jawaban apa-apa. Hufftt..

Gue pun tersadar

Sumber: nzherald.co.nz

Satu hal yang membuat gue sadar kenapa ada aja orang yang mau melakukan ghosting, yaitu karena mereka (pelaku) melihat kita (korban) lebih rendah dan rapuh dari mereka. Apalagi kalau korbannya masih terus mencari-cari si pelaku, berusaha meminta kejelasan apa yang sebenarnya terjadi seperti yang gue lakukan. Dan ada baiknya untuk si korban yang lagi merasa tidak nyaman karena emosi yang berkecamuk, sebaiknya gak berusaha menelan mentah-mentah emosi tersebut.

Perlu banget disadari bahwa apa yang dilakukan pelaku tersebut bukan karena kesalahan kita, melainkan lebih pada ketidakdewasaan pelaku dalam bersikap. Atau emang udah dari sananya aja menjadi tabiat si pelaku. Gue belom coba research lebih jauh sih, apakah emang ada kepribadian tertentu yang membuat seseorang cenderung menjadi pelaku ghosting apa enggak.

Dari pengalaman gue sih, gue iseng waktu itu ngesearch nama pelaku di twitter. Percaya gak percaya, ternyata si pelaku udah terkenal jadi tukang ghosting bahkan dari SMP. Gue bisa tahu ini karena gue nemuin beberapa tweet dari cewek-cewek yang pernah menjadi korban, dan mereka bikin thread tentang pelaku. Haduh, kayaknya emang guenya yang sial ya? Bisa kenal sama orang kayak gini. Hehehe


Hmmm.. sekian nih cerita dari narasumber.

Untuk pembaca sendiri, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama? Atau mirip-mirip? Duh, gimana dong caranya biar kita-kita yang jadi korban bisa move on? Ada saran?

BACA JUGA: When Your Gadget is Your Bestfriend or Your Lover, Ikatan Emosional Antara Manusia dan Mesin

Tenang aja! hal pertama yang perlu kamu lakukan untuk mengatasi ketidaknyamanan emosi yang kamu alami adalah berhenti mempertanyakan harga dirimu. Jujur deh, pastinya kamu malu kan ngeliat semua pesan-pesanmu cuma diread doang atau mungkin malah diblock kayak yang narasumber alami. Gak papa. Kamu gak perlu memaksakan dirimu untuk melupakan rasa malu tersebut. Embrace it! Tapi jangan lupa, kamu juga harus ingat bahwa apa yang terjadi, semua ini, disebabkan karena pelaku yang belum dewasa dalam mengakui perasaan mereka. Dan kamu, ya kamu, jauhhhh lebih baik dari mereka

Bukalah lembaran baru dengan orang baru. Mungkin kamu masih merasakan trauma dengan apa yang terjadi pada dirimu. Kamu pun mulai memiliki konsep yang negatif untuk memulai percintaan. Berhenti terjebak dalam situasi itu dan mulailah  melakukan apa yang membuatmu kembali menjadi dirimu sendiri. Berkenalan lah dengan orang baru. Yakin deh, kamu pasti akan dengan cepat melupakan rasa sakitmu itu.

Ceritakanlah ketidaknyamanan yang kamu alami pada orang-orang terdekatmu. Tahu gak, dengan menceritakannya kembali, kamu akan mendapatkan kesempatan untuk melihat apa yang kamu alami ini dari sisi atau perspektif lain. Kamu pun akan tersadar bahwa tidak ada gunanya untuk menyesali apa yang terjadi dan semuanya hanyalah hal sepele yang biasa dilakukan oleh segelintir orang yang tidak dewasa.

Berhenti hubungi mereka. Hal ini dikarenakan apa yang kamu lakukan ini hanyalah membuang-buang waktumu saja. Lagipula, kamu tidak kehilangan satu hal pun dari mereka, dan mereka tidak akan mengubah keputusan mereka meskipun kamu membanjiri kotak pesan mereka dengan berbagai pesan. Tapi jika memang suatu saat dia kembali menghubungimu, take a step back! Jangan kembali jatuh ke dalam perangkap yang mereka buat dan cobalah untuk selalu hiraukan pesan mereka. You are so much better than this!

Nah… sekian tips dan trik yang bisa kamu terapkan apabila kamu sedang terjebak dalam situasi ini dan hatimu merasakan perasaan yang tidak nyaman akibat kelakuan dari si pelaku ghosting. Seperti apa yang dibilang oleh Jennice Vilhauer, PhD, seorang psikolog dan konsultasi yang menulis buku tentang ghosting, bahwa hal yang paling penting dalam suatu hubungan adalah:

“Know your own value, It’s really important to understand that you have value as a human being and to know that. If you don’t feel that you’re being treated in a way where you are being valued, it’s important to be able to make that choice yourself to say that this is not acceptable to you. This behavior is not okay. And you are willing to walk away from this”

BACA JUGA: Pertolongan Pertama Dalam Mengatasi Kecemasan

Referensi Gambar Header: Ghosting

Jawaban Anak UI Saat Ditanya Tentang Aliran Ideologi Politiknya

4 Aliran Ideologi Politik Anak Universitas Indonesia. Politik selalu menjadi tema pembahasan yang menyenangkan dan tidak pernah selesai, bukan tanpa sebab karena politik selalu mempengaruhi berbagai dimensi realitas di kehidupan kita. Ekonomi, religi, budaya, sains, dan lain-lain, semua itu dipengaruhi oleh politik.

Politik (sumber: jurnaliscun.com)

Nah tentu saja saya penasaran dengan aliran politik anak-anak UI, maka dari itu saya sempat mewawancarai beberapa orang di Universitas Indonesia dan menanyakan aliran politik mereka. Mungkin wawancara yang saya lakukan hanya bisa merepresentasikan sebagian pandangan politik anak UI. Mau tau apa aja aliran politik anak UI? Yuk simak pembahasannya.

1. Libertarianisme

Sumber: simple.wikipedia.org

Dari hampir sebagian wawancara yang saya lakukan terhadap anak-anak UI dengan mengambil sampel di FIB dan FISIP, hampir setengah orang yang diwawancarai menganut aliran politik Libertarianisme. Saya tidak tau mengapa banyak anak UI yang memegang aliran ini, tetapi ketika saya tanya, mereka menjawab pada dasarnya semua orang libertarianisme. Salah satu orang yang saya wawancarai bernama A (A adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai) menjawab :

Mohan: Mengapa kamu menganut aliran politik libertarianisme A?

A: Hmm, sebenarnya semua orang itu menganut libertarianisme lo.

Mohan: Loh kok bisa semua orang menganut libertarianisme?

A: Iya, karena setiap orang dalam bertindak itu selalu menjunjung tinggi hak-hak orang, banyak dari kita tanpa sadar sebenarnya libertarianisme, karena libertarianisme adalah ideologi politik yang menjunjung tinggi hak-hak orang, yaitu walaupun orang ngeledek kita ataupun tidak suka sama kita, kita semua selalu menghormati mereka kan dan tidak melakukan pemukulan terhadap mereka? Nah kalo kita semua tidak melakukan pemukulan terhadap orang yang tidak suka terhadap kita maka itu artinya kita menjunjung tinggi hak-hak orang dan itu artinya kita adalah libertarianisme.

Mohan: Oalah begitu ya, makasih Anita atas kesempatan wawancaranya ya.

A: Oke sama-sama.

2. Marxisme

raised fist symbol

Nah ini lumayan mengejutkan, tapi ada beberapa anak UI yang saya wawancarai mengaku seorang marxisme, tapi kita harus paham ya teman-teman, marxisme itu beda dengan komunisme. Kalo komunisme itu adalah ideologi campuran dari marxisme dengan leninisme dan beberapa campuran serta revisi lainnya. Sedangkan marxisme itu adalah aliran filsafat murni yang dicetuskan oleh Karl Marx tanpa ada campuran ataupun gabungan ideologi leninisme.

Jadi marxisme ini sebenarnya termasuk aliran filsafat dan bukan ideologi. Kita tidak dapat mengatakan seorang marxis adalah seorang komunis karena hal tersebut beda jauh. Sama seperti air biasa dengan air mineral, nah air biasa itu marxis sedangkan air mineral itu komunis. Kita tidak dapat mengatakan orang yang minum air biasa sama dengan orang yang minum air mineral. Nah setelah saya tanya mengapa dia menganut marxis maka ternyata jawabannya sangat menarik.

Mohan: Mengapa kamu menganut Marxisme H? (H adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

H: Tapi aku menganut Marxisme cuma dalam segi akademisi ya! dalam kehidupan nyata aku lebih milih Islam. Dan kenapa dari segi akademisi aku menganut marxis soalnya aku ngerasa banyak ketidakadilan di dunia ini, banyak kemiskinan yang disebabkan oleh sistem kapitalisme. Apalagi keuntungan kapitalisme itu hasil curian dari tenaga buruh, misalnya harga kayu sebelum jadi bangku cuma Rp.40.000,00 setelah di ubah oleh buruh perusahaan menjadi bangku maka harganya jadi Rp.50.000,00. Nah berarti ada nilai lebih atau keuntungan dong Rp.10.000,00.Yang artinya seluruh nilai lebih itu adalah hasil kerja buruh, jadi seharusnya nilai Rp.10.000,00 itu adalah hak milik buruh sepenuhnya dan pengusaha atau kapitalisme tidak boleh mengambil hak tersebut, tapi kenyataannya keuntungan itu diambil oleh pengusaha sedangkan buruh hanya mendapatkan ¼ nya saja. Jadi sebenarnya kapitalisme itu mencuri dari buruh.

Mohan: Wah itu teori nilai lebih di ekonomi Karl Marx ya? Aku pernah belajar tuh.

H: Iya kak.

Mohan: Hmm, begitu ya, oke makasih H, tapi sebelum itu aku mau nanya, kamu setuju gak dengan komunisme?

H: Wah gak , soalnya komunisme itu memakai cara-cara yang bersifat kekerasan, aku lebih suka dengan marxisme sih karena memperjuangkannya lewat jalur akademis aja.

Mohan: Oke makasih ya H atas wawancaranya.

H: Sama-sama.

3. Pancasila

(Edited from kindpng.com)

Tentu ideologi politik ini tidak asing jika dianut oleh orang Indonesia karena memang Pancasila telah menjadi ideologi yang wajib harus dianut oleh seluruh orang indonesia. Ada beberapa mahasiswa UI yang saya wawancarai dan dia mengakui bahwa ideologi politiknya adalah pancasila, salah satunya adalah F (F adalah inisial, sebaiknya saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

Mohan: Kamu menganut pancasila ya? Kenapa kamu menganut ideologi pancasila F?

F : Ya jelas lah kan kita tinggal di negara indonesia.

Mohan : Oh gitu ya, tapi gimana pendapat kamu dengan ideologi politik lainnya F?

F: Wah sesat tuh pasti, aku sih pancasila aja.

Mohan: Oh gitu ya, tapi sila ke lima itu kan keadilan sosial diambil dari sosialisme, sila pertama ketuhanan diambil dari fundamentalisme (agama), sila kedua dan keempat diambil dari libertarianisme, sila ketiga diambil dari nasionalisme. Kok sesat sih, kan padahal pancasila itu gabungan dari ideologi-ideologi lain?

F: Wah maaf ya, wawancara sudahi disini dulu aku ada urusan.

4. Feminisme

Sumber: dictionary.com

Nah sebenarnya feminisme adalah ideologi politik perjuangan terhadap hak-hak perempuan, tetapi feminisme bukan sekedar ideologi politik saja tetapi feminisme juga termasuk aliran filsafat yang mempelajari pengaruh nilai-nilai tradisional yang mengekang kebebasan perempuan sehingga perempuan hanya menjadi gender yang di bawah laki-laki. Sebagian yang saya wawancarai adalah wanita dan hampir seluruh wanita yang saya wawancarai menganut feminisme hihihi. Salah satu orang yang saya wawancarai dan mengaku feminisme adalah D (D adalah inisial, sebaiknya nama saya samarkan karena takut merugikan orang yang saya wawancarai).

Mohan: Wah kamu pejuang feminisme ya? Kenapa kamu menganut ideologi feminisme?

D: Iya karena aku ngeliat banyak banget ketidakadilan yang dialami perempuan, mulai dari pembedaan gender tanpa dasar, padahal kan perempuan juga punya hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan seolah menjadi kelamin kedua setelah laki-laki, nah aku sebagai perempuan juga pasti ingin hak-hak nya tidak diambil, makanya aku suka dengan feminisme.

Mohan: Wah bagus tuh, makasih ya D atas wawancaranya.

D: Siap.

Itu dia empat aliran ideologi politik anak UI yang saya sempat wawancarai, bagaimanapun pemikiran adalah hak setiap orang, Nah kamu aliran ideologi politik apa nih? Tulis di komentar ya.

3 Hal Sepele Tapi Penting Ini Sering Bikin Mahasiswa UI ‘Skip’

Sebagai mahasiswa UI, kita pastinya memiliki kegiatan atau jadwal yang cukup padat, baik untuk urusan akademik, non-akademik, sampai yang cuma hura-hura sekali pun. Tak jarang kita memilih untuk membuat to do list agar kita tidak melupakan kegiatan atau jadwal yang telah kita susun sebelumnya.

Namun, ada beberapa hal yang tidak menjadi prioritas kita dan sering kali membuat kita lupa. Padahal, hal-hal tersebut bisa dibilang cukup penting, loh. Apa sajakah itu? Berikut anakui.com akan merangkum tiga hal yang sering membuat mahasiswa UI skip.

1. Mengisi EDOM

Sumber gambar: edom.ui.ac.id

EDOM adalah singkatan dari Evaluasi Dosen Oleh Mahasiswa. Sesuai namanya, merupakan situs khusus bagi mahasiswa untuk memberikan penilaian, saran, dan kritik untuk dosen yang telah mengajar mereka pada semester tertentu. Terdapat 16 poin yang harus diisi oleh mahasiswa dengan rentang skor 1—6. Selain itu, mahasiswa dapat menuliskan saran, kritik, atau sekadar apresiasi pada kolom komentar yang telah disediakan.

Nah, karena pengisian EDOM ini biasanya dilakukan setiap akhir semester, mahasiswa UI sering lupa untuk melakukannya. Mereka baru ingat untuk mengisinya ketika mendapat informasi bahwa nilai dari mata kuliah mereka telah dipublikasikan di SIAK (Sistem Akademik). Hal ini karena mereka baru bisa melihat nilai setelah mengisi EDOM.

Mumpung sekarang sedang menjelang akhir semester nih, jangan lupa isi EDOM, ya. Kelihatannya memang sepele, tapi dengan mengisi EDOM, kamu bisa memberikan masukan pada dosen sehingga mereka bisa mengajar dengan lebih baik lagi.

BACA JUGA: Arti Dibalik Nilai A B C D E yang Kamu Dapat Semasa Kuliah

2. Perpanjang Masa Pinjam Buku

Sumber: kompasiana.com

Meminjam buku di Perpustakaan Pusat (Perpusat) sudah menjadi kebiasaan bagi mahasiswa UI. Perpusat memang memiliki koleksi buku, jurnal, skripsi, dan referensi lain yang cukup lengkap. Selain itu, meminjam buku di Perpusat juga lebih hemat dibandingkan dengan membeli buku baru.

Saat kita meminjam buku, kita akan diberi masa pinjam selama dua minggu dengan batas maksimal 10 buku. Jika terlambat mengembalikan, kita akan dikenai denda sebesar Rp2000 per buku dan per harinya. Sayangnya, tidak semua mahasiswa mengingat batas waktu dari masa pinjam itu. Akibatnya, mereka sering lupa dan ujung-ujungnya kena denda, deh.

Selain itu, alasan malas ke Perpusat juga bisa jadi penyebabnya. Padahal, kemalasan itu bisa diatasi dengan memperpanjang masa pinjam via email. Khusus untuk hal tersebut, kita harus mengirimkan email H-1 sebelum masa pinjam habis agar pada hari H batas pinjamnya permohonan perpanjangan masa pinjam kita dapat diproses. Biar tidak lupa lagi, kamu bisa menulis masa batas pinjam buku tersebut di to do list-mu. Jadi, kamu bisa terhindar dari denda, deh.

Untungnya, selama pandemi Corona ini, Perpusat membuat kebijakan untuk membebaskan masa pinjam bagi kamu yang belum mengembalikan buku. Namun, setelah semua kembali seperti biasa, jangan lupa segera dikembalikan, ya.

BACA JUGA: Lima Kenangan yang Selalu Diingat di Indomaret Perpusat UI #ByeSnackMurah

3. Perbarui Password SSO

Sumber gambar: beranda.ui.ac.id

UI memiliki sistem Single Sign On (SSO) untuk mengakses hal-hal penting yang berkaitan dengan akademik, seperti SIAK dan akses jurnal. Selain itu, SSO ini juga berguna untuk mengakses wifi di lingkungan kampus UI. Jadi, keberadaan SSO cukup penting bagi kehidupan sivitas akademika UI, termasuk mahasiswa.

SSO memiliki password yang harus diperpanjang atau diperbarui selama enam bulan sekali. Melakukannya pun cukup dengan membuat password baru di laman SSO. Masalahnya, tidak semua mahasiswa UI ingat untuk memperbarui password mereka. Alhasil, mau tidak mau mereka harus mengurusnya ke Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi (DSTI) UI. Lebih ribet, kan?

BACA JUGA: Jangan Lupa Ganti Password UI Kamu!

Nah, itu tadi tiga sepele yang sering membuat mahasiswa UI skip, padahal ketiganya penting banget untuk dilakukan. Kira-kira, masih ada lagi nggak hal-hal yang bikin kamu skip? Bisa kamu tambahkan di kolom komentar, ya!

Sumber gambar header: pixabay.com

Serba-Serbi Ramadhan Bagi Anak UI Yang Ngekost

Halo teman-teman UI. Wah tidak terasa saat ini sudah memasuki bulan Ramadhan. Siapa yang kangen sama bulan Ramadhan? Pastinya banyak dong yang kangen sama bulan penuh rahmat ini. Sebelumnya mau ngucapin, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan ini bagi yang menjalankannya. Tetap semangat dan selalu jaga kesehatan di tengah pandemi ini dalam menunaikan ibadah puasanya.

Masih pada full kan? Iya dong harus biar tambah berkah hidupnya. Nah ngomong-ngomong tentang bulan Ramadhan. Pastinya banyak serba-serbi yang identik tentang bulan Ramadhan ini. Mulai dari sahur, nyari takjil, tarawih, dan lain-lain. Walaupun saat ini sedang ada pandemi covid-19 yang membuat segala aktivitas ibadah harus #dirumahaja seperti tarawih, tapi jangan sampai menurunkan semangat kalian untuk tetap beribadah di bulan Ramadhan ini yak.

Sumber: liputan6.com

Tetap harus beribadah seperti tahun-tahun sebelumnya kalau bisa lebih rajin lagi karena melakukannya #dirumahaja dan bersama keluarga tercinta. Tetapi, ada nih teman-teman yang tidak bisa berpuasa bareng keluarga di rumah karena tidak bisa mudik. Semoga teman-teman selalu dikuatkan dalam menjalani ibadah puasanya.

Oh iya tentang serba-serbi Ramadhan, pastinya seru banget untuk dibahas. Apalagi buat kalian para anak UI yang ngerasain puasa di kampus. Pasti banyak pengalaman yang kalian lakukan selama menjalani ibadah puasa di kampus. Bagi kalian anak UI mungkin tulisan ini akan menjadi pengobat rindu kalian rasanya puasa di kampus, terutama untuk anak-anak UI yang ngekost. Serba-serbi Ramadhan ini mungkin sudah rutin kalian lakukan selama bulan Ramadhan.

1. Tipe-Tipe Sahur

Sumber: qazwa.id

Mungkin bagi kalian para anak UI yang ngekost dan tidak bisa pulang ke rumah selama Ramadhan karena masih harus kuliah pernah mengalami kondisi-kondisi sahur seperti ini.

  • Pertama ada tipe sahur normal. Tidur sebelum sahur, kemudian bangun sekitar jam 3 atau setengah 4 kemudian mencari makan sahur, setelah itu sahur seperti biasa hingga imsak.
  • Kedua ada yang begadang semalaman hingga waktu sahur tiba kemudian baru tidur setelahnya. Hal ini dilakukan karena takut kesiangan dan tidak bangun sahur. Memang kondisi di kost terkadang membuat mahasiswa susah untuk bangun sahur karena tidak ada orang tua yang membantu untuk bangun. Sebenarnya bisa saja dengan memasang alarm atau minta bantuan teman, hanya saja kalau sudah terlalu pelor bakal susah nih. Nah tapi ada untungnya juga begadang semalaman hingga waktu sahur tiba. Kegiatan begadang tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas bersama teman atau belajar bareng. Jadi tidak terlalu sia-sia begadangnya.
  • Tipe sahur yang ketiga yaitu makan dahulu sebelum tidur sahur untuk mengantisipasi kesiangan sahur. Tipe sahur ini biasanya dilakukan mahasiswa yang suka pesimis bisa bangun sahur tepat waktu atau malah bablas tidak sahur. Maka dari itu, mereka mengakali dengan makan terlebih dahulu sebelum tidur, jadi walaupun besoknya tidak sahur itu bukan menjadi masalah.
  • Tipe terakhir adalah tidak sahur. Ya sebagian mahasiswa mungkin memutuskan untuk tidak sahur bukan karena keinginannya tapi keadaan. Entah itu karena terlalu capek hingga tidak bangun sahur, atau bisa juga karena malas mencari makan sahur akhirnya memutuskan untuk tidak sahur. Meskipun begitu puasanya harus tetap jalan yak.

BACA JUGA: Ini Dia Masakan yang Bisa Kamu Buat di Kosan untuk Sahur dan Berbuka!

2. Berburu Takjil Gratis

Sumber: alinea.id

Anak kost suka sekali dengan yang namanya gratisan, apalagi kalau yang gratis tersebut berhubungan dengan makan.

Nah biasanya di bulan Ramadhan banyak masjid atau musholla yang menyediakan takjil gratis. Sehingga perburuan untuk mencari takjil gratis dari satu masjid ke masjid yang lain menjadi suatu kegiatan wajib bagi anak UI, terutama yang ngekost. Hal ini juga berguna untuk menahan pengeluaran selama Ramadhan.

Kalau ada yang gratis kenapa tidak?

Ya kan? Biasanya mahasiswa akan berburu di masjid atau musholla dekat kampus ataupun kostan mereka. Dengan bermodal keberanian dan jiwa petarung, biasanya mereka akan stand by di waktu-waktu mendekati adzan Maghrib. Ya dong adzan maghrib masa adzan Ashar.

Bagi yang baru selesai kelas akan buru-buru untuk segera menuju masjid atau musholla yang menyediakan takjil gratis. Bersama teman, berburu takjil gratis akan terasa lebih menyenangkan. Kutek menjadi daerah yang paling tepat untuk berburu takjil gratis tersebut. Karena di daerah kutek termasuk wilayah padat penduduk dan rata-rata anak UI sebagian besar ngekost di sana. Terdapat beberapa masjid atau musholla di kutek sehingga menunjang kegiatan berburu takjil gratis ini. Selamat berburu!

BACA JUGA: Spot-Spot di UI yang Asyik Buat Ngabuburit

3. Cari Masjid atau Mushola Yang Sholat Tarawihnya Cepat

Sumber: korankaltim.com

Untuk mahasiswa yang masih berkuliah selama Ramadhan biasanya tetap harus mengerjakan tugas sambil beribadah. Maka hal ini menuntut semua kegiatan harus efektif dan efisien untuk hal ibadah maupun akademis. Ramadhan identik dengan sholat tarawihnya, maka banyak anak UI yang tetap menjalankan sholat tarawih di tengah kesibukan akademisnya.

Nah biasanya nih, ada beberapa masjid atau mushola di sekitar UI yang mengadakan sholat tarawih dengan cepat. Bukan sepat berarti tidak tuma’ninah yak. Hanya saja biasanya dilakukan 11 rakaat dengan rincian 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Masjid atau musholla seperti ini biasanya menjadi favorit anak UI untuk menjalankan ibadah tarawihnya.

Anak UI akan mencari masjid atau mushola yang sholat tarawihnya cepat, sehingga mereka bisa lanjut mengerjakan tugas. Tapi di lain kondisi, ada anak UI yang melakukan tarawihnya di kost. Biar lebih efektif dan efisien sih katanya. Taraweh bareng teman di kost juga seru. Kan yang penting niat ibadah tarawihnya, mau di masjid atau musholla atau kost, mau 11 atau 23, selama niatnya untuk ibadah maka pahala ganjarannya. Semangat tarawihnya!

BACA JUGA: Yang Akan Kamu Kangenin di Bulan Ramadhan Waktu Kamu Kecil

4. Rasanya Sholat Tarawih di MUI

Sumber: ui.ac.id

Masjid Ukhuwah Islamiyah atau biasa disebut MUI merupakan masjid yang menjadi ikon di UI. Terletak di tempat yang strategis dan terjangkau tak heran MUI menjadi salah satu masjid favorit mahasiswa UI maupun pengunjung UI untuk beribadah, apalagi memasuki bulan Ramadhan seperti sekarang ini.

Banyak agenda Ramadhan yang dilaksanakan oleh MUI mulai dari menyediakan takjil, sholat tarawih, tadarus, ceramah, hingga i’tikaf. Pokoknya banyak ladang pahala yang bisa didapatkan. Nah berhubung bulan Ramadhan, kegiatan sholat tarawih di MUI tidak boleh dilewatkan.

Bagi kalian anak UI terutama yang ngekost, boleh lah atau coba lah sekali seumur hidup kalian untuk menjalankan ibadah tarawih di MUI ini. Dijamin rasa syukur kalian akan bertambah. Jumlah tarawih yang dilaksanakan di MUI biasanya 8 rakaat. Wah kayaknya cocok nih buat anak kost yang mau cari cepat selesai. Tapi jangan salah, walau cuma 8 rakaat surat yang dibaca cukup panjang loh. Lumayan bisa membuat kalian latihan berdiri dan khusyuk. Semakin lama rakaatnya semakin baik kan? Nah cocok nih bagi kalian yang mau mendapatkan kekhusyukan sholat tarawih. Coba di MUI.

Selain itu, sholat tarawih di MUI terkadang ada selingan ceramah yang cukup menarik untuk didengar, walau ya tetap lama seperti rakaatnya. Meskipun ceramah, sholat, dan surat bacaanya panjang. Sholat tarawih di MUI masih ramai dilakukan oleh umat muslim baik yang berasal dari civitas UI maupun pengunjung luar UI. Karena ya untuk mendapatkan pahala Ramadhan setiap ibadah dilakukan dengan niat yang ikhlas, jadi saat menjalankannya pasti mudah.

BACA JUGA: Emangnya MUI Udah nggak Punya Kantin ya?

5. Susahnya Cari Makan untuk Sahur dan Berbuka

Sumber: travel.kompas.com

Poin kelima ini menjadi salah satu dilema yang dirasakan anak UI selama puasa di kostan. Pasalnya, kondisi ini cukup terasa dampaknya dan biasa terjadi di daerah kutek.

Teruntuk anak UI yang ngekos di kutek pasti sudah tidak asing lagi dengan fenomena ini. Ya cukup susah untuk mencari makan sahur dan berbuka di daerah kutek. Hal ini dikarenakan jumlah mahasiswa yang banyak tetapi tempat makan tidak bisa menampung semuanya. Akhirnya terjadilah pembludakan. Harus rela nunggu, antri, dan bersabar agar bisa mendapatkan menu sahur dan berbuka. Apalagi di tempat makan favorit seperti dapur bunda, ayam bakar gea, kantin fokus, warteg bahari, dan sederet tempat makan lainnya. Biasanya saat waktu berbuka tiba tempat-tempat makan tersebut akan penuh dengan anak UI. Harus lebih bersabar sih untuk bisa dapat tempat duduk dan makan, telat sedikit pasti langsung rame.

Nah berbeda halnya dengan sahur. Saat sahur warteg dan warkop menjadi tempat tujuan untuk mencari makan. Lagi-lagi warteg bahari menjadi salah satu spot favorit anak UI yang ngekos di kutek untuk mencari makan sahur. Jika telat bangun sudah langsung rame dan antriannya memanjang. Harus cari warteg lain kalau gini.

Apalagi kalau mendekati imsak, wah warteg atau warkop pasti penuh. Mau tidak mau tidak boleh telat bangun sahur kalau gini. Nah kondisi ini baru di kutek saja, mungkin kalian ada yang ngerasain di tempat lain seperti kukel, pocin, atau barel tentang susahnya cari makan untuk sahur dan berbuka? Boleh banget bagi pengalamannya di sini. Hehe

BACA JUGA: Hal-Hal Berikut Ini Hanya Dapat Kamu Temukan Saat Bulan Ramadhan Tiba

6. Terkadang Kangen Sahur dan Berbuka Bareng Keluarga di Rumah

Sumber: beritakotamakassar.fajar.co.id

Hal ini menjadi momen yang paling dikangenin anak UI yang ngekost sih. Kangen suasana sahur dan berbuka bareng keluarga di rumah. Mungkin untuk yang masih tinggal di daerah Jabodetabek bisa ngerasain momen ini di kala weekend. Tetapi untuk anak rantau. Mereka hanya bisa telpon atau video call untuk melepas kangen sahur dan berbuka bersama. Momen-momen ini yang kadang membuat sebagian anak kost terasa sedih jauh dari ortu. Cuma mau bagaimana lagi. Suatu kewajiban kuliah masih harus dijalankan dibarengi ibadah puasa di tanah perantauan. Meskipun begitu, hal ini masih bisa sedikit terobati dengan kehadiran teman-teman kalian sesama anak kostan untuk menemani sahur dan berbuka.

BACA JUGA: Hal-hal yang Tak Lagi Kamu Lakukan Saat Ramadhan karena Sudah Jadi Mahasiswa UI

7. Ikut Acara Bukber Yang Ada di Kampus

Sumber: eng.ui.ac.id

Ini jadi salah satu kegiatan yang menyenangkan untuk dilakukan anak UI yang ngekost. Sudah disebutkan tadi bahwa anak kost pasti suka yang gratis-gratis terutama makanan. Tidak jarang banyak kegiatan-kegiatan di kampus UI yang mengadakan bukber gratis. Entah itu dari organisasi, kepanitiaan, atau fakultas di UI itu sendiri. Nah bagi anak UI ini menjadi momen yang menguntungkan karena bisa dapat makan gratis untuk berbuka dan menghemat uang jajan. Makanan yang disediakan pun biasanya cukup lengkap seperti nasi box, ada juga takjilnya, bahkan es buah. Ya intinya sudah bisa memuaskan perut setelah seharian puasa. Karena namanya bukber di kampus pasti ada rangkaian kegiatannya dong. Ini yang tidak boleh dilewatkan bagi yang ikutan. Biasanya sih diisi kultum gitu, lumayan kan dapat makanan berbuka gratis dan ilmu yang bermanfaat.

BACA JUGA: Hal Ini Hanya Bisa Dimengerti Mahasiswa Perantauan Saat Bulan Ramadhan

8. Terkadang Dapat Kebaikan Bapak atau Ibu Kost

Sumber: jambi-independent.co.id

Kalau yang terakhir ini biasanya didapatkan dari kebaikan pemilik kost. Baik itu berupa makan sahur atau berbuka. Tidak jarang banyak pemilik kost yang suka memberi makanan sahur dan berbuka bagi para penghuninya loh. Ini merupakan ajang beramal mereka bagi para penghuni kost. Mungkin di hari lain pemilik kost juga sering membagikan makanan. Tetapi karena bulan Ramadhan, memberi makan untuk orang yang sahur dan berbuka pasti pahalanya bertambah. Beruntunglah bagi kalian anak UI yang ngekos di sekitar UI ini memiliki penghuni kost baik tersebut. Semoga selalu dilimpahkan rezeki bagi kalian wahai para pemilik kost yang baik hati.

Nah itu tadi serba-serbi Ramadhan yang mungkin dirasakan sebagian mahasiswa UI yang ngekost. Momen-momen berpuasa di UI tahun ini mungkin tidak bisa dirasakan sepenuhnya karena ada pandemi corona ini. Semoga saja tulisan ini sedikit mengingatkan kalian bagaimana rasanya puasa di UI yak kawan. Bulan Ramadhan memang selalu memiliki momen yang penuh suka cita dan bisa dirasakan semua orang. Di tengah pandemi ini, ayo sama-sama tetap jaga semangat berpuasanya dan ibadahnya #dirumahaja.

BACA JUGA: Yuk Intip Kegiatan Mahasiswa UI Menjelang Detik-Detik Lebaran Tiba

Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia: Dekan Baru, Harapan Baru

Beberapa pekan lalu, salah satu fakultas yang juga tergolong baru melakukan pengangkatan dekan loh, yakni Fakultas Ilmu Administrasi UI atau biasa dikenal dengan FIA UI.

Sebelumnya, fakultas yang dulunya merupakan salah satu departemen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) tersebut baru saja didirikan pada tahun 2015 dengan program studi Ilmu Administrasi Negara, Ilmu Administrasi Niaga, dan Ilmu Administrasi Fiskal.

Pada tahun 2016, tepatnya pertengahan bulan November, FIA UI melakukan pengangkatan dekan baru, yakni Prof. Dr. Eko Prasojo, Mag.rer.publ. Beliau diangkat sebagai dekan FIA UI untuk masa bakti 2016—2020 sekaligus dekan pertama.

Prof. Dr. Eko Prasojo Mag.rer.publ (via fia.ui.ac.id)
Prof. Dr. Eko Prasojo Mag.rer.publ (via fia.ui.ac.id)

Pengangkatan dekan baru FIA UI inipun disambut oleh warga FIA UI, termasuk mahasiswanya. Salah seorang mahasiswi, Siti Fatimatuz Zahra, jurusan Administrasi Fiskal UI angkatan 2015 mengungkapkan bahwa pengangkatan dekan baru ini menarik dan penuh harapan.

Juga, Zahra mengatakan bahwa sebelumnya FIA UI belum memiliki dekan sehingga fakultas tanpa adanya dekan dianggap sebagai fakultas yang eksistensinya belum jelas.

“Selama ini FIA sendiri belum punya dekan dan status sebagai fakultas tanpa dekan menjadi fakultas yang eksistensinya belum jelas,” ujar Zahra (19/11)

 

BACA JUGA: Beberapa Alasan Kenapa Kamu Gak Boleh Gampang Percaya Terhadap Broadcast yang Mengatasnamakan Pimpinan UI

 

Makara Merah-Ungu kebanggaan mahasiswa FIA UI (via intantyastory)
Makara Merah-Ungu kebanggaan mahasiswa FIA UI (via intantyastory)

Selain itu, Zahra pun mengungkapkan harapannya terhadap pengangkatan dekan baru FIA UI ini. “Dengan adanya pengangkatan dekan FIA ini setidaknya dapat mengangkat citra publik terhadap FIA itu sendiri bahwa fakultas ini memang sudah terbentuk. Semoga status FIA di sini semakin jelas dalam mengikuti berbagai kegiatan kampus seperti OIM UI, OLIM UI, dan UI Art War,” harap Zahra.

 

BACA JUGA: Tax Amnesty: Wajib Pajak Patuh Hanya Diapresiasi, Wajib Pajak Nakal Kok Malah Diampuni?

 

Bukan hanya harapan terhadap citra publik yang lebih baik lagi, Zahra pun berharap bahwa dosen-dosen FIA UI bertambah, dan gedung perkuliahan yang semakin jelas.

“Mungkin dari dosen FIA ini akan semakin bertambah karena menurut saya Sumber Daya Manusia (pendidik) masih kurang serta gedung FIA seharusnya lebih diperjelas lagi,” katanya.

Departemen Ilmu Administrasi di FISIP UI (via mirunasays)
Departemen Ilmu Administrasi di FISIP UI (via mirunasays)

Salah seorang mahasiswa, Ryan Ondrus, jurusan Ilmu Administrasi Niaga angkatan 2015 juga mengutarakan hal yang sama terkait pengangkatan dekan FIA UI. Ryan berharap FIA UI bisa berjaya lagi. “Mudah-mudahan FIA UI bisa berjaya lagi dan kualitasnya lebih baik lagi!” ujar Ryan (20/11).

 

BACA JUGA: Bercita-cita Mewujudkan Good Governance? Kamu Harus Belajar Ilmu Administrasi Negara Dulu

 

Wah, ternyata banyak juga ya harapan terhadap pengangkatan dekan baru dan pertama FIA UI ini. Semoga pengangkatan dekan baru FIA UI ini membawa perubahan fakultas tersebut menjadi lebih baik lagi ya!

Membanggakan! Prestasi dan Inovasi Mahasiswa UI yang Dapat Mengubah Dunia

 

Pernahkah kamu membayangkan memesan makanan semudah menjentikkan jemari pada jam tangan? “Ha? Pesan makanan lewat jam? Aneh-aneh aja”.

Mungkin, begitu yang ada di benak teman-teman saat ini. Namun, ingatlah bahwa teknologi smartwatch kini sudah menjadi trend dan bukan hal yang tidak mungkin bahwa saat ini dunia dapat berubah dengan segala inovasi terkininya. Semakin kekinian, semakin canggih. 😉

Dalam artikel kali ini kami akan membahas, siapa aja sih Anak UI yang kekinian banget dan memiliki prestasi dan bisa mengubah dunia dengan inovasinya? Dari sekian banyak Anak UI yang berprestasi, kami memilih 3 orang berikut yang menurut kami, inovasi mereka dapat mengubah dunia!

Penasaran, siapa aja mereka?

BACA JUGAMahasiswa UI Juara 2 Nasional Youth Power 2015 di UGM

 

 

Pandago Studio

Prestasi Pandago Studio dalam Startup Asia Singapore 2014
Prestasi Pandago Studio dalam Startup Asia Singapore 2014

Bukan, bukan! Pandago Studio bukan nama mahasiswa UI melainkan nama tim studio yang didirikan oleh Auzan Helmi S., Caraka Nur Azmi, Enreina Annisa R., dan Rasmunandar Rustam yang kesemuanya merupakan Mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI).

Keempat anak UI ini berhasil mengukir prestasi dalam ajang Hackathon yang diselenggarakan oleh Startup Asia Singapore 2014 lalu. Dalam ajang tersebut, Pandago Studio mempresentasikan aplikasi pertama untuk smartwatch yang mereka desain sendiri, LocaFood – sebuah aplikasi rekomendasi restoran atau café dalam bentuk foto-foto dengan style Instagram yang diakses melalui smartwatch Samsung Gear.

Aplikasi yang memanfaatkan platform Tizen Wearable ini juga dilengkapi dengan informasi step-by-step directions untuk berjalan ke restoran atau café yang diinginkan dan menampilkan foto tempat makan yang dekat dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki (di bawah radius 1 km). Wow!

Tidak hanya berhasil mengantongi hadiah senilai $1000 (SGD) dari ajang tersebut, Pandago Studio juga telah berhasil memberikan informasi yang dibutuhkan dengan tetap mengutamakan kesederhanaan dan kemudahan dalam penggunaannya.

 

Nakoela & Sadewa

Nakoela Hore & Sadewa Hore dalam Kontes Mobil Hemat Energi  via jabar.pojoksatu
Nakoela Hore & Sadewa Hore dalam Kontes Mobil Hemat Energi via jabar.pojoksatu

Tidak kalah dengan Pandago, baru-baru ini sebuah tim yang bernama Nakoela Hore & Sadewa Hore turut menyabet prestasi yang membanggakan. Mereka berhasil merebut gelar Juara 1 untuk Kategori Prototipe Gasoline, Juara 1 untuk Best Design kategori kendaraan Prototipe, dan Juara 1 untuk Kategori Urban Concept Gasoline dalam ajang Kontes Mobil Hemat Energi yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, 21-25 Oktober 2015.

Kontes tersebut merupakan ajang yang mewadahi mahasiswa teknik terbaik dari seluruh Indonesia untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah serta meningkatkan kreativitas, disiplin, serta kemampuan soft skill dan hard skill.

Pada ajang tersebut, Tim Nakoela Hore berhasil meraih pencapaian satu liter bensin untuk 740 kilometer, sedangkan Tim Sadewa Hore dengan karyanya bernama Kalabia Evo.5 berhasil meraih perolehan satu liter bensin untuk 292 kilometer. Wow, fantastis bukan!?

Siapa sangka, Indonesia menyimpan potensi besar untuk teknologi mobil hemat energi? Kebayang deh di masa yang akan datang kita bakalan jarang atau bahkan mungkin tidak lagi ngantre di pom bensin. Tidak hanya itu, dengan hemat energi, kita pun mampu menghemat energi untuk berpuluh-puluh tahun ke depan!

 

Adika Bintang Sulaeman, Jendra Riyan Dwiputra, dan I Made Sanadhi Sutandi

Salah satu inovasi anakUI dalam Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi via uiupdate
Salah satu inovasi anakUI dalam Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi via uiupdate

Berbeda dengan Nakoela & Sadewa serta Pandago Studio, ketiga mahasiswa ini tidak memiliki nama yang unik untuk timnya. Namun, siapa sangka, mereka berhasil membangun dan mengembangkan stasiun cuaca mini berbasis piranti cerdas dan Internet of Things!

Nah, buat kamu yang masih bertanya-tanya, apaan sih Internet of Things? Internet of Things (IoT) adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Gampangnya, dengan Internet of Things semua benda mati dapat terkoneksi melalui internet, seperti menyalakan lampu dengan voice recognition. Jadi kayak di film Iron Man gitu deh.

Ialah Adika Bintang Sulaeman (Teknik Komputer 2012), Jendra Riyan Dwiputra (Teknik Elektro 2012), dan I Made Sanadhi Sutandi (Teknik Komputer 2012) yang berada di bawah bimbingan pak, F. Astha Ekadiyanto (dosen Teknik Komputer FTUI), yang mengembangkan stasiun cuaca portable tersebut dalam Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) ke-8 yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada 26—29 Oktober 2015 lalu.

Berangkat dari masalah pertanian di Indonesia, dimana cuaca menjadi salah satu faktor yang menentukan kesejahteraan para petani, ketiga mahasiswa UI ini mengajukan sebuah sistem komputasi yang dapat membedakan cuaca berdasarkan parameter pertanian yang ada, seperti suhu, kelembapan udara, kecepatan angin, intensitas cahaya, curah hujan, dan tekanan udara. Tidak hanya cerdas secara fungsional, stasiun cuaca yang mereka kembangkan memiliki mekanisme suplai daya mandiri (cerdas operasional) dengan mengandalkan tenaga surya (solar panel).

Bayangkan, jika akhirnya inovasi ini diproduksi secara massal, tentunya mitos tanah air kita tanah surga dapat kembali menjadi kenyataan.

Dan tentunya, masih banyak prestasi dan inovasi anak UI lainnya yang tidak dapat kita sebutkan satu per satu di artikel ini. Namun, pastinya ini dapat menjadi inspirasi bagi kamu yang jeli melihat ada masalah apa sih di sekitar dan apa yang dapat kita perbuat untuk memperbaikinya?

Sudah sejatinya mahasiswa Universitas Indonesia, untuk tidak hanya menjalani perkuliahan, namun juga kembali ke masyarakat dan menjadi Indonesia. Yuk, share tulisan ini ke teman-teman kamu di Facebook, Twitter atau pun LINE supaya mereka ikut terinspirasi!

 

Katanya Anak UI Kaya-kaya, Pintar dari Lahir, Kuliahnya Enak, Abis Lulus Pasti Sukses. Bener Nggak Sih?

Mungkin tak sedikit yang mengira bahwa menjadi mahasiswa UI itu enak. Fasilitas terjamin, punya teman sekelas cerdas-cerdas, dan selalu bisa diandalkan, bahkan tak sedikit yang mengait-ngaitkan kami, para mahasiswa dengan alumni-alumi UI yang sudah sukses.

Mungkin memang itu yang dibayangkan oleh orang-orang, terutama orang tua. Atau mungkin, itukah yang kamu bayangkan?

Maka ketahuilah, beberapa mitos seputar mahasiswa UI di bawah ini sengaja kami tujukan kepada kamu yang selalu menganggap bahwa kami, mahasiswa/i UI berbeda dengan mahasiswa lain. Bukan untuk menyombongkan diri, bukan, sama sekali bukan. Namun, justru untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kami, mahasiswa/i Universitas Indonesia tidak jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa di kampus lain. Bahwa kami, tidak begitu istimewa.

Anak UI Sudah Pintar dari Sananya

Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)
Katanya anak UI pinter-pinter. (Sumber: bempsikologi)

Memang benar bahwa kami yang diterima di Universitas Indonesia, telah melewati tahapan seleksi yang tidak mudah yang bahkan menurut kami, hal ini pun terjadi di hampir semua perguruan tinggi di Indonesia. Namun, ketahuilah tidak ada yang namanya mahasiswa “sudah pintar dari sananya”. Kita semua, mahasiswa, melewati proses yang sama. Derita tugas tiada akhir. Bagaimana reaksi dan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantanganlah yang membuatnya berbeda.

Karena talenta setiap manusia berbeda, cara belajarnya pun berbeda. Ada orang yang perlu menyetel musik untuk membuatnya rileks dalam menyerap suatu pengetahuan. Ada juga yang membutuhkan situasi rileks saat menjelang ujian, sehingga ia harus menonton film terfavoritnya terlebih dahulu sebelum ujian, atau bisa juga dia berlibur ke suatu tempat untuk membuatnya rileks. Ada juga yang memang kutu buku, yang sedari awal semester sampai saat pesta ulang tahun sahabatnya bacabuku teruuus.

Namun, akankah selalu si kutu buku yang mendapatkan nilai A setelah ujian berakhir? Belum tentu. Tergantung kemana tangan dosen menentukan takdir mahasiswanya. Ketika si kutu buku sudah belajar setengah mampus, lalu tiba-tiba dosen kasih C, dia bisa apa?

Sekarang coba tukar posisi. Kamu belajar mati-matian lalu tiba-tiba dapat nilai D hanya karena dosen nggak suka sama kamu? Lalu teman kamu di kampus sebelah seenaknya bilang “Kamu kan anak UI! Sudah pintar dari sananya.” Nah, gimana perasaan kamu? Enak? Selamat menikmati.

 

Anak UI Kaya-Kaya, ke Kampus Bawa Mobil

Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)
Anak UI suka bawa mobil, katanya. (Sumber: edorusyanto)

Well, memang tak sedikit mahasiswa UI yang membawa kendaraan pribadi. Namun, ketahuilah, tidak serta-merta kendaraan tersebut membuat kami kaya. Lho, kenapa?

Karena, meski ke kampus bawa mobil, sungguh menyakitkan jika harus menghemat makan siang di warteg dengan harga tidak boleh lebih dari Rp 7.000 dan mengingat-ingat bahwa kredit mobilnya belum lunas meskipun sudah bekerja di luar kuliah mencari tambahaan untuk melunasinya, khawatir hilang, atau tergores karena mobilnya bukan punya pribadi, melainkan pinjaman.

 

Anak UI Kaya-Kaya, Tinggalnya di Apartemen

Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)
Katanya Anak UI tinggal di apartemen. (Sumber: globalrealtyindonesia)

Ketahuilah, harga kosan di area sekitar Universitas Indonesia jauuuuuuuuuuuuuh lebih mahal dari apartemen tempat sebagian dari mahasiswa UI menetap. Dan ketahuilah, meski harga sewa apartemen kami Rp 2.000.000-an, faktanya, kami tidak menyewa 1 kamar apartemen untuk 1 mahasiswa, melainkan untuk 5 orang atau bahkan ber-10 (jika nggak ketahuan).

Itu pun, ketika hari Minggu atau libur nasional tiba, kami bisa bernafas lega atau bahkan bersujud syukur. Kenapa? Karena kami berterimakasih pada situs-situs yang membantu kami untuk menyewakan kamar di apartemen kami. Ya, kamarnya kita sewakan secara online. Karena di saat libur tiba, tidak ada orang yang menempati. Ada yang pulang kampung, ada yang naik gunung, dll. Sehingga kami pun mendapat penghasilan tambahan yang cukup untuk memenuhi stok makanan bulanan kami.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Fasilitasnya Lengkap

Fasilitas anak UI lengkap.

Memang betul fasilitas di Universitas Indonesia bisa dikatakan memenuhi standar perguruan tinggi pada umumnya. Namun, hal tersebut tidak membuat perkuliahan kami terasa enak-enak saja.

Ketahuilah, penambahan fasilitas seperti perpustakaan atau laboratorium, membuat kami pingsan setengah mati. Kenapa? Ya, karena TUGAS! Oh my… Semakin susah cari alasan untuk tidak mengerjakan tugas, semakin susah untuk menarik nafas dan menikmati hidup. Tidak seperti kamu yang kalau sore nggak ada kelas masih bisa tidur siang dan bermalas-malasan. Ketahuilah, bahwa istilah “tidur siang” adalah suatu kemewahan tersendiri bagi kami yang berkuliah di kampus perjuangan ini.

 

Anak UI Kuliahnya Enak, Abis Lulus Koneksi Alumninya Banyak

Pengusaha-UI-Chairul-Tanjung

Memang betul bahwa tak sedikit alumni Universitas Indonesia yang meraih puncak kesuksesan.Lalu, apakah hal tersebut memiliki relevansi tertentu terhadap kesuksesan kami yang baru lulus kuliah?

Ketahuilah, bagi kami yang baru lulus kuliah, kami tidak serta-merta bisa seenaknya datang ke Nicholas Saputra dan berkata “Hai kak, aku alumni UI loh, bagi kerjaan dong.” lalu berharap bisa sukses cepat. Ketahuilah, bahwa untuk ketemu alumni yang sukses itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kalaupun ketemu, tidak akan terjadi hal yang istimewa.

“Oh, jadi kamu lulusan UI juga? Aku juga, lho. Angkatan berapa? Jurusan apa?”

“Iya, kak. Angkatan sekian, Kak. Jurusan anu, Kak.”

“Oh, gitu. Wah, seru ya. Bla bla bla… Oke, bye.”

Begitulah.

Sebenarnya masih banyak mitos lain yang rasanya perlu kami ceritakan, namun, kami harap dengan sekelumit mitos yang ada di atas, kamu bisa sadar. Sadar, bahwa kami tak jauh berbeda dengan kamu. Mahasiswa biasa dan tidak teristimewa.

Kenapa kami menulis ini? Karena kami menganggap keistimewaan itu TIDAK terletak pada kampus mana kamu menuntut ilmu. Namun, cara kamu beradaptasi terhadap tantangan hiduplah yang mampu membuat kamu, dan setiap mahasiswa, menjadi istimewa. Jika kamu setuju, maka jangan sungkan untuk membagi tulisan ini melalui Facebook, Twitter, dan LINE kamu. Sekedar bekomentar pun tidak masalah, karena dengan berdiskusilah kita bisa mengasah tidak hanya kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan sosial.

 

Kesengsem Sama Mahasiswa Asing yang Kuliah di UI? Pertimbangkan Dulu Sebelum Melangkah Lebih Jauh Ya!

Siapa di sini yang anak Sastra?

Siapa di sini yang sering ke FIB?

Siapa juga yang suka nemu bule-bule di sana?

Nah, buat kamu yang suka kesengsem sama bule-bule di UI, hati-hati aja yah. Ketika kamu memutuskan untuk berkomitmen sama mereka, ada hal-hal yang harus kamu ketahui dan terima sebagai konsekuensinya.

Jangan dipikir mentang-mentang punya pacar bule lalu bisa hidup enak hehe.

“Jadi apa aja nih, Kak, yang harus aku perhatikan?”

 

Enaknya

Enaknya pacaran sama bule. (Sumber: albumraka)
Enaknya pacaran sama bule. (Sumber: albumraka)

Katanya sih, menurut pengakuan beberapa alumni yang akhirnya menikah sama bule, katanya mereka itu romantis. Tidak seperti pria Indonesia kebanyakan, cowok bule gak akan segan-segan bilang “I love you” buat kamu di depan umum, mengirimkan bunga, menyilakan kamu duduk, ngebukain pintu buat kamu, dan pastinya candle light dinner so sweet gitu – nah yang kayak begini nggak akan kamu dapatkan kalau kamu pacaran sama bule tapi LDR-an.

Kalau kamu kepengin cowok bule yang jauh lebih romantis dari itu, cari aja yang berasal dari Spanyol atau Perancis. Asal jangan kaget aja kalau pas di kafe tiba-tiba dia bisa ke panggung dan nyanyi buat kamu. So sweet? Iya lhaa. Kok bisa begitu? Ya, karena budaya bawaan mereka memang begitu.

Karena hidup di daerah yang individualismenya tinggi, cowok-cowok bule tidak akan bersifat posesif. Mereka tidak terbiasa mengatur-atur hidup orang lain. Dalam urusan rumah tangga, mereka cukup fleksibel. Mereka nggak akan segan-segan untuk mencuci baju, memasak, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya jika mereka sedang senggang. Bagi mereka, tanggung jawab hidup itu ada dalam diri masing-masing, apalagi jika sudah menikah. Sehingga mereka tidak mudah untung bergantung pada orang lain.

Pacaran sama bule bikin kamu kecipratan “Star Factor”. Jangankan dipacarin, bule lewat depan kelas aja diliatin terus digosipin. Gimana kalau dia lewatnya sambil gandeng kamu, pasti detik berikutnya ada yang nyeletuk,

“Eh, lihat deh, itu Sasha pacarnya si Andrew. Duuh… I banget ya mereka. Pengen kayak mereka jadinya.” Atau bisa juga nyeletuk, “Ish… itu barusan si Andrew? Bule ganteng yang kemaren masih jomblo itu? Kok itu gandeng-gandeng cewek, sih? Kesian yah. Ceweknya nggak cakep gitu.”

Well, haters gonna hate anyway.

Sekalinya mereka serius sama kamu, mereka yang akan bawa kamu ke keluarganya tanpa diduga-duga. Jika kamu sudah dikenalin sama anggota keluarga si bule, siap-siap aja deh nunggu cincin lamaran nyantol di jari manis kamu.

Nggak sedikit juga, mahasiswi UI pengin pacaran sama bule yang kuliah sambil bekerja. Atau bekerja sambil kuliah, alias ekspatriat. Jujur saja, kalau kamu lihat sekilas bule ekspat pasti kesengsem. Bagaimana tidak? Setiap hari keliatannya bisa hura-hura, ke mampus naik mobil mewah, tinggal di appartment mewah, party hampir tiap malam.

Namun, tahukah kamu? Bagi bule-bule yang satu ini, mereka hanya bisa hidup enak di Indonesia loh. Kenapa? Karena jika mereka bekerja di Indonesia, mereka akan dapat yang namanya “allowance expat” a.k.a ‘uang jajan di luar gaji’, belum lagi, semua mobil dan appartment yang mereka tinggal dan bawa kemana-mana itu pun ternyata hanya pinjaman atau bahkan dibayarin perusahaan yang menempatkan mereka di Indonesia. Bahkan, tak jarang pula kuliah mereka pun ikut dibiayai. Dan begitu mereka “pulang kampung” gaji jutaan rupiah yang mereka terima di sini dan berasa “ghuede banget” di mata kita-kita yang masih mahasiswa unyu ini, ternyata nggak segitu gedenya. Karena, gaji mereka kembali dikonversikan dari IDR ke USD atau mata uang sesuai dengan negaranya masing-masing. Jadi  ya, aslinya nggak jauh lebih kere dari kita-kita juga, kok.

 

Nggak Enaknya

Nggak enaknya pacaran sama bule. (Sumber:)
Nggak enaknya pacaran sama bule. (Sumber:Photo Credit: [RAWRZ!] via Compfight cc)
Nah, sekarang kamu harus tahu apa aja yang bikin nggak enak buat hidupmu jika kamu berkeras untuk pacaran sama bule. Berkeras hati ya maksudnya, bukan keras yang lain!

Percaya atau tidak, bule yang aslinya memang “bad boy” dan bule yang aslinya “good boy” begitu tiba di Indonesia, punya gaya hidup yang lebih bebas dari negara asalnya. Bisa jadi karena hukum dan adat di sini nggak seketat di sana. Ménage à trois!

Kebiasaan yang bebas ini seringkali membuat bule-bule ini tidak segan-segan untuk mengajak bobo-bobo lucu tiap ketemu cewek yang disukainya. Iya, tiap ketemu. Emang budayanya gitu. Jadi kalau kamu mau kenal sama dia tapi nggak mau dijadiin bahan ‘ONS’ kamu harus dengan tegas minta dia untuk bersabar. Sampai kamu benar-benar yakin untuk menjalin hubungan dengan dia. Buat dia bersabar. Kalau kata orang Perancis sih, “Patience, mère de toutes les vertus

Selain itu, karena perbedaan budaya, jangan heran kalau lagi bercanda, becandaan si cowok bule suka jayus, dan terkadang sarkas atau menyerang fisik. Niatannya emang becanda dan becandanya dia ya gitu. Jadi ya terima aja deh kalau masih sayang. Minimal pura-pura senyum gitu biar nggak bete.

Cowok bule juga terkenal dengan keras kepala yang benar-benar keras. Kalau mereka memutuskan sesuatu itu  “A” ya “A” aja. Nggak ada tuh cowok bule bisa baca kode-kode yang kamu kirimin atau nemenin galau-galauannya kamu. Kalau kamu mau sesuatu, ya tinggal bilang. Sekalinya kamu ngambek dan bilang “Ih, kamu kok nggak ngertiin aku banget sih!?” Dia akan bilang, “What the f*ck? You didn’t tell me what you want. How the hell I know?” Galakan mereka lah daripada kamu.

Mereka terbiasa untuk tidak terlalu larut dalam urusan perasaan, tapi sekalinya larut mereka juga nggak akan galau. Nggak kayak kamu yang kalau milih pakai baju buat kuliah aja galaunya bisa satu setengah jam sendiri. Cowok bule milih baju setengah detik juga kelar.

Nah, sekarang kamu tanyakan lagi deh sama diri kamu sendiri, kamu yakin mau jalanin hubungan sama bule?

Intinya sih, dalam hidup ini nggak ada yang cepat, instan, enak, dan tahan lama. Mie goreng aja yang udah instan nggak bisa tahan lebih dari setahun kok. Setiap pilihan hidup punya konsekuensinya masing-masing. Jika kamu ingin hidup enak maka hadapilah konsekuensi untuk menderita terlebih dahulu. Pun sebaliknya, jika kamu menikmati penderitaamu saat ini, niscaya nggak lama lagi hidup kamu bakal enak! Amin!

 

Yuk, jangan lupa share artikel ini di Twitter, Facebook atau LINE kamu! Agar bisa mengingatkan dan menyadarkan teman-teman kita yang lain! 😉