Hey Ladies, Pernah nggak Mahamin Perasaan Kaum Adam seperti Kami?

Pada suatu percakapan syahdu dengan seseorang alumni mantan Wakabem FISIP  yang penulis lupa di mana terjadinya, entah kenapa di situ muncul sebuah pertanyaan yang cukup menarique, ‘’Fakultas apa sih yang paling tinggi rasa solidaritasnya di UI?’’. Tanpa basa-basi, doi langsung menjawab, ‘’TEKNIK!’’ (padahal doi anak FISIP (Fakultas Sip dah Pokoknya). Dengan jawaban yang sama, penulis menanyakan hal yang serupa kepada para mahasiswa dari yang semester awal, tengah, sampai yang nggak tau dah udah semester berapa saking banyaknya. Mungkin, jika ditanya kenapa? Ya jawabannya simpel karena Teknik adalah fakultas dengan sarang laki-laki terbanyak. Akan tetapi, nggak semuanya pria selalu berkutat dengan hal-hal yang berbau eksakta. Dia yang suka dengan kata-kata dan seni menjadikan FIB sebagai rumah keduanya atau dia yang paham banget mengenai kepribadian manusia menjadikan F.Psi sebagai taman surgawinya untuk menuntut ilmu dan begitu pun dengan pria-pria lainnya yang bertebaran di 14 fakultas di UI.

Lalu, persoalannya ialah para kaum adam itu harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa. Bukan bermaksud mempersoalkan gender, tetapi berbagai dilema-dilema kehidupan harus dijalani oleh para kaum adam (yang sebenarnya sih nggak seharusnya dirasain). Uniknya, meskipun tiap-tiap fakultas punya culture yang berbeda-beda, dilema-dilema yang mereka rasakan hampir sama! Sebagai pria yang hidup di zaman gorengan udah dua ribu cuman dapet satu kalau jajan di kantin MUI, nggak bisa dipungkiri lagi, penulis merasa semakin ke sini kayaknya emang cuman Fakultas Teknik aja yang cowonya paling banyak. Itu artinya, makin sedikit fakultas yang dihuni oleh mereka ‘Si calon kepala rumah tangga’. Lalu, emangnya dilema-dilema apa aja sih yang katanya hampir semua dirasain oleh mereka yang harus ngampus di tengah banyaknya ladies?

 

Bakal Duduk di Mana Nih Gua?

“Bakal duduk dimana nih gua?”

Buat yang ngampus di fakultas dengan mayoritas pria, mungkin hal ini ga kepikiran di kepala atau lebih singkatnya, ini masalah sangat sepele. Masalah tar lo duduk di mana, sepele banget nggak sih? Well, inilah yang mereka rasain. Saat si cowok masuk ke dalam kelas yang dipenuhi wewangian parfum dari A-Z, mendadak penyakit KUPER pun menyerang (apalagi hari pertama). Kalau datang telat, nggak ada pilihan lain buat duduk di area terdepan deket komuk si dosen. Seketika rasa paranoid menyelubungi kepala, rasa paranoid yang berisi ketakutan bakal ditanya-tanya dengan pertanyaan yang mencekam, ‘’Eh kamu yang cowo sendirian di depan, sudah sampai mana pelajaran kita minggu lalu?

Duaarr…

Makanya, mereka akan sekuat tenaga biar datang nggak telat-telat amat. Cuman buat satu tujuan, apalagi kalau bukan ke kantin terlebih dahulu buat nyari temen biar bisa masuk berjamaaah untuk nyari spot buat  tidur belajar di kelas yang paling belakang dekat AC. Dengan begini, mereka akan sama-sama saling bergantung satu sama lain.

Tapi, tetap aja…

‘’Eh itu cowok-cowok yang di belakang! Sudah sampai mana pelajaran kita minngu lalu?’’

Seenggaknya, mereka akan lebih kalem sebab bakal nengok satu sama lain dengan komuk pucet kayak nahan B.A.B.

‘’Eh bro, udah ampe mana bro?’’

‘’Lah, Minggu lalu gue kan nggak kelas bro.’’

Duaaarr….

Mungkin karena memang kalah jumlah, entah kenapa  di mata dosen, mereka kayak diamond yang pualing bersinar di antara diamond-diamond lain (padahal diamond-diamond lain lebih syahdu buat ngejawab). Hanya si dosen dan Tuhanlah yang tahu kenapa kaum minoritas adam selalu jadi sasaran empuk buat dilempari pertanyaan-pertanyaan. Penulis sih cuman bisa berkata, ‘’Yah, saya juga prihatin’’.

 

BACA JUGA: Kamu Cowok Teknik? Berbahagialah karena Kamu Istimewa Di Mata Kami

 

Dilema Focus Group

Hayo gimana (via pt.linkedin)

Temenan bagi anak cowok merupakan salah satu hal yang paling simpel. Tinggal say Hei!, nongkrong di kantin, ngobrolin hal-hal dari hasil pengamatan yang nggak penting sampe ngomongin dosen, salah satu ada yang nraktir Ind*eskrim, Jebret! Langsung deh, channel pertemanan kamu bertambah. Kalau mau  naik level ke tingkat sohib? Gampang! Nginep di kostannya dan mulailah transaksi hutang-piutang. Yep, bener sesimpel itu! Tapi, gimana kalau kasusnya harus ngebaur di kelas yang tingkat minimum frekuensi cowonya ekstrem, contoh di FIK atau di FIB (antara 2—4 cowo dari kisaran 35 mahasiswa perkelas!) Pasti! Pada saat itu juga langsung deh nyebur ke lagunya Raisa—”Serba Salah”.

Saat mereka sudah mulai masuk ke dalam dunia perkuliahan yang diisi dengan laporan bacaan, beserta presentasi yang dipadu dengan focus group dan colaborative learning, tanpa disadari bumbu-bumbu cipika-cipiki selama diskusi pun lahir. Biasanya, kalau disuruh bikin kelompok, mereka si kaum mayoritas akan berkoloni dengan sejenisnya. Kebalikannya, mereka si kaum minoritas cuman bisa pasrah ditempatkan di mana saja. Apalagi, kebanyakan selera si dosen yang harus banget minimal ada satu cowok dalam setiap kelompok. Jadinya, yang tadinya udah klop banget sekolompok cowok semua, mau nggak mau disebar kayak bar-bar. Well, seperti yang sudah dibilangin barusan, diskusi aja rasanya kurang syahdu kalau nggak dilengkapin cipika cipiki. Biasanya, waktu yang diberikan diskusi tuh lama banget dan kayaknya lebih banyak waktu buat cipika-cipiki daripada ngebahas tema diskusi. Kalau udah gini, si cewek akan ngomong dengan teman-teman sampingnya. Ngomongin hal-hal dari yang penting sampai yang penting banget.

‘’Eh lihat berita di Line Today pagi ini nggak?’’

‘’Wah, apatuh?’’

‘’Itu lho, si Syahnaz adeknya  Raffi Ahmad!’’

‘’Oh iya? Kenapa kenapa, dia hamil?’’

‘’Hush, bukan itu!’’

‘’Doi sekarang udah bisa masak TELOR MATA SAPI!’’

Hingga pada detik ini, si cowok cuman bisa tersenyum maksa sambil bertopang dagu untuk ngerespon (itupun juga kalau diajak) atau kegiatan lainnya ngebuka HP buat chatting sama Sim-Simi menunggu hingga tibanya suara, ‘’Baik, kita lanjutkan kuliah Minggu Depan’’

‘’Minggu depan kan tanggal merah Pak’’.

‘’Oke, kalau begitu kelas pengganti.’’

Dan, seketika hening.

 

Suka Terseret Arus Ombak Drama

Bener nggak sih cewek-cewek suka drama? (via arynews.tv)

Well, dari judulnya aja kamu udah bisa nebak bakal ngebahas apa bagian yang satu ini. Bukan bermaksud langsung memvonis ataupun bersubjektif, melainkan me-review atas realita yang ada. Ngampus bukan sekadar menuntut nilai akademis aja, ada hal penting lain apalagi kalau bukan sosialisasi. Nyaur di kantin, ikut kepanitian, gabung BEM, semua hal ini yang serunya nggak bakal keulang dua kali. Akan tetapi, bersosialisasi bagi kaum minoritas adam di tengah banyaknya perempuan sepertinya nggak semudah ngebalikin Krabby Patty.  Banyaknya hal-hal seputar drama mulai dari asmara sampai ngomongin sesama ngebuat para kaum adam agak minder dan kurang nyaman. Kalau ngomongin soal asmara, apabila nggak ekstra hati-hati, bisa-bisa si cowok dijadiin kambing hitam pemutus hubungan orang. Lalu, kalau udah terjerumus dalam ngegossip ala si kaum hawa, bisa-bisa nanti kamu keseruan dan bikin kamu nggak kaya pria pada umumnya lagi So, kalau kamu ngelihat temen cowomu yang temen-temnnya di fakultas bisa diitung pake jari, jangan kaget. Mungkin ini udah jadi jalan ninjanya.

 

Tantangan Seberat-Beratnya Adalah Tantangan Menjadi Ketua

Ketua dan Wakil Ketua BEM UI 2017 (via bem.ui.ac.id)

Akan menjadi pertanyan buat kamu kalau salah satu fakultas di UI meskipun udah banyak banget ceweknya, tetapi kalau udah urusan memilih pemimpin, masih aja rata-rata cowok yang megang, Bukan bermaksud mau ngomongin tentang emansipasi, tetapi usut punya usut kenapa hal ini terjadi, ternyata fakta lapangan menyebutkan bahwa cowoklah yang paling sanggup bersifat netral dan nggak berpihak pada kader kepentingan partai manapun (waduh, jadi serius gini).

Yap, sebenarya bagian ini punya kaitanya banget dengan bagian sebelumnya tentang kaum hawa yang selalu identik dengan hal-hal berbau drama. Menjadi penengah atas suatu kasus masalah dan menjadi penenang saat konflik bergejolak merupakan salah satu tugas berat ngelebihin tugas bapak-bapak dewan terhornat yang ada di Senayan.

Katakanlah Si Baharuddin, ketua Himpunan Mahasiwa sastra Italia yang punya mimpi buat jadi aktor B*skuat. Doi sadar kalau keheterogenan di prodinya ngebuat dia harus pandai bersikap netral dan sesuai dengan lawan-lawan bicaranya. Sekarang, dia lagi mimpin rapat untuk nentuin kostum apa yang harus dipakai oleh MABA prodi Italia 2017 pas ospek jurusan yang satu semester lamanya. Kubu A yang diisi oleh para perempuan-perempuan gahoel, kubu B yang diisi oleh para perempuan yang hobinya baca jurnal ilmiah, dan kubu C lelaki sisaan yang isinya paling cuman empat orang. Kubu A pengen kostum dengan motif polkadot ala Gal Gadot, Kubu B pengen kostum yang ada tulisan ‘’Jauhi Rokok’’, dan terakhir kubu C yang ga ada ide apa-apa dan pada akhirnya nurut aja apa kata hasil.

Akhirnya setelah perdebatan yang panjang hingga ada yang left group Line sampe-sampe dibujuk buat masuk lagi, Baharuddin yang udah kucing tujuh keliling berusaha sabar menahan emosi menetapkan hasil dengan melakukan sintesa atas ide dari kedua kubu itu. Alhasil, untuk kostum maba sastra Italia 2017 yang bakalan dipake satu semester penuh adalah kostum dengan tulisan ‘’Jauhi Rokok’’ bermotif polkadot hitam putih ala Gal Gadot. Seketika ucapan terima kasih ngalir deras bukan melalui grup Line, melainkan lewat personal contact, ‘’Makasih Udin panutanqu’’.

Dan,dalam hati Baharuddin cuman bisa bilang, ‘’Huft…’’ .

 

 

Saat Serius Malah Jadi Bahan Candaan

Aku tuh mau serius, tapi kenapa… (via themodernape)

Well, fakta untuk bagian yang terakhir ini, penulis dapatkan nggak sengaja dari suara-suara curhatan empat mahasiswa sastra Jerman yang tidak diketahui namanya saat penulis lagi berduaan sama Lepy di payung FIB. Sebagai mahasiswa yang notabene udah ngerasain bahwa ilmu harus dicari sendiri dan nggak lagi disuapin, pertanyaan-pertanyaan saat proses belajar bersama dosen berlangsung di kelas udah jadi salah satu sarana saling bertukar ilmu. Pertanyaan-pertanyaan yang serius apabila dijawab dengan jawaban yang bagus seketika sanggup buat bikin moodbooster si dosen. Malang, kayanya hal itu nggak berlaku bagi empat sejoli mahasiswa sastra Jerman itu. Yah, gimana nggak, entah kenapa setiap mereka ngelontarin pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya serius eh malah jadi bahan candaan untuk ngidupin susana yang tadi krik… krik… Mungkin berbeda jika pertanyaannya sama tapi yang nanya perempuan. Oleh karena, kalau udah kaya begini, mereka akan jadi minder buat nanya langsung ke dosen padahal mereka pengen banget nanya karena memang nggak tahu dan rada ketinggalan sama temen-temen perempuan lain yang udah pada pinter banget. Alhasil, kaum adam seperti ini akan hanya jadi tim hore di kelas dan merubah ekspektasi yang tadinya, ‘’Yaelah minimal A nih gua matkul ini’’ jadi, ‘’Ah bodo amat dah, yang penting lulus’’.

 

BACA JUGA: Ini Dia 3 Dilema Cowok yang Berkuliah di Psikologi UI

 

Sampai pada akhirnya tulisan ini di-publish, sebenarnya masih banyak curhatan-curhatan lain yang sekali lagi penulis ingetin bukan bersifat prediktif bin fiktif namun ini dari curcolan saat ngobrol-ngobrol di kampus. Sebagian cowok mungkin bakalan seneng karena ngerasa uneg-unegnya udah dikeluarin lewat tulisan ini dan sebagian lagi mungkin bakal ngerasa B-aja. Apapun itu, actually, dari sisi kacamata positif, bagi kaum adam yang harus ngampus di tengah mayoritas kaum hawa bisa menjadikan ini semua sebagai sarana softskills dalam bersosialisasi sebelum masuk ke dalam dunia kerja nanti. Semakin heterogen kampusnya, semakin gokil buat jadi  mahasiswa yang asyik buat nongkrong di mana aja. Terlebih, buat kamu wahai para calon kepala rumah tangga yang masih merasa kuper, mulailah mencoba melebur ke dalam lingkungan fakultasmu itu. Banyak hal-hal unik yang bisa kamu dapatin dan ngebuat duniamu semakin berwarna because some people are meant to be with other people and you are no exception 😉

Ini Dia 3 Dilema Cowok yang Berkuliah di Psikologi UI

Setiap tahunnya, ada berjubel-jubel anak yang baru lulus SMA pengen masuk ke Psikologi UI. Wajar aja, karena memang fakultas ini adalah Fakultas Psikologi terbaik yang ada di UI (yekali). Selain itu, menurut data yang gua dapetin, misalnya, bisa diambil kesimpulan bahwa Psikologi UI pun juga sanggup menyaingi Margo City sebagai salah satu destinasi belanja mahasiswa sekitar psiko (soalnya ada Alfamart). Intinya, Psikologi UI emang jadi salah satu tujuan favorit para calon maba untuk mengarungi petualangan berkuliah mereka.

Akan tetapi, mayoritas maba-maba lucu yang nantinya bakal jadi anak psiko itu biasanya cewek. Sebenernya sih nggak apa-apa, karena ya emang terserah mereka mau masuk mana. Buat cowok-cowok yang juga keterima di psiko, masalahnya, ini jadi sebuah tantangan. Kenapa? Karena nantinya mereka bakal terjebak di antara kerumunan cewek-cewek tersebut (kayak gua). Anyway, karena karakter cewek sama cowok itu pada dasarnya emang beda banget, inilah dia tiga dilema yang bakal dihadepin sama cowok-cowok ketika udah jadi mahasiswa Psikologi UI.

 

1. Susah berempati

Cewek itu sulit diempati sama cowok (via lawtimes)

Cewek emang secara umum dikenal sebagai makhluk yang lembut perasaannya. Makanya, mereka jadinya selalu pengen mendapatkan empati dari orang-orang di sekitarnya. Dibandingin sama cowok, jelas cewek punya standar sendiri untuk bisa diempati. Nah, buat lo-lo semua yang nggak tau betapa susahnya buat berempati sama cewek, ingatlah selalu bahwa cewek biasanya nggak bakal mau diduai.

Apalagi ditigai, atau bahkan diempati bos.

 

2. Kita pemuda, mereka pemudi

Jangan coba main-main sama pemudi (via vitalll68)

Perbedaan ini cukup jadi masalah yang mendasar karena berinteraksi dengan pemudi nggak bakal pernah mudah. Lo, wahai para cowok-cowok, pasti selalu kesulitan untuk memahami pikiran cewek-cewek yang mood-nya nggak ketebak kan? Nah itu dia bos, kuliah di Psikologi UI berarti ketemu dengan banyak banget cewek. Artinya ketemu dengan banyak banget pemudi yang susah banget dimengerti.

Ya, karena mereka pe-moody.

 

3. Adek-adekan

Dek…an (via news.okezone)

Buat cowok-cowok jomblo yang berada di tepian jurang keputusasaan, anggaplah maba-maba lucu yang masuk sini itu bisa dijadiin adek-adekan. Di sini cukup banyak cewek yang bisa dipanggil “dek” lho. Kadang-kadang malah nggak mengenal batas usia juga. Contohnya, ada seorang perempuan dewasa yang tetep bisa dipanggil “dek” di Psikologi UI terus udah gitu juga tetep nengok dan nyapa! Coba aja ke sini kalo nggak percaya.

Nanti gua tunjukkin yang mana orangnya dan lo tinggal panggil aja, “dek.. dek..” terus ternyata yang nengok Dekan.

 

BACA JUGA: Beberapa Fakta yang Harus Kamu Tahu Sebelum Masuk Jadi Mahasiswa Fakultas Psikologi UI

 

Begitulah sekelumit dilema yang gua rasakan selama menjadi mahasiswa Psikologi UI. Buat lo yang penasaran tentang kebenaran kisah-kisah di atas, jangan malu-malu untuk berkunjung ke sini dan coba sendiri. Paling lo diamanin satpam pas nyoba poin nomor 3. Terus dinasehatin, “Makanya, jadi anak tau diri dong kamu.” Iyalah, bu, saya tau diri ya masa taunya duduk doang.

Kamu Cowok Teknik? Berbahagialah karena Kamu Istimewa Di Mata Kami

Di fakultas apa lagi kamu akan menemukan mahasiswanya berpanas-panasan duduk di pinggir jalan demi menghitung kendaraan bermotor yang lewat setiap jam-nya? Yup, cuma di Fakultas Teknik jawabannya. Banyak beredar mitos seputar mahasiswa/i yang berkuliah di Fakultas Teknik, khususnya teknik UI. Memang apa sih spesialnya anak Teknik? Simak hasil penelusuran kami seputar COWOK teknik yang dijamin akan bikin kamu langsung pegang hape dan buru-buru ngontak temen kamu yang kuliah di Fakultas Teknik buat minta dijodohin sama mereka.

 

1. Cowok Fakultas Teknik Itu GANTENG.

Silahkan tentukan sendiri ini mitos atau fakta, yang jelas, pada zaman dahulu kala, para mahasiswa Teknik UI belum ada yang tersentuh oleh belaian lembut kaum hawa. Para mahasiswa seakan-akan tidak peduli dengan dirinya. Tidak perlu tampak rapi, apalagi wangi dan sisiran. “Siapa yang mau peduli?” – kira-kira begitu ujar mereka dalam pikiran.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman, begitu kejadian satu wanita masuk ruang teknik, seluruh mata pria pun terpana. Dia tidak hanya akan menjadi bunga, namun ia akan langsung diangkat menjadi ‘Ratu’. Kehadirannya dianggap bisa mengubah jalan hidup banyak kaum Adam di ruang praktikum Fakultas Teknik!

Jadi ya, sekarang kalau kamu penasaran dan ngintip-ngintip ke ruangan anak teknik, kamu akan temukan pria-pria ganteng tapi agak kucel tapi pinter-pinter gimana gitu.. melting deh!

 

2. Jarang Dibelai

Dalam artian yang sebenarnya. Loh kok gitu? Kenapa? Ya karena masih banyak stigma yang beredar bahwa Fakultas Teknik itu ya fakultasnya cowok. Banyak kerjaan fisik namun tak sedikit juga yang memeras otak. Bahkan, jika ada teman/adik/anak/tetangga perempuan memilih Fakultas Teknik maka gak sedikit asumsi masyarakat yang beranggapan seperti: “Ha? Teknik? Yakin? Kamu kan perempuan?” atau “aduh, cari fakultas lain aja bisa?” – Padahal, dengan era emansipasi seperti ini sah-sah saja jika ada seorang perempuan, biduan atau siapapun memilih fakultas apapun yang dia mau. Ya, kalau bisa sih Teknik. Sepi soalnya, gak ada teman buat ngobrol-ngobrol lucu gitu.

 

3. Sang Pencari Jodoh

Meski setiap hari ditemani oleh teman yang itu lagi – itu lagi, ternyata cowok-cowok Fakultas Teknik UI itu punya hobi yang sama. Yakni, mencari jodoh. Iya, nyari doang, dapat gak dapat ya urusan belakangan. Cari aja dulu. Kalau nyantol ya syukur, kalau gak ya paling cuma jadi bahan obrolan aja. Kayak gini : “Bro, ke kantin Psiko yuk bro, ngecengin cewek-cewek sana.” atau “Eh, udah liat Shinta? Anak FISIP yang lagi rame itu bro, cakep yah? Ah, barusan lewat depan gue tuh dia. Tapi gue gak berani sapa, abis cakep banget.” – Namanya aja yang Fakultas Teknik, tapi gak pernah diajarin Teknik Berjodoh. Jadinya ya, gitu. Sana deh balik nongkrong di kantek aja.

 

4. Banyak Dicari

Meski hobinya mencari jodoh, ternyata cowok-cowok fakultas teknik UI ini sudah banyak dijadikan incaran oleh fakultas lain atau bahkan kampus lain. Tapi entah kenapa, mereka sulit sekali dipertemukan. Mungkin belum jodoh. Terus kapan berjodohnya? Kapan ya? Cari waktu buat tidur aja mereka susah, apalagi ketemu jodoh. Eh, bener gak sih?

 

5. Berpotensi Makmur

Jadi, selain sebenernya mereka ini ganteng-ganteng kucel pinter gimana gitu, cowok-cowok Fakultas Teknik UI juga berpotensi loh untuk hidup makmur. Wah kok bisa begitu?

Jadi begini, begitu mereka lulus kuliah, gaji pertama kerja di pertambangan (misalnya) sudah bisa langsung disetel menjadi 8 digit, yaa kira-kira 10 jutaan gitulah per bulan. Tidak cuma itu, jika mereka sudah punya pengalaman, gaji 8 digit yang dihitung per bulan itu, bisa berubah drastis menjadi per jam. Iya, kamu gak salah baca, 8 digit PER JAM.

Misalnya seorang Welding Subsea Engineer dikontrak untuk ngelas pipa bawah laut, begitu selesai bayarannya langsung 40 juta rupiah per jam. Sekali lagi, PER JAM. Nah, dalam jangka waktu kontrak 48 jam dia bisa menghasilkan 1,92 Milyar rupiah. Jadi, gak usah heran kalau kamu cukup beruntung mendapatkan seorang suami Engineer, lalu tiba-tiba dia bisa belikan kamu rumah di komplek estate kelas atas hampir setiap hari, atau ngajakin sekeluarganya umroh tiap bulan. INI DIJAMIN HALAL, gak usah pake korupsi!

 

6. Ramah

Meski badannya besar, mukanya terlihat sangar dan punya kemungkinan jarang mandi. Begitu cowok teknik sudah ngobrol atau kerja bareng cewek sampai larut malam, mereka rela loch nganterin kamu sampai ke ujung dunia sekali pun. Kalau kamu sudah berhasil dapatkan gandengan perasaan sama anak Fakultas Teknik UI dan sering pulang malam lewat bunderan UI, kamu gak perlu takut bakal diserang begal lagi. Karena memang cowok-cowok Fakultas Teknik UI adalah pria-pria pilihan. Salah satu pelindung dan penjaga yang terbaik untuk kaum hawa.

7. Berprinsip

Karena setiap hari ditempa dengan pelajaran dan praktikum yang menguatkan fisik dan batinnya. Cowok-cowok Fakultas Teknik UI biasanya hidup dengan prinsip yang tidak main-main, yaitu semuanya harus KONGKRIT… KRIT!! Setiap hal-hal detil harus jelas perencanaan dan penerapannya. Ketegasan yang seperti ini yang seringkali bikin cewek-cewek gampang melting. Prinsip ini membuat mereka juga rela hidup susah kelak, yang penting istri dan anaknya bisa bahagia lahir dan batin.

 

8. Pecinta Deadline

Karena cowok-cowok Fakultas Teknik UI ini punya prinsip yang tegas, mereka pun juga tegas terkait deadline. Dalam artian, jika sudah hampir “dead”, buru-buru deh bikin antrian (“line”) kerjaan atau tugas-tugas. Jika deadline tugas adalah 7 hari, maka mereka akan mengerjakannya paling cepat pada H-1. Paling lama? paling satu jam sebelum tugas dikumpulkan baru dikerjakan. Meski demikian, tugas yang diberikan pun hasilnya …. ya diharapkan gak jelek-jelek amat lah.

 

Nah, apakah kamu sepakat bahwa mereka yang mahasiswa dan lulusan Fakultas Teknik UI memang layak dijadikan pasangan? Jika kamu setuju dengan rangkuman kami, jangan lupa untuk di share di Twitter, Facebook atau LINE kamu ya! Siapa tau di timeline kamu lagi ada anak teknik yang ngepoin postingan kamu. Biar jleb-jleb gimana gitu, siapa tau jodoh. :p