Pro Kontra RUU Pertembakauan, Nih Alasan Kenapa Rokok itu nggak Menyejahterakan!

Rancangan Undang-Undang Pertembakauan yang masuk dalam Program Legislasi Nasional Prioritas 2017 urutan 20 atas usulan DPR menjadi pertanyaan sejumlah pihak, termasuk Aliansi BEM UI. Setelah BEM FKM UI menyelenggarakan Diskusi Terbuka yang menghadirkan sejumlah pihak seperti Anggota DPR RI dan Staf Kementerian Perlindungan Pemberdayaan Perempuan dan Anak, kemudian disusul dengan sikap tegas BEM UI yang menyatakan RUU Pertembakauan bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Hal itu dikarenakan DPR RI terkesan hanya melirik faktor ekonomi, bukan dari sisi kesejahteraan, kesehatan, dan perlindungan terhadap anak. Tidak hanya itu, meski hanya melihat dari sisi ekonomi, Pemerintah terlihat tidak benar-benar menjamin kesejahteraan petani tembakau dan masyarakat umum. Untuk itu, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Se-UI mendesak Presiden ketujuh RI Joko Widodo agar tidak mengesahkan RUU Pertembakauan tersebut.

Berbicara tentang tembakau dan rokok, entah mengapa sampai saat ini Indonesia masih saja diambang kegalauan hebat menyoal industri ini. Berbeda dengan beberapa negara di Eropa dan Amerika yang memiliki peraturan yang tegas terhadap penggunaan rokok, di Indonesia justru menganggap kegiatan merokok adalah wajar.

 

Merokok Membuat Kita Kehilangan Gelar Pak Haji Sia-Sia

Merokok bikin naik haji kamu ditunda (via backpackerumrah)

Bagi banyak orang, khususnya umat muslim, beribadah langsung di depan Ka’bah merupakan hal yang selalu diinginkan. Bahkan, banyak orang rela menabung dari jauh-jauh hari, bulan, bahkan tahun hanya untuk mendapatkan jatah naik haji. Belum lagi masalah biaya, kuota haji tiap tahun selalu saja full dipesan oleh para jemaah dari bertahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, itupun juga karena masalah finansial yang tak bisa diburu-buru, sebab biaya keberangkatan haji terbilang memerlukan kocek yang dalam. Apalagi bagi mereka umat muslim yang merokok, tentu kesempatan mereka naik haji kehilangan begitu saja, karena lebih mementingkan kebutuhan mengasap dari pada menghadap Tuhan.

Coba kita hitung kasar, misalnya satu bungkus rokok saat ini rata-rata 18 ribu x 30 hari (satu bungkus satu hari)= 740 ribu. Selama setahun, 740 ribu x 12= 8.880.000. Biaya naik haji tahun 2017 sebesar 35 juta. Jika saja mereka para perokok itu tidak merokok, tentu mereka bisa naik haji dalam waktu empat tahun ke depan. Atau artinya, jika saja empat tahun lalu mereka tidak merokok, tahun ini mereka dapat menunaikan ibadah haji tanpa harus mengurangi kebutuhan rumah tangga lain.

 

BACA JUGA: Isu Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu Per Bungkus ini Ternyata Kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Loh!

 

Rokok Bikin Anak Kos Rela Nggak Makan

Kalo lagi tanggal tua, pilih makan atau rokok? (via blograma)

Seorang penikmat rokok yang berat atau pecandu berat akan selalu mencari cara agar dirinya selalu bisa ‘mengasapi’ udara kapanpun dan dimanapun berada. Mereka justru banyak mengatakan, “Kita mah rela nggak makan yang penting bisa ngerokok.” Begitulah sekiranya kalimat yang selalu dilontarkan para pecandu rokok.

Anak kosan juga nggak jarang yang merokok, bahkan banyak dari mereka yang tadinya tidak merokok namun malah tercebur dalam dunia perokok-an karena tertarik oleh lingkungannya. Belum lagi, anak kos ini juga ikut-ikutan rela nggak makan cuma untuk merokok. Uang yang seharusnya masih bisa untuk membeli nasi atau makanan itu justru hanya untuk dibelikan sebungkus rokok, yang harganya cenderung lebih mahal dari seporsi nasi dan minumnya.

 

Merokok Menghilangkan Kesempatan Menikah, Mau Jomblo Terus?

Nggak mau kan kayak gini? (via blueapolloblog)

Merokok juga mampu menghilangkan kesempatan seseorang untuk menikah semakin lama dan lambat, bahkan cenderung gagal. Sebab, biaya menikah yang biasanya dengan budaya di Indonesia membutuhkan setidaknya dana 50 juta untuk resepsi, justru malah bakal menghambat niat baik mereka sendiri.

“Kan masih bisa cari kerja lain, tambahan untuk menutup uang rokok.”

“Kalau aku jadi kamu, aku tetep cari kerjaan tambahan, tapi untuk menambah pemasukan guna kebutuhan lain di masa depan yang lebih penting.”

Ketika seorang yang tidak merokok bergaji 8 juta, dia bisa segera menyisihkan uang itu untuk berbagai hal penting, dan bisa membeli hal-hal lain yang dibutuhkan. Sementara, perokok bergajji 8 juta, menyisakan uangnya terlebih dulu untuk merokok, sedangkan sisanya cari cara lain untuk memenuhi kebutuhannya. Ingat, uang hasil rokok itu bisa ditabung juga bisa disedekahkan lho.

Emang kamu mau, cuma karena nungguin kamu nabung yang lama banget itu? Kepake lagi kepake lagi dong uangnya… Emangnya mau calon pengantin kamu malah nikah sama orang lain yang lebih cepet melamar?

 

BACA JUGA: Antara Kreatif, Mepet, atau Hemat, Barang-barang Ini Bisa Jadi Penyelamat Hidupmu di Kosan

 

Nah, dari beberapa hal itulah yang juga bisa jadi masukan kepada Presiden Jokowi untuk tidak mengesahkan RUU Pertembakauan. Sebab, banyak korbannya dari berbagai kalangan, baik mahasiswa, sampai calon pengantin! No hard feeling ya, asikin aja. Yuk share artikel ini ke akun Facebook, Twitter, dan Line kalian biar orang tahu, kalo pengeluaran orang yang merokok itu lebih mahal dari makan pakai rendang sebulan!

Bukan cuma Komputer aja yang Bisa Multitasking, Mahasiswa juga Bisa!

Dewasa ini bukan lagi sebuah hal yang tak lazim untuk memiliki dua peran dalam satu waktu, yakni menjadi mahasiswa sekaligus pekerja. Lalu, bagaimanakah kehidupan individu yang mengenyam dua peran itu? Pada postingan kali ini saya akan coba menggambarkan kehidupan mereka.

Menjadi mahasiswa ekstensi yang berkuliah di waktu malam hari membuat para mahasiswa memiliki waktu yang sangat senggang di pagi hari. Banyak dari mereka yang memiliki aktivitas di pagi harinya dengan cara bekerja. Namun, ada juga yang memilih untuk fokus menjalani perkuliahan saja. Well, semua itu pilihan yang memiliki plus dan minus tentunya.

Terdapat ragam profesi di lini akuntansi pada Program Ekstensi Akuntansi FEB UI. Mulai dari senior auditor di sebuah KAP Big 10, pengusaha muda dengan start up business nya, staff akuntansi perusahaan, hingga asistensi dosen untuk vokasi akuntansi UI.

 

Kuliah + Kerja = ?

Kuliah sambil kerja, siapa takut? via mexperience

Saat ini saya terdaftar sebagai mahasiswa semester satu program ekstensi FEB UI 2016 dengan jurusan akuntansi, sekaligus menjadi seorang karyawan divisi akuntansi di sebuah instansi BUMN. Bagaimana rasanya? Hm, tidak bisa hanya dengan dibayangkan, oleh karena itu saya menjalaninya dengan sebaik mungkin. Kaget? Ya, tentu mulai dari perubahan pola tidur dan aktivitas yang harus mengalami penyesuaian. Jam kerja yang dimulai pukul 07.00 s.d 16.00 dan perkuliahan pukul 19.00 s.d 21.30 membuat fisik saya “kaget”. Waktu tidur yang terkadang hanya lima jam, karena pukul 05.15 saya sudah harus berangkat ke kantor dan pukul 22.30 baru kembali di rumah. Pula pernah saya baru keluar dari kantor pukul 17.30 dan mengejar kelas di pukul 19.00.

 

Bagaimana dengan “Me Time”?

Kuliah sambil kerja bukan berarti ga bisa me time, via runtastis

Weekend merupakan “me time” yang sangat berharga. Namun, tak lupa untuk setiap Sabtu pagi diadakan asistensi dosen untuk para mahasiswa ekstensi. Usai asistensi, terkadang saya masih berada di kampus untuk menyelesaikan tugas kelompok yang diberikan oleh dosen.

Kesal “me time” terganggu karena weekend ke kampus? Bagi saya, “me time” saya adalah ketika saya merasa nyaman dengan rutinitas yang saya miliki dan dengan ditemani oleh teman-teman terdekat saya. Sabtu sore saya maksimalkan untuk hang out dengan teman-teman, hari Minggu saya gunakan untuk merapikan catatan dan mencicil belajar. Senior saya pernah berpesan untuk belajar H-1 bulan ujian agar tidak keteteran, karena sistem SKS itu sebenarnya memang tidak baik dan jangan ditiru ya!

 

Kebersamaan

Kalo ga ada dosen, belajar bareng aja! via ntriwhy

Tak hanya saya yang mengemban dua peran ini, banyak teman-teman yang sama dengan saya. Puji syukur saya memiliki dua teman yang bersama saya (Satu Kelas dan Satu Kantor, Bahkan Satu Divisi) sehingga kami saling mendukung apabila salah satu dari kami mengalami kelelahan ataupun demotivasi.

Pernah suatu ketika kami melihat informasi perkuliahan batal secara tiba-tiba di SIAK NG, sedangkan kami sudah berada di jalan usai bekerja, maka kami memanfaatkan waktu luang tersebut untuk belajar bersama. Kami mempelajari materi yang kami masih belum mengerti. Pula pernah di waktu istirahat makan siang kami belajar karena akan dilaksanakan kuis di malam hari.

Bagi saya memiliki dua peran menjadi mahasiswa dan pekerja merupakan tantangan dimana dituntut untuk memiliki manajemen waktu yang baik, sehingga kata “balance” bukan hanya pada ilmu akuntansi semata, melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan pribadi.

 

Saran

Teruntuk kalian yang ingin menjalani peran selain mahasiswa dengan cara bekerja, saran saya adalah pertimbangkan lokasi tempat kalian bekerja untuk mobilitas yang efisien. Bekerja sambil berkuliah tidak harus terikat dengan kantor namun bisa juga dengan cara bekerja sistem freelance, seperti dengan cara menjadi guru les privat 🙂

 

 

Salam semangat, untuk para mahasiswa sekaligus pekerja!
Bright Future Awaits, InshaAllah.

 

Naufal Afif
Program Ekstensi Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia

Isu Kenaikan Harga Rokok Rp50 Ribu Per Bungkus ini Ternyata Kajian Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Loh!

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan isu kenaikan harga rokok yang meningkat jauh menjadi Rp50 ribu per bungkusnya. Tentu saja, hal ini menjadi perbincangan hangat di semua kalangan, baik perokok maupun bukan perokok. Soalnya kalau usulan ini telah ditetapkan menjadi sebuah kebijakan, pasti akan banyak hal yang terkena dampak positif maupun negatifnya.

Temen-temen tau gak, sih? Ternyata usulan kenaikan harga rokok ini dicetuskan oleh Profesor Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat UI loh! Berdasarkan hasil survei penilitian yang dilakukan beliau, didapatkan bahwa Rp50 ribu per bungkus itu merupakan harga yang ideal untuk mencegah pelajar dan orang miskin merokok.

 

Isu kenaikan rokok via infokediri
Isu kenaikan rokok via infokediri

Pengumpulan data dilakukan sejak Desember 2015 – Januari 2016 dengan jumlah responden 1.000 orang. Hasilnya, 82 persen responden setuju harga rokok dinaikkan. Bahkan, 72 persen responden menyatakan setuju harga rokok dinaikkan menjadi di atas Rp50 ribu untuk mencegah pelajar merokok.

“Hasil survei menjadi viral tidak bisa dikontrol. Memang kenyataannya Indonesia juara dunia tingkat perokok tertinggi, yakni sudah mencapai 34-35 persen dari total penduduk. Dari jumlah itu, 67 persen perokok laki-laki dan perempuan 4 persen. Oleh karena itu jumlahnya harus dikendalikan dan salah satu caranya adalah dengan menaikkan harganya,” ucap beliau.

Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar Kementerian Kesehatan, jumlah perokok pemula (usia 10–14 tahun) naik dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2001 jumlahnya hanya 5,9 persen, pada 2010 naik menjadi 17,5 persen.

Yup, kalau dilihat dari segi kesehatan, tentu kenaikan harga rokok ini akan berdampak baik bagi masyarakat sehingga pembeli rokok, terutama pelajar maupun orang yang kurang mampu, akan berhenti merokok. Akan tetapi, kebijakan tidak semata-mata dibuat dan dikaji dari satu aspek saja, bukan? Pasti aspek lain, terutama ekonomi juga terkena dampaknya karena hal ini berkaitan dengan harga dan pendapatan negara.

Apabila dilihat dari aspek ekonomi, kenaikan harga rokok ataupun cukai pasti berdampak pada seluruh mata rantai dalam industri tembakau nasional seperti petani, pekerja, pabrikan, pedagang, dan konsumen. Terlebih lagi, kondisi industri dan daya beli masyarakat akan berubah seiring dengan kenaikan harga rokok tersebut.

Kebijakan cukai yang terlalu tinggi akan membuat rokok menjadi mahal sehingga tidak sesuai dengan daya beli masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat yang tinggi akan rokok tetapi tidak memiliki kondisi ekonomi yang cukup memadai, akan dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk menjual produk rokok ilegal yang dijual dengan harga sangat murah karena mereka tidak membayar cukai.

Jumlah perokok pemula naik 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir via ROZAQ
Jumlah perokok pemula naik 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir via ROZAQ

Dengan tingkat cukai saat ini, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp9 triliun. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja. Bisa dibayangkan apabila dengan harga rokok yang sekarang saja tingkat perdagangan rokok illegal telah mencapai 11,7 persen, bagaimana nanti apabila harga rokok menjadi Rp50 ribu rupiah?

Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani, menerangkan bahwa beliau telah mengetahui kajian soal rokok yang dibuat Fakultas Kesehatan Masyarakat UI tadi. Namun, beliau menegaskan bahwa tarif cukai dan harga jual eceran akan disesuaikan dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017 yang sedang dibahas. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Suahasil Nazara pun menjelaskan bahwa hingga saat ini Pemerintah masih membahas besaran kenaikan cukai rokok tahun depan.

Kesimpulannya, berita kenaikan harga rokok menjadi seharga Rp 50 Ribu ini masih dalam tahap kajian dan belum ditetapkan menjadi kebijakan. Berbagai pihak baik dari bidang kesehatan maupun bidang ekonomi juga masih berdiskusi atas usul ini untuk mendapatkan jalan tengah dan keputusan yang bijaksana. Nah, kalau menurut kamu, baiknya gimana sih biar meminimalisir efek negatif yang timbul dari rokok itu sendiri? Yuk diskusi bareng-bareng di kolom komentar!

Cita-cita Jadi Analis di Bidang Ekonomi? Kenali Program Studi Ilmu Ekonomi FEBUI

 

Pernah terpikir oleh kamu untuk menjadi analis di bidang ekonomi? Kagum pada orang-orang yang menjadi pengambil kebijakan dalam perekonomian Indonesia dan berpikir di mana mereka belajar untuk menjadi seperti itu? Di sini tempatnya! Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

 

Sekilas Tentang Prodi Ilmu Ekonomi

Sekilas Tentang Prodi Ilmu Ekonomi via opkfebui
Sekilas Tentang Prodi Ilmu Ekonomi via opkfebui

Program Studi (atau Prodi) Ilmu Ekonomi FEBUI merupakan salah satu prodi dari beberapa prodi di FEBUI. Serupa dengan prodi lainnya (Akuntansi dan Manajemen), Prodi Ilmu Ekonomi memperoleh akreditasi A dengan nilai tertinggi (391 dari 400) yang bisa membuat kamu tenang akan kualitas pengajaran di prodi ini. Lantas, apa saja sih yang dipelajari di prodi ini?

Di Prodi Ilmu Ekonomi, kamu akan mendapatkan pengetahuan yang berkaitan dengan ekonomi makro, misalnya tentang pengelolaan ekonomi negara, analisis terhadap masalah moneter, perindustrian, hubungan keuangan pusat dan daerah, serta keuangan internasional.

Selain itu, kamu juga akan mempelajari bagaimana masyarakat mengambil keputusan dalam mengalokasikan sumber daya yang terbatas. Di sini kamu tidak hanya mempelajari uang, tetapi juga perilaku yang menjadi sebab akibat dari kegiatan ekonomi itu sendiri, contohnya penyebab tingkat inflasi yang tinggi dengan tingkat pengangguran.

Kamu juga akan belajar memformulasikan fenomena ekonomi ke dalam persamaan matematis agar lebih sederhana. Karena itulah, jika kamu ingin masuk prodi ini, kamu harus mempersiapkan diri untuk terbiasa dengan mata kuliah Statistik dan Matematika Ekonomi. Termasuk mengubah bentuk persamaan ke dalam bentuk gambar (baca: kurva). Persamaan matematis dan pembentukan kurva ini bisa dikatakan sebagai hal yang akan terus kamu temui, mulai dari hari pertama kuliah hingga hari kamu menjalani sidang skripsi. Singkatnya, tiada hari tanpa angka dan kurva.

Untuk prodi ini, S1 yang tersedia hanya S1 reguler. Namun untuk kuota, prodi ini serupa dengan Prodi Akuntansi dan Manajemen, yakni terbagi rata (50:50) antara jalur undangan (SNPMTN) dan jalur tulis (SBMPTN dan SIMAK UI). Dibuka pada program S1 Reguler, di mana kuotanya terbagi rata antara jalur masuk undangan (SNPMTN) dan jalur tulis (SBMPTN dan SIMAK-UI).

 

Bagaimana Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi?

Bagaimana Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi? via HumasFEBUI
Bagaimana Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi? via HumasFEBUI

Seperti banyak prodi lainnya, beban SKS di Prodi Ilmu Ekonomi adalah minimal 144 SKS. Tepatnya harus menempuh 144-146 SKS untuk bisa lulus dari prodi ini. Prodi Ilmu Ekonomi juga tidak memiliki peminatan atau konsentrasi.

Di tahun awal (semester pertama hingga ketiga), ada beberapa mata kuliah prodi ini yang sama dengan prodi lainnya di FEBUI. Mata kuliah tersebut antara lain Pengantar Akuntansi 1, Pengantar Akuntansi 2, Pengantar Mikro Ekonomi, Pengantar Makro Ekonomi dan Pengantar Bisnis.

Untuk kamu yang agak bingung kenapa harus belajar Akuntansi dan Manajemen, ketika yang menjadi pilihan kamu jelas-jelas adalah Ilmu Ekonomi, begini penjelasannya.

– Prodi Ilmu Ekonomi bertujuan mencetak (sebut saja) analis atau ahli ekonomi; orang yang mampu membuat keputusan ekonomi setelah melihat kondisi ekonomi secara keseluruhan.

– Untuk dapat membaca kondisi ekonomi secara keseluruhan, dia harus memahami sifat dan mekanisme kerja area-area dalam ekonomi, yakni Akuntansi dan Manajemen.

– Jadi, untuk dapat membuat keputusan yang menjadi solusi dari masalah ekonomi, kamu kudu, wajib mengerti Akuntansi dan Manajemen.

Begitu ceritanya.

Nanti setelah kamu memasuki semester berikutnya, barulah kamu akan berkenalan dengan mata kuliah yang lain seperti.

  • Administrasi dan Perencanaan Pembangunan
  • Akuntansi Biaya
  • Akuntansi Pemerintahan
  • Akuntansi Sektor Publik
  • Akuntansi Syariah
  • Analisis dan Teknik Demografi
  • Analisis Kebijakan Publik
  • Analisis Multivariat
  • Analisis Proyek Publik
  • Bisnis Global
  • Ekonometrika Cross Section dan Panel Data
  • Ekonometrika Time Series
  • Ekonomi dan Kebijakan Energi
  • Ekonomi Industri
  • Ekonomi Industri dan Regulasi
  • Ekonomi Internasional
  • Ekonomi Kemiskinan

 

Dilihat dari mata kuliahnya, prodi ini cocok untuk kamu yang suka meneliti, berpikir kritis, dan menemukan hubungan dalam setiap hal. Terutama yang terakhir; menemukan hubungan dalam segala hal. Di prodi ini, kamu akan diajarkan untuk meneliti hubungan atau interaksi dalam setiap unit (rumah tangga, perusahaan, dll) dalam ekonomi sehingga ketika suatu kebijakan dibuat, akan dapat diramalkan apa yang akan terjadi pada unit-unit itu.

Dan sekali lagi, itulah kenapa kamu harus mengetahui dasar-dasar Akuntansi dan Manajemen dalam perkuliahan ini; karena keputusan ekonomi yang akan kamu buat akan sangat dipengaruhi dan memengaruhi area-area tersebut. Got it?!

 

Ke Mana Setelah Lulus dari Prodi Ilmu Ekonomi?

Ke Mana Setelah Lulus dari Prodi Ilmu Ekonomi?
Ke Mana Setelah Lulus dari Prodi Ilmu Ekonomi? via kastratfebui

Prodi S1 Ilmu Ekonomi di FEBUI didirikan untuk memenuhi kebutuhan pemerintah dan swasta akan tenaga analis ekonomi untuk kajian makroekonomi maupun mikroekonomi. Jadi, prodi ini didirikan sebagai jawaban dari permintaan tersebut.

Lulusan Prodi Ilmu Ekonomi dapat bekerja sebagai analis ekonomi di perusahaan ataupun institusi penelitian, perbankan, pemerintahan, tenaga advokasi lembaga swadaya masyarakat ataupun melanjutkan studi untuk menjadi akademisi. Lebih jelasnya, berikut contoh pekerjaan yang dapat diisi oleh lulusan Prodi Ilmu Ekonomi:

  • Menjadi Analis di Kementrian Keuangan, Kementrian Pendidikan, BPK, BAPPENAS, BAPPEDA, Bank Indonesia, Pegadaian dan Dinas Perpajakan.
  • Menjadi Perencana pertama, asisten peneliti atau asisten analis kebijakan di lembaga penelitian pemerintah (misalnya LIPI) atau Internasional NGO.
  • Tenaga pendidik di Institusi Ekonomi.
  • Penilai di lembaga perbankan, asuransi, dan leasing.

Dan tentunya masih banyak lagi. Area pekerjaan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai bidang dalam ekonomi, umumnya merupakan area kerja lulusan Ilmu ekonomi.

 

Selain UI, Universitas Mana yang Membuka Prodi Ilmu Ekonomi?

Selain UI, Universitas Mana yang Membuka Prodi Ilmu Ekonomi? via bemfemipb
Selain UI, Universitas Mana yang Membuka Prodi Ilmu Ekonomi? via bemfemipb

Selain di UI, ada beberapa universitas lain yang membuka prodi ini. Untuk PTN di wilayah Jawa, Prodi Ilmu Ekonomi dengan akreditas A dapat ditemui di UGM, UI, IPB, UNAIR, UNIBRAW, UNDIP, UNEJ (Jember), UNS sebelas maret Surakarta, Unsoed Purwokerto, Unpad Bandung, dan UIN Syarif Hidayatullah. Sedangkan untuk universitas swasta area Jabodetabek, Prodi Ilmu Ekonomi dengan akreditasi A baru dibuka di Universitas Trisakti.

 

Berapa Biaya Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi?

Berapa Biaya Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi? via umasFEBUI
Berapa Biaya Perkuliahan di Prodi Ilmu Ekonomi? via umasFEBUI

Sama halnya dengan S1 reguler di Prodi Akuntansi dan Manajemen, selain tidak dikenakan uang pangkal, biaya kuliah di Prodi Ilmu Ekonomi ini juga berkisar Rp100.000,00 – Rp5.000.000,00 yang dinamakan BOP-B (Biaya Operasional Pendidikan Berkeadilan), artinya besar biaya kuliah yang dibayarkan akan sesuai dengan kemampuan ekonomi mahasiswa yang bersangkutan. Uang kuliah ini dibayarkan sekali tiap semesternya tanpa perlu lagi membayar uang SKS.

Source:

http://www.ui.ac.id/akademik/sarjana-reguler/fakultas-ekonomi/ilmu-ekonomi.html

http://www.jurusankuliah.info/2015/05/prospek-lapangan-kerja-jurusan-ekonomi-pembangunan.html

Economic Research Dissemination 2012

Divisi Penelitian Kanopi FEUI proudly present Economic Research Dissemination 2012Pemaparan dan pengenalan riset oleh peneliti kepada mahasiswa. Tahun ini mengusung tema ‘Observing Market Labor in Indonesia’. Sesi 1. Panel discussion. Spe akers: Arie Damayanti, M.Sc … Baca Selengkapnya