Jaga Indonesia, Hidup Rakyat Indonesia: Aksi Tolak Hak Angket KPK

Akhir-akhir ini, sosial media kembali diwarnai oleh pemberitaan aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa. Tertanggal 7 Juli 2017, mahasiswa UI kembali menggelar aksinya dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Berbeda dari biasanya, aksi yang bertemakan “Tolak Intervensi, Berantas Korupsi” ini digalakkan bersama dengan para mahasiswa ITB, ILUNI UI, para akademisi mulai dari mahasiswa tingkat S1, S2, S3, hingga guru besar sekalipun, beserta para seniman dan juga Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara yang semuanya menyatakan keberpihakannya terhadap KPK.

Aksi ini digalakkan terkait dengan disahkannya usulan hak angket DPR kepada KPK oleh Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR yang sebelumnya juga menuai kericuhan pada rapat paripurna DPR. Pasalnya, keputusan rapat paripurna yang terjadi pada 28 April 2017 tersebut dirasa merupakan keputusan sepihak Fahri Hamzah karena mayoritas anggota DPR yang hadir tidak menyetujui usulan tersebut dengan alasan letak keberpihakan aspirasi yang tidak tepat (dilansir dari www.kumparan.com). Di sisi lain, BEM UI sendiri terdorong untuk menggalakkan aksi ini karena menilai bahwa hak angket tersebut merupakan upaya pelemahan KPK (dengan dibentuknya Panitia Khusus Hak Angket) serta dengan diangkatnya Agun Gunanjar sebagai ketua Pansus beserta beberapa orang lainnya yang sesungguhnya merupakan orang-orang yang terduga terlibat dalam kasus korupsi e-KTP.

 

#ShameOnYouDPR (via detikNews)

 

BACA JUGA: Mengenai Aksi 121 BEM SI, Ini Tanggapan BEM Se-UI!

 

Dalam aksi yang digelar di depan gedung DPR ini, para mahasiswa dan segenap massa menuntut DPR untuk segera membubarkan panitia khusus hak angket DPR serta menarik pengajuan hak angket terhadap KPK tersebut. Massa terus menyuarakan aspirasinya dan menunggu pemenuhan janji oleh sang wakil ketua DPR, Fahri Hamzah untuk ditemui dan membuka dialog. Namun, sayangnya massa tidak dapat menemui beliau dengan alasan sedang berhalangan hadir karena agenda lain. Akhirnya, seperti yang sudah terviralkan di sosial media, para mahasiswa diundang masuk untuk melakukan audiensi dengan Panitia Khusus Hak Angket. Di dalam audiensi tersebut mahasiswa terus mendesak para Panitia Khusus yang dipandang sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melakukan klarifikasi dan dialog terbuka di depan massa yang terus menunggu di depan gedung DPR. Akan tetapi, para anggota DPR terus berkelit dan bersikukuh untuk mengadakan dialog di dalam forum tertutup tersebut.

 

Hidup Rakyat Indonesia (via infoteratas.com)

Awalnya, dialog berjalan dengan sangat baik, akan tetapi kericuhan mulai terpicu ketika salah satu anggota Pansus dari fraksi PDIP mengatakan, “Koruptor itu juga manusia, sudah maafkan koruptor. Jangan kejam-kejamlah”. Hal tersebut langsung membuat para mahasiswa terpicu. Di sisi lain, para Pansus merasa kurang dihargai karena para mahasiswa memilih untuk tidak menandatangi absen yang diedarkan. Hal itu pun membuat para anggota Pansus beralasan untuk tidak menemui massa karena merasa perwakilannya sendiri dinilai kurang tertib. Akan tetapi, bersumber dari salah satu mahasiswa UI, pihak mahasiswa sendiri mempertimbangkan untuk tidak menandatangani absen tersebut untuk mewaspadai supaya tidak menjadi celah tersendiri bagi para mahasiswa UI dan ITB. Dikhawatirkan penandatangan tersebut bisa dipelintir menjadi sebuah persetujuan oleh mahasiswa UI dan ITB terhadap hak angket dan lain sebagainya. Dialog ini pun berakhir tanpa titik temu dengan pengetukan palu secara sepihak oleh ketua Pansus.

Selengkapnya dapat dilihat di video berikut:

Video kericuhan audiensi tersebut memang semakin viral hari-hari ini. Hal itu membuat masyarakat memberikan komentar-komentar tersendiri. Ada yang mendukung aksi mahasiswa tersebut tapi banyak pula yang menyayangkan sempat terjadinya kericuhan. Bagaimanapun, mahasiswa akan tetap berjuang menyuarakan aspirasi rakyat yang sesungguhnya. Hak angket akan terus terdampingi dengan sedemikian rupa. Aksi Tolak Angket tertanggal 7 Juli 2017 itu pun belum menyentuh babak final dan akan ada tindak lanjut lagi dari mahasiswa UI.

Satu hal yang pasti adalah mahasiswa tidak akan membiarkan rakyat Indonesia tertindas dan memperjuangkan haknya sendirian. Mahasiswa tidak akan membiarkan bangsa ini membunuh dirinya sendiri dengan korupsi yang merajalela. Agent of change tidak hanya menjadi sebuah istilah bagi mahasiswa UI, melainkan sebuah gaya hidup dan tujuan penuh arti. Kini, apabila kamu merasa perlu menjaga negeri, marilah berdiri dan berantas korupsi.

HIDUP  RAKYAT  INDONESIA!

 

BACA JUGA: Seperti Apa Mahasiswa UI Hari Ini di Mata Masyarakat?

Seperti Apa Mahasiswa UI Hari Ini di Mata Masyarakat?

Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut, atau akademi. Mereka yang terdaftar sebagai murid di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa. Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Menjadi mahasiswa, dapat memberikan pemaknaan yang berbeda di mata orang lain. Menjadi mahasiswa, dapat bermakna menjadi makhluk yang dikenal dan diperhitungan di setiap keberadaannya. Tapi, sejauh mana sih masyarakat mengenal kita sebagai mahasiswa?

When you start university and become introduced to student life, you realise that there is so much you can get away with. Kebebasan dalam menentukan pilihan hidup dan memilih untuk mengonsumsi makanan apa pun yang kita sukai, berada di mana pun dan bebas melakukan apa pun adalah imaji-imaji yang biasa dihadapi oleh kita saat memulai masa awal perkuliahan.

However when you enter student life, you also enter adult life. And that is the scarier part. Ada batasan akan hal-hal yang kita kerjakan, namun juga harus berurusan dengan citra yang dibebankan masyarakat akan seperti apa seharusnya mahasiswa terlihat.

Mengingat lemari di kosan yang dipenuhi oleh mie goreng karena kita gak pernah belajar masak yang bener, sebagian dari kita bahkan selalu nyisain duit buat beli minuman, atau bahkan ada aja mahasiswa yang lemarinya kosong alias gak ada isinya karena bajunya cuma 2 dan makan pun ngutang sana-sini. Bukanlah hal yang mudah ketika menjadi mahasiswa masih harus berurusan dengan yang namanya keharusan universal yang berlaku di mata masyarakat.

Emang kayak apa sih “mahasiswa hari ini” di mata masyarakat?

Katanya, Mahasiswa Sekarang Malas

Hanya karena lagi main, kita lantas dibilang males via illustratie
Hanya karena lagi main, kita lantas dibilang males via illustratie

Hanya karena sering ngeliat mahasiswa nongkrong di mall, pulang tiap weekend, atau bahkan seharian hanya di kosan aja gak kemana-kemana, sering denger gak sih, ada aja tetangga yang komentar “Masnya gak kuliah? Kok jadi mahasiswa masih males-malesan sih? Sayang lho uang orang tuanya.” Ok, sometimes, apa yang orang lihat sangat berbeda dengan apa yang kita (mahasiswa) alami, just imagine dalam 1 minggu you can’t have a day to get rest karena banyaknya revisi tugas sana-sini, and once we do, ada aja orang yang nanya “Masnya kok malas?” itu tuh rasanya kayak gunung udah mau meledak aja. Ya nggak, sih?

BACA JUGA: Ada 5 Tipe Males Mahasiswa. Nah, Kamu yang Mana?

 

Katanya, Mahasiswa Tukang Utang

Katanya mahasiswa tukang ngutang viayasminrehan
Katanya mahasiswa tukang ngutang via yasminrehan

Sarapan di warung burjo, ngutang. Makan malam di warteg, ngutang. Bahkan beli sabun aja masih bisa ngutang. Well, kita, mahasiswa tau banget kalau ngutang bukan hal yang baik untuk dibiasakan. Namun, apalah daya, kita mah apa atuh, cuma mahasiswa yang uangnya cuma bisa nungguin kiriman dari orang tua. Mungkin, sebagian dari kita ada yang udah mulai bekerja sambil kuliah, tapi, gak semua mahasiswa punya waktu dan mampu membagi waktu untuk bekerja sambil kuliah. We have our own way of success. Seenggaknya, salah satu dari kita pernah ngerasain jualan di kampus. Tapi yah… kita mah bisa apa kalau baru jadi mahasiswa aja udah langsung dicap tukang utang?

Katanya, Mahasiswa Gak Peduli Masa Depan

Katanya mahasiswa gak peduli masa depan via youthmanual
Katanya mahasiswa gak peduli masa depan via youthmanual

Kuliah, pulang, masuk kosan, pintu ditutup. Besok pagi kuliah lagi, lalu balik lagi ke kosan, makan ngutang, kerja kagak, mahasiswa kok gak punya masa depan? Sering denger gak sih celotehan kayak gini? Masih ada lho orang-orang yang lupa kalau kita ini mahasiswa. Iya, mereka lupa kalau kita kuliah di PERGURUAN TINGGI atau UNIVERSITAS, yang ujian masuknya gak gampang, bayar kuliahnya gak murah, dan jadwalnya gak santai! Dan masih ada aja orang yang bilang kalau mahasiswa gak punya masa depan? Terus kita kuliah kita buat apa dong?

 

Katanya, Mahasiswa Sekarang Tukang Demo

Mahasiswa sekarang tukang demo via covesia
Mahasiswa sekarang tukang demo via covesia

Iya sih bener kita sering ngedemo dan kasih protes terkait kebijakan-kebijakan pemerintah yang menurut kita kayaknya ada yang salah deh. Etapi kita mah bisa apa, demo dikit dituduh “Mahasiswa Bayaran”, demo dikit dibilang “Bikin macet, meresahkan masyarakat” – padahal kita kan gak jarang juga jalan pakai aksi damai. Meski nih sekarang katanya kalau mau kritis bisa bikin petisi online dan audiensi udah banyak, cuma sadar gak sih, untuk beberapa kepala daerah, audiensi itu kadang gak mempan? Sadar gak sih, kalau mahasiswa gak ada yang demo, pejabat tertentu bakal jadi malaikat yang dengan senang hati membantu rakyatnya? Bukan berarti kita jadi pesimis lho. ya. Tapi memang kadang kebenaran itu harus disingkap dari kabut-kabut kelam yang seringkali menutupinya.

 

Katanya, Mahasiswa Gak Siap Hadapi Tantangan

Dengan banyaknya pelatihan dari kampus, mahasiswa siap hadapi tantangan via fib.ui
Dengan banyaknya pelatihan dari kampus, mahasiswa siap hadapi tantangan via fib.ui

 

Nah kalau yang ini ada benarnya, cuma jangan lupakan juga, bahwa di setiap kejuruan, ada yang namanya organisasi mahasiswa dan pelatihan-pelatihan kepemimpinan, seenggaknya itu bisa bikin kita, mahasiswa jadi lebih siap hadapi tantangan hidup di luar kampus. Jadi, apakah benar kalau mahasiswa jaman sekarang gak siap hadapi tantangan? Kok, banyak yah mahasiswa Indonesia bisa bawa prestasi-prestasi di dunia internasional dengan membawa kebangaannya sebagai Warga Negara Indonesia? Yakin, masih mau bilang mahasiswa jaman sekarang gak siap hadapi tantangan?

Totalitas tampaknya menjadi harga mati dalam meraih sukses bagi setiap mahasiswa. Apalagi kalau kamu jadi mahasiswa UI. Jejak histori masa lalu dimana mahasiswa UI selalu menjadi agen perubahan dan penggerak bangsa seakan-akan selalu mengikuti bayanganmu.

Menjadi mahasiswa memang tidak mudah, perlu ketekunan, kesabaran, dan semangat untuk maju demi mencapai cita-cita yang luhur. Namun, yakinlah, bila memang niatan menjadi mahasiswa murni untuk menajalani proses perkuliahan dan menjadi pribadi yang lebih matang, lambat laun masyarakat akan melihat bukti nyata dari setiap aktivitas yang kita adakan. Niat yang lurus dan ikhlas hanya mencari ridha dan ilmu dengan hati yang bersih akan mempengaruhi proses belajar dan ilmu yang akan diperoleh.

Memahami bidang-bidang yang digeluti, apa saja manfaat, nilai yang bisa diambil dari program studi yang dipilih. Mengetahui dengan baik prospek ke depan bidang ilmu yang digeluti pun akan membentuk pribadi kita menjadi seseorang yang menguasai permasalahan yang kita lakoni. Dengan demikian, masyarakat akan melihat dan menilai seperti apa pemaknaan akan stereotype yang sesungguhnya ketika kita menjadi mahasiswa.

Menurut kamu, menjadi mahasiswa itu harusnya gimana sih? Yuk, bagikan pendapatmu lewat comment box dan bagikan tulisan ini lewat Facebook, Twitter dan LINE kamu sekarang!

Jakun Itu Dipake Buat Apa Aja Sih?

Selamat datang kembali di postingan yang sebenernya ga penting tapi tetep dibaca juga, civitas academica Universitas Indonesia! Buat kita-kita yang udah melewati masa-masa pengambilan Jaket Kuning a.k.a Jakun yang super sakral dan kita idam-idamkan saat masa-masa masuk PTN ini, sekarang anakUI.com mau nanya; berapa waktu pemakaian Jaket Kuning kalian dibandingkan waktu Jaket Kuning ini mendekam di lemari? Hayo.

Yup! Bener banget nih, pasti bisa dihitung pake jari deh berapa penggunaan Jakun lo selama sebulan. Jangankan selama sebulan, selama berkuliah deh ahahaha. Kita semua pasti pernah ngalamin masa di mana mupeng ketika ada kaka-kaka pake Jaket Kuning yang berseliweran, entah saat promo SMA atau di stasiun televisi. Kenyataanya, setelah mendapatkan dan menggenggam benda ini, lama-kelamaan jadi biasa aja. Apa gue doang? Entah, mending baca dulu artikel di bawah ini.

1. Penyambutan Maba

Foto0508

Jakun itu sering banget dipake saat masuk semester baru, saat maba-maba lucu ini pertama kalinya disambut oleh kakak-kakak yang ramah nan siap menerkam membantu. Biasanya, maba-maba polos itu langsung mupeng tiap liat kaka-kaka tadi berseliweran dan mejeng pake Jaket Kuning.

“aduh, kapan ya gue dapet itu… apa harus selesai ospek dulu baru dapet…”

Tenang, adik-adik, kalian sudah pasti mendapatkannya. Tapi… kalian harus rela serobot sana – serobot sini untuk cepet-cepetan dapet Jakun. Selo aja sih sebenernya, ngambil belakangan juga ujung-ujungnya dapet kok…

 

2. Nyanyi di Balairung

wisuda-ui
(Wisuda UI: sumber)

UNIVEEEEEEERSITAS INDONESIA. UUUUUUUNIVERSITAS KAMI. IIIIIIIIBUKOTA NEGARA. PUSAT ILMU BUDAYA BANGSAAAAA.

Ini adalah momen pertama di mana kita menyanyikan lagu kebanggaan itu di Balairung secara bersama-sama mengenakan Jakun. Bayangin! Beribu-ribu orang pake Jaket Kuning dan menyanyikan lagu tersebut demi mengiringi para wisudawan. Pokoknya lo harus ngerasain sendiri gimana merindingnya. One of the precious moment in your life deh pokoknya.

 

3. Demo

mahasisiswa-ui
(Mahasiswa UI Demo: sumber)

Wahahaha ini dia. Sebagai mahasiswa, kita juga perlu turun ke jalan, membela hak-hak rakyat. Katanya sih gitu. Dan salah satu cara untuk menunjukkan semangat serta identitas mahasiswa itu adalah almameter mereka, ya mahasiswa UI otomatis pake Jakun buat turun ke jalan dan melakukan demonstrasi. Tapi ga harus turun ke jalan juga kok sebenernya, banyak cara untuk menyampaikan aspirasi.

 

4. Ngedanus di Stasiun TV

Gambar ilustrasi talkshow di tv
Gambar ilustrasi talkshow di tv

Pernah nonton talkshow or everything else yang penontonnya merupakan penonton bayaran? Ahahaha jangan salah, anak UI juga sering nyari dana dengan cara yang demikian dan mengandalkan Jakun sebagai identitas mereka, lalu nongol deh di tv sambil tepuk tangan dan muka ceria. Iyalah, dibayar. Asal jangan muncul di acara tv terus joget ala-ala ye-ye-ye gitu sih.

 

5. Foto Kepengurusan

Hanya gambar ilustrasi saja via dpm.fib.ui.ac.id
Hanya gambar ilustrasi saja via dpm.fib.ui.ac.id

Bagi sebagian besar organisasi yang ada di Universitas Indonesia, baik tingkat Universitas, Fakultas, maupun Jurusan, foto kepengurusan ini merupakan hal yang sakral dan ga boleh dilewatkan. Kadang, bagi organisasi yang ingin foto formal tapi ga punya atau jaket organisasinya belum jadi, mereka memilih satu alternatif yang pasti semua anggotanya punya; Jakun. Dan Voila! Foto kepengurusan terlaksana dengan hasil yang seragam serta formal.

 

6. Promosi Jurusan

17-bkui-kesehatan-masyarakat
(BKUI: sumber)

Ini yang gue bilang tadi, Jakun juga bisa dijadiin ajang mejeng sama adik-adik kita. Basi banget sih, tapi ya demikian adanya. Untuk promosi jurusan dan kunjungan-kunjungan secara resmi, diperlukanlah suatu identitas resmi yang melambangkan bahwa kita adalah civitas academica Universitas Indonesia, apalagi kalo bukan Jakun kita ini.

 

7. Menuhin Lemari

23082010
(Jakun: sumber)

Nah ini dia fungsi Jakun yang paling dominan dan menghabiskan sebagian besar waktunya. Selain fungsi-fungsi di atas, ternyata Jakun kita ini lebih sering sebagai pemenuh lemari, mendekam di sana bersama pakaian-pakaian kita lainnya, dan jarang tersentuh, kecuali ada event-event tertentu. Kasihan ya, semoga dia baik-baik aja di sana.

Jadi, gimana? Udah berani buat make Jakun buat ngampus sehari-hari belom? Ahahaha ga deng bercanda. Panash. Bagaimanapun bentuk dan sedemikian jarangnya Jakun ini kita pake, ia tetaplah saksi bisu perjuangan kita untuk dapat berjuang dan bertahan di Kampus Perjuangan ini. Hidup Mahasiswa!

jakun

 

Baca juga tulisan tentang mengulas tentang kehidupan mahasiswa di artikel: “Ada 5 Tipe Males Mahasiswa. Nah, Kamu yang Mana?

 

Bagikan artikel ini di Facebook, Twitter, dan LINE kamu agar teman-teman mu yang lain juga membacanya! Yeay!

Emang Demo Ada Gunanya?

“Gerakan KOREKTIF dr Gerakan Mahasiswa berbuah manis dg dikabulkannya uji materi #UUBHP,” (Tweet Fadjroel Rahman) Dari dulu, bahkan hingga sekarang saya sering mendengar ‘ah aksinya ga pake kajian.’ atau ‘mereka demo asal demo aja, tau … Baca Selengkapnya

MaBa Berdemo?

Belum lama kami menginjak Universitas Indonesia sudah banyak sekali hal hal yang ingin disampaikan. Rasanya banyak sekali yang ingin diungkapkan ketika membaca selebaran pamflet yang ditempel di lokasi lokasi strategis yang berbunyi “Mahasiswa Jangan Lembek … Baca Selengkapnya