5 Pertanyaan Ini Harus Ditanya ke Ortu Tentang Serunya Kuliah Zaman Dulu

Kuliah itu seru dan serunya kuliah gak terulang dua kali. Meskipun kamu daftar S2 atau kamu ikut SIMAK lagi gegara di DO (amit-amit), gak bakal seseru kuliah yang pertama. Tapi tahukah kamu kalau serunya kuliah itu udah ada dari dulu? Iyalaaahhh!

Sejak kuliah itu ada, kuliah pasti udah seru banget.  Sayangnya BMKG belum menemukan cara untuk mewawancarai eyang Budi Oetomo tentang serunya kuliah masa lalu. Tapi percayalah kamu bisa mengetahui kalau kuliah itu seru, setidaknya dari cerita betapa serunya kuliah zaman dulu dengan nanya ke ortu kamu, entah ibu atau ayah. Berikut beberapa pertanyaan yang harus kamu tanyain ke ortu kamu kalau kamu mau tau betapa serunya kuliah zaman dulu.

“Dulu termasuk yang pinter baik-baik atau…?”

“Dulu termasuk yang pinter baik-baik atau…?” via aswidhafm
“Dulu termasuk yang pinter baik-baik atau…?” via aswidhafm

Yesshhh! Kamu pasti wondering dong, seberapa pinter, cupu, bandel, atau kerennya bokap-nyokap waktu zaman masih kuliah! Mungkin kamu pernah beberapa kali pergokin sisi lain mereka di beberapa album foto lama, tapi ketahuilah, akan lebih seru kalau mereka sendiri yang cerita. Mungkin kamu kemudian akan cekikikan sendiri kalau tahu bahwa dulu ternyata bokap itu musisi kampus dan pernah, dalam beberapa kesempatan berbeda, nyanyi buat seorang gadis sambil main gitar dan duduk di atas meja kantin. Atau nyokap yang dulu ternyata pernah dapet nilai D gara-gara nolak diajak jalan sama asdos. Hmm…

 

“Sekarang temen se-geng pada kemana?”

“Sekarang temen se-geng pada kemana?”
“Sekarang temen se-geng pada kemana?”

Ini seru juga, tiap orang pasti punya inner circle-nya sendiri. Kamu bisa nanya itu temen-temen se-geng pada ke mana, kemudian kamu akan diceritakan masing-masing kelakuan anggota geng itu, julukan-julukannya waktu masih kuliah bahkan julukan mereka waktu masih kuliah. Mungkin kamu akan mendengar beberapa cerita yang gak lucu atau mungkin sedih, tapi kamu akan merasakan serunya ngobrolin ini ketika kamu mulai membandingkan geng mereka kamu dengan geng yang kamu miliki sekarang.

BACA JUGAMau Nyambut Maba dengan Cara yang Nyeleneh? Nah Ini Jawabannya

 

“Hal terjahil apa yang pernah dilakukan ketika masih kuliah?”

“Hal terjahil apa yang pernah dilakukan ketika masih kuliah?” via hukumonline
“Hal terjahil apa yang pernah dilakukan ketika masih kuliah?” via hukumonline

Oke, coba, apa sih hal terjahil yang pernah kamu lakuin selama kuliah ini? Godain dosen cantik? Atau iseng nyomblangin temen terus beneran jadian tapi ternyata kamu malah naksir yang kamu comblangin? Masukin temen kamu ke trash bag terus jitakin rame-rame? Atau ngebajak handphone temen terus ngajak jalan cowo orang?

Percaya deh, kamu bakal ngakak denger isengnya bokap-nyokap zaman dulu. Gak hanya isengnya mereka itu khas zaman dulu (entah, nyulik temen dari Jakarta ke Bandung gara-gara ongkos bis waktu itu masih kurang dari seribu perak), tapi juga konyolnya kejahilan itu kalau beneran dilakukan masa kini. Plus, kapan lagi kamu bisa dikasih inspirasi prank lintas zaman?

 

“Perjuangan paling berat waktu kuliah?”

“Perjuangan paling berat waktu kuliah?”
“Perjuangan paling berat waktu kuliah?”

Ya, perjuangan macam apa yang paling berat  yang pernah kamu lakukan? Bawa-bawa laptop berat ke kampus untuk ngerjain tugas yang sebenernya bisa dikerjain di rumah? Masih kalah sama ngetik skripsi di mesin tik. SKS numpuk dan matkul susah? Masih kalah sama jadi mahasiswa abadi gegara dimusuhin dosen dan literally abadi gara-gara gak ada batas maksimal masa kuliah.

Ayo coba apa lagi? Susah deketin dia gara-gara dia kalo di-chat gak pernah bales? Masih kalah sama harus ngantri di wartel atau telpon umum hanya untuk denger suara dia, tapi yang ngangkat malah Babehnya. Silakan dicoba sendiri membandingkan perjuangan kalian.

 

“How did you met each other?”

“How did you met each other?” via kapanlagi
“How did you met each other?” via kapanlagi

Buat yang beruntung punya papah-mamah yang gak cuma sekampus, tapi juga seangkatan, silakan minta diceritain gimana awalnya mereka bisa kenalan, setiap basa-basi formalitas yang dilalui, setiap kecemburuan, setiap kecemburuan dan bahkan setiap permintaan maaf yang dilakukan sampai akhirnya mereka berdua naik pangkat dari temen sepermainan jadi temen sepelaminan.

Punya pertanyaan lain yang lebih seru? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line, dan mulailah wawancara kamu ke orang tua kamu!

Psst, Ini yang Terjadi Kalau Dosen Lagi Rapat Pleno

Ngebahas Pencapaian Mahasiswa via accounting.feb.ui
Ngebahas Pencapaian Mahasiswa via accounting.feb.ui

BMKG telah berhasil melakukan finishing terhadap hasil wawancara dengan dosen mengenai rapat pleno. Awalnya BMKG sempat ragu apakah hasil wawancara ini merupakan sensitive informations, dan dosen yang bersangkutan mengkonfirmasi hal itu. Namun, dosen tersebut juga menyatakan bahwa sensitive informations itu bisa disebarluaskan dengan catatan sebagai berikut, “Tau apa yang terjadi di rapat pleno gak akan membantu mahasiswa juga, kok.”

Tapi tentu mahasiswa kepo, apa sih yang terjadi di rapat pleno? Yuk, kita simak hasil rumusannya.

BACA JUGA: Yuk, Simak Apa Kata Dosen Tentang Mahasiswa-mahasiswanya?

 

Ngebahas Pencapaian Mahasiswa

Ngebahas Pencaaian Mahasiswa via accounting.feb.ui
Ngebahas Pencaaian Mahasiswa via accounting.feb.ui

Ya, rapat yang diadakan adalah per mata kuliah dan yang dibahas tentu adalah pencapaian mahasiswa. Untuk yang belum pernah paham metode pengajaran, pengajaran itu gak sesederhana yang kalian pikirkan. Hasil materi yang dikalibrasi dari awal semester dan diterapkan hingga akhir semester akan memunculkan hasilnya. Dan hasil tersebut harus sesuai perkiraan. Kalau misalnya cuma sedikit yang dapet nilai A dan kebanyakan dapet C, alias pencapaian mahasiswa di bawah ekspektasi, berarti ada sesuatu yang salah dengan itu materi, atau emang mahasiswanya yang ngaco.

Per mata kuliah ada dosen yang bertanggung jawab, dan kadang ada mata kuliah yang diajar lebih dari dua dosen—artinya penilaiannya jauh lebih ribet. Mulai dari keaktifan di kelas yang harus dinilai, hasil tugas dan presentasi, dan lain sebagainya. Bersyukur kalau dari tiga dosen, cuma satu yang sebel sama kamu. Kalo tiga-tiganya sebel dan nilai kamu menyedihkan, yaaa ya udah.

 

Diskusi Jadi Debat

Seringkali rapat juga berjalan cukup alot via eng.ui
Seringkali rapat juga berjalan cukup alot via eng.ui

Diskusi berubah jadi debat ketika ada mahasiswa yang layak untuk diluluskan tapi nilainya di atas kertas malah gak mencukupi, jauh di bawah mahasiswa yang gak layak lulus. Nah, debat deh tuh. Kalau yang layak lulus, otomatis yang gak layak harus lulus juga secara nilainya lebih gede.

Diskusi juga bisa berubah jadi debat ketika jumlah anak yang gak dilulusin ada banyak, dan dosen yang pegang mata kuliah itu harus memberikan alasannya di depan dosen-dosen lain mengenai keputusannya untuk meluluskan dan tidak meluluskan mahasiswa. Serem deh. Kenapa serem? Ya, logika aja ya, kalo anak S1 aja debatnya udah seru dan cerdas, bayangin ruangan yang isinya dosen minimal S2 debat sama dosen lainnya, entah itu udah jadi doktor atau malah profesor.

 

Suka Bercanda

Para dosen juga gak segan untuk bercanda saat rapat
Para dosen juga gak segan untuk bercanda saat rapat via accounting.feb.ui

Di atas kedengerannya serem-serem, tapi asal tau aja, dosen-dosen juga suka bercanda, loh. Bisa aja mereka ngetawain jawaban mahasiswa di tugas akhirnya, karena konyol atau karena emang salah total. Bisa aja mereka cerita tentang kelakuan-kelakuan mahasiswa di kelas. Mahasiswa yang dibahas tentu kalau bukan yang pinter-pinter, ya yang paling gak beres secara akademik dan tingkah lakunya. Diskusi dan debat bisa berubah jadi bercanda kalau emang kelakuan mahasiswa di kelas itu memang lucu dan patut diapresiasi dalam bentuk teratawaan. Sama aja lah kaya kalian mahasiswa yang pernah ngomongin kelakuan dosen yang lucu atau yang stress di kantin, dosen juga bisa membicarakan ‘kelucuan’ mahasiswanya di ruang jurusan.

 

Baca Edom

Baca Edom via kkik.fsrd.itb
Baca Edom via kkik.fsrd.itb

Ini yang paling kocak. Bayangkan edom yang kalian tulis, di-print dan dibaca sama dosen-dosen. Kalian bisa aja menumpahruahkan segala unek-unek di edom berasa itu liang curhat yang appropriate, bisa aja kalian memberikan kritik dengan tata bahasa yang baik dan cerdas. Tapi kalau kalian curhat seperti contoh pertama, bukan gak mungkin dosen bakal tau siapa oknum yang menulis demikian dan bukan gak mungkin juga dosen bakal menertawakan keluhan tak berdasar dan manja dari mahasiswa yang gak tahan sama materi standar UI. Kasian.

Nah, kira-kira begitu yang dapat dirumuskan oleh BMKG. Tentu gak semua hal ‘perlu’ disebutkan lah ya. Some things are better left unsaid, and stay secret. Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line!

Kamu dan Teman Bisa Dianalogikan dari Judul Lagu, Mana yang Kamu Banget?

Beberapa waktu lalu, salah seorang anggota BMKG menyaksikan kekonyolan salah satu rekannya di kampus yang sedang ‘semi stand-up comedy’ di hadapan beberapa teman lainnya.

“Gue itu orangnya musik banget, kalo bahasa kerennya gue punya musikalitas tinggi. Buktinya, gue itu selalu punya tendensi menyampaikan perasaan lewat lagu. Contoh, dulu, setelah putus sama mantan, gue nyanyiin lagu buat dia. ‘Mantan, ini lagu mewakili perasaan gue ke lu’. Gue angkat pianika, terus gue mainin Mengheningkan Cipta, untuk menghormati arwah mereka yang telah mendahului kita, kalo kata Ibu Kepala Sekolah. Because she’s dead to me.”

*ngakak

“Gue juga ada tendensi untuk mengasosiasikan seseorang dengan judul lagu. Misal, Widya (dia nunjuk temennya). Bulan lalu putus sama mantan, kemarin bilangnya udah move on. Kalo kata Joeniar Arief, Rapuh.”

*Widya bete, yang lain ngakak. Terus Widya cabut, karena beneran masih rapuh.

Nah, itu menginspirasi BMKG, bahwa bermodal pengetahuan musik yang baik dan pengamatan karakter yang sensitif, mahasiswa bisa dianalogikan atau diasosiasikan dengan judul lagu tertentu. Gak percaya? Coba perhatikan sekeliling sambil inget-inget lagu apa yang tepat untuk menggambarkan mereka.

BACA JUGA: Selain Tas, Jenis Pulpen yang Kamu Pakai Juga Bisa Mengidentifikasi Kepribadian Kamu

 

The Man Who Can’t Be Moved

The Man Who Can’t Be Moved lagu yang... cukup ambigu via say it yes
The Man Who Can’t Be Moved lagu yang… cukup ambigu via say it yes

Semua akan berasumsi kalau orang yang diasosiasikan dengan ini lagu, ya sesuai dengan judul lagunya, gak bisa move on. Gak salah sih, karena emang lagunya tentang orang yang gak bisa move on dari mantan dan bahkan cewek juga begitu. Masalahnya, ini lagu juga ambigu. Bisa aja ini adalah temen kamu yang… ehm, gimana ya, agak sedikit ‘berlebihan’. Dan kalau dia udah tiduran, literally can’t be moved.

 

Mr. Brightside

Mr. Brightside yang cuma bright di certain side via 20wattsmag
Mr. Brightside yang cuma bright di certain side via 20wattsmag

Ini bisa aja temen kamu, bisa juga kamu. Lagunya sih keren abis, nama band yang nyanyiin juga keren, tapi orang yang diasosiasiin gak sekeren itu. Ini adalah mereka yang sering naik motor tapi gak pake jaket lengan panjang, yang berenang gak pake sunblock, yang berjemur tapi fail. Yup, kali ini Mr. Brightside memang cuma bright di certain side.

 

Only Hope

UTS ditunda?Only hope
UTS ditunda? Only hope

Soundtrack film A walk to remember, filmnya sedih. Dan ini bisa diasosiasikan ke si dia, yang kehadirannya semembahagiakan pulang kuliah cepet, semenyenangkan kuliah diliburin, semelegakan UTS yang ditunda, semenenangkan deadline yang kembali diundur; dia itu only hope.

 

Something Stupid

Ketika suatu kebdohohan sudah mendarah daging
Ketika suatu kebdohohan sudah mendarah daging

Ini favorit. Lagu aslinya sih so sweet banget, romantis ala ala ketika musik romantis emang masih bagus, klise tapi menyentuh hati, gak alay. Sayangnya ini diasosiasikan dengan salah satu (atau banyak) temen kamu, atau malah kamu sendiri, karena punya intensitas yang tinggi ketika melakukan sesuatu yang bodohnya mendarah daging, menelusup ke tulang sampe jadi bagian dari DNA.

 

Somebody That I Used To Know

Bisa buat mantan, temen, dosen, atau teman waktu OBM viaelizabethvalentinasutton
Bisa buat mantan, temen, dosen, atau teman waktu OBM viaelizabethvalentinasutton

Ini yang paling epic sebenernya. Bisa diaplikasikan ke banyak orang karena emang bisa diaplikasikan ke banyak situasi. Gotye gak akan komentar banyak (mungkin sibuk mikirin mau bikin lagu apaan lagi) kalau kamu pake lagu one hit wonder ini untuk diasosiasikan ke mantan kamu, seperti halnya lagu itu.

Bisa juga diasosiasikan ke temen kamu yang udah mengkhianati pertemanan, bisa juga diasosiasikan ke dosen yang udah ngasih kamu nilai D semester lalu, atau bisa ke temen kamu waktu OBM  yang sekarang entah di mana, gak inget namanya, dari fakultas mana karena cuma inget muka. Atau, bisa juga kamu gunakan untuk mengasosiasikan sosok myth yang ada di kelas, yang cuma masuk kelas pada pertemuan kedua, lalu menghilang entah kemana, bahkan sampe selesai UAS juga gak pernah kuliah lagi.

Nah, kira-kira kamu itu lagu apa? Mr. Bluesky? Atau Anaconda? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter, dan Line!

Punya Temen yang Ambius? BMKG Mencoba Cari Tahu Alasan Mereka

Pasti sering denger istilah ambis. Iya, bener, ambis yang artinya ambisius. Entah temen kamu yang ambis atau malah kamu yang termasuk kategori mahasiswa ambis. BMKG dengan isengnya berusaha untuk mewawancarai beberapa mahasiswa yang disepakati bersama sebagai sesosok mahasiswa ambis untuk mengetahui apa alasan mereka ambis. Mereka menjawab dengan sekenanya aja, karena emang anak ambis lebih milih ngambis daripada wawancara sama orang iseng. Berikut adalah beberapa alasan utamanya.

Mengejar Nilai

Ya, apaan lagi emangnya? Mereka ngejar straight A via
Ya, apaan lagi emangnya? Mereka ngejar straight A via Photo Credit: DAEllis via Compfight cc

Ya, apaan lagi emangnya? Mereka ngejar straight A. yah, minimal A- deh. Eits, tapi bukan sekadar A- di siak, tapi literally A- untuk setiap tugas, entah itu paper atau presentasi. Sementara mahasiswa lain memilih pasrah, mereka memilih berusaha sebaik mungkin. Beberapa mahasiswa pasrah ada yang berasumsi bahwa si anak ambis ini ngejar nilai dan gak ada waktu seneng-seneng; gak sepenuhnya benar karena dengan ngerjain tugas dan dapet nilai bagus, itu suatu bentuk kesenangan juga. Kesenangan kan relatif, tergantung konsep masing-masing aja.

 

Gaya Hidup dari SMA

Gaya Hidup dari SMA, akhirnya kebawa sampai ke kuliah via BMKG
Gaya Hidup dari SMA, akhirnya kebawa sampai ke kuliah via BMKG

Pernah liat orang yang rajinnya keterlaluan? Yap, biasanya mereka emang rajin udah dari sononya. Kesalahan manufaktur, mungkin. Mereka gak bisa tenang kalau kerjaan belum beres, bahkan rajinnya itu sampai ke titik mereka kehabisan hal untuk dikerjain atau gak sadar kapan mereka nyelesaiin suatu tugas saking kesenengannya belajar. Mereka udah begini dari lama, mungkin dari SMA yang pada tahun-tahun terakhir emang lumayan rame sama yang namanya tugas, entah itu tugas bimbel, tugas akhir, tugas harian, tugas kelompok, dst deh. Pas masuk kuliah, terutama di UI, mereka seakan menemukan passionnya berwujud MPKT A dan B. 12 sks total, jaminan kerja keras terbayar lunas tuntas kalau udah dapet A.

 

Pressure

Pressure dari orang tua juga jadi alasannya via homeword
Pressure dari orang tua juga jadi alasannya via homeword

Masih ada loh, mahasiswa yang dituntut oleh orang tuanya untuk selalu sempurna. Pressure itu udah ada dari mereka kecil untuk selalu jadi yang terbaik dan rasanya emang gak baik kalo gak jadi yang terbaik. Mereka udah terbiasa, tapi pressure tetep ada karena ketika masuk UI, mereka saingan sama anak-anak yang gak ambis pun bisa dapet A karena emang pinter. Saingan lainnya adalah anak-anak males yang bisa mempengaruhi kinerja anak ambis, karena mari kita akui bersama kalau males itu macam cacar; nular, dan sekalinya kena bekasnya gak pernah bener-bener ilang. Pressure gabungan dari anak yang pinter tanpa usaha, anak males yang menularkan malesnya, dan ekspektasi orang tua, bikin beberapa anak bertekad jadi ambis.

 

Emang Suka

Ya... emang pengen aja via
Ya… emang pengen aja via Photo Credit: francisco_osorio via Compfight cc

Ya. Ada yang suka jadi ambis. Nilai bagus, kerjaan beres tanpa buru-buru dikejar deadline, waktu ga pernah terasa terbuang percuma. Wajarlah kalau seneng jadi anak ambis. Plus kalau udah dikenal jadi anak ambis, gak menutup kemungkinan bahwa ada dede-dede junior yang minta bimbingan sama kakak senior yang ambis itu. Famous deh.

BACA JUGA: Kamu Suka Malas Belajar? Hilangkan Kebiasaan Buruk Tersebut dengan Trik Ini

 

Bersakit Dahulu

Mereka aslinya bukan ambis, hanya orang yang males bergaul sama deadline via passedtense
Mereka aslinya bukan ambis, hanya orang yang males bergaul sama deadline via passedtense

Alasan ini umumnya diutarakan oleh orang yang ambis tapi ambisnya gak mendarah daging. Mereka ambis cuma untuk bisa secara elegan dan maksimal menikmati waktu luangnya karena kerjaan semua udah pada beres. Mereka aslinya bukan ambis, hanya orang yang males bergaul sama deadline jadi mereka kerjain tugas jauh-jauh hari, bersakit dahulu, dan bersenang-senang kemudian.

 

Kurang Pinter

Ambis adalah solusi buat mereka yang biasa aja untuk bisa jadi pinter via
Ambis adalah solusi buat mereka yang biasa aja untuk bisa jadi pinter via Photo Credit: Pink Sherbet Photography via Compfight cc

Menyambung tentang eksistensi beberapa mahasiswa yang pinter tanpa perlu belajar dengan tekun, rajin a.k.a ambis adalah satu-satunya cara buat mereka yang gak dianugerahi oleh kenikmatan pinter tanpa usaha untuk bisa bersaing. Ngaku aja, semua pasti punya temen yang pinternya itu karena rajin belajar, ada yang pinter meskipun males, ada yang pinter tapi jadi gak pinter karena males, ada yang udah gak pinter males pula. Ambis adalah solusi buat mereka yang biasa aja untuk bisa jadi pinter. Dan ambis sendiri membiasakan mereka untuk berusaha dengan giat, dan umumnya disenengin dosen karena mereka rajin.

Nah, kamu berasa ambis juga? Ada alasan lain kenapa kamu mengambiskan diri? Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line untuk berbagi alasan menjadi mahasiswa ambis.

Fenomena Traffic Light UI

 

Udah lihat lampu lalu lintas aka Traffic Light UI yang ada di depan halte Stasiun UI? Nah, kali ini BMKG mau membahas fasilitas ini dari sudut pandang mahasiswa, karena BMKG kurang gawean.

 

Asal muasal

Asal mausal
Asal muasal

Asal muasal, atau bahasa kerennya Traffic Light U: Origin (berasa judul film), diakibatkan peliknya situasi di lokasi tersebut pada momen-momen tertentu, seperti sekitaran pukul 8 pagi dan sekitaran pukul 4 sore dan 6 sore. Seberapa pelik? Peliknya itu bisa sampai dibilang rusuh, macam bola muntahan di kotak penalti dengan sepuluh orang berebut itu bola. Agak nyebelin emang, kalau dipikir.

Pukul 8 pagi, sekitaran seratus orang mahasiswa berusaha dateng gak telat-telat amat. Mereka itu ada yang naik mobil, ada yang jalan, dan ada yang naik kereta lalu ada yang naik bikun. Nah, berebut lah mereka. Ada yang nunggu bikun dan berbaris dengan riang di sepanjang jalan, ada yang berusaha menerobos pager betis penunggu bikun karena mau nyebrang, ada mobil yang kehalangan mereka yang mau nyebrang, atau ada bikun yang ngalang-ngalangin semua orang yang mau nyebrang.

BACA JUGA: Susahnya Naik Bikun, Gara-gara Mahasiswa Egois yang Berdiri Di Dekat Pintu

Awalnya dipekerjakan beberapa pegawai lalu lintas (bukan polantas, bukan juga satpam tampaknya), tapi gak efisien dan gak terlalu ngebantu juga. Malah ada beberapa satpam yang miskoordinasi dan gak ngerti kapan saatnya menyebrangkan dan kapan saatnya membiarkan mobil lewat. Dan para pegawai lalu lintas ini juga hanya hadir pagi hari dan sore hari, gak bisa terus-terusan hadir ‘melayani’ pengguna lalu lintas. Entah ide dari mana, muncullah lampu lalu lintas yang cuma merah dan hijau itu.

 

Penting?

Seberapa pentingnya untuk mahasiswa UI? via PetaDepok
Seberapa pentingnya untuk mahasiswa UI? via PetaDepok

Penting gak sih? Penting sih penting, tapi ga selalu terlihat penting ga’ sih? Oke ketika hectic macam pukul 8 pagi memang penting karena semuanya tentu harus mematuhi aturannya si lampu supaya gak berebut dan tetep lancar. Tapi ketika bukan masa hectic, itu lampu cuma jadi gurauan belaka.

BACA JUGA: Demonstrasi yang Egois

Kadang itu lampu merah buat para penyebrang padahal gak ada mobil, jadi pejalan kaki ya nyebrang aja. Kadang hijau buat mobil tapi mobil malah ngalah dan memberikan pejalan kaki jalan, atau pejalan kaki ada yang batu udah tau merah masih jalan terus mobil juga jadi ikut bingung. Penting memang untuk keteraturan, namun sedih ketika melihat banyak mereka yang berlalu lalang udah terbiasa nyebrang seenak jidat. Langkah yang baik dari UI menyediakan itu tapi kurang disambut baik oleh kelakuan dan kebiasaan mereka yang sering lewat.

 

Efisien?

Apakah dengan adanya traffic light jadi efisien? via moertiannisa
Apakah dengan adanya traffic light jadi efisien? via moertiannisa

Kalau bahas efisiensi, sebenernya ada yang aneh dan harus dipertanyakan. Kombinasi pegawai lalu lintas dan lampu lalu lintas itu bagus, efektif. Teratur karena selain ada lampu, ada pegawai lalu lintas juga yang bisa negur mereka yang nyebrang atau nyetir seenaknya. Namun jadi gak efisien karena itu lampu tetep nyala ampe malem, dan pegawai hanya ada di jam-jam tertentu.

BACA JUGA: Cara Melamar Pekerjaan ke Banyak Perusahaan dengan Efisien

Kalau berpikiran positif, kelak semua bakal nurut sama lampu lalu lintas dan pegawai pun akan tidak diperlukan lagi, akan lebih efisien kalau cuma ada satu fasilitas. Tapi terus pegawainya mau dikemanain?

 

Realita

Apakah fungsinya sudah digunakans ecara baik? via inspirazis
Apakah fungsinya sudah digunakans ecara baik? via inspirazis

BMKG merasa kenyataannya lampu lalu lintas dan pegawainya sangat membantu. Namun, yang jadi permasalahan adalah pembatas-pembatas jingga yang mempersulit pejalan kaki untuk lewat. Pembatas itu tujuannya agar tidak ada yang parkir, tapi malah jadi menghalangi. Akan menarik kalau petugas lalu lintas yang punya pos persis di depan halte itu terus berjaga supaya tidak ada yang parkir, jadi pembatas jingga itu bisa disingkirkan supaya gak menghalangi dan petugas lalu lintas bisa hadir dan bertugas kalau bukan nyebrangin, ya mencegah orang parkir di depan halte. Lebih efisien dan gak mengganggu. Tapi gini juga udah lumayan kece, setidaknya zebra cross-nya lurus dan gak belok-belok. Saran doang sih, BMKG mah tau apaan. Cuma kurang gawean doang.

Ayo share tulisan ini via Facebook, Twitter dan Line, siapa tau kenyamanan pengguna lalu lintas di UI bisa lebih ditingkatkan dan efisien, dan mungkin mahasiswa UI lain punya ide yang lebih baik dan bisa sekalian menyuarakan idenya!